Wednesday, March 30, 2011

What If People Know (Prologue)

Seseorang dengan IPK 4 sepertimu mungkin tahu segalanya. Tapi apakah kau memahami hati wanita sebaik kau menguasai Matematika? Atau Fisika? Kimia?
 
Prologue

Yang pertama kali terlintas di benakku saat kau meminta jawaban dariku adalah, apakah kau serius? Aku tidak ingat namaku pernah tercantum dalam daftar gadis populer yang diperhatikan oleh makhluk bernama laki-laki. Aku tidak ingat kita pernah berbincang akrab pada pertemuan sebelumnya, karena memang kita tidak pernah melakukannya. Aku tidak ingat kau pernah melempar senyum padaku, karena aku juga tidak pernah melakukannya padamu.
Sekarang, apa yang harus kuberikan padamu sebagai jawaban?
Apa alasanku?
Apa karena IP 4-mu yang berkilau-kilau itu? Apa karena kepopuleranmu? Apa karena kiprahmu dalam keorganisasian? Atau...apa karena harta orang tuamu?
“Jadi gimana?”
Aku hanya bisa mengkerutkan alisku, masih cukup terkejut dengan pernyataanmu beberapa saat yang lalu.
“Ren? Saya tahu ini tiba-tiba, tapi-”
Aku bahkan tidak tahu saat aku menganggukkan kepala tanda setuju.
Dan senyuman yang khas terukir menghiasi wajahmu yang juga turut berseri. Aku tidak pernah menyadari hal itu sebelumnya, ternyata kau begitu tampan. Saat itu aku merasakan perasaan hangat menyeruak di dalam dadaku.
Tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta kepadamu memang.
“Tapi ini hanya di antara kita saja, ya? Kamu tahu kan, gimana anak-anak di kelas? Mereka selalu saja mengejek saya dan Wulan.”
Kau mengatakan semuanya begitu mudah.
“Oh iya, boleh kan, saya minta nomor hape kamu?”
Tiba-tiba aku takut, kalau-kalau ini semua hanya akan seperti permainan bagimu. Kalau-kalau kau akan terlalu sibuk dengan urusan studi dan menganggap ini semua bukan apa-apa.
Atau yang lebih buruk lagi, kalau aku menghancurkan komposisimu. Karena aku yakin aku akan melakukan hal itu. Cepat atau lambat.
“Kamu nggak bicara apa-apa dari tadi.”
Aku mengangkat wajahku, menatap sepasang matamu di balik lensa persegi itu dari balik lensa kacamataku yang persegi juga, kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.
Tawamu terdengar begitu riang di antara desir angin yang meniup dedaunan, yang menggoyangkan rerumputan di sekeliling kakiku. Dan aku mendapati senyumku memudar.
“Saya suka cewek pendiam kaya’ kamu.”
Hanya kau belum tahu siapa aku.
Dan perjalanan kembali ke asrama putri yang biasanya kulalui sendiri dengan berjalan kaki kini tak berlaku lagi. Deru motor dengan angkuhnya memecah keheningan petang kala itu.

No comments:

Post a Comment