Wednesday, February 9, 2011

Orange (Chapter 1) - a Bleach fanfiction

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Warning : AU, OOC
Aku benar-benar jatuh cinta padanya...Kurosaki Ichigo...
Musim dingin.
Salju turun perlahan-lahan, udara dingin menusuk tulang, dan langit berwarna kelabu.
Putih dimana-mana. Jalanan tertutup oleh timbunan salju dan semuanya terlihat sama. Putih dan kelabu.
Monoton.
Aku mengalihkan pandanganku dari jendela, bosan dengan pemandangan di luar. Menghela nafas panjang.
Tiba-tiba sesuatu tampak begitu menarik bagiku, membuatku mengerjapkan sepasang mata bulat besarku. Buah jeruk. Oranye kekuningan, begitu cerah dan kontras dengan salju yang sedang turun di luar.
Aku mendekat ke meja dan mengambil sebutir, mengamatinya dengan takjub seakan-akan baru pertama kali ini melihatnya. Dan bibirku menyunggingkan senyum.
Kurosaki...
Kami mulai dekat baru di kelas 3 ini, menjelang ujian negara. Padahal sudah sekelas sejak kelas 2.

Aku mengenalnya sebagai seorang pemuda yang unik. Bagaimana tidak, warna rambutnya tidak biasa dan begitu mencolok mata. Meskipun warna rambutku juga tidak biasa, tapi warna rambutnya yang oranye cerah itu seakan-akan membuatnya bersinar seperti bola lampu.
Lampu yang berhasil menyilaukan mataku.
Tapi kemudian aku dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa dia tidak sendirian...
Dan meskipun aku berharap mereka segera putus, terkadang aku bertanya...sebegitu jahatnyakah diriku?
Karena dia adalah temanku. Kuchiki Rukia adalah temanku. Tega sekali aku mendoakan dia dan Kurosaki segera putus. Egois...
Tapi aku tidak bisa mengelaknya. Karena setiap kali aku teringat padanya, setiap saat itulah aku memohon kepada Kami-sama, biarkan dia jadi milikku. Sikapku padanya, tutur kataku padanya, aku berikan semua yang terbaik. Dengan harapan suatu saat nanti, dia kan berpaling padaku.
"Kau harus berpikir tujuh kali untuk memilikinya, Orihime. Kau tega merebutnya dari Kuchiki?"
Aku menatap Tatsuki, tapi sama sekali tidak memberi respon apapun selain mengerjapkan mataku polos.
"Di dunia ini, masih banyak pemuda lain selain dirinya."
Tatsuki benar. Masih banyak pemuda lain yang bisa kudapatkan dengan mudah. Tapi masalahnya, yang aku inginkan hanya dia.
"Aku- hanya ingin suatu hari nanti dia tahu..." kataku lirih.
Tatsuki meletakkan tangannya di atas tanganku, membuatku memandang sepasang matanya, dan dia pun berkata, "Baiklah, Orihime. Kalau cuma itu, mungkin tidak apa-apa. Tenang saja, aku akan membantumu memberitahu kepala wortel itu." Tatsuki memamerkan cengirannya.
Aku segera menggelengkan kepalaku cepat, membuatnya mengernyit heran.
"Tidak. Tatsuki sudah sangat baik padaku selama ini. Selalu ada untukku dan membantuku mengatasi masalah apapun. Tapi...aku ingin mengatakannya sendiri pada Kurosaki. Tatsuki tidak perlu membantuku. Aku bisa melakukannya sendiri."
Aku berusaha meyakinkannya.
Tatsuki sudah seperti seorang kakak bagiku. Yang selalu ada saat aku membutuhkannya. Selalu membantu dan menemaniku. Tapi kali ini aku ingin melakukannya sendiri.
Aku akan mengatakannya sendiri pada Kurosaki.
Seulas senyum terbentuk di bibirnya, dan dia mengangguk paham.
"Baiklah kalau begitu. Lakukan yang terbaik. Dan pastikan, tidak ada seorangpun yang terluka."
Kuchiki.
Meskipun kami beda kelas dan tidak begitu dekat, dia tetaplah temanku. Dan aku pun mempertanyakan diriku sekali lagi, apa aku benar-benar tega melakukan ini padanya? Mencoba merebut Kurosaki darinya?
Seringkali aku lupa diri dan bertindak benar-benar egois padanya. Aku mencurahkan semua perhatianku pada Kurosaki. Setiap malam kami selalu berkirim pesan singkat, dan aku bersikap seolah-olah Kuchiki tidak ada di antara kami. Seolah-olah aku ini adalah pacar Kurosaki. Jahat sekali aku...
Dan aku pun mulai merasa memiliki kesempatan, karena akhir-akhir ini hubungan Kurosaki dan Kuchiki merenggang. Selain itu dia selalu cepat membalas pesan dariku, yang itu berarti bahwa dia tidak sedang sibuk dengan urusan lain selain berkirim pesan denganku.
Aku senang tentu saja. Namun keraguan itu tetap ada. Apakah Kurosaki punya perasaan yang sama?
"Ini."
Aku menoleh, senyumanku mengembang karena Kurosaki menyodorkan es krim padaku, walau dengan raut muka yang tidak begitu ikhlas.
"Untukku?"
"Kau tidak mau? Syukurlah."
"Eeh!" Sebelum Kurosaki sempat menariknya kembali, es krim itu sudah berpindah tangan. Aku tersenyum padanya dan berujar riang, "Terima kasih!"
Dengan tidak sabar aku membuka kertas pembungkusnya dan merasai es krim coklat itu, yang terasa lebih manis dari biasanya.
"Che, sudah kubilang kan, aku tidak mungkin ingkar janji."
Aku hanya tersenyum, kembali menikmati es krimku. Es krim pemberian Kurosaki.
Aku meletakkan kembali sebutir jeruk itu ke tempatnya di atas meja, dan segera menuju ke kamarku. Aku akan memberitahunya.
Ponsel.
Tadinya aku begitu yakin dan percaya diri. Tapi begitu memegang benda itu, aku hanya bisa memandangi nama dan nomor Kurosaki yang tertera di layar ponsel. Tidak berani menekan tombol call.
Aku terdiam sesaat, dengan ibu jariku beristirahat di atas tombol call, tapi sama sekali tidak berniat untuk memencetnya. Aku kehilangan kepercayaan diriku...
Akhirnya kuputuskan untuk mengirim pesan singkat kepadanya. Karena aku takut bicaraku tersendat-sendat misal aku menghubunginya.
Aku mengetikkan apa yang ingin aku katakan padanya. Perasaanku...
Kurosaki, aku senang bisa mengenalmu.
Meski kau tidak selalu ada untukku, tapi kehadiranmu telah memberi warna baru di hidupku.
Aku merasa begitu aman dan nyaman di dekatmu.
Meski kau hanya menganggapku teman, kau telah menjadi seseorang yang spesial untukku.
Dan aku hanya ingin kau tahu, kalau aku...menyukaimu...
Tiga lembar. Dan dengan mata terpejam aku menekan tombol send.
Delivered to: Kurosaki Ichigo.
Kemudian aku menyembunyikan benda itu di bawah bantal. Aku tidak percaya kalau aku baru saja menyatakan perasaanku pada Kurosaki!
Kira-kira apa reaksinya ketika membaca pesan singkat dariku? Bagaimana ekspresi wajahnya?
Argh...aku tidak ingin tahu!
Dan aku pun pergi tidur, dengan ponsel tepat di bawah bantalku. Sebelumnya aku sudah menggantinya ke profil senyap tanpa getar, sehingga aku tidak akan tahu kalau ada panggilan atau pesan yang masuk.
Tapi aku tidak ingin tahu. Aku masih tidak percaya kalau aku sudah menyatakan perasaanku pada Kurosaki. Dan sekarang aku begitu gugup dan tidak bisa tidur.
Aku bangun di pagi hari yang begitu dingin, dengan engan sambil mengucek-kucek menghilangkan bekas tidur pada mataku. Dan kemudian aku menahan nafas terkejut, kantukku hilang seketika.
Bukankah semalam aku baru saja menyatakan perasaanku pada Kurosaki?
Aku menatap horor pada bantalku. Di bawah benda itu ada...
Tidak, aku belum siap.
Aku pun memutuskan untuk mandi. Berharap dapat menenangkan perasaanku.
Dan hal itu adalah benar. Mandi, selain dapat menyegarkan badan, juga dapat menyegarkan pikiran. Bahkan di hari sedingin ini.
Aku baru saja duduk untuk menonton TV ketika bel berbunyi.
Itu pasti Tatsuki. Dia sudah berjanji untuk datang hari ini.
Dan begitu aku membuka pintu, yang tampak olehku pertama kali adalah warna yang begitu mencolok itu. Warna yang menyilaukan mataku. Oranye cerah. Kurosaki?
Aku segera menutup pintu lagi, tapi sayang sekali tangan Kurosaki cukup kuat untuk menahannya.
"Inoue, kita harus bicara." Suaranya dalam dan tegas. Tapi yang paling membuatku takut adalah ekspresinya yang begitu serius. Masalah besar?
Kami duduk bersebelahan, dengan jarak sekitar satu meter.
Ya, aku duduk di salah satu ujung sofa dan Kurosaki duduk di ujung yang lainnya. Atmosfir yang menyelimuti ruang tengah apartemen kecilku begitu tegang dan membuatku sulit bernafas. Yang terdengar dari tadi hanya dialog opera sabun di TV.
"Ehm." Kurosaki berdehem. Aku tidak berani menoleh ke arahnya, melirikpun tidak.
"Kau tidak menjawab telepon dariku. Kau juga tidak membalas pesanku." Dia melihat ke arahku dengan mata hazelnut yang tajam. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku, tidak berani menatapnya.
"Apa maksudmu dengan pesan semalam, Inoue?"
Aku merasakan gerakannya ketika ia mendekat. Dan kalau saja bukan karena pembatas sofa ini, aku sudah menjatuhkan diriku di lantai.
"Inoue, tatap mataku saat aku sedang bicara." Dia terdengar sedikit kesal.
Kuberanikan diri untuk menatapnya. Ekspresinya masih seperti tadi. Dan alisnya yang mengernyit tidak pernah lepas darinya.
"Apa maksudmu dengan pesan semalam, Inoue?" ulangnya.
Aku tidak bisa berlama-lama menatap sepasang matanya, jadi aku mengalihkan pandanganku pada TV.
"Bukankah sudah jelas, Kurosaki?" kataku lirih.
"Inoue." Dia meletakkan kedua tangannya pada masing-masing pundakku, membawaku menatapnya sekali lagi. Kali ini, kulihat ekspresinya melembut. Tidak setegang tadi.
"Kenapa baru sekarang kau mengatakannya padaku?" dia bertanya pelan. Suaranya lembut sekali, namun tegas. Dan terus mengiang di telingaku. Membuatku mengerjapkan mataku.
"Kurosa-"
Tiba-tiba dia memelukku.
Ya, Kurosaki memelukku. Dia benar-benar memelukku.
Hangat.
Yang bisa aku lakukan hanya diam dan terkejut. Karena aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.
"Aku juga menyukaimu, Orihime." Dia berbisik tepat di depan telingaku, membuatku sedikit bergetar. Apa dia baru saja mengucapkan namaku?
"Ta-tapi...Kuchiki-"
"Kami sudah tidak ada hubungan apapun sejak seminggu yang lalu."
Kurosaki melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya masih ada pada pundakku. Seulas senyum kecil menghiasi wajahnya. Saat itu aku baru sadar, bahwa Kurosaki benar-benar tampan...
"Kuro-"
"Sstt, Ichigo." Dia memotongku lagi.
Mukaku benar-benar terasa panas saat itu. Dan dari cara Kurosa- maksudku Ichigo melihatku, aku tahu pasti aku terlihat seperti kepiting rebus. Memalukan sekali.
"I-Ichigo."
Dia mengangguk puas dan tersenyum.
"Karena kita saling menyukai, kau mau kan, menjadi pacarku?" Dia menggenggam kedua tanganku. Aku hanya bisa memperhatikannya dan menyadari perbedaan warna kulit kami. Bukankah itu normal?
"Orihime?"
"Ah, i-iya. Tentu saja aku mau." Aku tersenyum. Senyum termanis yang pernah kutunjukkan. Satu-satunya untuk Ichigo. Hanya untuknya seorang.
"Terima kasih, Hime."
Dia merengkuhku, mengecup puncak kepalaku dengan sayang.
Aku memejamkan mataku dan tersenyum lagi.
Syukurlah, karena pada akhirnya, aku tidak perlu merebutnya dari Kuchiki, kan?
Terima kasih, Kami-sama.
OWARI

No comments:

Post a Comment