Tuesday, May 3, 2011

Crown Prince (Frame 2)

Flash Back

Namun tiba-tiba tawa itu berhenti, kemudian di susul bunyi berdebum jatuh.
“Hn, baka.” Suara yang tenang dan terkesan dingin.
Perlahan Eri membuka matanya. Dengan mata basah ia tidak bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri memunggunginya itu. Tapi ketika orang itu menoleh kepadanya, ia menahan nafas terkejut. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Uryū...”
“Kau baik-baik saja, Eri?”
Sang penyelamat itu mendekati Eri dan berlutut di dekatnya. “Kau berkeringat dingin.” Disekanya keringat yang mengalir di dahi gadis itu dengan penuh perhatian. Tanpa pikir panjang Eri pun menghambur ke dalam pelukan anak itu. Menangis lega.
Rintik-rintik air hujan turun membasahi bumi. Mulanya hanya gerimis kecil, tapi lama kelamaan menderas. Anak laki-laki berambut raven yang bernama Uryū itu menengadahkan kepalanya, membiarkan hujan membasahi wajah pucatnya.

“Kita harus segera pergi dari sini,” Dia melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Eri, kemudian membawa gadis itu pergi dalam bridal-style.

Hari yang cerah di Hinano Middle School. Semester baru sudah di mulai sejak beberapa hari yang lalu. Keceriaan dan tawa riang murid-muridnya selalu membuka pagi secerah ini, mengawali hari yang indah.
Waktu berputar dengan cepat. Jam sekolah pun berakhir. Mereka berlari kecil pulang ke rumah dan tertawa-tawa. Begitu polos dan kekanak-kanakkan.
Tapi tidak semua anak SMP seceria itu. Beberapa di antara mereka malah takut dan merasa tertekan. Kebanyakan adalah anak kelas 2. Mereka yang merasa tidak bahagia itu tengah dikumpulkan di bukit belakang sekolah. Anak-anak kelas 3 ada bersama mereka. Salah seorang dari anak kelas 3 yang punya rambut dengan warna oranye mencolok itu berkata, “Kalian bukan anak kecil lagi. Berhenti bersikap kekanak-kanakan!” Dan mereka diam, tidak berani berbisik-bisik.
“Kau membuat mereka ketakutan, Ichigo.” Anak berambut ungu yang berdiri di dekatnya menyela. Ia tidak terlihat ramah. Sorot matanya begitu dingin.
“Kalian semua dikumpulkan di sini untuk mendengarkan apa yang akan aku katakan nanti. Jadi diamlah dan berhenti memasang tampang ingin menangis seperti itu!”
Benar, kan? Dia sama galaknya dengan si rambut oranye tadi.
“Kita semua adalah Raien. Tentunya kalian sudah tahu hal itu. Tapi apa kalian tahu apa itu Raien?” Dia mengamati wajah-wajah polos di depannya sebentar sebelum kemudian meneruskan perkataannya. “Raien adalah kita yang terlahir yang memiliki kemampuan lebih dari pada para mortal. Tugas kita adalah melindungi mereka para mortal yang lemah dan tidak berdaya, dari apapun mungkin dapat membahayakan nyawa mereka.”
“Kita memiliki beberapa kemampuan istimewa yang dapat kalian kuasai dengan baik kalau kalian belajar dengan benar dan banyak-banyak berlatih. Tapi ingat, kelebihan yang kita miliki tidak untuk disalahgunakan!”
Dan begitulah kehidupan mereka, para Raien, dimulai.
“Ha-ha-ha...ini sangat menyenangkan!” Anak perempuan berambut coklat cerah itu berputar-putar gembira. Ia baru saja berhasil me-immobile-kan teman-temannya yang ada di dalam kelas. Entah kenapa rasanya begitu ringan dan menggembirakan.
Pintu di belakangnya terbuka. Ia pun menoleh dan mendapati seorang anak berambut pink masuk. “Eh, Ori?! Kau sedang apa?” Anak yang bernama Simca itu terlihat terkejut melihat temannya menari-nari seperti orang gila.
“Lihat-lihat! Aku berhasil melakukan immobile!” katanya riang.
“Ya-ya-ya, aku tahu. Cepat kembalikan semuanya! Nanti kalau senpai tahu kita menggunakan immobile di sembarang tempat, kita akan dimarahi!” tukas Simca. “Uh, baiklah. Tapi ini benar-benar menyenangkan, Simca!”
Setelah mengembalikan semuanya seperti semula, Orihime menarik lengan Simca dan membawa anak bermata emerald itu pergi ke luar kelas. Sambil dengan bersemangat menceritakan ‘keajaiban’ kecil yang baru saja ia perbuat. Simca hanya mendengarkan cerita temannya itu dengan tidak enggan. Ia menganggap hal itu biasa, karena ia sudah menguasainya. Tapi bagi Orihime, ‘keajaiban’ kecil tadi adalah sebuah keajaiban besar!
“Aku jadi ingin tahu, apa lagi ya kemampuanku yang lainnya?”
Sementara itu, diam-diam anak laki-laki berambut ungu dan anak laki-laki berambut oranye yang kemarin membawa mereka ke bukit belakang sekolah memperhatikan tingkah mereka. “Kau lihat, Ryū? Seperti anak kecil yang baru mendapat permen,”
Anak yang bernama Ryū melirik temannya dan mendengus. “Kau lupa ya, Ichigo? Kau dulu juga bersikap begitu tahu!” Ichigo hanya cemberut dan menatap Ryū kesal.
Pada mulanya mereka memang senang, seperti menemukan mainan baru, dan terus giat berlatih mengasah kemampuan masing-masing. Tanpa menyadari bahwa perlahan-lahan rasa ingin menguasai semuanya mulai tumbuh.

Halaman belakang Higashi Middle School merupakan tempat yang tenang. Pohon-pohon pinus yang tumbuh di sana menjadikan tempat itu seperti sebuah hutan kecil. Seorang anak laki-laki berambut raven yang bernama Ishida Uryū terlihat asyik mengamati sarang semut di bawah sebuah pohon hingga tak menyadari kehadiran seorang anak perempuan.
Dengan berjingkat, anak itu mendekati Uryū tanpa suara. Kemudian menepuk pundaknya keras. Membuat Uryū melompat kaget.
“E-Eri?! Kau mengagetkanku tahu?!” Dia memegangi dada kirinya, seakan-akan menahan agar jantungnya tidak melompat keluar dari tempatnya karena terkejut.
Eri tertawa geli melihat ekspresi Uryū. Ia senang sekali melihat anak itu terkejut.
Uryū sendiri mengerucutkan bibirnya, tidak suka ditertawakan.
“Uryū lucu sekali kalau sedang kaget! Ha-ha-ha~!”
Tapi kemudian ia tertawa juga melihat Eri begitu senangnya. Mereka berbagi tawa.
Setelah tawanya mereda, Eri mendekati Uryū yang sudah kembali sibuk mengamati sarang semut. Ia tidak mengerti kenapa anak itu tertarik dengan hal-hal semacam itu. “Apa yang sedang kau lakukan?” Dia berjongkok di samping Uryū dan ikut mengamati sarang semut yang menarik perhatiannya.
“Lihat, mereka begitu tertib dan teratur. Satu-satu masuk ke dalam sarangnya, tidak saling berebut. Mereka hebat, kan?”
Eri menoleh dan memperhatikan ekspresi Uryū. Anak itu kelihatan begitu senang dan seulas senyum menghiasi wajahnya. Apakah hanya karena sebuah sarang semut saja ia begitu bahagia? Kadang-kadang anak itu bersikap begitu aneh.
“Lalu?”
“Kau tahu, seandainya saja manusia seperti semut-semut ini, tidak akan ada kejahatan di dunia ini. Dan dunia ini pasti akan jadi tempat paling damai.” Dia menengadahkan kepalanya, masih dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Matahari bersinar cerah, dan awan-awan yang putih dan tebal di atas sana bergerak pelan tertiup angin. Begitu indah dilihat.
“Ah, kalau tidak ada orang jahat di dunia ini, tidak asyik!” celetuk Eri. Dia duduk di atas rerumputan dan tangan jahilnya memetik sebuah bunga rumput liar. Uryū menatapnya dengan penuh heran, kedua alisnya bertautan. “Apa maksudmu?”
Sambil menggigiti ujung tangkai bunga liar itu, Eri menoleh pada Uryū. Sepasang mata coklat cerahnya bertemu dengan sepasang mata safir Uryū yang bening. Ia terlihat berpikir sebentar, hingga akhirnya berkata. “Kalau tidak ada orang jahat, tidak akan ada pahlawan. Kalau tidak ada pahlawan, tidak akan ada orang yang bisa dikagumi. Betapa membosankannya dunia yang seperti itu!”
Uryū sweatdrops, semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran anak itu. Bagaimana mungkin ia lebih memilih dunia yang penuh dengan orang jahat seperti yang terjadi saat ini hanya agar dapat mengagumi seorang pahlawan? Apa yang ada di dalam pikiran anak itu sebenarnya?
“Lagipula, manusia tidak bisa disamakan dengan semut. Mereka jelek, kotor dan menjijikkan! Dan lagi, aku tidak mau tinggal di dalam tanah seperti mereka! Ih~!” tambah Eri bergidik ngeri, sambil masih tetap menggigiti ujung tangkai bunga liar yang tadi dipetiknya.
Uryū tersenyum geli mendengar pernyataan Eri. Ia tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipinya gemas.
“Eeh? Ada apa? Sakit, tahu!” Eri meraba bekas cubitan Uryū dan memandang kesal ke arah anak itu. Tapi Uryū malah tertawa melihatnya.
“Aku tidak mengatakan manusia harus benar-benar jadi semut. Selain itu, yang menjijikkan itu kau!” Uryū menarik paksa tangkai bunga yang tengah digigiti Eri dan membuangnya ke atas tanah. “Lagipula, apa sih enaknya mengagumi orang? Memangnya siapa yang kau kagumi?” tanya Uryū. Eri tersipu malu masih dengan mengelus-elus pipinya yang tadi dicubit Uryū.
“Tapi...kalau tidak ada orang yang bisa dikagumi karena semua orang sebaik semut seperti pendapatmu itu, aku juga tidak bisa mengagumimu...” kata Eri lirih, tidak berani memandang Uryū. Mukanya terasa panas saat itu.
“Eh?” Uryū juga tidak bisa menolak warna pink yang mulai menyebar di wajahnya.

Tidak ada kata yang dapat menggambarkan persahabatan mereka berdua. Tepatnya tidak ada kata yang cocok. Terkadang mereka bertengkar, terkadang tertawa bersama, terkadang saling ejek bahkan berkelahi, terkadang saling memaafkan.
Dan sore itu, di tempat yang sama yaitu di halaman belakang Higashi Middle School, mereka berdua bertemu lagi. Namun kali ini tidak mengamati sarang semut seperti hari sebelumnya. Mereka berdua tampak serius melakukan sesuatu.
“Pegang busurnya kuat-kuat, jangan sampai terlepas dari genggamanmu!” Anak laki-laki berambut raven itu berdiri agak jauh dari Eri, kedua tangannya menyilang di depan dada sembari ia terus mengoceh memberi instruksi pada temannya itu.
Sementara Eri sendiri sepertinya sudah kenyang dengan instruksi dari Uryū dan dia pun berdecak kesal. “Tsk! Kapan aku mulainya kalau kau terus bicara, Uryū?!”
Uryū berjalan mendekatinya dan mengibaskan Quincy cross yang melingkar di  pergelangan tangan Eri, membuat busur cahaya yang tergenggam di tangan kiri Eri menghilang. “Kau tidak sabaran!”
“Lihat! Kau bahkan masih bisa kehilangan busurmu dengan mudah!”
Eri memandang Uryū dengan kesal dan mendorong pundak anak itu, membuatnya terhuyung ke belakang. ”Kau menyebalkan sekali!” tukasnya.
“Arrgh, sudahlah! Cepat summon lagi busurnya!” Dan Uryū pun menjauh.
Dengan kesal Eri memunculkan kembali busur biru di tangan kirinya. Dan tanpa dikomando Uryū, dia melepaskan anak panah spiritual ke arah boneka jerami di depannya. Tapi rupanya anak panahnya tidak sampai. Sudah menghilang dulu beberapa kaki dari boneka jerami itu.
“Seharusnya kau mendengarkan aku, Eri!” Uryū memunculkan busurnya sendiri dan berdiri di dekat anak itu. “Lihat baik-baik!” Tangan kirinya menarik sebuah anak panah cahaya lurus ke belakang secara lembut, dan tak sampai menunggu tiga detik dilepasnya anak panah itu. Tiba-tiba boneka jemari yang ada di hadapan mereka seperti tertebas. Jeraminya berhamburan kemana-mana.
Uryū tersenyum puas memandang boneka itu dan menoleh pada Eri. “Bagaimana?”
“Oke, kau memang hebat.” Dia tahu Eri akan mengakuinya.
Merek tidak lagi bertengkar seperti tadi. Uryū lebih banyak membenarkan posisi jari-jari Eri daripada sekedar memberikan instruksi. Dan hal itu lebih baik.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja anak panah yang dilepaskan Eri melenceng jauh hingga akhirnya melukai tangan kanan Uryū. Darah segar mengalir dari luka sayatan yang cukup panjang itu. Uryū hanya meringis menahan sakit. Sementara Eri menghampirinya dengan khawatir. “U-Uryū? Kau tidak apa-apa?”
“M-maaf, a-aku tidak sengaja,” Anak itu benar-benar merasa bersalah.
Uryū tersenyum kecil. “Jangan khawatir, aku sudah menggunakan anestesi, kok.”
Cairan hangat mulai mengalir di kedua pelupuk matanya, membasahi pipinya yang memerah. Uryū hanya memperhatikan anak itu melepas slayer biru seragamnya dan membebatnya pada luka di tangan Uryū.
‘Dia terlihat manis sekali...’
“Aku tidak pantas menjadi seorang Quincy..” Uryū menatap sepasang mata coklat cerahnya yang berair. “Apa?”
“Aku menyesal dilahirkan sebagai seorang Quincy! Aku tidak mau jadi Quincy!” Eri mulai terisak. Uryū mengulurkan tangan kirinya dan memeluk anak itu.
“Jangan berkata demikian. Kau adalah Quincy yang baik, Eri.” Eri hanya bisa menenggelamkan kepalanya di dada Uryū dan menangis.

Mereka hidup berdampingan di dalam dunia yang sempit ini. Raien, Quincy dan mortal. Dengan masing-masing saling tidak ikut campur dalam masalah yang lain. Raien dan Quincy. Mereka menjaga para mortal. Setidaknya begitulah seharusnya.
Namun pada kenyataannya, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan para Raien mulai mencampuri masalah Quincy. Rasa ingin menguasai mulai memainkan perannya. Para Raien merasa iri dengan kelebihan Quincy. Dan beberapa dari mereka melakukan pertemuan rahasia, untuk melakukan re-entry pada master Quincy yang telah beristirahat dengan tenang.
Padahal mereka tahu aturan mainnya.
Seorang member hanya bisa di-re-entry oleh member dari klan-nya.
Tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi seandainya re-entry dilakukan oleh member klan lain. Belum pernah ada yang mencoba melakukan hal tersebut.
Di basement sebuah gedung mereka bertemu. Salah satu dari mereka adalah seoramg gadis yang dikenal bernama Mouri Ran. Gadis berambut hitam dengan panjang sepunggung itu adalah pacar Amakusa Ryū. Pacar pertamanya.
“Ran, sudah siap?” tanya seorang gadis berambut merah yang bernama Noyamano Ringgo. Ran mengangguk. Sebenarnya dalam hati ia merasa sedikit ragu. Namun mereka yang ada di basement malam itu meyakinkannya.
Rasa ingin menguasai telah memainkan perannya.
Itulah mengapa mereka berkumpul di sini. Untuk melakukan re-entry demi menguasai kemampuan yang hanya dikuasai para Quincy saja, yaitu caprie dan butterfly effect. Setidaknya itu yang mereka tahu saat ini. Hanya mereka saja.
Caprie adalah kemampuan untuk menyembunyikan atau mengubah intensitas reiatsu seorang Quincy sehingga mereka bisa menyamar menjadi seorang mortal atau kalau ingin mengambil resiko yang lebih besar, menyamar menjadi Raien.
Batasannya adalah tidak bisa menggunakan kemampuan apapun bersamaan dengan penggunaan caprie, hanya sense reiatsu saja yang masih berfungsi. Bagi mereka yang lebih memilih untuk menyamar menjadi Raien, berarti harus berusaha ekstra keras dan ekstra hati-hati karena sama sekali tidak bisa menggunakan kemampuan. Namun seperti pada keadaan biasa, mereka tidak terpengaruh trik-trik seperti immobile.
Sedangkan butterfly effect adalah kemampuan para Quincy untuk melepaskan semua kemampuan mereka dan memasrahkannya pada benda apapun yang bersimbol kupu-kupu atau bahkan pada kupu-kupu sekali pun. Itu artinya mereka benar-benar menjadi mortal seutuhnya. Namun konsekuensienya adalah tubuh mereka menjadi sangat lemah. Tentu saja.
Mereka saling bergandengan tangan membentuk lingkaran, di tengah-tengah mereka adalah sebuah guci yang berisi abu hasil kremasi sang master Quincy yang mereka ambil diam-diam dari suatu tempat rahasia Quincy. Masing-masing memejamkan matanya, serta mengucapkan mantra-mantra.
Tiba-tiba cahaya biru menyelubungi mereka semua, seperti kabut.
Tidak terlihat apa-apa. Tidak terasa apa-apa. Hanya dingin dan hampa.

Pagi ini tidak berbeda dari pagi yang biasanya. Matahari musim semi bersinar hangat dan burung-burung berkicau riang. Seperti pagi yang biasa.
Anak laki-laki berambut ungu itu berlari tergesa-gesa memasuki sebuah gedung tua bekas rumah sakit. Teman-temannya yang mengekor di belakangnya tertinggal cukup jauh. Dia segera memasuki lift dan menuju ke basement.
Tidak ada siapa-siapa di basement.
Hanya beberapa kursi rusak yang terletak di sudut ruangan dan meja-meja yang berdebu. Tapi sebuah guci yang tergeletak di lantai di tengah-tengah basement menarik perhatiannya. Ia mendekati benda itu dan berjongkok di depannya.
Di dekat guci itu ada sebuah gelang manik-manik. Gelang punya Ran.
Perasaannya mengatakan ada yang salah dengan semua ini. Ryū menyentuh guci itu, memejamkan matanya. Psikometri.
Dan fragmen-fragmen memori terlintas di dalam benaknya. Tawa, senyum culas. Gumam. Kekosongan dan kehampaan. Kabut. Bukan, cahaya biru. Ketakutan. Teriakan. Tangisan. Penyesalan.
Ryū membuka matanya. Terengah-engah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Mata onyx-nya membulat tidak percaya.
Derap kaki teman-temannya terdengar semakin mendekat. Kemudian pintu di belakangnya terbuka paksa. Mereka segera berkumpul mendekati Ryū.
“Apa yang terjadi, Ryū?” Dia tidak menjawab. Tidak mampu menjawab.
Ryū jatuh terduduk, tangannya menggenggam erat gelang manik-manik kepunyaan Ran. Tak terasa air mata menetes dari kedua pelupuk matanya.
“TIIDAAAAK...!!!”
Dan pada pagi hari berikutnya, para Raien muda itu berkumpul di bukit di belakang sekolah. Mereka semua berpakaian hitam-hitam. Raut muka mereka tidak menampakkan keceriaan, hanya kesedihan dan kehilangan. Di hadapan mereka, adalah sebuah altar sederhana. Di sana terpajang foto beberapa Raien, foto mereka yang telah menghilang. Tidak ada yang tersisa dari kejadian itu. Hanya sebuah guci dan sebuah gelang manik-manik. Hanya kesedihan dan kehilangan.
Sementara itu di tempat lain, di halaman belakang Higashi Middle School, Eri berdiri mengamati sarang semut yang pernah dikagumi Uryū beberapa hari yang lalu. Seulas senyum pahit tersungging di bibirnya ketika sebuah nama terlintas di benaknya. ‘Uryū..’
Mereka semua menghilang. Semua Quincy yang ia ketahui menghilang. Termasuk Uryū. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Yang ia tahu, hanya ia dan Rukia yang tertinggal. Dan mereka bedua pun menjadi buruan para Raien. Hingga akhirnya harus terus menyamar dan hidup dalam ketidaknyamanan.

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk ke dalam kamar, jatuh tepat menghangatkan wajah gadis yang sedang tertidur itu. Ia mencoba membuka matanya yang terasa berat dan mengerjap-kerjapkannya.
Di mana aku?
Ketika ia mengedarkan pandangannya dan menemukan dinding bercat putih bersih yang terlihat menyilaukan, ia tahu ia ada di kamarnya. Tiba-tiba ia teringat kejadian semalam. ‘Apa aku hanya bermimpi?’
Ia tidak mengerti. Semuanya memang terasa begitu nyata, tapi ia tidak bisa percaya pada dirinya sendiri. Ia ingin semuanya hanya mimpi, dengan begitu setidaknya belum ada yang mengenalinya sebagai seorang Quincy. Tapi ia juga ingin semua itu adalah kenyataan, ia sangat merindukan Uryū.
Anak itu menghilang, bersama dengan para Quincy yang lainnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Rukia juga tidak mengerti. Entah hanya tinggal mereka berdua saja atau masih ada yang lainnya, mereka tidak tahu. Yang jelas, ia dan Rukia sudah merencanakan re-entry. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Setidaknya sampai para Raien itu sedikit lengah.
Mereka akan me-re-entry sebanyak yang mereka mampu. Tidak peduli seberapa banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk menebus mereka yang telah menghilang. Mereka tidak ingin sendiri dan hidup dalam tekanan seperti yang mereka rasakan sekarang.
Tapi Rukia berubah pikiran. Ia bilang ia tidak sanggup dan tidak tega mengorbankan nyawa para mortal yang tidak tahu apa-apa itu. Eri tidak pernah memikirkan para mortal itu. Ia selalu mengatakan pada Rukia kalau mereka hanya perlu mengorbankan para penjahat dan orang-orang yang tidak penting, yang tidak pantas hidup di dunia ini, yang hanya bisa menyusahkan orang lain. Dan Rukia pun marah, menyebutnya tidak punya hati. Manusia adalah manusia, sejahat apapun mereka, mereka juga punya hak untuk hidup.
Tapi Eri tidak diam saja, dia bilang Quincy juga punya hak untuk hidup. Rukia pun terdiam. Eri benar. Sejak itu mereka tidak pernah membahas masalah re-entry lagi. Dan perlahan-lahan mulai melupakan Quincy-Quincy yang hilang.
Kecuali Uryū. Eri sama sekali tidak bisa melupakannya. Matanya menangkap sesuatu di kursi komputernya. ‘Apa itu sebuah jaket?’
Ia beranjak dari tempat tidur dan meraih jaket putih itu. Ia menahan nafas terkejut. Dengan jaket itu tetap di genggamannya, Eri berlari ke depan cermin lemari.
Dia masih memakai seragamnya.
Ia segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan tergesa. Menyusuri setiap ruangan di rumahnya, berharap menemukan Uryū. Tapi tidak ada siapapun di rumah itu selain dirinya. Lelah mencari, Eri jatuh terduduk di sofa di ruang tengah, masih dengan jaket putih di tangannya.
Jadi semua itu adalah kenyataan. Itu artinya ia sudah ketahuan, oleh kakak kelasnya sendiri. Ia menyandarkan diri pada sandaran sofa, memejamkan mata. Berusaha mengingat semuanya.
Ia masih bisa merasakan hangat tubuh Uryū saat memeluknya, aroma tubuhnya pun masih ia ingat dengan baik. Mata safirnya yang cemerlang, rambut ravennya, wajahnya yang putih pucat, suara bass-nya.
Entah dia harus merasa senang karena Uryū telah kembali atau takut karena ia sudah ketahuan. Dan meskipun seandainya saja kemarin Uryū sudah menghipnotis Kyousuke, Ryū pasti akan segera mengetahui yang sebenarnya. Ia sangat peka.
Ia begitu enggan memasuki area Jounan High School hari ini. Bagaimana mungkin ia bisa memasuki sarang musuh dengan santai setelah kejadian kemarin?
Rukia berlari kecil menghampiri Eri. Kekhawatiran tampak jelas sekali di raut mukanya. Gadis berambut hitam itu menyambar lengan Eri dan membawanya pergi ke samping gedung sekolah.
“Kau baik-baik saja? Semalaman aku mencoba menghubungi nomormu, tapi tidak aktif. Katakan padaku, apa kau sudah ketahuan? Siapa?” Rukia memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Eri menghela nafas, Rukia telah berhasil membuat dia bingung. Yang ia hanya ingat pertanyaan yang terakhir. “Imadori Kyousuke.”
Sepasang mata violetnya melebar, “Anak kelas 3-2 itu?! Gerombolan Ryū?!” Eri hanya menganggukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian Rukia sudah kembali memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan. Eri hanya menghela nafas dan mengernyitkan keningnya.
Rukia benar-benar membuatnya pusing. Ia sampai lupa untuk memberitahu Rukia mengenai kemunculan Uryū. Mungki ia hanya terlalu malas untuk mengatakannya mengingat reaksi Rukia setiap kali ia menjawab pertanyaannya. Gadis bermata violet itu akan segera melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang lain, dan itu membuat kepalanya semakin pusing saja.
“Eh, jaket siapa itu yang kau bawa?” Sepertinya Rukia baru menyadari jaket putih yang dibawanya. Eri hanya menggelengkan kepalanya.
Tak jauh dari mereka berdua, Orihime dan Simca memperhatikan dengan heran. Tidak pernah melihat seorang Kuchiki Rukia sebegitu paniknya. “Rasanya Kuchiki sedikit aneh hari ini. Iya kan, Simca?” Orihime menoleh pada gadis berambut pink di sebelahnya. “Ya. Aku tidak tahu dia se-cerewet itu.”

Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai Ryū dan gerombolannya melakukan immobile ke seluruh penjuru sekolah dan kemudian menangkapnya. Menurut perkiraannya, hal itu tidak akan memakan waktu lama, tidak sampai bel pulang sekolah berbunyi.
Tapi kenapa ia bisa duduk dengan tenang di sini?
Tentu saja Eri tidak setenang kelihatannya. Dalam hatinya ia begitu ketakutan. Seharusnya dia tidak berangkat sekolah hari ini. Seharusnya dia pergi ke tempat yang jauh dan menghindar dari para Raien itu.
Tapi ada sesuatu yang mengatakan padanya untuk berangkat sekolah hari ini.
Bel masuk berbunyi nyaring, murid-murid memasuki kelasnya masing-masing dengan enggan. Tak perlu menunggu waktu lama hingga seorang guru memasuki kelas 2-1. Haruto selaku ketua kelas segera memimpin teman-temannya untuk memberi salam. Guru biologi itu sedikit berbeda hari ini. Terlihat lebih ramah. Mungkin perasaannya sedang baik hari ini. “Nah, Anak-anak, hari ini kelas kalian kedatangan murid baru. Masuklah!” Guru wanita setengah baya itu menoleh ke arah pintu yang tadi memang tidak ia tutup langsung.
Seisi kelas mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Dari sana masuklah seorang anak laki-laki, dengan langkah aristokrat. Eri menutup mulutnya terkejut, hal yang sama juga dilakukan Rukia. Murid baru itu berdiri di depan kelas. “Silakan perkenalkan dirimu.” Dia hanya mengangguk.
“Namaku Ishida Uryū. Mohon kerja samanya.” Dia membungkukkan badannya sejenak. Lalu bergantian menatap Eri, Rukia dan Haruto, tersenyum samar.
Rambut raven kebiruan, mata safir cemerlang, kulit putih pucat. Eri masih belum bisa mempercayainya, Uryū telah kembali.
“Kau terlihat sangat terkejut, Eri.” komentar Uryū. Dari tadi Eri terus memperhatikan dirinya dengan pandangan tidak percaya. Rukia juga sama saja.
“Kemana saja kau selama ini?” Dari tadi juga, Eri dan Rukia melontarkan pertanyaan yang serupa, namun Uryū hanya membalasnya dengan mengangkat bahu.
Mereka tidak banyak saling bicara satu sama lain. Sebenarnya Rukia banyak bertanya, tapi Uryū hanya menggeleng, mengangguk atau mengangkat bahu sebagai jawabannya, membuat Rukia cukup kesal juga dibuatnya. Tiba-tiba Rukia teringat sesuatu, “Hei, kau menguasai butterfly effect, kan?”
“Kenapa kau bertanya?” Uryū malah balik melontarkan pertanyaan. Rukia mencondongkan badannya dan berbisik pada Uryū. “Eri dalam bahaya, nanti akan aku jelaskan. Yang penting, sekarang tuntun dia menggunakan butterfly effect.”
Keningnya berkerut. Kenapa Eri membutuhkan teknik itu?
Namun Rukia mendesaknya, dan berjanji akan menceritakan apa yang terjadi nanti. Ketika Uryū menoleh pada Eri, gadis itu menganggukkan kepalanya. “Baiklah. Tapi kita membutuhkan bantuan ketua kelas tadi.”
“Siapa? Haruto?” tanya Rukia heran. Uryū mengangkat alisnya, lelah mengangguk. Kali ini Eri yang bertanya, “Kenapa kita membutuhkan bantuannya?”
“Sudahlah. Ajak saja dia. Kita pergi ke atap sekolah.” Dan Uryū menarik pergelangan tangan Eri, membawanya pergi ke atap. Sebagai anak baru, bisa dikatakan kalau Uryū cukup percaya diri berjalan dengan acuhnya melewati murid-murid yang menatap dirinya dengan pertanyaan yang hampir sama memenuhi benak mereka, ‘Siapa anak itu?’. Apalagi dia menggandeng Jounan’s Princess. Anak-anak klub jurnal akan segera beraksi setelah ini. Sementara itu Rukia mencari Haruto dan menyeretnya pergi dari teman-temannya, tanpa menjelaskan padanya kalau ini menyangkut Eri.

Uryū dan Eri sampai di atap. Seperti biasa, banyak anak yang makan siang di sana. Dan Uryū sedikit terkejut mendapati kenyataan tersebut. “Aku juga tidak tahu kenapa mereka senang sekali makan siang di atap,” ujar Eri, seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Uryū. “Tidak apa-apa. Yang penting tidak ada Raien di sini. Selain itu, aku sudah lama tidak mempraktikkan immobile-ku.” katanya memperhatikan keramaian di hadapannya.
Berpasang-pasang mata menatap ke arah mereka berdua. Perlu diingat kalau Uryū masih memegang pergelangan tangan Eri. Dan ia tidak suka mereka melihatnya dengan mata terpicing seperti itu. “Immobile.”
Mungkin lain kali sebaiknya Uryū menyuruh mereka untuk menutup mata dulu, karena angin yang berhembus sepoi-sepoi dapat membuat mata mereka perih nanti. Eri menatapnya dengan terkejut. Dia benar-benar melakukan immobile.
“Kau terkejut? Aku sudah belajar mengontrol reiatsu-ku. Sekarang aku tidak lagi memerlukan caprie yang membosankan itu.” Ada nada bangga dalam bicaranya.
“Benarkah? Aku tidak tahu ada yang seperti itu selain caprie.” Uryū tersenyum samar, “Memang tidak ada. Ilusi tingkat tinggi, Eri. Aku tidak pakai caprie atau teknik apapun, hanya ilusi. Para Raien itu tidak menyadarinya juga,”
Memang tidak ada teknik lain untuk menyamarkan reiatsu Quincy selain caprie. Dan Uryū memang tidak menerapkan caprie, Eri bahkan tidak menyadarinya sebelum melihat Uryū melakukan immobile. Dia benar-benar seorang ilusionist yang hebat.
“Apa kau selalu menggunakan teknik ilusi setiap waktu?” tanya Eri ketika mereka berjalan ke tengah, melewati para mortal. “Tidak. Aku hanya merasa kalau hari ini aku harus menggunakannya saja. Dan aku benar, kan?”
Mereka berdua duduk di tempat yang tidak banyak mortal berkumpul dan agak jauh dari mortal yang lainnya. Uryū mengeluarkan sebuah penjepit rambut perak kecil berbentuk kupu-kupu. Eri tidak tahu dari mana ia mendapatkan benda itu, atau mungkin ia memang sudah membawanya sejak awal.
“Pertama-tama tentu saja kau harus melepaskan caprie-mu. Untuk orang seperti dirimu yang bukan master ilusionist akan sangat berbahaya melakukannya di daerah musuh, karena itu kita membutuhkan bantuan Quincy lain untuk menyamarkan reiatsu-mu.” Uryū mengatakannya seraya meletakkan benda itu di atas telapak tangan kanan Eri. “Rukia dan ketua kelas juga akan melepaskan caprie mereka dan melakukan teknik ilusi. Aku tahu Rukia tidak mahir dalam hal ini, namun sepertinya ketua kelas cukup menguasainya.” Eri kembali menatap Uryū dengan terkejut.
Apa Haruto juga seorang Quincy?
Eri baru saja akan membuka mulutnya untuk bertanya, tapi Uryū lebih dulu memotongnya. “Jangan bilang kalau kau tidak tahu dia seorang Quincy. Hh, baiklah. Aku bisa mengerti hal itu.”
Pintu atap terbuka, masuklah Rukia dan Haruto. Anak laki-laki berambut pirang itu jelas terlihat terkejut melihat sekelilingnya tidak bergerak. Dia sedikit panik.
“Tenang saja. Kami sama sepertimu.” kata Uryū tanpa menoleh sedikit pun untuk melihat ekspresi terkejut Haruto. Rukia juga terkejut. Tapi ketika dia akan bicara, Uryū menatapnya dingin. “Simpan keterkejutanmu untuk nanti, Rukia.”
Sebenarnya Rukia tidak begitu menyukai Uryū, karena anak laki-laki itu selalu saja bersikap menyebalkan, menurutnya. Tapi kali ini dia bisa mengerti.
“Sekarang, lepaskan caprie kalian. Lakukan ilusi semampunya untuk mengaburkan reiatsu kalian. Hanya sampai Eri selesai mentransfer kekuatannya,”
Haruto segera mengangguk. Ia pintar membaca situasi dan mengerti apa yang tengah terjadi. Dan ia juga tidak terganggu untuk bertanya karena ia akan menyimpan pertanyaannya untuk nanti, setelah caprie-nya kembali.
Haruto dan Rukia memejamkan mata, melepaskan kontrol atas caprie mereka dan melakukan apa yang diminta Uryū, mengaburkan reiatsu dengan ilusi. Cukup sulit memang, mengingat ada seorang Raien dengan sense yang sangat tajam dalam radius tak sampai dua ratus meter dari mereka. Ryū tentu saja.
Eri juga melakukan hal yang sama. Hanya saja ia tidak perlu melakukan ilusi.
“Genggam penjepit rambut itu erat-erat dan ikuti kata-kataku.” Eri mengangguk.
“Kupu-kupu bersayap biru, terbanglah bebas. Utara adalah asalmu, selatan adalah tempat kembalimu, barat adalah rumahmu, timur adalah persembunyianmu. Langit yang biru, awan yang putih, angin semilir, daun melambai. Aku pasrahkan apa yang jadi milikku kepadamu. Terimalah kekuatanku.” Eri mengikuti ucapan Uryū.

Sementara itu di tempat lain, Ryū merasakan benar keberadaan reiatsu Quincy. Seperti hari sebelumnya, ia segera memerintahkan immobile ke seluruh penjuru sekolah. Raien yang lain juga menyadarinya. Reiatsu Quincy yang begitu berbeda.
Mereka berpencar ke seluruh penjuru, tapi Ryū tahu dari mana asal reiatsu yang dirasakannya itu. Dia segera berlari menuju tangga ke atap, diikuti Ichigo, Sakurako, Kid dan Gaara. Mereka tahu kalau Ryū sudah menemukan tempatnya. Orihime, Zakuro dan Simca yang dilewati mereka dalam perjalanan juga mengikuti.
Di atap, Uryū menanti dengan tidak sabar proses transfer kekuatan Eri kepada penjepit rambut kupu-kupu yang digenggamnya. Dia sudah merasakan reiatsu Ryū dan Raien lainnya tidak jauh dari mereka. “Masih lama? Mereka akan tiba dalam tiga puluh detik lagi,” kata Haruto.
“Tiga puluh detik tidak akan cukup. Rukia, awasi Eri.” Dengan itu Uryū beranjak meninggalkan Eri, kemudian melangkah mendekati pintu dan membukanya. “Apa yang akan kau lakukan?” tanya Haruto heran. “Doll control.” Haruto mengerutkan alisnya dan menatap Uryū dengan tatapan tidak setuju. “Apa tidak membahayakan mortal yang dipakai sebagai doll?”
Tapi Uryū tidak mendengarkan dan bersiap melakukan kontrol boneka, “Kau gunakan safety zone. Hanya ini satu-satunya cara, psikometri tidak bisa mendeteksi ingatan doll yang dilindungi safety zone.” Sepertinya Shikamaru sedang beruntung hari ini, Uryū memilihnya sebagai doll. Sebenarnya dia asal-asalan saja memilih mortal untuk dijadikan doll. Tapi Shikamaru terlihat pintar dan cukup kuat baginya, jadi dia memutuskan untuk memakai anak itu saja sebagai doll.
Shikamaru yang ada di bawah kendali doll control Uryū pun berlari menuruni tangga, menghadang Ryū dan gerombolannya. Cahaya biru menyelubunginya, sebagai perwujudan dari safety zone yang diterapkan Haruto. Sebagai seorang Quincy yang hebat, Uryū bisa saja menggunakan doll control dan safety zone secara bersamaan. Tapi untuk membuat seorang doll dapat menggunakan kekuatan juga, dia tidak mungkin menggunakan safety zone untuk melindungi doll itu secara bersamaan.
Ryū sedikit terkejut dengan kehadiran Shikamaru, apalagi ketika si rambut nanas itu memunculkan busur di tangan kanannya, bersiap menembakkan anak panah.
“Shikamaru?” Simca dan Orihime bertukar pandang terkejut.
“Aku tidak terkejut kalau ternyata kau seorang Quincy, Nara.” Ichigo berkomentar. Shikamaru memang termasuk murid yang pandai dan berbakat. Tapi sayangnya dia terkenal pemalas dan selalu tidur di dalam kelas. Entah bagaimana dia bisa jadi sepintar sekarang, padahal dia tidak pernah memperhatikan pelajaran.
Mereka sepertinya tidak menyadari muka datar tanpa ekspresi Shikamaru adalah muka seorang doll. Sebelum Ryū dan gerombolannya mengambil tindakan, Uryū melepaskan panah cahayanya ke lantai, membuat mereka semua melompat mundur menghindar. Panah Quincy memang bukan mainan, dan Uryū juga tidak main-main.
“Kau bisa membahayakan mereka,” kata Haruto setengah berbisik. Dia dan Uryū ada dalam jarak yang tidak jauh dari para Raien, namun cukup bagi Uryū untuk dapat melihat situasi dan mengontrol Shikamaru. “Tenanglah. Aku tidak akan benar-benar melukai mereka.” balas Uryū.
Ryū mendengus, “Kau tidak akan menang, Nara.” Pemuda berambut ungu itu bersiap melakukan serangan balasan. “Hado 5, tembakan api merah!”
Tapi Uryū sangat baik dalam doll control, dia segera menggunakan perisai sebelum serangan Ryū mengenai Shikamaru. Hal itu membuat Ryū kesal, tapi dia tersenyum sinis, “Kau Quincy yang hebat.”
Serangan kedua dilancarkan oleh Ichigo, disusul Kid dan Gaara secara beruntun. Tapi semuanya berhasil dipatahkan oleh Uryū dengan mudah. Dia sendiri sedikit terkejut karena doll-nya kali ini dapat menggunakan kekuatan secara maksimal. Meskipun masih jauh dari seperti saat dia sendiri yang menggunakannya.
“Dia hebat sekali,” bisik Simca, Orihime hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah Simca. “Aku tidak tahu bagaimana dia bisa membekukan gelembung ingusnya waktu itu,” Sekali lagi Orihime hanya mengangguk.
“Sudah selesai!” kata Rukia ketika dia tidak merasakan lagi reiatsu Eri. Uryū pun menyudahi doll controlnya. Haruto juga menyudahi safety zone-nya dan kembali memakai caprie. Tiba-tiba saja Eri merasa tubuhnya sangat lemah, dia bersandar pada pundak Rukia. “Kau aman sekarang, Eri.” bisik Rukia.
“Mobile.” Dan semuanya kembali seperti semula.
Tapi Ryū dan gerombolannya begitu terkejut karena tiba-tiba saja Shikamaru terjatuh di hadapan mereka, sebelum kemudian si rambut nanas itu mencoba berdiri dengan muka linglung. “Heh? Kenapa aku bisa ada di sini?”
“Crap. Doll control.” gumam Ryū, dia segera berlari melompati Shikamaru dan menuju ke atas. Tapi dia tidak menemukan apapun atau siapapun yang terlihat aneh, semuanya baik-baik saja.
“Kita kehilangan dia?” tanya Sakurako yang sudah ada di sampingnya.
“Sepertinya begitu.”

“Aku tahu ada yang aneh. Untuk apa dia sengaja menunjukkan keberadaannya pada kita dan melakukan doll control?” Kid berputar-putar dengan pose detektif. Ia tidak mengerti dengan kejadian barusan. “Mungkin dia ingin mempermainkan kita?” celetuk Gaara. Biasanya dia jarang sekali berpendapat.
“Kita menghadapi Quincy yang sangat hebat. Dia bisa melakukan doll control dan menggunakan kekuatannya pada doll itu dengan mudah. Kalian lihat sendiri, kan? Doll saja bisa sehebat itu, apalagi pengontrolnya.” Zakuro angkat bicara.
Ryū setuju dengan pendapat Zakuro, dia juga memikirkan hal yang sama. Tapi satu hal yang mengganggu pikirannya adalah dia tidak bisa mendeteksi apapun dari Shikamaru. Tidak ada ingatan yang berhubungan dengan kejadian itu.
“Ada lebih dari satu Quincy di sini.” Mereka yang ada di ruangan itu memusatkan perhatiannya kepada Ryū. Apapun yang dikatakan Ryū adalah benar. Mereka tidak pernah meragukannya. “Seorang pengontrol yang hebat memang bisa menggunakan kekuatannya melalui doll, tapi dia tidak bisa melindungi doll itu dengan teknik lain pada saat yang bersamaan.” Ryū berdiri dari duduknya dan mendekati jendela, bersandar pada kusennya. “Aku tidak membaca ingatan yang penting.”
“Apa maksudnya?” tanya Orihime. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Ryū. Bagaimana bisa Ryū mengatakan ada lebih dari satu Quincy dan tiba-tiba melompat pada pernyataan yang secara tidak langsung menyatakan bahwa psikometri yang digunakannya tidak mendeteksi apa-apa?
Ryū menatap sepasang mata abu-abu Orihime sekilas, lalu dia memalingkan mukanya menatap ke luar jendela. “Itu artinya doll dipakaikan safety zone sejak awal pengontrolan agar tidak ada memori yang terbaca. Karena safety zone tidak mungkin digunakan pada doll bersamaan dengan penggunaan kekuatan, berarti memang ada orang lain yang menggunakannya. Dan aku rasa, mereka punya maksud tertentu melakukannya. Tidak sekedar untuk mempermainkan kita.” kata Ryū panjang lebar. Mereka yang ada di dalam ruangan itu hanya mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Ryū benar, dan dia selalu benar.
Tiba-tiba saja Ichigo memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa, Imadori Kyousuke mengekornya. “Hei, dengar! Kyo punya berita yang penting!” teriak Ichigo. Mereka yang ada di dalam ruangan itu diam mendengarkan. Dari raut mukanya, jelas terlihat kalau Kyousuke dan Ichigo tidak bercanda.
“Dengar! Kemarin aku merasakan reiatsu Quincy, kalian juga pasti merasakannya, kan? Dan aku berlari mengikutinya, tapi larinya cukup cepat! Aku rasa dia adalah atlet lari yang baik, dan aku-”
“Langsung ke intinya saja, Kyo!” potong Sakurako sedikit kesal.
“Oke-oke. Katakan saja aku berhasil menjebaknya. Aku baru saja akan menangkap Quincy kecil itu, dia benar-benar ketakutan saat itu. Tapi tiba-tiba muncul orang lain dan semuanya menjadi gelap. Kemudian aku tahu kalau aku ping-”
“Jadi siapa Quincy itu?” kali ini Simca yang memotong. Tampak urat berkedut di pelipis Kyousuke, ternyata tak ada yang mau mendengarkan ceritanya dengan sabar. “Lanjutkan, Kyo.” Ryū berkata kemudian karena Kyousuke hanya diam saja dan menggeram kesal.
“Dengarkan aku dulu! Tadi pagi aku baru menyadari ada sesuatu yang tidak benar, ada sesuatu yang tidak aku ingat. Lalu aku-”
“Tidak perlu didramatisir, Kyo! Kau mau mengatakan kalau kau dihipnotis agar melupakan suatu kejadian penting tentang siapa Quincy itu, lalu kau minta Ichigo melepaskan pengaruh itu dan sekarang kau ingat siapa Quincy itu, kan? Tinggal katakan saja siapa dia!” potong Sakurako panjang lebar. Ia tahan mendengar penjelasan Kyousuke yang bertele-tele.
Kembali, urat berkedut muncul di pelipis Kyousuke. Tapi akhirnya pemuda berambut pirang itu hanya menghela nafas kesal. “Aku tidak tahu siapa gadis itu. Yang jelas, dia satu sekolah dengan kita dan rambutnya pirang panjang. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas,”
Semua yang ada di ruangan itu terperanjat. Murid Jounan, seorang gadis berambut pirang panjang. Hanya ada satu nama yang terlintas di benak mereka semua. Sawachika Eri.

Ryū segera berlari keluar dari ruang klub kendo dan menuju ke kelas 2-1, yang lain mengekornya di belakang.
“Kau harus kembali belajar mengatur caprie-mu, Eri. Kau hanya bisa menggunakan butterfly effect paling lama sepuluh hari berturut-turut, atau kau akan mati.” Uryū memperhatikan Eri yang hanya bertopang dagu melihat ke luar jendela. Ia kelihatan tidak sehat dan sangat lemah. Efek samping butterfly effect. “Aku mengerti.”
Semuanya sudah jelas.
Uryū merasakan reiatsu para Raien mendekat. Ia menoleh pada Rukia dan Haruto, mereka berdua mengangguk. Sepertinya mereka akan segera memulai sandiwara lagi. Dan benar saja, tak lama kemudian semua gerakan mortal terhenti. Immobile. Ryū memasuki kelas 2-1 dengan tergesa, diikuti teman-temannya. Perhatian mereka segera tertuju pada Eri.
“Berhentilah bersandiwara, Sawachika Eri. Kami sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya,” kata Sakurako dengan nada sinis. Tapi Eri tidak bergeming, tidak bergerak sedikit pun. Karena kesal, Sakurako menarik rambut pirang sang ketua klub paduan suara itu. Lalu Ichigo segera menyingkirkan tangannya. “Kau kasar sekali, Sakurako!” Gadis berambut hitam itu mendengus.
Orihime menyempatkan diri untuk melirik Haruto, tak terasa warna pink menyebar merata memenuhi wajahnya. Anak laki-laki berambut pirang itu tampak bertopang dagu dan memejamkan matanya. Orihime sedikit heran kenapa sepertinya Haruto selalu sedang terpejam kedua matanya saat immobile terjadi. Tapi ia pikir Haruto hanya beruntung, karena dengan begitu matanya tidak akan kemasukan debu seperti yang sering terjadi pada mortal lain sesudah immobile selesai dilakukan.
Zakuro maju, mengamati gadis berambut pirang di hadapannya. “Dia mortal.” Ichigo menghelas nafas lega dan mengurut dadanya. “Tidak mungkin dia seorang Quincy,” komentarnya. Ryū hanya mengernyitkan keningnya. Selama ini dia memang tidak merasakan ada yang mencurigakan dengan gadis itu. Namun ketika mendengar penuturan Kyousuke entah kenapa nama Eri yang pertama terlintas. Dia juga tidak begitu terkejut. Menurutnya, gadis itu memang terlalu pintar hanya untuk menjadi seorang mortal. “Apa ada teknik Quincy lain yang belum kita ketahui?” tanya Ryū, lebih seperti ditunjukkan kepada dirinya sendiri.
Mereka belum tahu tentang butterfly effect.
“Kita harus segera mengembalikan semuanya. Bel pulang sekolah akan berbunyi lima menit lagi. Kalian tidak ingin mengacaukan ingatan mortal-mortal ini lebih lama lagi, kan?” kata Gaara mengerling jam yang tergantung di dinding kelas.
“Baiklah. Ayo keluar.” Dengan begitu Ryū melangkah keluar dari kelas 2-1, diikuti teman-temannya para Raien. Mendekati pintu, dia berhenti dan menoleh lagi ke dalam kelas, “Siapa anak itu? Aku belum pernah melihatnya,”
Teman-temannya juga menoleh. Seorang anak laki-laki berambut raven kebiruan menarik perhatian mereka. “Aku juga belum pernah melihatnya. Mungkin murid baru,” kata Sakurako.
“Oh, iya! Tadi aku juga sempat melihatnya. Kalau aku tidak salah, namanya Ishida Uryū,” celetuk Orihime riang. ‘Ishida Uryū? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya.’ Namun Ryū tidak begitu memikirkannya dan segera keluar dari sana. Di ambang pintu dia bergumam, “Mobile.”

No comments:

Post a Comment