Wednesday, May 4, 2011

Crown Prince (Frame 4)

The Prince
Dia tidak akan diam saja. Gadis itu rela mengorbankan nyawa untuk melindunginya. Bahkan sampai menghianati klan-nya sendiri. Sebelum hado itu mengenai mereka, Haruto memeluk tubuh Orihime dari belakang. Membuat Orihime terkejut, tentu saja. “Orihime, terima kasih.” bisiknya.
BLAAARR~!!!
Hado 33 kekuatan penuh. Serangan yang dimaksudkan untuk mematikan lawan, bukan sekedar melumpuhkannya saja. Asap yang cukup tebal sisa hantaman hado 33 dengan permukaan tanah membumbung. Semuanya sudah berakhir?
Terdengar suara terbatuk-batuk dari balik asap. Ini belum berakhir. Ryū berdecak kesal, sekaligus bernafas lega. Berbagi perasaan yang berbeda.
Setelah asapnya menghilang tertiup angin, Ryū dapat melihat Orihime terbaring tidak sadarkan diri di atas tanah. Di sampingnya berlututlah Sakuraba Haruto.
Anak laki-laki berambut pirang itu berdiri, memunculkan busur iluminasi di tangan kirinya, bersiap melepaskan anak panah. “Kau tega sekali.”
Anak panah spiritual yang dia lepaskan dapat dipatahkan Ryū dengan mudah. Sebagai gerakan lanjutan, pemuda itu pun melancarkan hado 5. Tepat melukai tangan kiri Haruto. Berhasil memutuskan Quincy cross-nya. Gelang dari perak itu jatuh ke atas tanah berumput, berkilauan memantulkan sinar matahari.

Haruto terpaku memandangi Quincy cross-nya di atas rumput. Sebelum ia sempat memungutnya, Ryū melepaskan hado lagi. Ia pun melompat menghindar sambil mengutuk dalam hati. Ia tidak bisa melepaskan anak panah lagi. Ia hanya bisa bertahan dengan shield. Seandainya saja Uryū tidak menerapkan butterfly effect...
Ryū melancarkan serangan secara beruntun. Semuanya berhasil mengenai Haruto, meskipun beberapa hanya menyerempet sedikit. Haruto terlambat menggunakan shield, dia tidak berkonsentrasi karena terlalu lelah sehabis lari-lari tadi. Ia jatuh terduduk di atas tanah berumput, terengah-engah dan terluka.
‘Satu hado lagi dan tamatlah riwayatku...’
Ryū bersiap melepaskan hado terakhir. Hado yang akan menghabisi nyawa Quincy di hadapannya yang tidak berdaya. Quincy yang telah merebut hati orang yang ia sukai. Hati Inoue Orihime.
“Pergilah temui klan-mu yang lain, Quincy. Hado 17, kilat putih!”
Secara refleks Haruto memejamkan kedua matanya, tapi kemudian dia membuka matanya lagi, merasakan ada sesuatu. Entah hal itu benar atau hanya khayalannya saja, ia melihat malaikat mendekat ke arahnya. Malaikat berambut pirang panjang yang begitu cantik. Tunggu- berambut pirang? Dan dia- memakai kaos olahraga? Apa ada malaikat yang begitu? Mengingatkannya pada Eri.
‘Kami-sama baik sekali mengirimkan malaikat yang berpenampilan seperti Eri untuk menjemputku...’ batinnya.
Sesuatu bergerak secara cepat seperti kilat menuju ke tengah lapangan, tepatnya menuju ke koordinat letak Haruto. Ryū tidak tahu apa itu. Terlalu cepat untuk dapat ditangkap indra penglihatannya. Dan ketika kilat biru itu menghilang, Haruto juga menghilang. Kemana perginya Quincy itu?
‘A-apa tadi barusan? Apa itu Quincy yang lain?’
Raien lain bahkan tidak sempat melihat kilat biru itu. Mereka saling berpandangan bingung karena tiba-tiba Haruto sudah tidak ada. Yang ada hanyalah asap tebal hasil tumbukan hado dengan tanah.
Ada banyak hal tentang Quincy yang belum mereka ketahui.

Seorang anak laki-laki berambut pirang terbaring lemah di atas tempat tidur. Sinar matahari sore yang menerobos masuk membuat kamar itu seperti bernuansa keemasan. Di samping tempat tidur itu duduklah tiga orang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Uryū, Eri dan Rukia.
“Kemampuan healer-nya hebat. Luka separah ini biasanya tidak bisa pulih dalam waktu kurang dari 24 jam,” komentar Uryū.
“Tapi yang terpenting sekarang adalah kita harus membuatnya menerapkan butterfly effect,” Rukia memecahkan keheningan di antara mereka, melirik ke arah Haruto.
Eri berdiri dan membenarkan letak handuk dingin yang mengompres dahi Haruto. “Ya, tapi kita harus menunggunya sadar dulu.”
“Masalahnya, Ryū pasti akan memburunya kemana pun. Tidak ada tempat yang cukup aman di kota ini,” Uryū berdiri, kemudian bersandar pada kusen jendela. Figurnya yang solid menghalangi sinar matahari sore.
“Apa tidak ada cara untuk melepaskan kekuatannya tanpa ketahuan Raien?” tanya Rukia, membangun kontak mata dengan Uryū. Anak laki-laki bermata safir itu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, kemudian menatap Haruto dengan tatapan iba.
Seandainya Eri terlambat datang satu detik saja, nyawa anak itu pasti sudah melayang. Dan seandainya sejak awal ia tidak menerapkan butterfly effect, mungkin Haruto tidak akan terluka separah ini. Dan pastinya dia sendiri juga akan terluka.
Ia memang bisa membaca taktik Raien, tapi ia tidak bisa membaca masa depan. Semuanya adalah takdir. Terlahir sebagai Quincy juga merupakan takdir.
Uryū menghela nafas panjang. Setidaknya sekarang Haruto aman dalam chrysalis yang ia ciptakan. Chrysalis mampu memanipulasi reiatsu sehingga sekarang reiatsu Haruto tidak dapat terbaca oleh Raien.
Eri duduk di tepi tempat tidur dan menatap Uryū. “Apa butterfly effect tidak bisa dilakukan di dalam chrysalis?”
Anak berambut raven kebiruan itu mengernyitkan alisnya. Jujur saja dia tidak tahu. Dia tidak pernah ambil pusing tentang butterfly effect, karena dia tidak pernah berpikiran untuk menggunakannya. Selama dia menguasai ilusi tingkat tinggi, dia tidak akan membutuhkan butterfly effect. Setidaknya selama ini yang dia gunakan sebagai pengukur adalah dirinya sendiri.
“Entahlah, aku tidak tahu.”

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?” Uryū menyodorkan sebuah bross kupu-kupu dari kaca. Ia tidak menemukan benda lain yang cocok untuk Haruto. Mana mungkin kan anak itu harus membawa penjepit rambut kemana-mana?
Anak laki-laki berambut pirang itu mengangguk lemah. Dia menggenggam bross itu dan menggumamkan sesuatu. Transfer kekuatan kepada bross kupu-kupu tidak memakan waktu lama, tidak selama sesi yang dilalui Eri. Mungkin karena pengaruh chrysalis. Sekarang Haruto benar-benar menjadi mortal biasa.
“Ketua, mereka tetap akan memburumu bagaimana pun juga. Kalau kau tidak keberatan, kami akan menghipnotismu dan mengambil sementara ingatanmu tentang semua hal yang berhubungan dengan kekacauan ini,” kata Uryū sambil melepaskan chrysalis-nya.
Rukia yang tadi bersandar pada dinding menegakkan badannya, “Tapi...bukankah Ryū bisa dengan mudah melepaskan pengaruh hipnotisnya?”
“Hipnotis pada Quincy tidak dapat dipatahkan oleh Raien jika yang menghipnotis adalah Quincy juga. Namun pada kasus kali ini, Ketua dalam form mortal. Karenanya kita harus menggunakan hipnotis tingkat tinggi, seorang master hipnotis.”
“Memangnya kau tidak bisa menghipnotis Haruto?” tanya Rukia.
Uryū menggelengkan kepalanya. “Aku memang bisa melakukannya. Tapi karena aku bukan seorang master, aku khawatir Ryū dapat mematahkan hipnotisnya.”
“Kenapa ragu? Bukankah kau seorang Prince? Kau menguasai segalanya, kan?”
Uryū menoleh ke arah Rukia dengan terkejut. Gadis bermata violet itu membalikkan badannya melihat ke arah luar jendela. Langit yang berwarna kuning keemasan mulai menggelap.
“Meskipun kau pembaca reiatsu yang hebat, tapi kau tidak bisa membaca reiatsu-mu sendiri, kan? Sejak awal aku sudah menyadari perbedaan reiatsu kita. Kau punya reiatsu yang sangat tenang dan stabil, tidak mudah berubah-ubah. Eri dan Haruto juga pasti menyadari hal itu juga, mereka mungkin hanya menganggapnya sebagai hal yang biasa.” Rukia membalikkan badan dan melirik ke arah Haruto, anak laki-laki itu hanya mengangkat bahunya.
“Awalnya aku berpikir kalau kau hanya Quincy yang hebat, yang berimbas pada kestabilan reiatsu-mu. Tapi akhir-akhir ini reiatsu-mu semakin kuat saja. Seakan-akan kau menyerap semua tekanan yang ada di muka bumi ini.”
“Melihat betapa hebatnya dirimu yang menguasai teknik-teknik lama seperti butterfly effect, chrysalis dan hirenkyaku dengan level master, aku sadar akan suatu kemungkinan. Dulu aku pernah dengar masih ada kaum bangsawan yang hidup di bumi ini. Lalu aku berasumsi kalau kau adalah keturunan kaum bangsawan Quincy itu, yang tidak ikut menghilang karena deadly entry.” Rukia menarik nafas.
“Dan aku sampai pada hipotesa yang begitu sederhana. Karena kau adalah laki-laki, berarti kau seorang Prince. Tidak mungkin kau seorang King. Karena di dongeng-dongeng, King itu laki-laki tua yang rambutnya penuh uban dan berjenggot. Persis seperti Santa Klaus!” Rukia terkikik pelan. Ia jadi teringat pada natal.
Haruto tersenyum geli mendengar kata-kata Rukia yang terakhir. Pernyataan kekanak-kanakan seperti itu mana bisa disebut hipotesa. Asal tebak adalah sebutan yang paling tepat.
Uryū yang dari tadi mendengarkan penjelasan Rukia yang panjang lebar hanya mendengus dengan seulas senyum samar menghiasi wajahnya. “Oke, harus kuakui kau hebat bisa mengetahui kalau aku ini seorang Prince –meskipun penjelasanmu barusan benar-benar non sense bagiku-. Tapi sebagai seorang Prince bukan berarti aku bisa melakukan semuanya.”
“Kau tidak tahu kan, aku berusaha sangat keras untuk bisa memasteri doll control dan ilusi sendiri, tanpa seorang guru. Tidak ada siapapun yang bisa mengajariku. Tidak ada siapapun yang bisa membantuku..” tambah Uryū, nada bicaranya berubah. Kepalanya tertunduk dan dia menghela nafas panjang.
Rukia membuatnya ingat kalau dia seorang Prince, setelah dia hampir melupakan hal itu. “Sudahlah, Uryū. Menjadi seorang Prince bukan sesuatu yang buruk, kan?” Rukia menepuk-nepuk pundak anak itu pelan.
“Tapi aku sudah gagal, Rukia. Aku gagal melindungi semua Quincy yang sekarang menghilang. Aku gagal melindungi kalian...”
Dia memang satu-satunya kaum bangsawan saat itu, sebelum deadly entry terjadi. Dan ketika semua Quincy menghilang, dia tidak bisa menghadapi kenyataan kalau ia gagal melakukan tugasnya. Dia gagal mencegah terjadinya deadly entry yang memang sudah tertulis dalam ingatannya sebelumnya. Dia tahu suatu saat hal itu akan terjadi. Tapi ia tidak cukup kuat untuk mencegahnya.
Kegagalan membuatnya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dan Uryū pun pergi. Ia berusaha dengan keras melatih kemampuan Quincy-nya sendiri. Sebuah kecelakaan terjadi saat dia mencoba memasteri masque. Hingga akhirnya teknik itu menjadi kelemahannya sampai sekarang.
“Jangan menyalahkan dirimu. Yang harus kita lakukan saat ini adalah bertahan dan mencari Quincy yang lain. Atau kita bisa melakukan re-entry.” hibur Haruto.
Mendengar kata re-entry raut muka Rukia berubah. Ia tidak suka dengan ide itu. Rencana re-entry pernah membuat ia dan Eri bertengkar.
“Re-entry? Untuk apa kita melakukan re-entry?”
Haruto dan Uryū menoleh kepada Rukia. Gadis bermata violet itu terlihat tidak senang. “Aku mengerti tanggung jawabmu sebagai Prince. Tapi melakukan re-entry hanya akan menciptakan perang kita dengan Raien saja.”
“Sekarang ini kita sudah mulai berperang, Rukia.”
Mereka bertiga menoleh ke arah pintu yang terbuka, Eri berdiri di depan pintu.
“Kalau hanya kita berempat saja, kita akan kalah dan Quincy hanya tinggal sejarah. Kau tahu mereka tidak mungkin membiarkan kita hidup tenang,” Gadis itu membalikkan badannya menutup pintu, kemudian melangkah masuk.
“Mereka tidak membiarkan kita hidup dengan tenang karena mereka tahu kita akan melakukan re-entry. Kalau kita tidak melakukannya, mereka mungkin saja akan membiarkan kita.” bantah Rukia.
“Kau pikir mereka akan membiarkan kita hidup dengan tenang kalau kita berjanji tidak akan melakukan re-entry? Tidak sesederhana itu, Rukia.”
Atmosfir yang menyelimuti kamar itu semakin menegang. Rukia dan Eri saling bertukar tatapan dingin. Haruto dan Uryū hanya bisa saling bertukar pandang dan mengangkat bahu.
“Sudahlah. Masalah re-entry kita pikirkan nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Ketua,” kata Uryū, memecahkan ketegangan di ruangan itu.
“Aku yang akan menghipnotisnya kalau kau ragu, Prince.” Eri duduk di tepi tempat tidur. Tampaknya Eri sudah mendengar semua pembicaraan mereka tadi. Mereka cukup terkejut dengan pernyataan Eri. Tidak menyadari kalau ternyata gadis itu adalah seorang master hipnotis. Selama ini dia memang jarang menunjukkan kemampuannya.
“Hipnotis tingkat tinggi ini juga harus bisa mengakali psikometri Ryū, kan?” Eri menoleh kepada Uryū. Sang pangeran hanya menganggukkan kepalanya.
Eri melepaskan caprie-nya, begitu juga dengan Uryū. Sang pangeran Quincy langsung mengilusi sekitarnya, menyamarkan reiatsu-nya dan reiatsu Eri. Sementara itu Eri memulai hipnotisnya pada Haruto. Rukia menyaksikannya dengan kagum. Dia tidak pernah tahu Eri memasteri hipnotis.

“Sakuraba Haruto. Ternyata dia seorang Quincy.”
Di markas tempat berkumpulnya Raien, Amakusa Residence. Kali ini Simca dan Orihime juga ada di sana. Tapi Orihime terus menundukkan kepala dari tadi. Ia akan diadili hari ini.
“Hei Ryū, menurutmu apa flash biru yang tadi?”
Gaara berdehem, tenggorokannya terasa kering. Pemuda bermata sea green itu menggulung lengan kemejanya. Akhir-akhir ini dia sering merasa kepanasan, seperti musim semi sudah hampir berakhir saja. “Itu pasti hirenkyaku.”
Sang tuan rumah memejamkan kedua matanya dan menghela nafas. Entah apa maksudnya, tiba-tiba bibirnya menyimpulkan senyum. Cukup samar memang.
“Mungkin dia Quincy yang terhebat,”
Mereka semua yang ada di ruangan itu terdiam.
Quincy yang terhebat? Itu artinya anak laki-laki kidal berambut raven kebiruan. Tapi orang yang mereka sangka sebagai Quincy terhebat itu jelas-jelas ada di bawah pengaruh immobile. Dan kenyataan itu cukup untuk mematahkan perkiraan bahwa dia adalah Quincy. Ishida Uryū terbukti bukanlah seorang Quincy.
“Berarti...bukan dia orangnya?” tanya seorang gadis yang rambutnya dibleach hijau.
Ryū tidak berani berspekulasi menjawab pertanyaan Retasu. Masih banyak teknik Quincy yang belum diketahuinya. Tapi dia tidak bisa memikirkan teknik untuk membuat copy diri sendiri, seperti jurus bayangan dalam film-film ninja. Rasanya yang seperti itu tidak ada. Padahal hirenkyaku, seperti yang pernah dikatakan Gaara, adalah teknik lama yang sudah tidak dipelajari lagi. Yang bisa menggunakan teknik itu paling hanya satu-dua orang saja. Apalagi para master Quincy menghilang setelah kejadian deadly entry. Siapa lagi Quincy yang mungkin menguasai teknik itu? Bukankah para master menghilang tiga tahun yang lalu?
“Kalau begitu ada anak kidal lain yang berambut raven. Mungkin dia memakai seragam Jounan untuk mengelabui kita,” kata Kid akhirnya.
Simca menganggukkan kepalanya setuju. “Anak baru yang bernama Ishida Uryū itu tidak tahu apa-apa tentang Raien dan Quincy. Dia mortal biasa,”
Benarkah?
“Sekarang- tentang perbuatanmu Inoue Orihime,” Ryū melirik dengan tatapan dingin ke arah Orihime yang dari tadi tidak berani mengangkat kepalanya.
“Inoue Orihime, perbuatanmu tidak bisa kami pahami!” Sakurako yang dari tadi menahan amarahnya sepertinya tidak bisa memendamnya lagi. Kalau saja tidak ada Ryū, dia tentu akan meledak-ledak seperti gunung berapi. Semua mata segera tertuju ke arah Orihime. Membuat gadis itu semakin menunduk saja.
“Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti tadi, Orihime?” Kid, yang bersandar pada dinding menyilangkan tangannya di depan dada. Tatapannya pada Orihime memang tidak setajam tatapan marah Sakurako, tapi Simca yang sempat melirik ke arahnya tahu kalau dia juga sangat marah.
“Sebaiknya kau punya alasan yang masuk akal,” ujar Ryū. Nada bicaranya tenang dan dingin. Dia kembali ke keadaan seperti biasanya, tidak berekspresi. Padahal sewaktu kejadian tadi dia terlihat begitu marah.
Orihime menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Bagaimana menjelaskan ini pada mereka? Keningnya mengernyit, berpikir.
“Jawab, Orihime!”
Dia menoleh. Zakuro juga marah padanya. Bagaimana tidak? Dia melakukan tindakan bodoh dengan membahayakan dirinya sendiri. Lebih dari itu, dia melindungi musuh. Tindakan yang tidak dapat dimaafkan.
“Aku- menyukainya...” kata Orihime lirih.
“Apa itu?! Alasan yang tidak logis! Kau melakukan ini hanya karena menyukai anak itu?! Bodoh sekali kau, Orihime!” tukas Sakurako marah.
Cairan hangat mengalir dari sudut mata Orihime. “Orang seperti kalian, mana bisa mengerti perasaanku...”
Benar. Orang seperti mereka memang tidak akan mengerti perasaannya. Orang sombong dan angkuh seperti mereka tidak akan dapat mengerti.
“Kau berkata begitu seperti kau tahu segalanya, Ori. Tidak usah membela diri lagi! Jelas-jelas kau salah!” Simca juga marah padanya. Mereka semua yang ada di sini marah padanya.
“Musuh ya musuh! Sebesar apapun rasa sukamu terhadapnya, hal itu tidak akan mengubah apapun!” tambah Simca. Sebenarnya dia juga tidak bisa mempercayai kenyataan kalau Haruto adalah Quincy. Padahal mereka teman akrab. Padahal ia sudah membuktikan sendiri kalau kapten basket itu hanyalah mortal biasa.
Hening sejenak. Mereka sedang memikirkan bagaimana mengutarakan kemarahan mereka pada Orihime. Meneriaki gadis itu sama saja dengan meneriaki Ryū. Semua sudah tahu kalau Ryū menyukainya. Tapi bahkan Ryū berani mengambil tindakan tegas ketika gadis itu melindungi Haruto. Saat itu amarah benar-benar menguasai dirinya. Sekarang sepertinya dia sudah bisa mengendalikan diri.
“Berarti yang kau lihat waktu itu Haruto, Kyo. Rambutnya kan pirang juga. Kau pasti salah lihat sampai mengira dia perempuan,” Ichigo mencoba membuat suasana ruangan itu sedikit bersahabat. Tapi sepertinya usahanya tidak berhasil.
“Kita harus segera mencarinya dan memaksa dia memberi tahu Quincy-Quincy yang lain. Hukuman untuk Orihime kita pikirkan nanti saja,” Ryū beranjak dan keluar dari ruangan itu, mengakhiri pertemuan hari ini.

Sepasang mata coklat cerah Haruto memandangi langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia menghela nafas panjang. Ketika ia terbangun tadi sore, semua badannya terasa sakit. Tidak heran, perban putih membebat beberapa bagian tubuhnya. Eri bilang dia terjatuh dari atas sepeda motor tadi. Tapi dia tidak ingat.
Mengangkat kedua tangannya ke depan, Haruto melakukan gerakan chest pass. Dia mengaduh pelan, sakit. Memaksakan diri untuk duduk, Haruto mengerling ke arah jam di atas bedside stand.
02.14 am. Ternyata sudah pagi.
Tiba-tiba ia mendengar suara perutnya. Ia tertawa kecil.
Haruto menapakkan kakinya di lantai, sedikit gemetar bersentuhan langsung dengan lantai keramik yang dingin. Dia meraih jaket yang disandarkan pada sandaran punggung kursi komputernya dan dengan asal memakaikannya pada pundaknya. Kemudian membuka pintu dan menuruni tangga dengan hati-hati.
Sang kapten basket tidak perlu repot menyalakan lampu karena sinar bulan purnama menerobos masuk menerangi ruang tengah melalui jendela kaca besar di lantai dua. Membuka lemari es, dia mencari-cari makanan yang memenuhi seleranya di pagi buta begini. Sandwich dirasa kurang cocok baginya, dia ingin sesuatu yang tawar.
Karena tidak menemukan roti tawar atau makanan lain yang tidak berasa tajam, Haruto pun mengeluarkan susu karton. Menuangkan isinya ke dalam gelas penuh-penuh dan meminumnya habis dalam satu tegukan. Ia terkikik pelan karena sendawanya terdengar begitu nyaring. Mungkin karena kesunyian pagi.
Haruto menguap, “Huahhm...padahal aku tidur terus, tapi masih saja mengantuk,”
Merasa enggan untuk menaiki tangga, dia pun berbaring di sofa dan tak lama kemudian jatuh tertidur.
Di tempat lain pada waktu yang sama, Ishida Uryū juga terbangun dari tidurnya. Dia beranjak bangun dari tempat tidurnya dan berdiri di dekat jendela, memandangi langit pagi yang masih gelap gulita.
‘Sepertinya re-entry harus segera dilakukan. Kami tidak mungkin bertahan hanya berempat saja. Apalagi Ketua dalam bahaya.’
“Miaow~!” Dia menoleh ke belakang, menemukan seekor kucing berbulu putih-hitam mendekat, kemudian memanjakan diri di kakinya. Uryū tersenyum.
“Hai, Itou. Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” Uryū merunduk dan memungut kucing itu, membawanya turun ke lantai satu dan meletakkannya di kandangnya.
“Jangan menyelinap lagi, Kucing nakal.” Dengan sayang dia mengelus bulu Itou yang halus. Kucing itu dia temukan beberapa hari yang lalu di bawah guyuran hujan. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai kucing dan paling enggan kalau harus memelihara hewan. Tapi bola mata kuning keemasan kucing itu mengingatkannya pada seseorang yang telah hilang bersama master Quincy yang lain tiga tahun lalu.
Orang yang sejak awal telah mengajarinya bagaimana menjadi seorang Quincy yang hebat. Orang yang selalu memarahi dan memaki-maki dirinya ketika ia melakukan kesalahan dan tidak cepat belajar teknik baru. Orang yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya ketika ia gagal dan tertekan. Satu-satunya Quincy yang tahu kalau dia adalah Prince saat itu. Satu-satunya Quincy yang mengerti dirinya. Dua kepribadian berbeda yang menjadi satu, hitam dan putih. Wanijima Agito.

Gadis berambut coklat cerah yang bersandar pada konter di laboratorium biologi itu menghela nafas panjang. Dari kemarin dia melalui hari yang berat. Simca marah padanya, Kak Zakuro juga marah padanya. Apalagi ketika berangkat sekolah pagi ini, setiap Raien memandangnya sinis. Benar-benar tidak mengenakkan.
Dia berangkat sekolah sendiri, Simca tidak mau menunggunya. Tadi di kelas pun Simca menolak untuk duduk sebangku dengannya, malah memilih untuk duduk dengan Watari Isha yang sudah lama jadi musuh bebuyutan mereka. Dalam praktikum biologi tadi Simca juga tidak mau satu kelompok dengannya.
Bel istirahat baru saja berbunyi dan laboratorium biologi sudah sepi, teman-temannya sudah berpencar untuk makan siang. Beranjak dari konter, Orihime melangkah keluar dari laboratorium biologi. Tak lupa menutup pintunya.
Orihime hanya ikut saja kemana langkah kakinya akan membawanya. Dia sendiri. Tak disangka dia sampai di taman belakang sekolah. Tempat itu tidak terlalu terurus karena letaknya paling belakang. Orihime berjalan mendekati sebuah bangku dari kayu yang ada di bawah sebatang pohon sakura besar. Menengadahkan kepalanya, dia memperhatikan setiap helai kelopak sakura yang berjatuhan tertiup angin. Dan-
“Hua-!” Orihime melompat terkejut karena tiba-tiba saja seseorang muncul di depan mukanya. Orang yang barusan itu tertawa geli sampai-sampai memegangi perutnya. Orihime hanya terdiam melihatnya, matanya terpaku pada gelang perak yang dipakai anak itu, yang berkilauan memantulkan cahaya matahari. ‘Dia kan-...’
Akhirnya tawanya berhenti juga. “Sedang apa kau di sini?” Anak dikenal sebagai Ishida Uryū itu duduk di samping Orihime. “Sepertinya kau sedang ada masalah,”
Orihime hanya menundukkan kepalanya. Tentu saja. Dia punya banyak sekali masalah. Orihime tentu ingin mengurangi sedikit bebannya dengan menceritakannya pada seseorang. Tapi semua orang yang dapat ia jadikan teman curhat marah padanya. Apa tidak apa-apa kalau ia cerita pada anak baru ini?
“It’s okay. Setiap orang pasti pernah punya masalah. Semuanya tergantung dari bagaimana cara mereka untuk bersikap menghadapinya,” Uryū menoleh kepada Orihime dan tersenyum manis. Tidak biasanya dia bersikap manis begitu pada orang yang tidak terlalu ia kenal. Padahal pada Rukia yang sudah kenal lama saja tidak pernah akur. Mendengar kata-kata Uryū barusan Orihime hanya bisa tersenyum.
Sebuah kelopak bunga sakura jatuh di atas pangkuan anak bermata safir itu. Uryū memungutnya dan memperhatikan bunga pink itu. “Persahabatan itu seperti bunga ini. Ada kalanya bermekaran indah, lalu berjatuhan di musim gugur, bahkan terlihat seakan telah mati di musim dingin yang bersalju. Tapi ketika saatnya tiba, pasti bermekaran lagi.” Uryū meletakkan bunga itu di telapak tangan Orihime, tersenyum.
Sepasang mata sayu Orihime menatap bunga itu. Warna pinknya mengingatkannya pada Simca. Tunggu dulu- kenapa anak itu seakan-akan tahu masalahnya?
Orihime kembali menundukkan kepalanya. “Semua orang marah padaku. Bahkan sahabatku sendiri...” Orihime terdiam.
“Mereka tidak mengerti perasaanku. Padahal aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Tapi ternyata hal itu salah di mata mereka...”
Matanya mulai berkaca-kaca. Tak lama kemudian cairan hangat mengalir dari sudut matanya, turun membasahi pipinya yang merona kemerahan. “Padahal aku hanya ingin melindungi orang yang kusukai... Aku tidak mungkin membiarkan dia dalam bahaya... Aku tidak ingin melihatnya terluka...” Terdengar isakan pelan.
“Me- mereka tidak mengerti- pera-saanku-..” Uryū menatap iba kepada gadis yang tengah menangis di sampingnya itu. ‘Dia benar-benar menyukai Ketua...’
Sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya yang bergetar karena menahan isak. “Tenanglah. Yang terpenting kau sudah melakukan hal yang benar,”
Tiba-tiba Orihime menghambur ke arah Uryū, melingkarkan lengannya pada leher anak itu erat dan menangis di lekukan lehernya. Uryū terperanjat dengan tindakan Orihime. Tapi dia hanya diam saja dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya sampai bel masuk berbunyi dengan nyaring.

“Immobile..”
Ryū dan gerombolannya berjalan dengan angkuh memasuki kelas 2-1. Zakuro dan Simca termasuk di antara mereka. Keempat Quincy yang mereka cari semua ada di dalam. Tapi hanya satu yang mereka ketahui sampai saat ini. Sakuraba Haruto.
Pemuda berambut ungu yang juga merupakan pemimpin pasukan itu menoleh sebentar ke arah anak laki-laki yang duduk di dekat jendela, Ishida Uryū. Tapi kemudian kembali fokus ke depan.
Anak yang mereka cari, sang kapten basket berambut pirang keemasan itu diam tak bergerak. Sama seperti seluruh penghuni kelas ini.
“Apa-apaan ini?! Kenapa sepertinya setiap kita menemukan seorang Quincy tiba-tiba keesokan harinya mereka menjadi mortal biasa?!” Sakurako berkata dengan frustasi. Mendapati kenyataan kalau Haruto benar-benar di bawah pengaruh immobile.
Ryū mendekat, memegang pundak anak itu dan memejamkan matanya.
Beberapa fragmen memori melintas di benaknya. Mendribel bola, mencetak angka, sorakan dan tepukan penonton, tawa, suara bola yang memantul.
Ryū menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya, kemudian mencoba lagi.
Lapangan belakang sekolah, berlari, terengah-engah, terjatuh, immobile- fragmen memori terhenti, kosong, immobile. Kemudian bayangan selanjutnya sama kabur dan berantakannya dengan yang sebelumnya, ingatan tidak saling berkaitan.
Ryū membuka matanya, raut wajahnya penuh dengan tanda tanya. Jelas-jelas kemarin anak ini yang tertangkap saat dilakukan immobile. Tapi kenapa fragmen memorinya menunjukkan kalau dia juga terpengaruh immobile?
“Bagaimana Ryū?” tanya Zakuro melihat Ryū tampak bingung. Pemuda bermata onyx itu menggelengkan kepalanya. “Memorinya kacau.”
“Kita harus menginterogasi anak ini,” tambah Ryū cepat.
Para Raien saling berpandangan, tidak mengerti. Pemimpin mereka, Ryū, melangkah keluar dari kelas dengan tenang. Mereka hanya bisa mengikutinya.
“Mobile..” Setelah semuanya kembali seperti semula, Ryū kembali melangkahkan kakinya masuk. Langsung menuju ke bangku Haruto.
Haruto mendongakkan kepalanya menatap Ryū heran. “Ryū-senpai?”
“Ikut aku.” kata Ryū, kemudian tanpa basa-basi ia menarik tangan Haruto –yang Haruto sendiri juga heran, tiba-tiba sembuh pagi tadi- dan menyeretnya keluar kelas dengan tidak sabar. Beberapa anak yang ada di dalam kelas –termasuk ketiga Quincy yang lain- menatapnya dengan heran.
“Senpai!? Aku mau dibawa kemana?” tanya Haruto dengan nada tidak senang, berusaha melepaskan tangannya, merasakan pegangan Ryū begitu kuat dan menyakitkan baginya. Selain itu dia tidak suka dilihat siswa lain sedang diseret seperti tahanan oleh Ryū. Raien yang lain saling bertukar pandang dan sama-sama mengangkat bahu. Kemudian mereka hanya mengikuti kemana Ryū membawa Haruto pergi.
Di kelas 2-1, Eri dan Rukia tampak beranjak dari bangku mereka dan berniat menyusul Haruto. Tapi Uryū mencegah mereka.  “Kedatangan kalian hanya akan menambah kecurigaan Ryū. Tenang saja, mereka tidak akan berani melukai Ketua.”
Sementara itu, “Senpai, aku mau dibawa kemana sih?!”
Pertanyaannya segera terjawab. Mereka memasuki ruang kelas lama yang letaknya paling barat yang sudah tidak dipakai lagi. Ryū mendorong Haruto, anak itu jatuh terduduk di salah satu kursi yang berdebu tebal. “Ah, celanaku jadi kotor!” Haruto berdiri dan membersihkan bagian belakang celana seragamnya yang berwarna putih bersih. Seandainya saja seragam sekolahnya berwarna hitam tentu dia tidak akan sekhawatir ini.
“Tsk- merepotkan. Bondage.” Dan dengan itu tiba-tiba Haruto tidak dapat bergerak. Ia menatap Ryū dengan heran, sedikit panik karena ia merasa seperti terikat oleh seutas tali. “Apa-apaan ini?!”
Ichigo maju dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menatap Haruto dengan tajam. “Katakan, teknik apa yang kau pakai?!”
Tapi si pirang itu mengernyitkan keningnya, “Hah? Apa maksudmu? Teknik apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Aku tanya sekali lagi Sakuraba, teknik apa yang kau pakai untuk menyembunyikan reiatsu-mu?!” Ichigo mendekatkan wajahnya, sementara Haruto memundurkan kepalanya berusaha menghindari hujan lokal Ichigo.
Sang kapten basket memasang tampang kau-sudah-gila-ya?
Sebenarnya dia ingin mengatakan hal itu, tapi rasanya tidak sopan berkata begitu kepada senior, apalagi dia dikelilingi begitu. “Kau melantur, ya?” Akhirnya kata-kata itu yang meluncur dari lidahnya.
PLAK-!
Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi kiri Haruto. Warna merah berpola telapak tangan seketika menghiasi pipi kirinya. “Jangan pura-pura tidak tahu!”
Ryū menoleh ke arah Sakurako. Wanita itu benar-benar menakutkan.
Rasa anyir mulai menguar di rongga mulutnya, bersamaan dengan perih yang menjalar melalui syaraf-syarafnya. Menelan salivanya yang berasa sedikit asin, Haruto melirik Sakurako tajam.
“Sakit tahu.” desisnya.
Gadis berambut hitam itu balas mendelik kepada Haruto. “Sudahlah, jangan pura-pura tidak tahu! Sekarang cepat beritahu kami, apa saja teknik yang kalian gunakan selama ini?! Dan siapa temanmu yang mahir memakai hirenkyaku itu, hah?!” tukasnya setengah berteriak.
“Kalian ini dari tadi membicarakan apa sih, aku tidak mengerti? Teknik apa? Apa itu reiatsu? Hirenkyaku itu apa?”
Ryū memperhatikannya. Anak itu memang tidak tahu apa-apa. Terlihat jelas dari raut mukanya yang kebingungan. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Apa mungkin mereka salah orang?
“Hentikan.” Sakurako menoleh ke arah Ryū. Pemuda berambut ungu itu memegang kedua pundak Haruto. “Maafkan kami, Sakuraba. Hypnotize.”
Ketika sepasang bola mata coklat cerah Haruto bertemu pandang dengan mata onyx Ryū, semua terasa hampa.
Anak laki-laki bermata coklat cerah itu mengerjapkan kedua matanya dengan sedikit bingung. Kenapa dia dikelilingi seperti ini? “Di mana aku? Apa yang terjadi?”

Kamar bercat biru muda itu cukup luas. Di dalam kamar itu terdapat sebuah spring bed berukuran sedang yang menghadap ke arah jendela kaca besar, yang langsung menampilkan pemandangan danau kecil di belakang rumah. Di salah satu sudut kamar terdapat sebuah meja belajar dengan seperangkat komputer lengkap. Pada dindingnya tergantung sebuah foto.
Dua anak laki-laki berdiri berdampingan. Yang berdiri di kanan, seorang anak laki-laki dengan rambut raven kebiruan, tampak tersenyum ramah dengan memamerkan giginya yang putih cemerlang. Sementara di sebelah kirinya, seorang anak laki-laki berambut kebiruan tampak melipat kedua tangannya di depan dada dan mendengus kesal, menolak untuk melihat ke arah kamera.
Tinggi badan keduanya jelas berbeda. Anak yang berambut raven yang lebih pendek sepuluh senti merangkulkan tangan kirinya pada pundak temannya dengan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya membentuk v.
“Siapa dia? Apa dia seorang Quincy juga?” tanya Rukia, menoleh ke arah anak laki-laki yang merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Tangan kirinya memainkan remote AC. Anak itu beralih ke posisi duduk dan menguap kecil. “Hhh...siapa?”
“Anak yang berfoto bersamamu. Siapa dia?” tanya Rukia lagi.
Uryū meraih kacamatanya yang berframe perak di atas bedside stand dan memakainya, kemudian beranjak dari tempat tidur dan bergabung dengan Rukia. Dia termenung memandangi foto itu.
Agito...
“Heh, kau ini bodoh sekali! Apa benar kau ini seorang Prince? Masa’ melepaskan anak panah begitu saja tidak becus!” Anak laki-laki yang berdiri di tengah sungai kecil yang berbatu itu menoleh dengan kesal ke arah anak yang duduk di sebuah batu besar di tepi sungai. Dia menarik anak panah iluminasi lagi dan diarahkan kepada anak itu, melepasnya dengan cepat. Tapi dengan mudah anak yang duduk-duduk tadi mematahkan serangan itu dengan panahnya sendiri.
“Lihat kan? Anak panahmu itu sama sekali tidak punya intensitas untuk melukai, apalagi untuk membunuh! Yang seperti itu tidak akan berguna di pertempuran!”
Anak yang bernama Agito itu melompat ke dalam sungai yang dangkal, menarik tangan kiri Uryū ke depan dengan kasar. “Cepat summon busurmu!”
Sebuah busur biru muncul di tangan kanannya dan dia menoleh kepada Agito dengan tatapan sama seperti tadi. Dia masih kesal dengan ejekannya. “Busurnya ada di sini, Tuan Tahu Segalanya.”
Oh iya, dia kan kidal. Agito menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Terserahlah.”
Dan dengan satu tarikan, sebuah anak panah iluminasi muncul. Cahaya birunya terlihat cemerlang di sore hari menjelang petang itu.
“Tahan.” Agito memberi instruksi lalu berdiri di belakang Uryū. Tangan kanannya membenarkan posisi bahu anak itu. Sementara tangan kirinya membenarkan sudut yang dibuat siku kiri Uryū. Sebenarnya agak canggung juga karena dia biasa menggunakan tangan kanan. “Posisi bahu dan siku harus benar,”
Anak yang usianya satu tahun lebih muda darinya itu hanya menurut saja, berusaha keras agar anak panahnya tidak menghilang. Kedua tangan Agito memegang sisi-sisi kepala Uryū dan meluruskannya. “Pandangan mata lurus ke depan, tentukan sasaranmu. Kemudian-” Anak panahnya menghilang.
“Tsk! Pertahankan anak panahnya, Uryū!” Secara refleks dia menjitak kepala anak bermata safir itu cukup keras. Otomatis busur di tangan kanannya juga menghilang, dia mengelus-elus kepalanya yang baru saja kena jitak dan mendelik marah kepada tersangka pelaku penganiayaan itu. “Sakit tahu!”
Mendapat reaksi seperti itu dari Uryū, Agito malah kembali mendaratkan jitakan di kepala anak itu, tapi lebih pelan. “Siapa yang bilang geli?!”
Anak berusia dua belas tahun itu menginjak kaki Agito dengan kesal. Lalu segera berlari melompat keluar sungai. “Heh, Anak nakal! Kemari kau! Bondage!”
Tiba-tiba kaki dan tangannya seperti terikat sesuatu dan dia pun jatuh terjungkal ke depan mencium tanah. Uryū menggeram kesal. “Agito!”
Tersangka pelaku penganiayaan itu dengan semena-mena menapakkan kaki kanannya di atas punggung Uryū, membuat anak itu tetap tengkurap di atas tanah.
“Ha! Jangan berani main-main denganku, Bocah ingusan!” Uryū memberontak dan berusaha melepaskan diri dari teknik bondage Agito. Tapi usahanya sia-sia saja.
Agito tertawa mengejek, masih dengan kaki kanannya di atas punggung Uryū. “Ha-ha-ha~! Percuma saja, Bocah tengik! Kau tidak akan dapat melepaskan diri!”
“Uryū? Hei! Kau melamun!” Rukia mengibaskan tangannya di depan Uryū. Anak itu mengerjapkan matanya, tersadar dari lamunannya. Kemudian dia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya Rukia khawatir. Uryū menggelengkan kepalanya dan kembali merebahkan diri di atas tempat tidurnya, memejamkan mata. “Pulanglah Rukia, aku mau tidur.” katanya dengan nada sedikit mengusir.
Rukia mengerucutkan bibirnya kesal. Rasa khawatirnya atas anak itu hilang seketika. Padahal tadi Uryū sendiri yang mengundangnya datang, karena katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Sebenarnya Eri juga diundang, tapi gadis itu ada kegiatan klub paduan suara ternyata.
“Huh, seenaknya saja kau!” Gadis bermata violet itu sempat-sempatnya memukul perut Uryū menggunakan bantal sebelum keluar dari kamar itu. “Tutup pintunya, Rukia!” terdengar teriakan Uryū dari dalam.
Anak itu membuka matanya dan berguling ke samping, melungkar. Pandangannya kembali tertuju pada foto di dinding. Kelopak matanya terasa berat. Tanpa Uryū sadari, kegelapan mengklaim atas dirinya.
Agito...
“Heh, bangun! Bangun, Pemalas!”
Uryū membuka kedua matanya yang masih terasa berat. “Agito?” gumamnya. Nyawa anak itu belum terkumpul sepenuhnya saat dia menyebut nama tadi.
Dia mengerjapkan matanya. Sekali, dua kali. Tiba-tiba sepasang mata safir indahnya membelalak kaget, “Ba-bagaimana kau bisa masuk kemari?!” Dia beralih ke posisi duduk dengan cepat.
“Cepat hentikan mereka.” Agito menarik kerah piyama Uryū, membuat anak itu terjengkang ke depan dan terjatuh dari tempat tidurnya.
“A-apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti sambil mengusap-usap dahinya yang berbenturan dengan lantai keramik kamarnya.
“Mereka akan memulainya.” kata Agito setengah berbisik.
Uryū mengerling ke arah jendela yang terbuka. Tirainya berkibar-kibar tertiup angin yang berhembus dingin. Masih gelap. Ini belum waktunya untuk bangun tidur. Uryū terlihat ragu. “Tapi aku-...”
Tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Memangnya apa yang bisa dilakukan anak laki-laki berusia 14 tahun seperti dirinya untuk menyelamatkan klan-nya? Dia tidak tahu apa-apa tentang Raien. Agito selalu memperingatkannya untuk menjaga jarak dengan mereka. Yang ia tahu, mereka akan melakukan forbidden re-entry yang akibatnya tidak ada seorang pun tahu.
“Lakukan sesuatu, Uryū.” Agito melangkah menjauhi figur Uryū yang terduduk di lantai. Bertengger di kusen jendela, ia menoleh sedikit pada Uryū.
“Cari mereka, Pangeran. Kau pasti bisa.”
Uryū memperhatikan sosok Agito yang melompat keluar dari jendela. Padahal kamar itu ada di lantai dua. Segera dia bangkit dan melongok ke bawah jendela. Tapi si mata keemasan itu sudah tidak terlihat lagi. Tidak ada tanda-tanda dia menapakkan kaki pada rimbunan bunga mawar yang tumbuh di bawah jendela.
‘Apa dia terbang?’
Mengistirahatkan kedua sikunya pada kusen jendela, Uryū memandangi langit malam itu. Dia masih memikirkan kata-kata Agito. Apa benar mereka akan melakukan re-entry malam ini? Lalu apa yang harus dia lakukan? Apa yang bisa ia lakukan?
Uryū kembali naik ke atas tempat tidurnya. Duduk bersandar pada bed stand, ia menaikkan kedua lututnya dan mengistirahatkan sikunya, menghela nafas panjang. Rasa kantuknya hilang. Dia tetap terjaga, hingga matahari di ufuk timur menampakkan diri malu-malu dan langit yang gelap berangsur-angsur terang. Tapi ia tidak tahu kapan dia melungkarkan badannya dan jatuh tertidur.
Dia terbangun karena sinar matahari terasa memanasi wajahnya yang berkulit putih pucat. Uryū melihat ke arah jendela, sepertinya sudah siang. Tiba-tiba ia melompat dari atas tempat tidurnya dengan kaget karena teringat pesan Agito semalam.
Dengan tergesa-gesa ia berganti baju dan segera berlari menuruni tangga. Hampir saja dia jatuh berguling-guling di tangga. Melompati teralis pegangan, Uryū mendarat di meja dekat tangga dan berhasil menjatuhkan sebuah vas bunga dari keramik yang serpihannya langsung menyebar kemana-mana.
Pelayannya yang melihat kejadian itu hanya mampu mengerjapkan mata. Takjub sekaligus cemas dengan aksi tuan mudanya itu.
Tanpa mempedulikan panggilan pelayannya, Uryū berlari keluar. Terdengar suara bantingan pintu dan pelayan itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia harus segera menemukan Agito.
Berlari terus tanpa henti, abdomennya mulai terasa sakit. Uryū pun memperlambat larinya. Namun perasaannya tidak enak ketika dia sudah dekat dengan rumah Agito. Segera dia mempercepat larinya lagi.
“Agito!” teriaknya dari luar pagar, sebelum akhirnya dia memasuki halaman rumah.
Tidak ada jawaban.
Uryū membuka pintu dengan tidak sabar dan mengedarkan pandangannya ke seisi rumah. “Agito?” Tidak ada siapa-siapa di rumah itu.
Beberapa saat kemudian Uryū berlari keluar dari rumah Agito. Entah kemana ia akan pergi, ia sendiri tidak tahu. Kota terasa lebih sepi dari pada sebelumnya. Padahal sudah sesiang ini. Kemana perginya orang-orang?
Uryū menatap bangunan rumah sakit tua di hadapannya. Ada sesuatu yang besar yang baru saja terjadi di gedung itu. Kemudian dia sudah berlari masuk, langsung menuju ke basement.
Tidak ada apa-apa di basement kecuali meja dan kursi-kursi tua yang berdebu. Uryū memperhatikan jejak-jejak sepatu yang tampak samar di lantai yang kotor. Seperti baru ada penyerbuan di tempat itu.
Mengedarkan pandangannya, Uryū menemukan pesan di salah satu tembok yang telah mengelupas catnya. Pesan itu ditulis menggunakan darah, yang sekarang telah kering dan sedikit menghitam. Pesan kematian?
Kau terlambat, Pangeran. Tulisan tangan Agito.
Ketakutan merasuki dirinya. Apa yang terjadi?
“Hh-hh-hhh...”
Uryū terbangun di atas tempat tidurnya dengan keringat dingin mengaliri dahi dan kedua pelipisnya. Nafasnya tersengal-sengal dan sepasang mata safirnya membulat.
‘Kejadian waktu itu...’
Uryū menyeka keringatnya menggunakan punggung tangannya dan mulai mengatur nafasnya. Mengerling ke arah jam meja di bedside stand.
Sudah malam. Dia tertidur selama beberapa jam rupanya.

Pemuda berambut ungu itu berdiri di dekat jendela kamarnya. Memandangi langit gelap yang bertaburan bintang-bintang. Cahaya bulan yang membulat jauh di atas sana menyinari mukanya yang terlihat bimbang.
Sebenarnya teknik apa yang mereka pakai? Kenapa mereka bisa dengan mudah meloloskan diri dariku? Kenapa banyak hal tentang Quincy yang aku sama sekali tidak tahu?
Ryū menghela nafas panjang. Ia tidak mengerti dengan semua ini. Mereka muncul tiba-tiba dan menghilang begitu saja. Pikirannya masih tertuju pada Haruto. Jelas-jelas dia adalah Quincy. Dan dia hampir berhasil membunuhnya. Tapi kenapa tiba-tiba dia berubah menjadi mortal biasa yang benar-benar tidak tahu apa-apa seperti tadi? Apa yang tengah terjadi?
Tangan kanannya meremas sebuah gelang manik-manik. Gelang punya Ran.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu ditutup.
Ryū mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tidak ada yang berubah dari tempat itu sejak tiga tahun yang lalu, terakhir kali ia menginjakkan kakinya di sana. Tapi mata onyx-nya menangkap sesuatu yang tidak ada tiga tahun yang lalu. Pesan di tembok yang ditulis dengan darah, melihat warna hitamnya yang pekat tidak biasa.
Dengan sedikit ragu Ryū melangkahkan kakinya mendekat.
Kau terlambat, Pangeran.
Kedua alisnya bertautan heran. Dengan jemari sedikit bergetar, Ryū meraba tulisan tangan itu. Psikometri.
Seorang pemuda berambut biru gelap tersenyum. Jarinya yang berdarah ia digoreskan pada tembok. Lari. Cahaya biru. Seorang anak laki-laki datang, terkejut.
Ryū membuka matanya, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Fragmen-fragmen tadi cukup untuk menjelaskan sesuatu yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Jika pada Quincy dikenal sistem status sosial, maka kemungkinan Quincy yang menguasai teknik-teknik lama adalah kaum bangsawan. Dan bayangan yang ia dapatkan menguatkan asumsinya yang sebelumnya runtuh.
Ishida Uryū adalah Quincy. Dia adalah seorang pangeran.
Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik sedikit, membentuk senyum simpul.

No comments:

Post a Comment