Tuesday, May 24, 2011

Sapi

I'm not in the mood to write something. Writer's block is just too much to bear with.
Oh, I finally made it~! My flannel!! Nothing special, though. I intend to make it as a cute, fatty cow, but it just turned out to be a cow with dog body (?) I didn't know. Odd cow. Strange. But I don't really care though. My cow~ I named it sapi! (What the--)
Why cow?
Why not? I'm an animal husbandry student after all!! What should I make then? A cow of course~! The symbol, lol!!


sapi

sapi

sapi
If you realize, I rarely made long text, right? I just didn't have time to prepare the text or write it on the paper before posting. Plus, my English is just that bad~ *whine...

Saturday, May 21, 2011

What If People Know (Chapter 6)


Hari-hari berikutnya masih sama. Tidak ada komunikasi di antara mereka berdua saat berada di dalam kelas. Kalau sedang bosan atau mengantuk dengan penjelasan dosen, Ibran memberitahukannya lewat sebuah pesan singkat. Dan Iren hanya tersenyum.

Permainan ini sudah berjalan lebih dari seminggu dan mereka berdua dengan pintarnya menyembunyikan hal ini dari semua orang. Beruntung Mei tidak pernah menanyakan apa yang ia lihat, karena sepertinya gadis itu cukup puas dengan alasan ‘kebetulan’ yang diberikan Iren.
“Ibran, nanti bantuin bawa buku laporan anak-anak, ya? Banyak tuh.”
Pemuda itu menoleh, kemudian menganggukkan kepalanya dan kembali berkonsentrasi pada soal latihan yang tengah ia kerjakan.
Mereka berdua masih tinggal di laboratorium bersama dengan tiga asisten praktikum sementara anak-anak yang lain sudah kembali ke asrama masing-masing.
“Kalo ada yang nggak ngerti tanya aja ya, Bran?” Salah satu asisten praktikum berujar dari pojok ruangan tempat ia dan dua rekannya mengoreksi laporan.

Monday, May 16, 2011

It's Me and Myself Only

Karena setiap orang punya cara masing-masing untuk mengisi hidupnya. Sementara saya, bukanlah orang yang memfavoritkan angka, bahkan cenderung menghindarinya. Oleh sebab itu, mungkin jarang sekali bagi saya untuk terlihat sedang serius berkutat dengan hal itu. Bermain-main dengannya seperti puzzle yang menarik.
Dan jika ada yang heran dengan semua yang saya lakukan -karena terlihat saya tak pernah melakukan sesuatu yang berguna- saya hanya bisa menjawab, inilah cara saya mengisi hidup.
Saya menulis. Menulis apa saja yang saya sukai, membangun dunia dengan saya sebagai rajanya. Dunia yang hanya saya yang mengerti. Dunia yang hanya saya yang mengisi.
Kita punya cara masing-masing. Sementara saya menghindari angka, bukan berarti saya sama sekali tidak memperlajari apa pun. Hanya kalian tidak tahu, dari mana dan bagaimana saya belajar.
Saya hanya ingin menegaskan, setiap orang berbeda. Begitu pula dengan saya.

What If People Know (Chapter 5)

“Lo ngapain aja dari tadi? Udah hampir jam 8 nih, bisa telat kita.” gerutu Galih begitu melihat Ibran muncul dengan kedua tangannya sibuk mengancingkan kemeja. Kunci motor yang ia gigit terdengar bergemerincing nyaring.

“Kamu ngapain nunggu saya? Kenapa nggak berangkat duluan?”
“Hehe, kan kelasnya jauh, Bran. Lagian busnya penuh terus dari tadi. Males gue jadinya,”
Berdecak pelan, Ibran memasukkan kunci dan menyalakan mesin motornya. Tanpa menunggu lama mereka berdua pun melesat pergi.
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, mereka terlambat. Beruntung hanya 7 menit dan dosen mata kuliah Fisika tersebut masih mengizinkan mereka untuk masuk.
Bergegaslah mereka berdua duduk di kursi yang masih kosong, yaitu di deretan belakang. Dan entah ini adalah sebuah keberuntungan atau tidak, Ibran duduk tepat di sebelah kanan Iren. Gadis itu hanya mengangkat kepalanya untuk menatap Ibran sekilas, kemudian kembali memperhatikan penjelasan dari dosen.

Thank You, Luppi-kun~!

Sunday noon at dorm, usual boring day as always. Or is it just me that too lazy to do something useful? Don't really care, though. I have my own way of living, right?
It's a big thank you for my lovely Luppi-kun~! Because of him, I'm able to do many things I like. Big thankies to you, hun! So, for those who wonder about my Luppi-kun, here you are!
Acer 4738 - brown

Sunday, May 15, 2011

I'd Definitely Cry

Another long day at dorm, with nothing to do (just lazy to do something I should do). But yeah, that's just like myself right? Anyway, my IDM had been prepared by mega (thank you bebeb, muaach) and at first I didn't really know what to do, what movie to be downloaded.
I just googled and googled with nothing to do in particular. Then I came to a certain idea, I wanna watch anime movie! I don't want any drama, that would be too long and boring. Beside, I still have to watch Death Note anime start from episodes 30 'Justice'. The reason why I procrastinate those anime is because it's in English dub! That's why, I don't really get it all! Darn it!
Also, I have some J-Drama that I've never touched yet. It seemed that I like to download something and found it boring to watch. I don't know?
And...I'm downloading some anime movie I got from Anime Movie Site. Hmm...Paprika it is. The first movie I got from that site. I've watched few minutes while waiting for my download to finish. It's interesting movie. I have to wait a long time till get bored. Darn it... But it's okay, cause I finally have it :)
Paprika

But how about this one? I got it and felt doubt, thought. But I downloaded it anyway. And till I write this, it still haven't finished yet. I'd definitely cry if it stops working! No doubt! The largest size I've ever downloaded.
Download


Amazing size, right? Hahaha. I really took the risk by downloaded that movie. I really could kill someone if it comes to a fail~! Hope it will come to an end soon! Or else, I would cry my eyes out! :O

Wednesday, May 11, 2011

What If People Know (Chapter 4)

Gadis itu memandangi layar ponselnya dengan muka serius. Jemarinya yang ramping mulai menari di atas keypad.
Kebetulan aja ketemu di situ. Lo sama Andria tadi?
Delivered to Mei Fithriani
Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar lagi.
Nggak, sama temen sekamar gue. Besok fd gue jangan lupa, ya?
Iren mengistirahatkan kedua tangannya pada pembatas balkon dan menghela nafas panjang.
Padahal tadi mereka sudah menjauhi daerah kampus dengan harapan tidak ada anak kelas yang memergoki mereka berdua. Namun Mei sempat melihat mereka berdua tadi.
Walaupun sebenarnya tidak jadi masalah sama sekali bagi Iren jika ada anak kelas yang melihat mereka. Ia malah sedikit berharap ada Risma dan Tyas atau bahkan Wulan yang melihat mereka tadi.

Sunday, May 8, 2011

What If People Know (Chapter 3)

Mereka duduk di bawah sebuah pohon beringin yang rindang dengan berjarak sekitar 30 cm. Ibran tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengusir kecanggungan di antara mereka berdua.
Jelas Iren bukanlah gadis ceriwis seperti Risma atau Tyas yang bisa langsung cocok dengan siapa saja. Ia juga bukan seorang yang kritis seperti Wulan.
Ibran baru menyadari kalau sebenarnya selama ini ia belum pernah sekalipun mengobrol berdua saja dengan gadis itu. Lalu apa yang membuatnya secara tiba-tiba jatuh cinta pada gadis itu dan nekat menyatakan perasaannya?
Yang lebih penting lagi, apa alasan gadis itu menerimanya begitu saja?
Selain karena komunikasi sesama anggota kelompok belajar, mereka berdua tidak pernah terlibat dalam obrolan santai, apalagi pembicaraan serius. Bisa dikatakan belum pernah ada komunikasi pribadi sama sekali.

Saturday, May 7, 2011

Welcome Back My Childhood

Yes, welcome back!! I got my childhood back! :D
I'd like to say thank you for certain kaskuser who made thread about SEGA. Thank you so much~  for from now on, I could play those games, recalling my childhood and feeling those happiness come again and again. I'm really grateful~
Tom and Jerry

Wednesday, May 4, 2011

My Little Friend - a Bleach fanfiction

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Warning : hint of ShounenAi, school bullying
Attention : Di flashback ceritanya ibunya Ichigo masih hidup, ya?
Seperti biasa siang ini Ichigo dan teman-temannya sedang makan siang di atap. Keigo sibuk berceloteh tidak jelas.
“Emph, hei Ichigo! Kemarin aku bertemu dengan teman masa kecilku! Padahal dulu dia ingusan, jelek, gemuk pula. Tak kusangka dia sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan anggun…” Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan mata berbinar-binar.
“Ha, aku berani taruhan dia sudah tidak mengenalimu kan, Asano?” Tatsuki berujar.
Raut muka Keigo berubah seketika, ia mengerucutkan bibirnya kesal.
“Heh, memang benar. Sombong sekali dia sekarang! Mentang-mentang cantik!”
“Teman masa kecil, ya? Aku juga punya,” kata Ichigo dengan pandangan menerawang.
Sementara Uryuu mengerutkan keningnya. Bibirnya berhenti mengunyah bekal yang sedang ia makan dan mengginggit sumpitnya pelan.
Teman masa kecil?

Crown Prince - A Few Words

Finally finish to posting those multicrossover fanfiction. Sorry for the inconvenience I made because of that annoying-silly mind of mine. I made that 2 years ago, started at April 2nd and ended July 7th 2009. So apologize for that matter. I just don't care about the characters, so they must came out of the characters. And for the magic spell, name of the ability and else, just as annoying as the rest. Apologize.

For your information, I made that very Crown Prince from an art of mine, with adaptation of course. I didn't mean to ended the story like the way I did, but it just turned out to be like that.
It wouldn't be wise for me to talk much, because the story has been posted anyway. Yeah, whatever.

Crown Prince (Frame 5)

Final Battle
“Entah teknik apa yang mereka pakai, yang jelas, siapapun yang kita ketahui sebagai Quincy namun tiba-tiba berubah menjadi mortal biasa, adalah seorang Quincy. Jadi, tangkap orang-orang yang pernah kita curigai.”
Mereka yang ada di ruang klub kendo menganggukkan kepala patuh. Perintah sang pemimpin mereka sudah jelas. Tangkap Sakuraba Haruto, Ishida Uryū, dan sang putri Jounan, Sawachika Eri.
Dia merasa akan terjadi sesuatu yang berbeda hari ini. Entah apa, yang jelas itu membuatnya cukup cemas. Eri segera memberitahu Uryū. Dan sang pangeran juga merasakan hal yang sama. Dia memberi instruksi pada Eri untuk melepas hipnotis-nya pada Haruto, rasa-rasanya anak itu sudah kembali bisa melindungi dirinya sendiri dari Ryū dan gerombolannya.
“Eri, ada apa? Kenapa kau terlihat begitu cemas?” tanya Haruto saat Eri menariknya pergi ke samping gedung sekolah. Gadis itu tidak menjawab, masih menyeret sang kapten basket.
Di sana sudah ada Uryū dan Rukia. Haruto melambaikan tangannya menyapa mereka berdua. Mereka juga terlihat tidak tenang seperti Eri.
Apa mereka sedang reuni atau semacamnya ya?
“Ada apa aku dibawa ke sini?” tanyanya.

Tapi tidak ada yang menjawab. Dia paling tidak suka diacuhkan seperti itu, bahkan meskipun oleh sang putri Jounan yang sudah lama ia sukai itu.

Crown Prince (Frame 4)

The Prince
Dia tidak akan diam saja. Gadis itu rela mengorbankan nyawa untuk melindunginya. Bahkan sampai menghianati klan-nya sendiri. Sebelum hado itu mengenai mereka, Haruto memeluk tubuh Orihime dari belakang. Membuat Orihime terkejut, tentu saja. “Orihime, terima kasih.” bisiknya.
BLAAARR~!!!
Hado 33 kekuatan penuh. Serangan yang dimaksudkan untuk mematikan lawan, bukan sekedar melumpuhkannya saja. Asap yang cukup tebal sisa hantaman hado 33 dengan permukaan tanah membumbung. Semuanya sudah berakhir?
Terdengar suara terbatuk-batuk dari balik asap. Ini belum berakhir. Ryū berdecak kesal, sekaligus bernafas lega. Berbagi perasaan yang berbeda.
Setelah asapnya menghilang tertiup angin, Ryū dapat melihat Orihime terbaring tidak sadarkan diri di atas tanah. Di sampingnya berlututlah Sakuraba Haruto.
Anak laki-laki berambut pirang itu berdiri, memunculkan busur iluminasi di tangan kirinya, bersiap melepaskan anak panah. “Kau tega sekali.”
Anak panah spiritual yang dia lepaskan dapat dipatahkan Ryū dengan mudah. Sebagai gerakan lanjutan, pemuda itu pun melancarkan hado 5. Tepat melukai tangan kiri Haruto. Berhasil memutuskan Quincy cross-nya. Gelang dari perak itu jatuh ke atas tanah berumput, berkilauan memantulkan sinar matahari.

Tuesday, May 3, 2011

The Heart Seemed to Do It Somehow - an Eyeshield 21 fanfiction

Disclaimer     : Eyeshield 21 © Inagaki Riichiro & Murata Yusuke
                     The Heart Seemed to Do It Somehow © A & T
Pairings         : Shin/Saku, Shin/Sena, Taka/Saku brothership
Warning         : BL a.k.a shounen-ai, OOC

- Sakuraba’s POV -
Aku mendudukkan diriku pada bangku cadangan dan meluruskan kedua kakiku. Latihan pass-catch sore itu benar-benar menguras tenagaku. Kualihkan perhatianku pada lapangan, di mana beberapa rekan satu tim-ku masih semangat berlatih. Dia ada di antara mereka...
Shin Seijuro.
Ya, seperti tidak pernah merasa lelah, line andalan tim kami itu terus memacu dirinya. Lebih keras dan lebih keras lagi. Seakan-akan dia tidak pernah puas dengan kemampuannya.
“Sakuraba-kun, ini.”

Crown Prince (Frame 3)

Warm Up
Keadaan mulai tenang, para Raien mulai mengurangi kewaspadaan mereka akan Quincy, yang sudah beberapa minggu ini tidak pernah terasa reiatsu-nya. Mereka pun berangsur-angsur mulai melupakan kemungkinan Sawachika Eri adalah seorang Quincy. Tidak ada yang aneh dengan gadis itu.
Tapi tidak dengan Ryū. Dia masih tetap waspada meskipun dari penampilan luar dia terlihat santai dan biasa saja. Dia yakin Quincy itu masih ada di sekitarnya dan tengah menunggu waktu yang tepat untuk melakukan re-entry. Dia pun masih curiga kepada Eri, meski dia sudah membuktikan sendiri bahwa gadis itu hanya mortal biasa.
Sore itu seperti hari-hari tenang yang biasa di musim semi. Semburat oranye keemasan menghiasi langit kota Tokyo. Matahari sudah tidak terlihat, terhalang oleh gedung-gedung pencakar langit di sebelah barat. Melewati sore hari yang damai dengan berdiri sendirian di balkon merupakan kesenangan tersendiri bagi Orihime. Setidaknya tidak ada Simca yang selalu ribut menyuruhnya beres-beres kamar yang memang kali ini benar-benar berantakan. Majalah-majalah berserakan di atas tempat tidur yang bed covernya bahkan lebih berantakan lagi. Tempat sampah di pojok kamar terguling dan menumpahkan bungkus coklat, permen, serta buntalan-buntalan kertas. Tempat pensil di atas meja belajar juga terguling, isinya sudah tersebar ke seluruh penjuru kamar.

Crown Prince (Frame 2)

Flash Back

Namun tiba-tiba tawa itu berhenti, kemudian di susul bunyi berdebum jatuh.
“Hn, baka.” Suara yang tenang dan terkesan dingin.
Perlahan Eri membuka matanya. Dengan mata basah ia tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri memunggunginya itu. Tapi ketika orang itu menoleh kepadanya, ia menahan nafas terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Uryū...”
“Kau baik-baik saja, Eri?”
Sang penyelamat itu mendekati Eri dan berlutut di dekatnya. “Kau berkeringat dingin.” Disekanya keringat yang mengalir di dahi gadis itu dengan penuh perhatian. Tanpa pikir panjang Eri pun menghambur ke dalam pelukan anak itu. Menangis lega.
Rintik-rintik air hujan turun membasahi bumi. Mulanya hanya gerimis kecil, tapi lama kelamaan menderas. Anak laki-laki berambut raven yang bernama Uryū itu menengadahkan kepalanya, membiarkan hujan membasahi wajah pucatnya.

“Kita harus segera pergi dari sini,” Dia melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Eri, kemudian membawa gadis itu pergi dalam bridal-style.

Crown Prince (Frame 1)

Introducing

“Sudah kau temukan?”
“Belum. Kau yakin dia yang muncul?”
“Kau meragukan kemampuanku?”
“Bukan begitu. Tapi aku tidak merasakan apa-apa dari tadi,”

immobile, hypnotize, safety zone, doll control, psychometry, illusion
don’t they enough for you, Raiens?

Di sebuah tempat di pinggiran kota Tokyo, tepatnya di Jounan High School, ruang klub kendo, berkumpullah beberapa murid baik dari kelas 3 maupun kelas 2 duduk melingkar. Mereka semua sedang mendengarkan instruksi dari seorang murid kelas 3 yang berdiri di tengah-tengah lingkaran.
“Kalian tahu resikonya kalau sampai dia- atau bahkan yang lebih buruk lagi, mereka, kembali. Bagaimana pun juga, kita harus bersatu dan berburu menangkapnya!”
Terdengarlah sorak-sorak dukungan dari beberapa murid, sementara ada beberapa orang yang hanya diam dan saling berpandangan satu sama lain.

What If People Know (Chapter 2)

“Awas aja kalo lo nyanyinya jelek, An. Balikin duit gue.”
Andria tertawa kecil, menepuk lengan Iren main-main.
“Tenang aja. Dijamin lo bakal terpukau sama suara emas gue,” balasnya dengan nada angkuh yang jelas dibuat-buat. Mei hanya tertawa mendengarnya.
“Si Aldi dateng juga kan, An?” tanya Mei.
“Iya lah, secara dia kan cowok gue. Mau nggak mau, sempet nggak sempet, dia wajib nonton gue,”
Iren baru saja akan menimpali ketika dirasa ponsel yang ia genggam bergetar. Segera ia membukanya dan mendapati sebuah pesan dari Ibran.
Nggak bisa nganter pulang, maaf ya?
Be careful,
Ia segera melipat kembali ponselnya saat Andria melongok penasaran.
“Aish, siapa sih? Gebetan lo?”
“Nggak penting. Gue balik dulu ya?” Iren meraih tasnya dan beranjak sambil membenarkan kerudung yang tersampir di pundaknya.

fyrinichi?

This is a little about fyrinichi-thing. It's a bit confusing, also hard to read, ne? This name was came from- here's the explanation :)
f is from my middle name initial, fatkhatul. yrin came from irin, my name but come with adaptation, for I don't want my pen-name full of i. Ichi came from one in Japanese. I'd like to make it means as Ichiban (number one) but that would be strange. And there it goes, fyrinichi for me :)
Oh, and about the font I used in this blog, I changed it from verdana to coming soon is because I don't want this blog to become so much strict. Now it looks like plaything, doesn't it? Anyway, when it comes to the story, of course I would use the standard font. Verdana it is.
So, I think it's enough for now.
Enjoy~