Monday, April 4, 2011

What If People Know (Chapter 1)

Ibran Aji Praditya namanya, mahasiswa jurusan Teknik Sipil dan merupakan salah satu dari sepuluh mahasiswa tingkat pertama yang mendapat IP sempurna. Sikap ramah dan paras yang jauh dari kata lumayan merupakan nilai lebih yang membuatnya dikagumi.

Ruang Kuliah A3 pukul 07.50 am.
 “Ibran Ajiii~! Sini gih, ajarin gue Kalkulus!!”
Pemuda itu menoleh ke arah sumber suara sambil meringis. Pagi-pagi begini dia sudah diserang dengan pekikan mahasiswi tambun bernama Risma. Bukan cara yang dia inginkan untuk mengawali hari.
“Wulan, Wulan, gue pinjem mas Praditya bentar ya? Boleh kan, Lan?” Gadis itu tersenyum usil kepada Wulan yang duduk di deretan belakang. Wulan sendiri hanya membalas senyum kecil. Ibran yang berdecak kesal melirik ke arah kursi dekat jendela, tapi sayangnya tidak bertemu pandang dengan gadis berkerudung abu-abu yang duduk di sana. Karena dia hanya bertopang dagu dan melihat ke luar.
“Yang ini gimana? Gue belum ngerti cara bikin grafiknya, Bran?”
“Gini, kamu cari dulu turunan fungsi f-nya terus begini..”
Inikah yang kau maksud hanya di antara kita?

Gadis yang duduk di dekat jendela itu mengalihkan pandangannya kepada pemuda berkemeja kotak-kotak putih abu yang duduk di depan dengan dikelilingi beberapa mahasiswi yang minta diajari mata kuliah tertentu.
Ia tidak sadar telah memandanginya selama beberapa detik, hingga akhirnya teman yang duduk di sampingnya menegur.
“Ren, ngeliatin siapa lo? Asyik banget,”
Dia menoleh. “Ah, itu, anak-anak. Rajin banget minta diajarin,”
“Ibran ya? Pinter banget sih dia. Coba dia tahu kalo gue pernah suka sama dia. Kira-kira reaksinya gimana, ya? Biasa aja pastinya,”
“Mei..”
“Tapi kan gue tahu diri, dia nggak mungkin suka sama cewek biasa aja kaya’ gue. Lagian, cowok sepinter dia, mana sempet mikirin pacaran, kan?”
Benarkah demikian?

...

Irene Firandini Zaniar, mahasiswi jurusan Teknik Arsitektur semester 2. Seorang gadis yang biasa saja, tidak terlalu menonjol dalam hal prestasi maupun organisasi. Bahkan dia cenderung lebih senang menyendiri bersama temannya, Mei dan Andria, dibandingkan ikut bergerombol dengan mahasiswi lain di kelasnya yang berisik dan hobi menggosip.
Tidak akan ada yang menyangka kalau sekarang ia sedang menjalin hubungan rahasia dengan mahasiswa terpintar di kelas, Ibran Aji Praditya. Tidak ada komunikasi, tidak ada lirikan, tidak ada sapaan, tidak ada yang berbeda dari mereka berdua hari ini.
“Karena waktunya sudah habis, materi selanjutnya akan saya jelaskan minggu depan. Selamat siang,”
Dosen Kewarganegaraan yang sudah memutih rambutnya itu mengemasi buku-bukunya dan keluar dari ruang kuliah. Keadaan segera ribut seperti semula.
Ibran berjalan mendekati kursi Wulan dan menyerahkan sesuatu. “Wulan, nanti laporan Fisikanya kamu yang ngumpulin, ya?”
“Lho, kok aku? Memang kamu mau kemana?”
“Saya mau-”
“Cieeeee, terima! Terima! Terima!” Mulailah terdengar paduan suara kelas yang kacau dipimpin oleh Risma. Wulan dan Ibran tampaknya sudah terbiasa dengan keadaan tersebut sehingga mereka hanya menghela nafas pendek.
“Mulai lagi deh si Risma. Nyebelin ya dia?” komentar Mei sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Iren hanya tersenyum. “Biasalah. Maklum, bocah.”
“Tapi akhir-akhir ini kerasa jadi intens banget nggak sih? Nyapa dikit ciee, senyum ciee, pake baju miripan ciee. Iseng banget deh,”
“Mei cemburu, ya?”
“Hah? Gue? Nggak kok, ngapain?”
Tiba-tiba saja Ibran sudah berdiri di depan mereka, dengan tidak menghiraukan grup paduan suara yang masih berkoor menggodanya dan Wulan. Mei mengerutkan alisnya heran, apa yang akan dilakukan orang itu?
Dan Iren, mungkin dia sedikit berharap Ibran akan mengungkap tentang mereka. Atau paling tidak memberi sedikit petunjuk.
“Mei, temenin Wulan ngumpulin laporan Fisika, ya? Saya ada urusan, buru-buru.”
Begitu cepat dia muncul, begitu cepat pula ia pergi.
Kau bahkan tidak sempat melihat ke arahku.

No comments:

Post a Comment