Tuesday, May 3, 2011

Crown Prince (Frame 3)

Warm Up
Keadaan mulai tenang, para Raien mulai mengurangi kewaspadaan mereka akan Quincy, yang sudah beberapa minggu ini tidak pernah terasa reiatsu-nya. Mereka pun berangsur-angsur mulai melupakan kemungkinan Sawachika Eri adalah seorang Quincy. Tidak ada yang aneh dengan gadis itu.
Tapi tidak dengan Ryū. Dia masih tetap waspada meskipun dari penampilan luar dia terlihat santai dan biasa saja. Dia yakin Quincy itu masih ada di sekitarnya dan tengah menunggu waktu yang tepat untuk melakukan re-entry. Dia pun masih curiga kepada Eri, meski dia sudah membuktikan sendiri bahwa gadis itu hanya mortal biasa.
Sore itu seperti hari-hari tenang yang biasa di musim semi. Semburat oranye keemasan menghiasi langit kota Tokyo. Matahari sudah tidak terlihat, terhalang oleh gedung-gedung pencakar langit di sebelah barat. Melewati sore hari yang damai dengan berdiri sendirian di balkon merupakan kesenangan tersendiri bagi Orihime. Setidaknya tidak ada Simca yang selalu ribut menyuruhnya beres-beres kamar yang memang kali ini benar-benar berantakan. Majalah-majalah berserakan di atas tempat tidur yang bed covernya bahkan lebih berantakan lagi. Tempat sampah di pojok kamar terguling dan menumpahkan bungkus coklat, permen, serta buntalan-buntalan kertas. Tempat pensil di atas meja belajar juga terguling, isinya sudah tersebar ke seluruh penjuru kamar.

Tapi Orihime sedang tidak ingin memikirkan kamarnya yang sebentar lagi akan berevolusi menjadi salah satu kamar di dalam kapal Titanic yang telah karam kalau ia tidak segera membereskannya. Ia ingin menikmati sore yang tenang itu tanpa gangguan Simca. Setidaknya untuk hari ini saja.
“Hhhh...” Gadis itu menghela nafas panjang. “Sekarang mereka pasti sedang bersenang-senang...” Pandangannya menerawang jauh. Hari ini Simca pergi kencan dengan Kid. Entah bagaimana awal mulanya sehingga mereka bisa sedekat sekarang, Orihime juga tidak mengerti.
Tapi setidaknya hal itu baik untuknya. Setidaknya Simca jadi tidak senewen lagi dan jarang marah-marah. Gadis berambut pink itu sering sekali tersenyum-senyum sendiri akhir-akhir ini.

“Hima!” Gadis itu menoleh ke bawah mendengar namanya dipanggil, atau setidaknya ia merasa namanya dipanggil. Sepasang mata abu-abunya yang bulat semakin membulat karena terkejut.
Di bawah sana, seorang anak laki-laki berambut pirang yang sangat ia kagumi melambaikan tangan kanannya dengan semangat, tangannya yang lain mengapit sebuah bola basket. Mungkin anak itu baru saja latihan basket di sekolah.
Orihime tersenyum dan balas melambaikan tangannya. Rasanya seperti Rapunzel yang bertemu dengan pangeran yang akan menyelamatkannya dari menara nenek sihir jahat saja. Sayang sekali rambut Orihime tidak sepanjang rambut Rapunzel untuk bisa dipanjat oleh sang pangeran basket itu. Hanya khayalan Orihime saja.
“Apa aku boleh mampir?!” tanyanya setengah berteriak.
Pangeran tidak membutuhkan rambut Rapunzel untuk bisa sampai di puncak menara –meskipun gedung apartemen itu sebenarnya berlantai delapan- dan bertemu sang putri, karena sekarang sudah tersedia lift, terobosan baru yang lebih modern dan pastinya lebih aman dan nyaman daripada memanjat rambut orang. Orihime tidak habis pikir, bagaimana mungkin rambut Rapunzel kuat dipanjat pangeran?
“Naiklah!!” Orihime balas berteriak.
Dan dalam sekejap kapten basket itu sudah tak terlihat lagi, sepertinya dia langsung berlari kecil memasuki area apartemen ini.
“YES!!!” seru Orihime riang. Gadis itu berlari kecil keluar dari kamar, sambil sesekali melompati sampah-sampah yang berserakan di lantai kamarnya. Kamar tidur bisa menunggu untuk dibereskan nanti, toh dia tidak mungkin membawa Haruto masuk ke sana, kan?
Lima menit kemudian terdengar pintu depan diketuk. Orihime –yang tentu saja sudah menyisir rambutnya dulu- sudah siap di depan pintu sebenarnya, hanya saja ia menanti Haruto mengetuk.
Pintu segera dibuka, Orihime tersenyum semanis mungkin. “Hai!”
“Hai! Boleh pinjam toilet?” tanyanya tanpa ragu-ragu. Orihime sedikit sweatdrops dibuatnya, tapi ia hanya mengangguk dan menunjukkan jalannya. “Aku mengerti.” Anak laki-laki itu segera melesat, menghilang dari hadapan Orihime, bola basketnya dengan seenaknya saja ia sodorkan pada gadis itu.
‘Jadi dia mampir hanya untuk ke toilet, eh?’
Tapi gadis itu hanya bisa mengangkat bahunya dan berjalan mendekati lemari es, berharap masih ada minuman ringan atau jus di dalam sana.
Haruto yang baru keluar dari toilet memasuki ruang tengah, Orihime ada di sana. “Terima kasih, ya. Tadinya aku mau langsung lari sprint sampai rumah, tapi karena rumahku masih jauh, akhirnya kuputuskan untuk mampir kemari. Takut tidak kesampaian,” katanya dengan cengiran yang biasa menghiasi mukanya.
“Ini.” Orihime menyodorkan segelas jus jeruk yang diterima Haruto sambil tersenyum. Dalam sekejap saja gelas itu sudah kosong. “Sepertinya kau sangat haus,” komentar Orihime.
Dengan sedikit tersipu, Haruto menggaruk bagian belakang lehernya dan tertawa. “Sebenarnya iya. Habis, lari dari sekolah sampai ke sini, sih.” Orihime tersenyum mendengar penuturannya. Ia membuka lemari es dan mengeluarkan sebotol jus.
“Oh, iya. Mana Simca? Aku tidak melihatnya dari tadi?”
“Dia pergi kencan dengan Kid,” Orihime membuka tutup botol itu dan menuangkan isinya ke dalam gelas Haruto. Anak itu menggumamkan terima kasih dan segera meminum habis jusnya. Orihime tersenyum geli melihatnya dan segera menuang lagi. “Lalu, kenapa kau tidak pergi kencan juga?”
Mukanya bersemu merah karena malu, “Err...sebenarnya aku belum punya pacar,”
Atmosfir yang agak canggung mulai merebak di antara mereka berdua. Haruto memang tidak dekat dengan Orihime dan begitu pula sebaliknya. Apalagi berduaan saja dengan sang pangeran pujaan hati benar-benar membuat jantung Orihime terus berdebar-debar dengan kencangnya.
“Kau tahu, ada toko buku baru di perempatan, bagaimana kalau besok kita ke sana?” tanya Haruto memecahkan kecanggungan sesaat di antara mereka sembari mempermainkan bola basketnya.
‘Haruto mengajakku pergi? Apa ini kencan?’
Orihime terdiam sebentar. Sebenarnya besok adalah gilirannya beres-beres rumah, Simca pasti marah kalau ia mangkir dari tugas. Tapi biarlah, ada hal yang lebih penting daripada sekedar beres-beres rumah. “Err, baiklah.”
Anak laki-laki bermata coklat cerah itu tersenyum. “Besok kujemput jam sepuluh, ya? Hmm, sudah gelap. Kalau begitu, aku permisi, ya?” Dia beranjak dari sofa dan berjalan mendekati pintu, Orihime mengikutinya.
“Terima kasih toiletnya, ya? Sampai ketemu besok!”
Orihime terus memandangi anak itu sampai ia masuk ke dalam lift, melambaikan tangan. ‘Akhirnya aku akan pergi kencan dengan Haruto...’

‘Ketenangan seperti ini... akankah berlangsung lama?’
Gadis berambut hitam itu menoleh ke belakang, kepada temannya yang berambut pirang panjang yang sedang sibuk menulis. Seorang anak laki-laki berambut raven yang duduk di sebelahnya juga sedang sibuk menulis. Sesekali mereka berdiskusi.
‘Mereka berdua tampak akrab sekali.’ Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh, mengalihkan fokusnya dari buku yang dari tadi sibuk ia tekuni. “Rukia, ada apa?”
Tapi ia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, lalu kembali menatap langit senja dari balkon rumahnya. Warna keemasan yang menghiasi langit kota Tokyo sudah berganti gelap. Terang saja, matahari sudah terbenam sekitar sepuluh menit yang lalu. Lampu-lampu jalan sudah menyala semua, termasuk juga lampu-lampu rumah-rumah di sekitarnya.
Ia kembali menoleh pada kedua orang temannya yang masih sibuk menulis dan menghampiri mereka. “Belum selesai juga?” tanyanya, merendahkan badannya dan melihat pekerjaan mereka. Eri menoleh. “Sebentar lagi.”
“Hari sudah gelap. Kau mau bermalam di sini, Eri?”
Gadis itu tersenyum, “Tidak usah. Aku pulang saja,” Dia mengemasi buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian bersiap untuk pulang.
“Uryū, antar dia sampai ke rumah. Awas kau!” ancam Rukia, mendapat respon berupa dengusan kecil dari anak laki-laki berambut raven kebiruan yang tengah membenarkan letak tas di pundaknya.
“Kalau anak ini berani macam-macam padamu, teriak saja. Biar dia dihajar orang-orang,” bisik Rukia, cukup keras untuk dapat didengar Uryū yang segera memasang tampang tidak suka.
Eri tersenyum lagi dan menepuk-nepuk pundak Rukia pelan. “Pasti.”
Dan akhirnya Rukia mengantar Eri dan Uryū pulang sampai ke depan gerbang rumahnya. “Baiklah, hati-hati di jalan, ya?” Rukia melambaikan tangannya.
Setelah mereka berdua tidak terlihat lagi, gadis berambut hitam itu menghela nafas dan seulas senyum lega menghiasi wajahnya. ‘Dia sudah kembali ceria lagi..’

Hari ini adalah hari Minggu yang begitu tenang bagi Simca, meskipun dia sebal juga karena Orihime tidak mengerjakan tugasnya bersih-bersih rumah. Tak apalah, jarang-jarang ada Minggu setenang ini.
Sementara Orihime sendiri, sejak dua jam yang lalu tidak henti-hentinya mematut diri di depan cermin. Kalau Simca hitung-hitung, sudah lebih dari sepuluh kali gadis itu mengganti gaya rambutnya. Dan akhirnya dia pun menoleh pada Simca, “Hei Simca, menurutmu rambutku bagusnya dimodel apa, ya?”
Gadis bermata emerald itu mendekati temannya dan berdiri di belakangnya. “Tidak usah dimodel macam-macam, Ori. Cukup digerai bebas saja,” katanya sembari menarik rambut Orihime pelan, membuat gadis itu mengaduh.
Orihime menundukkan kepalanya, dengan sisir masih tergenggam di tangannya. “Tapi...sepertinya Haruto lebih suka kalau rambut Sawachika dikucir ke samping...”
Seulas senyum menghiasi wajah Simca. Gadis berambut pink cerah itu meletakkan kedua tangannya pada pundak Orihime dan mengusapnya pelan. “Menurutku dia lebih suka kalau rambutmu digerai,”
Setelah mendengar perkataan Simca, Orihime mendongak dan menatap gadis yang masih tersenyum itu, memunculkan seulas senyumnya sendiri.
Sepuluh menit kemudian dia sudah ada di dalam lift yang menuju ke lantai satu karena Haruto baru saja menelpon dan mengatakan ia sudah ada di bawah. Di dalam lift Orihime sibuk membenarkan rambutnya, meluruskan bajunya, dan sebagainya. Dari tadi juga seulas senyum tidak pernah menghilang dari wajahnya.
Di depan pintu masuk apartemen itu berdirilah seorang anak laki-laki jangkung yang memakai jaket putih berstrip biru pada kedua lengannya. Beanie dengan warna putih cemerlang menutupi rambut keemasannya.
Senyum bahagia Orihime bermetamorfosis menjadi senyuman gugup. Warna pink menyebar di wajahnya seiring dengan menolehnya anak laki-laki itu ke arahnya.
“Sudah siap?” Orihime hanya mengangguk gugup.
“Ayo.” Haruto berjalan duluan, kedua tangannya ditenggelamkan ke dalam saku celana jeansnya. Sementara Orihime mengekor di belakangnya.
Sudah dua blok mereka lewati tanpa bicara. Sebenarnya dari tadi Haruto bicara, tapi dengan seseorang di telepon. Kalau Orihime tebak, pasti salah seorang teman satu timnya, karena dari tadi mereka membicarakan masalah pertandingan basket.
Padahal semalaman dia membayangkan akan berjalan bergandengan tangan dengan Haruto. Bahkan sampai bermimpi segala. Tapi bahkan mengajak bicara pun tidak. Susah payah ia berdandan secantik mungkin tadi.
Orihime menggerutu dalam hati, ‘Ternyata anak ini tidak ada romantis-romantisnya!’
“Sudahlah, tunggu saja tanggal mainnya! See you!” Haruto menekan tombol end dan melipat kembali ponselnya, memasukkannya ke dalam saku celananya.
Keheningan kembali menyelimuti perjalanan mereka. Haruto menoleh kepada Orihime, Orihime juga menoleh ke arahnya. Tersipu dan kemudian menundukkan kepalanya, Haruto tersenyum geli melihatnya.
“Kau tahu, kau terlihat cantik hari ini,” kata Haruto, masih tersenyum.
Secara refleks Orihime menoleh lagi, dan warna pink kembali menyebar menghiasi wajahnya. Menyadari hal tersebut, ia segera menundukkan kepalanya lagi. Kali ini Haruto tertawa kecil melihat tingkahnya. “Kau lucu sekali, Hima.”
Setelah tawanya mereda, dia berkata lagi. “Aku ingin sekali melihat warna pink seperti itu merona di wajah Eri.” pandangannya menerawang jauh. Orihime diam-diam melirik ke arahnya. ‘Dia benar-benar menyukai Eri...’
Toko buku yang terletak di perempatan jalan itu lebih luas daripada toko buku yang ada di dekat sekolah yang biasa Orihime kunjungi. Koleksi buku-bukunya pun lebih lengkap. Selain itu, toko alat tulis yang ada di lantai satu juga sangat lengkap.
Orihime yang sibuk berkeliling di bagian buku resep itu berjinjit, melongokkan kepalanya mencari Haruto yang tadi memisahkan diri darinya. Anak laki-laki itu ternyata sedang mengobrol dengan seorang pemuda di bagian komik. Pemuda itu dikenali Orihime sebagai salah satu kakak kelas mereka, Kid. Sesekali Haruto tertawa dan mengibaskan komik di tangannya.
“Hhh...pacar Simca mengganggu saja!” gerutu Orihime kesal.
Kemudian sambil menggerutu gadis itu membuka-buka buku resep. Dia berniat untuk membuat menu baru. Tapi yang pasti tidak ketinggalan tambahan kacang merah di menunya itu nanti, meskipun di buku resep tidak ada.
“Jadi, akhirnya kau berhasil mengajak sang putri pergi kencan, ne?” kata Kid sambil memainkan alisnya jenaka. Haruto menggelengkan kepalanya pelan, membuat kedua alis Kid berkerut.
“Hmm? Jadi bukan Sawachika?” tanyanya heran. Pemuda berkaos biru dongker panjang itu mengembalikan komik yang dari tadi ia pegang ke rak semula, lalu mengambil komik yang lain.
“Kemarin sih aku mengajaknya keluar, tapi dia bilang mau membuat tugas. Akhirnya aku pergi sama Orihime. Padahal aku ingin sekali pergi sama Eri, soalnya akhir-akhir ini dia kelihatan lebih ramah padaku. Aku pikir mungkin dia mulai menyukaiku-” oceh Haruto, tanpa dia sadari kalau ternyata Kid sibuk membaca komik dan tidak terlalu mendengarkan ceritanya.
Menghela nafas, Kid menutup komik yang ia baca dan mengembalikannya ke tempat semula, lalu menatap Haruto. “Hei, ada anak baru di kelasmu, ya?”
Si pirang itu menganggukkan kepalanya, “Ishida Uryū.”
“Dari mana dia berasal? Rasa-rasanya aku pernah bertemu dengan anak itu,” Kid mengerling ke arah jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Sudah tengah hari rupanya.
“Dia bilang dia dari Seoul, Korea.”
Kid hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian dia mengambil komik yang sama seperti yang tadi dia baca, tapi yang masih bersegel, dan menepuk pundak Haruto pelan. “Aku duluan, Sakuraba.”
Layaknya sahabat dekat, kedua orang itu kemudian berjabat tangan dan berlalulah Kid menuju ke meja kasir untuk membayar bukunya. Melihat Haruto sudah tidak bersama Kid, Orihime bergegas menghampirinya. “Sudah menemukan buku yang ingin kau beli?”
Anak bermata coklat cerah itu menoleh dan mengangguk. “Sepertinya kau juga. Kita pergi sekarang?” Setelah Orihime menganggukkan kepalanya, Haruto mengulurkan tangannya ke arah gadis itu sambil tersenyum. Dengan sedikit ragu Orihime menerima uluran tangan itu dan mereka berdua pun menuju ke meja kasir.
Orihime menoleh ke arah Haruto di sebelahnya. Gerakannya menjilat es krim cone terhenti ketika dilihatnya Haruto begitu serius. Kening anak itu berkerut, sepasang mata coklat cerahnya terpaku pada halaman buku yang tengah ia baca. Sesekali ia terlihat bergumam mengalkulasikan sesuatu. Apa yang sedang ia pikirkan?
Gadis berambut coklat cerah itu sedikit menyorongkan badannya, penasaran dengan buku yang tengah dibaca Haruto. Tapi sepertinya anak laki-laki itu sudah mengetahuinya lebih dulu dan segera menutup bukunya, menatap Orihime.
“Ada apa, Hima?”
Segera Orihime menggelengkan kepalanya dan kembali menikmati es krimnya. Tentu saja dengan sedikit warna pink merona menghiasi pipinya.

Gadis berambut hitam gelap itu berlari kecil mengejar seorang anak laki-laki yang agak jauh di depannya, sambil sesekali memanggil namanya. Tapi entah karena anak itu tidak mendengarnya atau sengaja mengacuhkannya sehingga ia tidak menoleh sedikitpun. Malah terlihat sibuk mengorek telinganya menggunakan jari kelingkingnya. Akhirnya gadis itu pun berhasil meraih pundak anak tadi.
“Kau tuli, ya?” tanyanya terengah-engah. Anak laki-laki berambut raven itu menarik jari kelingkingnya dan mengerjapkan matanya polos. “Hn?”
“Hhh~ Uryū!!” Rukia mendengus kesal dan memukul lengan Uryū cukup untuk membuatnya mengaduh. Sementara bibir anak raven itu menyimpulkan senyum.
“Baik-baik. Ada apa, Kuchiki Rukia?” Kali ini dia melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu Rukia mengumpulkan nafasnya dulu.
“Besok hari kesepuluh, kan?”
Rukia memperhatikan raut muka Uryū, tapi anak itu tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. Beberapa menit menunggu, ternyata Uryū tidak memberi tanggapan apapun. Rukia berdecak kesal. “Tsk, kau tahu apa artinya itu, kan Uryū?!”
“Sudahlah. Aku tahu apa yang harus kulakukan,” Dan dengan itu dia berlalu, meninggalkan Rukia yang menatap ke arahnya dengan kesal.
Jounan High School pada jam lima sore itu sudah terlihat sepi. Murid-murid yang mengikuti kegiatan klub sudah pulang sejak setengah jam yang lalu, karena hari memang sudah hampir gelap. Tapi di atap Jounan, terlihat empat siluet. Mereka adalah para Quincy; Haruto, Eri, Rukia dan Uryū. Sepertinya ada sesuatu hal yang penting yang akan mereka lakukan di sana.
“Duduk saja, Eri. Buat dirimu merasa nyaman,” kata Uryū memberi instruksi. Kemudian dia sendiri duduk di sebelah Eri, tangan kirinya menggenggam sebuah penjepit kupu-kupu yang waktu itu. Sementara Haruto dan Rukia bersiaga.
“Ikuti kata-kataku. Kupu-kupu bersayap biru yang terbang bebas; utara adalah asalmu, selatan adalah tempat kembalimu, barat adalah rumahmu, timur adalah persembunyianmu. Langit yang keemasan, awan yang jingga, angin yang berhembus tenang, daun yang melambai perlahan. Apa yang telah aku pasrahkan padamu, kekuatan yang menyangga kehidupanku, lepaskanlah, biarkan kembali kepadaku.”
Cahaya biru memancar dari penjepit kupu-kupu yang ada di dalam genggaman tangan Eri, menyelubungi gadis itu dan bersatu dengan reiatsu-nya.
Sementara menunggu proses pengembalian selesai dilakukan, Haruto merasakan reiatsu Raien mendekat. Dia menoleh pada Uryū, si raven itu menganggukkan kepalanya kemudian beranjak.
“Ini akan memakan waktu cukup lama. Kau tunggu di sini, Rukia. Aku dan Haruto akan turun mengatasi mereka,” Rukia memegang kedua pundak Eri dan menganggukkan kepalanya. Uryū dan Haruto segera melesat keluar.
Reiatsu Raien menguat, menandakan mereka semakin dekat ke arah mereka, selain itu jumlahnya juga tidak hanya satu-dua orang saja. Berlari menyusuri koridor sekolah, Uryū mengedarkan pandangannya sambil menggerutu kesal. “Sial! Tidak ada orang sama sekali!”
“Kau akan menggunakan doll control lagi?” tanya Haruto, menoleh pada Uryū.
“Apa kau ada ide lain? Hanya itu yang bisa kita lakukan!” tukas Uryū, masih sibuk mencari-cari orang yang akan dijadikan doll.
“Bagaimana dengan masque?” Langkah Uryū terhenti mendengar perkataan Haruto barusan. Kedua alisnya bertautan, “Masque?”
“Tidak ada orang lain di sini,” tambah Haruto mengangkat bahu.
Masque adalah kemampuan untuk menyamar, yang dikuasai baik Quincy maupun Raien. Jika mode masque on, maka tingkat kemampuan imortal adalah setengah dari kemampuan yang sesungguhnya. Masque tidak dapat menyamarkan reiatsu, sehingga penggunaannya diantara orang yang sudah hafal reiatsu sang pengguna akan sia-sia saja.
“Hei, bagaimana?” tanya Haruto, menyadarkan Uryū dari ketermenungannya.
Anak laki-laki bermata safir itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal dengan sedikit canggung. “Terserahlah. Tapi kau yang maju duluan?”
Entah benar atau tidak, tapi Haruto merasakan keraguan pada nada bicara anak itu. Padahal ia begitu percaya diri saat mengatakan akan memakai doll control yang tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. Mungkin karena kekuatannya akan turun setengah saat memakai masque?
“Kau ragu? Kenapa?” tanya Haruto setelah mereka berdua menyamar.
Tapi Uryū tidak menjawab, dia memberi isyarat supaya Haruto diam. Dan mereka berdua pun menuju ke ruang loker. Dari sana mereka dapat melihat beberapa Raien berlari ke arah mereka. Gerombolan Ryū.

Uryū dan Haruto segera keluar untuk menghadang mereka, tentunya dengan wujud orang lain. Dan begitu melihat mereka berdua muncul, Ryū dan gerombolannya menghentikan langkah mereka.
“Kalian- punya nyali untuk menampakkan diri juga rupanya,” ejek Ichigo.
Ryū memicingkan matanya, menyapu dua Quincy yang kini berdiri hanya beberapa meter darinya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
“Hado 5, tembakan api merah!” Tanpa disangka-sangka Ryū melancarkan tembakan ke arah mereka. Beruntung Haruto masih sempat membaca gelagat Ryū dan menghindar menyelamatkan diri, tentunya dengan mendorong Uryū menjauh juga. Mereka berdua berguling di atas tanah yang berdebu, mengotori seragam sekolah yang masih mereka pakai.
Ryū maju dua langkah dan bersiap untuk menembak lagi, “Responmu cukup cepat, Quincy.” Dengan kemampuan membaca serangan lawan yang tidak sebaik aslinya, Haruto menghindari tembakan-tembakan yang dilancarkan Ryū dan gerombolannya. Begitu juga dengan Uryū. Tampaknya mereka berdua belum punya kesempatan untuk menyerang balik.
Tapi menghindar terus-terusan menguras tenaga juga. Apalagi gerombolan Ryū melancarkan tembakan beruntun tanpa memberi Haruto dan Uryū kesempatan untuk sekedar bernafas lega.
Tiba-tiba saja Ryū mengangkat tangan kanannya dan serangan pun berhenti.
“Tsk- tampaknya kalian tidak bisa apa-apa. Tidak berguna.” Senyuman mengejek menghiasi wajah Ryū, tidak biasanya.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Haruto. Dalam posisinya yang berlutut kelelahan di atas tanah, Haruto memunculkan busur di tangan kirinya dan segera melepaskan anak panah yang cukup untuk membuat Ryū dan gerombolannya meloncat mundur. “Percuma, Quincy. Kalian tidak akan bisa lolos kali ini,” Ichigo dengan cepatnya melepaskan tembakan balasan, tepat ke arah Uryū yang tampak lengah. Tapi Haruto segera melompat ke depan anak raven itu. “Shield!” Dan perisai iluminasi melindungi mereka berdua.
“Sepertinya kau akan jadi petarung tunggal, Quincy.” komentar Kid, ditujukan pada Haruto. Tampaknya ia tidak salah, Uryū terlalu lelah.
Dan Haruto harus berjuang keras bertahan dan menghindari serangan para Raien itu. Dia sudah terluka, meski tidak parah. Uryū juga begitu. “Cukup main-mainnya, Ichigo. Habisi mereka.” perintah Ryū.
Sepasang mata coklat cerah Haruto melebar, ‘Habislah aku...’
“Hado 5, tembakan api merah!” Ryū dan gerombolannya melepaskan tembakan secara bersamaan. Sesuatu yang tidak mungkin dihindari lagi oleh Haruto. Dan kilau api yang menyala tergambar pada bola mata coklat cerahnya. ‘Oh my...’
Semuanya gelap. Haruto memejamkan matanya erat-erat. Tapi ia hanya mendengar bunyi ledakan yang keras. Dan ketika ia membuka matanya, ia sudah ada agak jauh ke belakang dari tempatnya berdiri semula. Uryū berdiri di sampingnya.
Haruto mendongak dan menatap Uryū dengan heran. ‘Apa yang terjadi barusan?’
Sepertinya Ryū dan gerombolannya juga tidak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Bagaimana mungkin mereka bisa berpindah tempat secepat itu?
“Hirenkyaku.” Hirenkyaku, kemampuan untuk berpindah tempat secara cepat.
Serentak mereka menoleh kepada sosok Uryū yang berdiri dengan senyuman angkuh menghiasi wajahnya –tapi mereka tidak mungkin melihatnya karena asap sisa ledakan yang menyelubungi sekeliling. Dia telah melepas masque-nya.
‘Hirenkyaku? Itu kan teknik lama.’ kata Ryū dalam hati.
Uryū memunculkan panah cahaya di tangan kanannya dan dengan cepat melepaskan anak panah ke zona aman, ke tanah dan sontak membuat para Raien melompat mundur. “Siapa kau?” tanya Ryū, merasakan perubahan tingkat kekuatan serangan. Jelas sekali anak panah yang barusan berbahaya, meskipun bukan serangan untuk mematikan.
“Seorang Quincy yang lebih hebat dari kalian semua.” Sebuah anak panah spiritual dilepaskan Uryū. Satu lagi serangan berbahaya yang tidak mematikan, tapi cukup untuk membuat para Raien tersentak. Dan ketika asap telah menghilang seluruhnya, mereka tidak menemukan sosok dua Quincy tadi. ‘Hirenkyaku lagi?’

Mereka berdua kini ada di atap, bersama dengan Rukia dan Eri. Tampaknya proses pengembalian kekuatan baru saja selesai. Melihat mereka berdua yang datang tiba-tiba dalam keadaan terluka, Rukia dan Eri segera mendekat dengan khawatir.
“Kalian tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanya Rukia.
“Haruto? Kau tidak apa-apa?” tanya Eri khawatir.
Haruto menggelengkan kepalanya, masih berusaha mengumpulkan nafasnya. Sementara Uryū mengernyitkan keningnya, merasakan reiatsu para Raien mendekat. Kelihatannya mereka belum menyerah juga. “Sial, mereka datang lagi.”
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Eri.
Uryū menoleh kepada Haruto, anak itu tidak mungkin ikut bertarung lagi. Sedangkan dia tidak mungkin menghadapi mereka dengan wujud aslinya, tidak juga dengan masque. Kemudian dia menoleh pada Eri, ‘Hanya ada satu cara.’
“Hei Eri, bagaimana kalau kau jadi doll?” tanya Uryū. Gadis berambut pirang itu segera menoleh ke arahnya lagi dengan heran. “Doll?”
Tanpa menunggu lagi, Uryū menarik tangan Eri dan membawanya menuju ke pintu, meninggalkan Rukia dan Haruto yang keheranan di atap. “Kalian tunggu di sana!”
“Mereka akan segera menemukan kita. Satu-satunya cara agar kita tidak ketahuan adalah bertarung dengan menggunakan kontrol boneka. Tapi aku tidak menemukan siapapun di sini,” jelas Uryū sambil mereka berdua berjalan menuruni tangga.
“Memangnya bisa? Kenapa tidak pakai masque saja?”
Reaksi Uryū sama saja seperti tadi ketika mendengar kata masque dari Haruto, dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung. Tapi kemudian raut mukanya berubah menjadi serius. “Lupakan masque. Sekarang cepat lindungi dirimu dengan safety zone dan percayalah padaku.”
Meski ragu, Eri hanya menurut saja dan melindungi dirinya. Kata-kata Uryū yang terakhirlah yang membuatnya mau melakukannya, ‘percayalah padaku’.
Tidak ada yang ia rasakan, sekarang ia benar-benar sudah ada di bawah kendali Uryū. Sementara anak bermata safir itu mencari tempat yang strategis untuknya agar bisa mengawasi sekaligus mengendalikan Eri.
Tak lama kemudian Ryū dan gerombolannya tiba. Mereka cukup terkejut melihat Eri menghadang mereka. ‘Doll control lagi, ya?’ gumam Ryū.
“Hei Quincy pecundang! Kenapa kau tidak keluar dan berhadapan langsung dengan kami?!” teriak Ryū, teman-temannya lebih terkejut lagi dengan tindakannya itu. Padahal biasanya ia yang bersikap paling tenang.
“Hanya berani memakai doll. Kutebak pasti kau malu dengan wujud aslimu.”
“Apa yang terjadi dengan Ryū? Dia aneh sekali hari ini, seperti bukan dirinya,” bisik Ichigo kepada Gaara. Pemuda berambut merah darah itu hanya mengangkat bahu.
Di lain tempat, Uryū mengepalkan tangannya kesal. Ia sedikit termakan ejekan Ryū. Tapi kemudian ia berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak berteriak, atau mereka akan mengetahui keberadaannya.
“Aku tahu kau ada tidak jauh dari sini, Quincy. Jadi kau lebih memilih kami melukai gadis ini, ya? Benar-benar seorang pecundang,”
“Cerewet sekali si rambut ungu itu. Awas kau,” Tanpa mengalihkan perhatiaannya dari para Raien, Uryū memunculkan busur di tangan kanannya dan melepaskan anak panah dari tangannya sendiri, bukan dari tangan Eri. Itu karena ia melengahkan doll control-nya pada Eri. Tembakannya melukai lengan Ryū sedikit, pemuda itu lengah.
Terkejut dengan tindakan Uryū barusan, mereka mengedarkan pandangannya, berusaha mencari keberadaan Uryū. “Emosional, ternyata berani juga kau. Tenang saja Quincy, kami akan segera menemukanmu. Cari dia!”
Mereka berpencar. Uryū memang sudah tahu mereka akan mencarinya cepat atau lambat. Dan melalui Eri, dia melepaskan anak panah yang membuat langkah maju mereka berubah menjadi langkah mundur. Tapi Ryū cukup cerdik memanfaatkan blind spot Eri dan melawannya dari jarak dekat. Menyadari keadaan yang bisa membahayakan Eri, dia segera melepaskan kontrolnya dan membuat gadis itu tidak sadarkan diri dalam kepompong perlindungannya. “Chrysalis.”
‘Sepertinya aku terpaksa harus menghadapi mereka secara langsung. Ternyata tidak semudah yang sebelumnya,’ Uryū meraih sebuah topeng yang terletak tak jauh darinya. Beruntung ia bersembunyi di gudang tempat penyimpanan perlengkapan drama sekolah. Ia pun segera meloncat keluar.
“Oh, jadi kau sang controler-nya? Menarik sekali, kau mau main drama, ya?” ejek Ryū. Melihat kehadiran Uryū, para Raien itu segera memusatkan perhatian mereka padanya dan bersiap melakukan tembakan.

Selanjutnya tentu saja pertarungan seru antara segerombolan Raien melawan seorang Quincy. Namun pertarungan itu tetap berlangsung secara imbang, karena Ryū tidak ikut campur. Ia yakin teman-temannya bisa mengalahkan Quincy itu. Pemuda bermata onyx itu sibuk memperhatikan sang Quincy. Ia sadar ia mengenal Quincy itu. Rambut raven kebiruan, tangan kiri sebagai tangan dominannya, dan reiatsu yang kuat; reiatsu yang sama seperti yang ia rasakan ketika berhadapan dengan Shikamaru dan ketika tadi berhadapan dengan Quincy yang terselubungi asap. Orang yang sama, Quincy yang sama.
“Hado 33, tembakan api biru!” Tepat mengarah ke jantung sang Quincy, tapi dari jarak yang jauh. Meskipun begitu, tampaknya Uryū kurang cepat menghindar sehingga tangan kirinya terluka.
‘Sial.’ Uryū memegangi tangan kirinya. Sekarang dia tidak bisa melepaskan reiryoku dengan presisi yang tepat lagi tanpa merasa sakit pada tangannya. Ia hanya bisa menghindar dan bertahan menggunakan perisai iluminasi.
Menghadapi segerombolan Raien tanpa reiryoku sebagai senjata utamanya tidak akan menghasilkan apa-apa. Ia pun terpojok.
‘Ternyata tidak semudah yang kubayangkan.’ Uryū terengah-engah, kelelahan. Begitu juga dengan para Raien itu. Sebenarnya ia bisa saja segera pergi dari sana dengan hirenkyaku. Tapi karena dalam keadaan terluka, ia tidak bisa pergi dengan membawa serta Eri. Padahal ia sudah meminta pada gadis itu untuk percaya padanya, mana mungkin dia meninggalkannya begitu saja?
Di saat seperti itu, muncullah dua orang Quincy yang tidak lain adalah Haruto dan Rukia. Mereka berdua memakai masque. “Doll control failed,” bisik Rukia.
“Uryū tidak mungkin menang melawan segerombolan Raien itu. Apalagi ada Ryū dan Kid,” tambahnya. “Aku sudah tahu. Karena itu kita datang ke sini,” balas Haruto, pandangannya tertuju pada Eri yang terbaring di lantai dalam chrysalis.
Ryū tersenyum sinis mendapati kehadiran dua Quincy itu. “Kau muncul lagi, Quincy.”
Uryū menoleh kepada Haruto dan Rukia dengan kening mengernyit, ‘Bodoh, masque tidak akan berhasil.’
Pertarungan pun berlanjut kembali. Saling serang hado pun tak terelakkan. Namun karena menggunakan masque, Haruto dan Rukia hanya terlihat seperti seorang anak yang baru beberapa hari menyadari kelebihannya sebagai Quincy. Dan dengan mudah para Raien berhasil membuat mereka kewalahan.
Ichigo mendengus tertawa, “Ternyata kalian tidak ada apa-apanya. Harus kuakui, teman kalian yang satu itu jauh lebih baik,”
Sadar perlawanan mereka tidak akan berarti apa-apa, Uryū memaksakan dirinya untuk memunculkan busur di tangan kanannya dan melepaskan anak panah spiritual yang tidak mematikan tapi kemudian menyebar. Namun presisinya tidak terlalu tepat sehingga hanya melukai dua-tiga Raien saja.
Melihat Uryū masih dapat menyerang, Ryū pun melancarkan hado kepadanya. “Hado 5, tembakan api merah!” Beruntung dia sempat memunculkan perisai iluminasi yang langsung mematahkan serangan Ryū. Membuat pemuda itu menggeram kesal.
Situasinya semakin tidak menguntungkan para Quincy. Haruto dan Rukia sadar kalau masque benar-benar tidak berguna kali ini. Namun mereka tidak bisa melepasnya begitu saja atau semuanya akan berakhir. Haruto menoleh pada Eri, sepasang mata coklat cerahnya melebar terkejut. ‘Di mana dia?’
Tiba-tiba lima anak panah melesat cepat.
Seorang Quincy tampak berdiri tepat di depan jendela, di tangan kirinya adalah busur biru. Sinar bulan yang menyinari dari belakang membuat wajahnya tak terlihat jelas. Gaara memicingkan matanya, menyadari bahwa Quincy itu memakai topeng yang menutupi seluruh muka dan kepalanya. Ia cukup jeli untuk bisa mengetahui warna rambutnya. Pirang.
Serangannya barusan berhasil melumpuhkan sebagian Raien. Uryū tidak melewatkan kesempatan itu dan kembali menarik anak panah, kali ini serangan khusus. Tiga tahun terakhir ini dia belajar untuk memanipulasi panahnya dan menggabungkannya dengan kemampuannya yang lain.
Jemari tangan kirinya menahan reiryoku cukup lama, mengumpulkan partikel cahaya yang dibutuhkan sebanyak mungkin. Sampai-sampai darah mengalir dari sela-sela jemarinya. Anak panah berkekuatan besar.
‘Semoga kali ini tepat.’ Tanpa mempedulikan rasa sakit tangannya, ia melepaskan anak panah itu. Sama seperti yang tadi, anak panah itu melesat kemudian menyebar dan mengenai setiap Raien. Presisi yang tepat sekali.
“Illusion.”
Tiba-tiba kabut tipis kebiruan yang entah dari mana datangnya menyelimuti area itu. Begitu tipis. Namun Ryū sadar dia tidak melihat keempat Quincy tadi. Mereka seperti menghilang begitu saja. Ia sendiri sebenarnya masih terkejut akan anak panah yang menembus dahinya. Tidak terasa apapun.
Samar-samar dia mendengar derap kaki beberapa orang menjauh. Tapi entah kenapa dia tidak bisa menggerakkan anggota badannya. Ada sesuatu yang salah pada dirinya.
Dia masuk dalam perangkap ilusi.
Sementara itu Uryū, Haruto, Eri dan Rukia sendiri sudah berlari keluar dari gedung sekolah. Berlari menjauh secepat yang mereka mampu dalam keadaan terluka seperti ini.

Pagi-pagi buta di markas tempat berkumpulnya Raien, Amakusa Residence. Kali ini Zakuro juga hadir di sana. Biasanya dia tidak mau berhubungan dengan Ryū dan gerombolannya. Tapi kali ini Kid yang memaksanya untuk datang. Dia bilang ada sesuatu yang penting.
“Aku yakin kemarin kau merasakan reiatsu Quincy juga, Fujiwara.” Sang tuan rumah, Ryū, melirik ke arah Zakuro yang duduk di seberangnya. Gadis berambut ungu itu hanya mengangguk.
“Dan karena kau tidak berusaha untuk mendekat, kau melewatkan pertarungan yang seru,” kata Ichigo, mengambil sebutir apel di atas meja dan menggigitnya.
Zakuro terlihat sedikit terkejut dengan perkataan Ichigo barusan. “Kalian- bertarung melawan Quincy?”
Gaara, pemuda berambut merah darah, beranjak dari sofa dan berdiri di dekat jendela. Ia membuka jendelanya sedikit, merasa kalau membutuhkan udara segar dari luar. “Salah satu dari mereka menguasai hirenkyaku, teknik lama yang sudah tidak kita pelajari.”
‘Hirenkyaku?’
“Dan chrysalis, kepompong perlindungan.” tambah Kid.
Zakuro menoleh ke arah Kid yang duduk di sebelahnya, “Mereka hebat?”
“Dua yang pertama tidak. Satu yang berikutnya adalah yang sedang kita bicarakan kemampuannya, dan di memang hebat. Lalu dua yang berikutnya lagi –yang salah satunya adalah Quincy yang muncul pertama- tidak hebat. Satu yang muncul terakhir kali bisa dikatakan lumayan,” tukas Sakurako. Zakuro hanya mengernyitkan keningnya, tidak begitu paham dengan penjelasan Sakurako barusan.
“Ada 5 Quincy semalam. Entah itu Quincy yang sama seperti yang dilihat Kyo atau yang mengendalikan Nara, kita tidak tahu.”
“Quincy yang paling hebat adalah Quincy yang sama seperti yang mengendalikan Nara. Seorang master doll control. Dan aku tidak yakin kalau semalam ada 5 orang. Kemana perginya Quincy pertama yang tidak bisa apa-apa itu?” ujar Ryū, pemuda itu mencondongkan badannya dan menangkupkan jemarinya.
Sakurako, yang sudah pasti duduk di samping Ryū menoleh heran ke arah pemuda berambut ungu itu. “Kenapa?”
“Masque.” Hanya itu balasan dari Ryū.
Gaara menoleh ke arah Ryū dengan cepat, dia mengerti maksud Ryū. “Quincy yang pertama yang tidak bisa apa-apa itu- mungkinkah Quincy yang paling hebat? Jadi dia melepaskan masque-nya ketika kita menembakkan hado secara bersamaan?”
Ryū mengangguk. “Dia mencari kesempatan yang tepat untuk menyerang kita menggunakan wujudnya yang asli. Karena seperti yang kalian ketahui, masque membuat kemampuan kita hanya setengah dari yang sebenarnya.”
“Tapi...kalau dia sehebat itu, mengapa ketika dia tidak berdaya saat menerapkan masque?” Kid bertanya sambil memasang pose detektif.
“Entahlah. Tapi kemungkinan besar, Quincy yang lain juga menerapkan masque. Berarti semalam ada empat Quincy. Dan semuanya adalah siswa Jounan. Yang terhebat mempunyai warna rambut raven kebiruan.” balas Ryū.
‘Dan yang terakhir adalah gadis yang ditemui Kyo...’ batin Gaara, memandang jauh ke ufuk timur tempat matahari akan terbit segera.

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos ke dalam ruangan kelas melalui setiap jendela kelas yang terbuka lebar. Murid-murid Jounan High School berlarian kecil saling menyapa, benar-benar suasana yang penuh dengan keakraban.
Gedung sekolah dalam keadaan yang bagus seperti sebelumnya. Sama sekali tidak terlihat bekas pertarungan semalam.
“Immobile.”
Pagi-pagi begini, ketika sekolah baru saja akan dimulai, para Raien mengacaukan para mortal. Mereka berkumpul di tempat yang biasa, ruang klub kendo. Amakusa Ryū berdiri di depan, dengan muka masam. Akhir-akhir ini dia sering menunjukkan ekspresinya, padahal biasanya datar-datar saja.
“Ada empat Quincy yang diketahui. Dan mereka semua adalah siswa sekolah ini.”
Pemuda berambut ungu itu berjalan mondar-mandir. “Salah satu dari mereka yang paling mungkin dicari sekarang juga, yaitu Quincy yang terhebat, adalah seorang anak laki-laki berambut raven kebiruan.” “Dan karena tangan kirinya lebih dominan, aku asumsikan dia kidal. Tidak sulit mencari anak kidal di sini, kan?” tambah Ryū.
“Rambut raven? Kidal? Sepertinya aku tahu siapa orangnya,” celetuk Simca.
Murid-murid kelas 2-1 sedang berolahraga di lapangan belakang sekolah. Hari ini materinya adalah lari. Beberapa murid laki-laki yang sedang melaksanakan penilaian berlari menurut rute yang telah ditentukan. Beberapa yang telah selesai atau menunggu giliran duduk-duduk di pinggir lapangan.
Sambil berlari, Haruto merasakan kehadiran reiatsu Raien semakin mendekat. Ia menoleh kepada Uryū yang tengah duduk di atas rerumputan. Tapi anak laki-laki bermata safir itu hanya mengangkat bahu sebagai responnya, dia tidak bisa merasakannya. Akhirnya Haruto juga mengangkat bahu dan meneruskan larinya.
Tak lama kemudian Ryū dan gerombolannya sudah ada di sekitar sana. Padahal ini masih jam pelajaran. Mereka berjalan mendekat ke arah Uryū. Anak laki-laki itu sudah bisa menebak apa yang akan mereka lakukan sebelumnya, sehingga hari ini dia menerapkan butterfly effect. Karena dia tahu, tak mungkin Ryū tidak menyadari apapun. Dan semoga saja butterfly effect akan cukup untuk membuat mereka mencari orang lain yang ciri-cirinya sama seperti dirinya.
“Immobile.” Semuanya berhenti bergerak. Tapi-
“Aduh-” Para Raien menoleh ke arah lapangan. Mereka mendapati Haruto terjatuh di atas lapangan berumput.
‘Ow, shit...’ Haruto mengutuk. Seharusnya dia segera berhenti berlari tadi. Dia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Eri dan Rukia sedang ada di lapangan basket yang cukup jauh letaknya dari sini bersama murid perempuan yang lain. Uryū? Tidak, anak itu seperti teman-temannya yang lain, dalam pengaruh immobile.
“Kita menemukan Quincy yang lain,” kata Ryū.
Haruto berdiri, setidaknya dia tidak akan kalah begitu saja. Kalau pun hari ini adalah hari terakhirnya melihat matahari, setidaknya dia sudah berusaha untuk melindungi dirinya. Dia tahu dia tidak mungkin menang kali ini. Namun setidaknya dia kalah dengan cara terhormat sebagai seorang Quincy. Tidak apa-apa.
“Mau melawan, Quincy? Percuma saja. Hado 5, tembakan api merah.”
Tiba-tiba Orihime sudah ada depan Haruto, merentangkan tangannya menjadi tameng untuk anak itu. Ryū begitu terkejut, namun dia sempat melenyapkan serangannya. “Orihime?! Apa yang kau lakukan?!”-
“Ori?! Cepat menyingkir dari sana, Bodoh!” teriak Simca.
Namun gadis itu tidak bergeming. Haruto terkesiap dengan apa yang dilakukan Orihime. Kenapa gadis itu malah melindunginya?
Tidak ada yang dapat mengerti apa yang diperbuat Orihime. Bahkan dia sendiri tidak mengerti kenapa dia melindungi Haruto. Dia hanya tidak ingin anak itu terluka. Dia tidak ingin Raien lain membunuhnya. Itulah cinta sejati.
Cinta sejati tidak pernah mengharap balasan. Cinta sejati berarti rela berkorban apapun, bahkan menghianati klan sendiri. Seperti yang tengah ia lakukan sekarang. Melindungi musuh.
“Minggir Orihime!” Ryū berteriak lantang, sembari mendekat dengan langkah kesal.
Gadis bermata abu-abu itu menggelengkan kepalanya keras-keras. Cairan hangat mengalir dari sudut matanya. Tapi ia menguatkan hatinya.
“Orihime, apa yang kau lakukan?” tanya Haruto berbisik.
Orihime menoleh sedikit, cukup bagi Haruto untuk dapat melihat air mata gadis itu yang mengalir turun membasahi pipinya yang merona. Bibirnya menyunggingkan senyuman lemah. Untuk pertama kalinya Haruto tidak salah memanggil namanya.
“Melindungimu.”
“Jangan bodoh, Hime. Cepat pergi,” Tapi Orihime menggelengkan kepalanya.
‘Orihime...’
Di depan mereka berdua berdirilah Ryū yang terlihat murka. Itu penampilan luarnya saja. Dalam hati ia begitu hancur menyaksikan orang yang begitu berarti baginya melindungi musuh. Melindungi seorang Quincy.
“Orihime, aku peringatkan sekali lagi. Cepat menyingkir atau jangan salahkan aku bila nantinya kau juga ikut terluka,” kata Ryū dingin. Sepasang mata onyx-nya berkilat-kilat memancarkan kemarahan.
Lagi-lagi gadis itu menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya Ryū tidak mungkin tega melukai gadis itu. Melihatnya menitikkan air mata saja sudah membuat dadanya terasa sesak. Tapi yang lebih memilukan lagi, melihat gadis itu melindungi Haruto.
Tidak ada alasan yang pasti mengapa ia berambisi untuk menghabisi Quincy, selain untuk menyelamatkan nyawa para mortal yang tidak tahu apa-apa dari re-entry massal Quincy. Namun dia menolak untuk menerima kemungkinan tidak adanya re-entry massal Quincy. Rasa kehilangannya akan Ran yang membuatnya terobsesi untuk melenyapkan semua Quincy dari muka bumi ini.
Padahal Quincy tidak bersalah atas kematian Ran dan Raien lain tiga tahun yang lalu. Mereka adalah korban dari kecerobohan Raien sendiri. Mereka berhak untuk hidup dengan tenang di bumi ini. Sama seperti para mortal dan Raien.
“Baiklah kalau ini keputusanmu, Orihime.” Ryū membalikkan badannya dan berjalan menjauhi mereka berdua.
Orihime belum bisa bernafas lega. Dia sadar Ryū tak mungkin menyerah begitu saja. Apalagi melepaskan Quincy yang selama ini dia buru begitu saja. Dan benar saja, beberapa langkah kemudian dia kembali membalikkan badannya dengan cepat. Dilihat dari gerakannya, dia akan melepaskan tembakan.
Orihime memejamkan kedua matanya. Dia terus meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya adalah benar. Quincy tidak bersalah. Haruto tidak bersalah.
Raien lain hanya bisa menyaksikan dari pinggir lapangan dengan cemas. Tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin ikut campur. Mereka tentu saja mencemaskan Orihime sebagai sesama Raien, apalagi Simca dan Zakuro. Tapi mereka juga tidak bisa menyalahkan tindakan yang akan diambil Ryū sebagai konsekuensi atas penghianatan gadis berambut coklat cerah itu.
‘Maafkan aku, Orihime...’
“Hado 33, tembakan api biru!”
Dia tidak mungkin diam saja. Dia tidak akan diam saja.

No comments:

Post a Comment