Wednesday, February 9, 2011

Orange (Chapter 2) - a Bleach fanfiction

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

'Ternyata sudah dua minggu…' Gadis berambut coklat cerah yang tengah mengamati kalender yang tergantung di dinding itu menghela nafas panjang.
Tak terasa sudah dua minggu ia tidak menjalin komunikasi dengan Ichigo. Ternyata masa rehatnya sudah selama ini...
Semuanya berawal dari pesan singkat yang Ichigo kirim dua minggu yang lalu. Yang membuatnya menangis untuk pertama kalinya setelah ia resmi menjadi kekasih Ichigo. Gara-gara pesan itu...
Maaf Orihime...

Sebenarnya selama ini aku masih sering pergi dengan Rukia.
Dia juga tahu kalau aku sudah punya pacar lagi.
Tapi sebelum perpisahan sekolah, dia masih menganggap aku sebagai pacarnya.
Maafkan aku, Hime...

The truth hurts.
Kebenaran memang menyakitkan.
Seharusnya Ichigo tidak perlu mengatakan semua itu padanya.


Entahlah, gadis itu juga tidak mengerti apa yang sebenarnya ia lakukan. Yang ia tahu, ia tidak bisa terus menerus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tidak bisa berpura-pura seakan-akan ia bisa menerima semua itu, hanya karena takut kehilangan seorang Ichigo. Yang ia tahu, ia harus melakukan sesuatu.
Break.
Dia yang memintanya; tidak menjalin komunikasi untuk sementara waktu. Orihime tidak hanya ingin menenangkan diri, tapi ia juga ingin mengetes seberapa berarti dirinya bagi Ichigo. Seberapa besar rasa cinta pemuda itu padanya. Kalau memang benar ia begitu...
Sudah dua minggu.
Ichigo benar-benar memenuhi keinginannya untuk tidak menjalin komunikasi dalam bentuk apapun. Sekolah telah usai dan mereka –siswa kelas 3 yang sudah dinyatakan lulus- ada dalam masa liburan panjang sampai saatnya masuk perguruan tinggi yang masih sekitar satu bulan lagi.
Dan perpisahan sekolah akan diadakan minggu depan.
'Tujuh hari lagi, aku harus bersabar.' Dan bibirnya melengkungkan senyuman kecil. Tujuh hari berikutnya tidak akan begitu menyiksa seperti yang sebelumnya.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
Apakah Ichigo menghargai keputusannya untuk rehat, ataukah pemuda itu tidak merasa terganggu sedikit pun dengan absennya komunikasi di antara mereka meski hanya untuk sementara?
Berkali-kali ia ingin sekali menghubungi pemuda itu. Betapa ia sangat merindukannya... Tapi ia mengurungkan niatnya. Tatsuki bilang, kita tidak boleh terlihat lemah di depan laki-laki. Apalagi itu berarti Orihime harus menjilat ludahnya sendiri. Tidak boleh.


"Cepat masukkan nomor pesertamu!" Tatsuki mengguncang-guncang bahu Orihime dengan tidak sabar.
"Ka-kalau Tatsuki seperti itu terus aku tidak bisa mengetik dengan benar,"
Gadis tomboi berambut spike itu segera menarik tangannya. "Hehe, maaf. Aku cuma gugup." cengirnya.
Orihime tertawa kecil, "Kenapa? Kan harusnya aku yang mengatakan itu,"
Tatsuki hanya menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal seraya menyeringai kecil. "Iya, ya? Ya sudah, cepat masukkan nomormu!"
Dan jari-jari yang panjang serta lentik itu menekan tombol keyboard, memasukkan 14 digit nomor pesertanya ke dalam kotak yang telah tersedia. Kemudian menekan tombol enter.
SELAMAT ANDA DITERIMA!
...
"HORE! Selamat ya, Hime!" Tatsuki bersorak riang dan langsung memeluk Orihime dengan gembiranya. Dan tawa bahagia terdengar dari kedua gadis itu. Benar-benar hari yang menyenangkan.
Kerja kerasnya tidak sia-sia.
Akhirnya ia diterima sebagai calon mahasiswa di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Karakura.
Dan Orihime tidak begitu peduli ketika ia harus melanggar kata-katanya sendiri, dengan memberitahukan pada Ichigo kabar yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum selama seharian. Untungnya pemuda itu merespon baik, mengirimkan pesan balasan yang berisi ucapan selamat.
Sejenak ia tidak begitu peduli dengan masa rehat yang tengah dijalaninya dengan Ichigo. Karena ia pikir tidak akan ada yang bisa merusak kebahagiaannya hari itu.


"Ah, Ichigo." Orihime menyapanya dengan riang. Senyumannya mengembang sempurna.
Pemuda itu balas tersenyum.
Selama lima belas menit kemudian mereka terlibat dalam obrolan ringan yang tidak terasa canggung sedikit pun. Tampaknya rehat dua minggu tidak memang tidak mengganggu sama sekali.
"Ada yang ingin kukatakan padamu." Ichigo menatapnya dengan serius.
"Cuacanya sedang bagus. Kita bicara di luar saja, ya?" Senyuman tak pernah meninggalkan wajahnya.
"Baiklah."
Sepuluh menit kemudian mereka sudah duduk dengan santai di atas rerumputan hijau di pinggir sungai. Hari yang cerah dan udaranya cukup hangat. Waktu yang pas untuk berpiknik.
"Orihime, bagaimana kalau kita putus saja?"
Gadis itu menoleh, bertemu pandang dengan sepasang mata hazelnut yang entah kenapa seperti kehilangan sinarnya. Masih dengan senyuman kecil yang seakan enggan lepas.
Tapi senyuman itu memudar. Meski sedikit.
"Kenapa? Kau ingin kembali dengannya?" Orihime memastikan penekanan ekstra pada kata -nya.
Ia tahu apa yang terjadi pada Ichigo dan Rukia selama masa rehat mereka. Ia tahu mereka sering pergi bersama. Ia tahu banyak orang yang menyangka mereka masih pacaran. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun. Tidak selama ia berpikir bahwa kebebasanlah yang dibutuhkan Ichigo.
Ia hanya takut apabila sedikit saja merasa terkekang, Ichigo akan memutuskan hubungan mereka. Rasa takutnya begitu besar hingga ia tidak sadar bahwa ia terlalu membebaskan Ichigo. Menyembunyikan semua sakit hati hanya untuk dirinya sendiri. Tanpa ada keberanian untuk menunjukkannya secara langsung kepada Ichigo.
Masa rehat yang tidak berguna.
Ichigo menggelengkan kepalanya perlahan, mengakhiri kontak mata dengan Orihime.
"Aku...sedang ada masalah yang harus kuselesaikan. Lagipula, bukankah sebentar lagi kita akan jauh?"
Bagaimanapun juga Ichigo ada benarnya.
Sebentar lagi mereka berdua akan terpisah jauh, dalam waktu yang lama. Dan bertemu hanya saat liburan semester mungkin dirasa tidak cukup bagi Ichigo. Mungkin Orihime juga akan merasa begitu.
Ichigo menghela nafas pendek. "Maafkan aku, Hime."
Hening.
Mereka berdua terdiam dalam waktu yang terasa begitu lama. Hanya desir angin dan gemericik air sungai yang terdengar di antara mereka.
Sampai akhirnya, Orihime menoleh kepada Ichigo dengan bulir air mata yang telah jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. "Seharusnya- tidak perlu begini sejak awal..."
Ya...mungkin seharusnya mereka tidak perlu bersama sejak awal. Seharusnya ia tidak mengirimkan pesan pengakuan itu kepada Ichigo. Dan seharusnya Ichigo tidak memintanya... Dengan begitu, mungkin ia tidak perlu merasa seperti ini. Ia tidak perlu merasa kehilangan Ichigo, kalau ia tidak pernah merasa memilikinya, kan?
Ichigo mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata itu. Kemudian membelai rambut Orihime dengan sayang. "Maafkan aku, Hime. Kupikir aku bisa benar-benar mencintaimu. Tapi...ternyata aku masih sekedar kagum."
"Kau gadis yang manis. Cantik. Ceria." Orihime hanya diam. Membiarkan saja Ichigo membelai rambutnya.
Hening lagi.
Sesekali terdengar isakan dari Orihime.
Ichigo tidak lagi membelai rambut gadis itu, kini ia menggenggam tangannya erat. Seakan-akan meyakinkan Orihime bahwa ini bukan akhir dari semuanya.
Kemudian Orihime menghirup nafas dalam-dalam untuk menghembuskannya perlahan.
Ditatapnya Ichigo dengan sepasang matanya yang masih memerah, sebuah senyuman kecil menghiasi wajahnya. Sebuah senyuman yang membuat Ichigo ragu.
"Ah, baiklah. Jadi, hanya sampai di sini?" Suaranya terdengar sedikit serak.
"Tapi, kita masih bisa berteman. Seperti dulu." kata Ichigo sambil tersenyum.
"Ah, iya." Orihime mengangguk. 'Mungkin...'
"Baguslah. Terima kasih, Hime."
Gadis itu mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi kiri Ichigo pelan. "Terakhir." katanya.


Mereka ada dalam perjalanan pulang menuju ke rumah Orihime.
Gadis itu memeluk Ichigo erat, menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. Karena mungkin ia tidak akan dapat melakukannya lagi suatu hari nanti. Karena mungkin ini akan jadi yang terakhir baginya.
Ichigo yang tengah berkonsentrasi mengendarai motor itu mengulurkan tangan kirinya untuk mengelus kepala Orihime yang bersandar di pundaknya. Ia tidak sadar itu membuat Orihime ingin meneteskan air mata lagi.


"Halo...Tatsuki?"
"Hmp? Kau kenapa Orihime? Kau menangis, ya?" tanya Tatsuki.
"A-aku baru putus dengan Kurosaki..."
"A-apa? Bagaimana bisa?"
Orihime tidak dapat melihat ekspresi terkejut Tatsuki dari seberang sana. Sementara gadis tomboi itu juga tidak dapat melihat bulir-bulir air mata yang terus jatuh membasahi pipi Orihime.
Ia pikir tidak akan ada yang bisa menghancurkan kebahagiaannya. Tapi ternyata ia salah.
Karena sesampainya ia di rumah, setelah Ichigo melambaikan tangannya dan pergi, air matanya tidak berhenti mengalir. Tidak bosan-bosannya ia menangis.
Ichigo benar-benar tahu cara menghancurkan senyumannya.
OWARI

No comments:

Post a Comment