Tuesday, May 3, 2011

Crown Prince (Frame 1)

Introducing

“Sudah kau temukan?”
“Belum. Kau yakin dia yang muncul?”
“Kau meragukan kemampuanku?”
“Bukan begitu. Tapi aku tidak merasakan apa-apa dari tadi,”

immobile, hypnotize, safety zone, doll control, psychometry, illusion
don’t they enough for you, Raiens?

Di sebuah tempat di pinggiran kota Tokyo, tepatnya di Jounan High School, ruang klub kendo, berkumpullah beberapa murid baik dari kelas 3 maupun kelas 2 duduk melingkar. Mereka semua sedang mendengarkan instruksi dari seorang murid kelas 3 yang berdiri di tengah-tengah lingkaran.
“Kalian tahu resikonya kalau sampai dia- atau bahkan yang lebih buruk lagi, mereka, kembali. Bagaimana pun juga, kita harus bersatu dan berburu menangkapnya!”
Terdengarlah sorak-sorak dukungan dari beberapa murid, sementara ada beberapa orang yang hanya diam dan saling berpandangan satu sama lain.

“Lihat..dia tampan sekali, ya?” komentar seorang gadis yang duduk di tribun barat bagian bawah bangku deret terdepan, menunjuk seorang anak laki-laki yang ada di antara gerombolan anak tim basket sekolah.
Namanya Inoue Orihime. Murid kelas 2-3. Gadis dengan warna rambut coklat cerah yang mencolok, gadis periang. Sejak masuk ke Jounan High School ini dia naksir Sakuraba Haruto, murid kelas 2-1 yang menjabat sebagai kapten tim basket sekolah. Hal yang wajar memang, mengingat paras anak itu yang jauh dari kata lumayan.
“Iya-iya. Dia memang tampan,” balas teman sekelasnya, Tsubame Simca, yang juga berwarna rambut mencolok, pink cerah. Mereka sudah berteman sejak kecil dan selalu satu sekolah sejak sekolah dasar.“Kudengar dia belum punya pacar. Ah, aku ingin menjadi pacarnya..” Orihime menangkupkan kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada, matanya tampak berbinar-binar.
“Tapi kudengar, dia naksir seorang teman sekelasnya.” celetuk Simca, membuat tanda hati yang mulai terbentuk di mata Orihime terbelah bentuknya.
“Ah, kau menghancurkan impian orang saja, Simca!” gerutu Orihime kesal, meninju lengan temannya itu main-main. Simca hanya tertawa cekikikan dan mengusap lengannya yang barusan ditinju Orihime.
Sementara itu di tribun timur atas, di antara gerombolan anak kelas 3, seseorang yang dikenal bernama Amakusa Ryū, diam-diam memperhatikan Orihime dari atas sana. Tersenyum dalam hati melihat gadis itu tertawa riang.
“Ryū?” Pemuda berambut ungu itu menoleh, mendapati seorang gadis yang duduk di sebelahnya tersenyum. “Apa yang sedang kau pikirkan?”
“Bukan apa-apa.”

“Kau lihat kan, tadi dia tersenyum padaku!” kata Orihime girang. Simca hanya menghela nafas dan mengangguk. Sudah ratusan kali Orihime mengatakan hal yang sama sejak mereka keluar dari gedung olahraga setelah menyaksikan latihan tim basket sekolah hari itu. Sampai di apartemen pun gadis itu tidak henti-hentinya berputar-putar dan bersenandung gembira.
Mereka berdua memang tinggal dalam satu apartemen. Simca sendiri yang mengusulkannya. Dia bilang akan lebih menghemat uang daripada tinggal sendiri-sendiri, karena orang tua mereka masing-masing juga tinggal di luar kota. “Sudah Ori, berhenti berputar-putar begitu. Kau membuatku pusing tahu!” kata Simca kesal.
Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan mencoba menutup kedua matanya, tidak mau melihat temannya menari-nari berputar-putar.
Sementara Orihime sepertinya tidak mendengarkannya dan terus saja berputar-putar di dalam kamar mereka yang tidak terlalu luas, tak lupa menyenandungkan lagu entah apa. Simca hanya mendengus dan menenggelamkan kepalanya dalam tutupan bantal.
“Ah, Simca! Kau tidak bisa lihat orang senang!” kata Orihime.
“Huh, terserah!” balas Simca, suaranya teredam bantal yang menutupi kepalanya.
Orihime masih saja berputar-putar dan bersenandung sampai akhirnya Simca jatuh tertidur. Matahari mulai terbenam dan langit senja yang berwarna oranye keemasan pun berubah warna menjadi biru gelap.

“Cepat, Ori! Nanti kita bisa terlambat!” teriak Simca dari genkan sambil mengikat tali sepatunya. Dia mengerling jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, mendengus kesal. “Iya, sebentar!” teriak Orihime dari dalam.
Di dalam, Orihime sedang sibuk mencari kaos kaki sebelah kirinya yang tidak ada di manapun, sambil sibuk merapikan slayer yang melingkari lehernya di bawah kerah sailornya. “Simca! Kau lihat kaos kakiku tidak?!”
“Tidak tahu!! Cepat Ori!”
“Iya-iya!!”
Dan sepuluh menit kemudian pergilah mereka ke sekolah dengan berjalan kaki. Rupanya sebelah kaos kaki Orihime ada di kolong lemari es. Entah bagaimana bisa benda itu bisa sampai di sana.
“Untung aku mempercepat jammu, Simca! Jadinya kita tidak akan terlambat. He-he, aku pintar kan?” cengir Orihime bangga dalam perjalanan mereka menuju ke sekolah. Simca yang berjalan di sampingnya mendengus kesal. Kadang-kadang Orihime bisa jadi orang yang sangat menyebalkan baginya.
“Jadi kau mempercepat semua jam di rumah?” tanya Simca dengan nada kesal.
“Yup! Dengan begitu, kita tidak akan pernah terlambat ke sekolah! Aku jenius kan?”
“Kau menyebalkan!” Orihime tertawa renyah. “Kau hanya iri padaku karena tidak pernah memikirkan hal itu, kan?” Simca menggeretakkan gigi-giginya menahan marah. Ia ingin sekali menjitak kepala Orihime dan membungkam mulutnya.
“Simca!” Gadis berambut pink cerah itu menoleh ke belakang, Orihime juga. Dan segera saja Orihime menahan nafas terkejut. Sepasang mata abu-abunya melebar.
Beberapa meter di belakang mereka, Sakuraba Haruto berlari kecil ke arah mereka. Jantung Orihime berdegup kencang dan mukanya memerah, gugup.
“Selamat pagi!” Haruto mendaratkan sebuah tepukan pada bahu Simca sembari tersenyum ramah. Anak laki-laki berambut pirang itu kemudian berjalan di tengah-tengah antara Simca dan Orihime.
“Tumben kau jalan kaki, Haruto?” kata Simca, melirik ke arah Orihime. Tersenyum geli melihatnya berjalan dengan menundukkan kepala sambil memainkan jemari tangannya gugup.
“Hanya sedang ingin saja.” Kemudian Haruto dan Simca terlibat dalam obrolan kecil. Mereka berdua memang cukup dekat karena pernah sekelas saat kelas satu dulu. Orihime sendiri hanya mendengarkan obrolan mereka berdua tanpa berani ikut menimpali. Ia begitu gugup kalau ada di dekat Haruto. Apalagi berjalan berdampingan dengannya seperti sekarang ini.
“Ha-ha-ha, kau itu memang konyol! Dasar!” Simca meninju lengan atas Haruto main-main. Haruto tertawa, mereka berdua tertawa. Tapi Orihime malah terantuk batu karena tidak berjalan dengan hati-hati. Dia hampir saja terjatuh kalau saja Haruto tidak segera menangkap lengannya.
“Eh, kau tidak apa-apa?” tanyanya.
Orihime hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum gugup. “Ah, aku baik-baik saja. Terima kasih.”
“Kalau jalan jangan sambil menunduk begitu. Santai saja.” Haruto menepuk bahu Orihime pelan, membuat pipi gadis itu memerah seperti kepiting rebus. Simca pun tak bisa menahan gelak tawanya melihat perubahan warna muka Orihime.
“Oh iya, namamu Hima, kan?” Dan meledaklah tawa Simca.

“Ha-ha-ha-ha...!”
“Berhenti menertawakanku Simca! Kau menyebalkan!” Orihime memukul kepala Simca pelan menggunakan fotocopy soal ulangan, namun cukup untuk membuat tawa gadis itu mereda, sambil menyelipkan rambut coklat cerahnya ke belakang telinga. Simca yang sudah mereda tawanya hanya menampilkan cengirannya.
“He, aku tidak menyangka, Ori. Dia bahkan tidak tahu namamu!” katanya menahan tawa. Orihime hanya mendengus sebal.
‘Bagaimana bisa Haruto memanggilku Hima? Namaku kan Orihime, seharusnya Hime, bukan Hima!’ gerutu Orihime dalam hati. Dia paling tidak suka orang lain salah memanggil namanya. Namun bukankah namanya adalah hal yang terlalu mudah untuk diingat dan diucapkan?
“He, aku rasa Haruto ingat pada senpai kita yang sudah lulus yang bernama Himawari. Dulu mereka pernah dekat, lho!” bisik Simca sok misterius, tapi gagal karena beberapa detik kemudian tawanya kembali meledak.
Menertawakan Orihime adalah hal yang sangat ia sukai. Ia sangat menikmati melihat gadis itu cemberut dan memasang tampang kesal.
“Kau menyebalkan, Simca!”
“Biar saja! Yang penting Haruto tidak salah memanggilku!” Simca menjulurkan lidahnya mengejek pada Orihime, lalu meneruskan tawanya.

Siang itu cuacanya tidak begitu bersahabat. Sekumpulan awan kumulonimbus terlihat tebal di selatan, mendung. Benar saja, tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dengan nyaring dan murid-murid Jounan High School berebut keluar dari kelas mereka masing-masing. Namun langkah mereka terhenti di ruang loker, melihat hujan yang menderas di luar. Tadi pagi cuaca cukup cerah sehingga kebanyakan dari mereka tidak membawa payung. Dan dalam sekejap saja ruang loker Jounan High School berubah menjadi seperti tempat tunggu stasiun kereta yang jadwal keberangkatannya ditunda.
Beberapa anak nekat berlari menerobos hujan. Kebanyakan dari mereka adalah murid laki-laki yang tergesa-gesa ingin segera pulang dan melakukan kegiatan selanjutnya. Sementara itu segerombolan anak kelas 3 yang disegani memasuki ruang loker. Amakusa Ryū ada di antara mereka.
“Huh, hujan? Merepotkan sekali,” celetuk pemuda berambut oranye cerah yang bernama Kurosaki Ichigo. Dia menoleh kepada Ryū yang berdiri tak jauh darinya. “Bagaimana Ryū? Aku rasa jumlah kita cukup untuk melingkupi sampai ke jalan di depan sana,” tambahnya.
“Aku setuju. Hujan-hujan begini tidak akan ada yang menyadarinya,” seorang gadis yang bernama Yukihira Sakurako menimpali. Ryū terlihat berpikir. Hingga akhirnya, “Ayo lakukan.” Mereka mengangguk.
“Immobile..” Bersamaan mereka saling berbisik pelan kepada diri sendiri.
Tiba-tiba waktu seperti berhenti berputar. Sekeliling yang tampak bergerak kini terhenti, termasuk hujan. Ichigo terkekeh pelan menyaksikan beberapa anak yang tadi berlari menerobos hujan terhenti dalam pose yang menggelikan.
Mereka mulai berjalan dengan santainya di antara rintik-rintik hujan yang membeku di udara, di atas genangan air yang tenang, sementara semua gerakan di sekitar mereka terhenti. “Kenapa harus repot-repot menerobos hujan kalau kita bisa menghentikannya?” kekeh Ichigo. Sempat-sempatnya dia mengikat tali sepatu dua anak yang berbeda jadi satu. Ryū hanya melirik sebentar dan tidak berkomentar apa-apa. Sakurako sendiri berdecak melihatnya, “Tsk, iseng sekali kau, Ichigo!”
Ketika mereka sudah memasuki mobil jemputan masing-masing, kembali dalam waktu yang bersamaan berbisik pelan kepada diri sendiri, “Mobile..”
Dan hujan yang sempat membeku di udara kembali menderas. Kembali ke keadaan semula. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh karena dua anak yang tadi tali sepatunya diikat jadi satu oleh Ichigo terjatuh di atas genangan air. Pelaku utamanya hanya tertawa cekikikan dari dalam mobil, sementara private-driver-nya menggaruk-garuk kepala bingung. Sejak kapan tuannya ada di dalam mobil?
“Tindakan yang berbahaya. Ceroboh.” Seorang gadis berambut ungu yang tadi juga berdiri di ruang loker berkata pelan pada dirinya sendiri. Menyaksikan berhentinya waktu dan gerakan para mortal di sekelilingnya sudah menjadi hal yang biasa baginya, karena ia juga bisa melakukan hal yang sama. Ia hanya tidak suka cara Ryū dan kawan-kawannya memanfaatkan kemampuan mereka.
“Zakuro-nee? Kukira Kakak ikut gerombolan anak-anak kelas 3 tadi,”
Dia menoleh. Simca dan Orihime. “Ah, tidak.” Zakuro hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
Orihime melihat ke arah dua anak yang terjatuh tadi. Seragam mereka basah dan kotor, dan mereka kelihatan bingung. “Kasihan..” katanya dengan nada iba.
Dan dari balik kaca mobil yang gelap, Ryū mengamati Orihime. Hingga akhirnya mobil itu melaju menerobos hujan yang mulai mereda.
“Sepertinya hujannya sudah reda. Kita pulang sekarang?” Orihime segera memutar lehernya ke belakang. Mukanya memerah dan jantungnya berdebar-debar. Sense-nya tidak pernah salah. Sakuraba Haruto. Namun kedua alisnya segera bertautan mengetahui siapa yang bersama sang kapten basket itu.
Sawachika Eri.
Gadis berambut pirang itu adalah bunga sekolah. Cantik, cerdas dan menarik. Selalu menduduki peringkat tiga besar setiap semester. Jounan’s Princess tahun lalu dan kemungkinan besar tahun ini juga. Ketua klub paduan suara sekolah yang sangat serasi apabila disandingkan dengan sang kapten basket. Setidaknya begitu pendapat sebagian besar warga sekolah.
Mereka berdua memang terlihat sangat serasi. Sama-sama populer, sama-sama dikagumi, sama-sama berambut pirang, sama-sama bermata coklat cerah. Sang pangeran dan putri sekolah. Apalagi yang kurang?
“Hei, Simca!” sapa Haruto, melambaikan tangannya kepada Simca. Dia dan Simca mengobrol sebentar saat berpapasan. Orihime memperhatikan Eri yang tampak tidak sabar. Gadis itu tidak tersenyum sedikit pun. Dia memang jarang tersenyum.
“Kalau kau ada waktu, datanglah ke apartemenku. Kau tahu letaknya kan?” Haruto mengangkat ibu jarinya dan tersenyum. “Pasti! Mungkin besok aku ke sana. Pulang dulu, ya? Ayo Eri.” Dia merangkul pundak Eri, menyamakan kecepatan jalan mereka dan berjalan dengan sedikit tergesa di bawah gerimis. Haruto pun tak ragu melepas gakuran putihnya dan memakaikannya pada bahu Eri.
“Dia itu-...gadis yang disukai Haruto-kah?”
Simca menoleh pada Orihime, mengangguk. “Ya. Sawachika Eri.”
“Hah, aku tidak menyangka kalau suka gadis bermata besar seperti Inoue,” bisik Ichigo, tepat di depan telinga Ryū. Dari tadi dia perhatikan pemuda berambut ungu itu tidak pernah sekali pun mengalihkan pandangannya dari gadis periang yang asyik bercerita dengan temannya yang berambut pink.
Ryū menoleh. Sedikit merasa terganggu sekaligus malu, dia hanya mendengus. “Diam Ichigo!” Si rambut oranye hanya tertawa. Ia senang sekali melihat warna pink samar-samar menghiasi wajah Ryū.
“Ayolah, mengaku saja! Aku tahu kau menyukainya, Ryū!” goda Ichigo, menyenggol lengan Ryū. Dia suka sekali mencampuri urusan pribadi orang lain. Terutama kalau sudah berhubungan dengan Ryū yang terkenal dingin dan kaku. Rasanya agak sulit membayangkan pemuda seserius Ryū bisa jatuh cinta, lagi.
“Seleramu itu agak membingungkan, Ryū. Jujur saja.”
Ryū tidak menanggapi omongan Ichigo. Setelah ketahuan memperhatikan Orihime, dia pura-pura sibuk membaca bukunya. Hanya agar Ichigo tidak terus-menerus menggodanya. Tapi si rambut oranye itu sulit dihentikan omongannya kalau dia sudah menemukan hal yang menarik untuk jadi bahan pembicaraan.
“Lihat! Aku akan sangat mudah mengerti kalau jatuh cinta pada gadis itu!” Ryū mengangkat kepalanya dengan enggan dan mengikuti arah telunjuk Ichigo yang tertuju pada seorang gadis dengan rambut pirang yang berkilau di bawah pantulan sinar matahari. Wajah yang tegas dan terkesan arogan yang jarang menampilkan senyum. Cara berjalannya yang bak aristokrat, begitu anggun dan elegan. Dialah Sawachika Eri. Sang Jounan’s Princess. “Sifat kalian berdua sama,”
Ryū memicingkan mata onyx-nya memperhatikan sang putri.
Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan penampakan gadis itu selain amazing. Cantik, cerdas dan menarik. Siapa pemuda yang tidak jatuh hati padanya? Jujur saja, Ryū pun pernah terbuai oleh pesona gadis itu. Tadi kemudian dia berpaling, dengan alasan yang cukup kuat. “Dia seorang mortal.”
Terdengar tawa Ichigo, “Ya-ya-ya. Amakusa selalu menjaga garis keturunan murni!”
“Tapi menurutku, kalau saja dia terlahir sebagai Raien, dia akan jauh lebih berbakat daripada Sakurako. Dan aku yakin kau tidak bisa menyanggahnya,” tambah Ichigo. Dia melambaikan tangannya pada Eri yang tengah berjalan menuju ke arah mereka.
Gadis itu tidak sendirian. Di sampingnya adalah Kuchiki Rukia. Mereka memang sudah berteman sejak kecil dan merupakan sahabat karib, best friend.
Eri menyunggingkan senyum samar sebagai rasa hormat kepada senpainya saat dia dan Rukia berpapasan dengan Ryū dan Ichigo. Rukia yang lebih ramah darinya menyapa. “Hai, Ichigo-senpai, Amakusa-senpai!” Ryū mengangguk, sementara Ichigo menampilkan cengirannya. Kemudian ia dan Rukia terlibat dalam obrolan kecil, sementara Ryū melanjutkan kegiatan pura-pura membacanya.
Lima menit kemudian mereka masih tertahan. Eri mengerling jam tangannya dan kemudian berkata, “Gomen nasai, tapi kami harus bergegas.”
Ichigo terlihat sedikit tidak rela mengakhiri obrolannya dengan Rukia, tapi kemudian dia hanya tersenyum dan mempersilahkan mereka berdua untuk pergi.
“Yeah, coba kalau Eri sedikit lebih ramah atau bahkan seramah Rukia... Dia akan jadi gadis paling sempurna di dunia ini!” katanya memandangi dua gadis itu yang semakin menjauh. Ryū mengangkat kepalanya dan mendengus mencela. “Dia seorang mortal. Mereka berdua mortal. Dan tidak ada mortal yang sempurna. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Ichigo.”
Ichigo hanya tersenyum mendengar perkataan temannya. Dia tidak tahu kenapa Ryū bisa menjadi sangat sentiman saat membicarakan mortal secantik Eri atau seramah Rukia. Kadang-kadang orang itu bisa anti-mortal. Padahal tidak ada salahnya seorang Raien jatuh cinta pada seorang mortal. Apalagi mortal seperti Eri yang begitu menarik. Dan sebenarnya, mortal yang hidup di atas bumi tempat mereka berpijak itu jauh lebih banyak daripada Raien. Tidak bisa begitu saja memutuskan untuk anti-mortal. Tapi bagaimana pun juga Ryū benar. Tidak ada mortal yang sempurna. Tidak ada satu pun yang sempurna di dunia ini.
“Kau tidak seharusnya dekat-dekat dengan mereka, Rukia.” Gadis berambut hitam gelap itu menoleh pada Eri, alisnya berkernyit heran. Meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak apa maksud perkataan Eri barusan. “Cepat atau lambat, mereka akan mengenali kita. Dan jika waktunya telah tiba, aku yakin kau akan menyesal pernah mengenal dan dekat dengan mereka.”
Langkah kaki Rukia terhenti. Sedangkan Eri tetap berjalan dan meninggalkannya.

Hari yang biasa di Jounan High School. Cuaca yang cerah dengan sedikit awan menghiasi langit kota Tokyo. Angin musim semi berhembus semilir menyejukkan. Bel istirahat baru saja berbunyi dan kelas-kelas sudah kosong karena ditinggal penghuninya makan siang di luar.
Kelas 3-2, kelas Ryū dan gerombolannya, cukup ramai. Mereka memang lebih memilih untuk makan siang di dalam kelas daripada di luar. Ichigo yang paling ribut. Dari tadi dia berputar-putar mencicipi bekal teman-temannya. Sakurako yang memang paling tidak bisa akur dengannya hanya mencibir, tidak memperbolehkan pemuda berambut oranye itu menyentuh bekalnya.
“Huh, kau pelit sekali, Sakura!” kata Ichigo kesal sambil menggigiti kraker beras yang ia dapatkan hasil dari merampok Gaara. Sakurako mendengus dan memalingkan mukanya. “Kok ada sih orang sepelit dirimu!” gerutu Ichigo.
“Baka!”
Mereka berdua memulai adu mulut. Tidak ada yang mencoba untuk melerai. Hal itu sudah menjadi kebiasaan. Tidak ada gunanya menghentikan mereka berdua.
Sementara itu Ryū hanya melirik. Ia tidak pernah bisa menikmati makan siang dengan tenang tanpa pertengkaran kedua orang itu. Tiba-tiba saja ia menjatuhkan sumpitnya, sepasang mata onyx-nya melebar karena terkejut.
“Eh? Ada apa, Ryū?” tanya Sakurako. “Quincy..”
Para Raien yang ada di dalam kelas itu saling berpandangan, kemudian memandang Ryū, menunggu perintah selanjutnya.
“Cepat immobile-kan seluruh wilayah sekolah.” ujar Ryū tegas.
“Apa?”
”Cepat!” Dan seperti baru tersadar dari lamunan, mereka berlari keluar dari kelas dan berpencar ke setiap sudut sekolah, memastikan bahwa seluruh area akan terjangkau tanpa terkecuali. Yang masih tinggal di kelas hanya Ryū dan Sakurako.
“Kita cari dia.” Ryū mengulurkan tangannya pada Sakurako, yang segera disambut tanpa ragu oleh gadis itu. Mereka berjalan dengan tergesa keluar dari kelas.
Immobile sudah dilakukan. Semua pergerakan para mortal dan benda-benda serta komponen yang lain terhenti, kecuali perputaran waktu. Immobile hanya bersifat untuk menghentikan gerakan, bukan menghentikan waktu. Dengan begitu dimensi tidak akan menjadi kacau di satu tempat jika tempat itu di-immobile-kan.
Para Raien yang ada di tempat lain di area sekolah itu sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi. Tapi kemudian mereka tahu kalau Ryū menyadari keberadaan Quincy. Dia punya sense yang kuat terhadap reiatsu Quincy.

Sementara itu Orihime dan Simca yang sedang menikmati makan siang mereka di atap saling berpandangan. Kid baru saja melakukan immobile. Dan sekarang pemuda itu mengamati satu-persatu mortal yang berhenti bergerak.
Simca berdiri dan berjalan mendekati Kid, memperhatikan pemuda itu. “Ee, Kuroba-senpai? Apa Quincy sudah muncul?” tanyanya. “Mungkin. Tadi aku juga sempat merasakan reiatsu yang tidak biasa.” balas Kid tanpa menoleh ke arah Simca.
“Apa mereka begitu hebat sampai seluruh wilayah sekolah harus di-immobile-kan?”
“Ya, mereka memang sangat hebat. Dengan caprie yang hanya dikuasai oleh para Quincy, mereka bisa menyamar menjadi siapa saja. Dan kita tidak akan mengenali mereka sedikit pun.” Kid menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap gadis bermata hijau itu.
“Dan bukan tidak mungkin-...mereka menyamar menjadi salah satu dari kita.” Seulas senyum seduktif menghiasi wajahnya. “Senpai menuduhku?!” tanya Simca, sedikit tersinggung karena Kid menatapnya begitu. Tapi kemudian pemuda itu tertawa kecil dan mengulurkan tangannya, mengacak rambut pink Simca.
“Ha-ha-ha, aku kan tidak bilang mencurigaimu sebagai Quincy, Tsubame!”
Simca salah tingkah karena Kid memperlakukannya begitu, disingkirkannya tangan Kid dari atas kepalanya dan dengan warna pink yang mulai menyebar di mukanya, Simca merapikan lagi rambutnya. Kid hanya tertawa melihatnya.
Sementara mereka berdua asyik dengan urusannya sendiri, Orihime memperhatikan seorang anak laki-laki berambut pirang di depannya yang saat dilakukan immobile tadi tengah bersandar pada tembok dan kedua tangannya menyilang, dengan kedua matanya terpejam. ‘Pasti tadi dia sedang berkedip.’
Orihime tersenyum. Betapa polos dan innocence tampang anak itu saat ini. Sebenarnya sudah lama ia ingin menyentuh Haruto. Tapi ia tidak berani melakukan immobile padanya. Dan saat ini adalah kesempatannya. Simca masih sibuk dengan Kid. Selain itu, tidak ada Raien lain yang ada di sana selain mereka bertiga saja. Orihime tidak bisa menahan diri untuk menyentuh pipi pucat itu.
Kemudian dia bersandar dan mengecup pipinya dengan sangat hati-hati.
Sebuah kecupan yang singkat, namun cukup untuk membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dia tidak pernah membayangkan akan berani mencium Haruto. Dan kemudian berbisik tepat di depan telinga anak itu, “Ai shiteru...”
Tanpa ia sadari, Ryū melihatnya dari pintu atap. Tangannya mengepal. Pemuda berambut ungu itu membatalkan niatnya untuk bergabung dengan Kid dan membalikkan badan, berlari menuruni tangga. Suara yang ditimbulkannya cukup untuk membuat ketiga Raien yang tengah berada di atap itu tersadar dan saling bertukar pandang heran.
“Tadi itu Ryū-senpai, bukan?” tanya Simca. Kid hanya mengangguk.
Ryū terus berlari, tak peduli menabrak beberapa mortal yang menghalangi jalannya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Tidak. Dia hanya belum siap melihatnya. Ia menyukai Orihime. Sejak pertama kali dilihatnya gadis itu tampak terkagum-kagum sambil memandangi terhentinya semua gerakan di ruang kelasnya saat dia berhasil melakukan immobile untuk pertama kalinya. Dia terlihat begitu gembira saat itu. Seperti anak lima tahun yang mendapatkan lolipop.
Ia menyukai Orihime. Gadis itu begitu mirip dengan Mouri Ran, seorang gadis yang pernah mengisi hatinya. Seorang gadis yang selalu bisa membuatnya tersenyum. Tapi deadly entry telah merenggut nyawanya, dan beberapa Raien lain. Dan ia pun tenggelam dalam kesedihan yang berlarut-larut. Ia begitu menyayangi Ran. Sangat menyanyanginya. Ia tidak siap kehilangan gadis itu.
Namun ia juga tidak siap untuk me-re-entry gadis itu sampai sekarang. Ia tidak siap karena sekarang ia telah jatuh hati pada Orihime. Ia tidak siap melihat Ran hadir kembali dalam kehidupannya dan menjadi terluka karena sekarang hatinya tidak lagi untuk gadis itu. Ia tidak akan pernah siap.
Tapi meskipun begitu, ia hanya bisa mengagumi Orihime dari kejauhan. Ia tidak berani mendekat. Ia selalu lemah melihat senyuman gadis itu, yang selalu mengingatkannya pada Ran sehingga rasa bersalah selalu menghantuinya.
Ryū berhenti berlari ketika Sakurako menghadangnya. “Kenapa kau berlari, Ryū?” Dan dia hanya menggelengkan kepalanya, seraya menyeka keringat yang mengalir di dahinya menggunakan tissue dari Sakurako. Ichigo berlari kecil menghampirinya.
“Sudah kau temukan?” tanya Ryū.
Ichigo menggelengkan kepalanya. “Belum. Kau yakin dia yang muncul?”
“Kau meragukan kemampuanku?” Ryū melirik kepada Ichigo dengan mata dinginnya. “Bukan begitu. Tapi aku tidak merasakan apa-apa dari tadi,”
Ryū mendengus. “Sense-mu tidak kuat, Ichigo.” Dengan begitu ia berlalu, tak lupa memberi isyarat pada Ichigo untuk mengembalikan semua seperti semula karena ia tidak lagi merasakan reiatsu Quincy di mana pun.

Di balik salah satu pintu toilet wanita, seorang gadis menyandarkan punggungnya dan bernafas lega setelah merasakan semua kembali bergerak seperti semula. Para Raien telah mengakhiri immobile mereka. Dia pun membuka pintu toilet dan keluar dari sana, menghampiri temannya yang terlihat bersandar pada konter.
“Kau tidak apa-apa, Eri? Yang tadi itu bisa membahayakan dirimu.”
Gadis yang bernama Eri itu memutar keran dan membasuh mukanya, dia masih tampak kelelahan. “Ya. Aku tidak tahu apa yang terjadi... Rasanya semakin sulit...” Dia memandang refleksi dirinya di dalam cermin dengan kedua alis bertautan.
“Kau harus segera menerapkan butterfly effect, Eri. Kau semakin sering kehilangan kontrol atas caprie-mu dan hal itu sangat membahayakan,” Rukia berdiri di belakang Eri dan meletakkan kedua tangannya di atas pundak gadis itu, menenangkannya.
Seulas senyum pahit menghiasi wajahnya. “Kalau aku bisa, sudah kulakukan dari dulu, Rukia.” Sepasang mata coklat cerahnya terlihat menerawang.
“Yeah...setidaknya kau harus bisa menghindar dari mereka saja setiap kali caprie-mu bermasalah. Tapi tenanglah, aku akan selalu membantumu, Eri.” bisik Rukia tulus, ia semakin mempererat pegangannya pada pundak gadis itu.
“Terima kasih, Rukia. Kau sahabat terbaikku...”
Anak laki-laki berambut pirang itu meraba pipinya dengan kening berkernyit, ia tahu mukanya sedikit memerah. Lalu ia hanya mengangkat bahu dan berjalan mengikuti teman-temannya menuruni tangga, bel masuk sudah berbunyi. Tapi di dalam benaknya terlintas sebuah nama, ‘Hima..’

Dia tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari gadis yang duduk di bangku di depannya. Rambut pirangnya yang panjang sepunggung itu diikat rapi menyamping. Cukup sederhana untuk ukuran gadis SMU sepertinya. Apalagi untuk gadis sepopuler dirinya. Biasanya mereka yang populer dan merasa dirinya cantik akan berdandan secantik mungkin. Dengan gaya rambut dibuat macam-macam yang berbeda setiap harinya. Menggunakan penjepit atau pita rambut yang bervariasi dan berwarna-warni. Khas gadis SMU.
Tapi gadis itu berbeda. Dia tidak pernah berdandan yang berlebihan atau menata rambutnya macam-macam. Paling-paling hanya digerai atau diikat rapi. Namun meskipun begitu, dia tetap saja terlihat cantik. Itulah Jounan’s Princess.
Sawachika Eri.
Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh ke belakang. Mendapati seorang anak laki-laki yang juga berambut pirang seperti dirinya yang duduk tepat di belakang bangkunya tersenyum kepadanya. Sakuraba Haruto.
Entah apa yang terjadi dengan dirinya hari ini, bibirnya pun menyunggingkan seulas senyum. Dan ia kembali memfokuskan dirinya pada materi yang tengah diajarkan guru Matematikanya di depan kelas.
Haruto mengerjapkan matanya tidak percaya. ‘Apa barusan dia tersenyum?’
Entahlah, sepertinya melihat Eri tersenyum setulus tadi merupakan hal yang langka baginya. Bahkan ia sempat tidak mempercayai indra penglihatannya. Apakah gadis itu benar-benar tersenyum padanya tadi?

Hanya tinggal beberapa blok lagi Eri akan sampai di kompleks perumahan tempat tinggalnya. Biasanya dia akan dijemput oleh private-driver-nya. Tapi kali ini orang itu sedang tidak enak badan dan ia pun harus jalan kaki. Tadinya ingin naik taksi, namun hari ini ada yang aneh dengan dirinya sehingga ia memilih untuk jalan kaki.
Ketika melewati sebuah jalan kecil yang sepi, ia merasa ada yang tidak beres. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Dia menyadari sesuatu yang buruk, yang akhir-akhir ini sering terjadi. Caprie-nya terlepas dari kontrol.
Eri berlari. Ia berlari sekencang mungkin. Ia merasakan reiatsu Raien mendekat. Dan semampunya ia mencoba mengontrol kembali caprie-nya sebelum terlambat.
Ia mengumpat dalam hati karena caprie-nya belum bisa dikontrol sepenuhnya. Namun ia juga tidak bisa membatalkan caprie-nya begitu saja dan melindungi diri dengan kekuatannya. Ia terjebak.
Sambil tetap berlari dia mengeluarkan ponselnya dan dengan jemari yang bergetar menekan tombol call pada nomor Rukia. Hanya dia satu-satunya harapannya.
“Eri? Ada apa? Hei, kenapa kau terengah-engah?”
“Rukia...tolong aku,” Tak terasa cairan hangat mulai mengalir di kedua pelupuk matanya. Pandangannya pun mengabur karenanya.
“Tenang, Eri. Aku akan segera ke sana. Tetap berusaha kontrol caprie-mu dan-”
Dia terjebak. Dia tidak lagi mendengarkan kata-kata Rukia. Dia terjebak di jalan buntu. Dan di hadapannya kini berdiri seorang Raien. Ia kenal orang itu. Salah satu dari kakak kelasnya. Imadori Kyousuke. Keringat dingin mengalir di dahinya.
‘Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa aku tidak terlahir sebagai seorang mortal?’
Ia begitu takut. Eri belum siap untuk mati. Ia pikir ia masih terlalu muda. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Masih banyak impian yang ingin ia capai.
Tapi ia tahu semuanya telah berakhir.
“Eri? Eri, kau dengar aku?!” Ponselnya terjatuh. Ia memejamkan kedua matanya erat-erat dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin melihat kematiannya sendiri. “Halo?! Eri?!”
“Akhirnya tertangkap juga kau, Quincy manis.”
Terdengar tawa puas dari Raien itu, yang menggema di dalam telinga Eri. Suara terakhir yang ia dengar. Tawa seorang Raien.
Namun tiba-tiba tawa itu berhenti, kemudian di susul bunyi berdebum jatuh.
“Hn, baka.” Suara yang tenang dan terkesan dingin.
Perlahan Eri membuka matanya. Dengan mata basah ia tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri memunggunginya itu. Tapi ketika orang itu menoleh kepadanya, ia menahan nafas terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Uryū...”

No comments:

Post a Comment