Wednesday, May 4, 2011

Crown Prince (Frame 5)

Final Battle
“Entah teknik apa yang mereka pakai, yang jelas, siapapun yang kita ketahui sebagai Quincy namun tiba-tiba berubah menjadi mortal biasa, adalah seorang Quincy. Jadi, tangkap orang-orang yang pernah kita curigai.”
Mereka yang ada di ruang klub kendo menganggukkan kepala patuh. Perintah sang pemimpin mereka sudah jelas. Tangkap Sakuraba Haruto, Ishida Uryū, dan sang putri Jounan, Sawachika Eri.
Dia merasa akan terjadi sesuatu yang berbeda hari ini. Entah apa, yang jelas itu membuatnya cukup cemas. Eri segera memberitahu Uryū. Dan sang pangeran juga merasakan hal yang sama. Dia memberi instruksi pada Eri untuk melepas hipnotis-nya pada Haruto, rasa-rasanya anak itu sudah kembali bisa melindungi dirinya sendiri dari Ryū dan gerombolannya.
“Eri, ada apa? Kenapa kau terlihat begitu cemas?” tanya Haruto saat Eri menariknya pergi ke samping gedung sekolah. Gadis itu tidak menjawab, masih menyeret sang kapten basket.
Di sana sudah ada Uryū dan Rukia. Haruto melambaikan tangannya menyapa mereka berdua. Mereka juga terlihat tidak tenang seperti Eri.
Apa mereka sedang reuni atau semacamnya ya?
“Ada apa aku dibawa ke sini?” tanyanya.

Tapi tidak ada yang menjawab. Dia paling tidak suka diacuhkan seperti itu, bahkan meskipun oleh sang putri Jounan yang sudah lama ia sukai itu.


Eri mendorongnya pelan, hingga badannya menyentuh dinding. “Eri?”
Gadis berambut pirang itu menoleh kepada Uryū dan Rukia, “Sebenarnya aku tidak suka menghipnotis orang dengan hipnotis tingkat tinggi,” katanya.
Rukia mengernyitkan alis tidak mengerti. Haruto juga.
Eri menatap Haruto. Dua pasang mata coklat cerah bertemu.
“Haruto, jangan salah paham, ya?”
Anak laki-laki berambut pirang itu mengangkat alisnya tidak mengerti. Apa yang sedang dibicarakan gadis itu? Tapi melihat mukanya yang memerah, Haruto tersenyum dalam hati.
Eri mendekatkan wajahnya. ‘Apa yang akan dilakukannya?’
Sepasang mata coklat cerahnya sedikit melebar, merasakan bibir Eri yang hangat bersentuhan dengannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi maupun apa yang harus ia lakukan. Dia tidak pernah membayangkan akan dicium oleh Jounan’s Princess. Apa jangan-jangan perasaan gadis itu padanya juga sama? Begitukah?
Rukia yang melihat adegan seperti dalam drama di depannya itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dengan wajah yang sulit digambarkan; antara terkejut, malu, kagum, tidak percaya- entahlah, reaksi seorang gadis.
Sementara Uryū yang berdiri di sampingnya tidak memperlihatkan reaksi yang cukup berarti. Dia tidak terkejut, karena dia sudah tahu bagaimana cara mengembalikan hipnotis tingkat tinggi –yang karena itu dia sengaja tidak memasterinya. Tidak kagum juga, bukankah itu hal yang biasa? Tapi ada sesuatu yang ia rasakan, apa mungkin dia cemburu? Uryū menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran tersebut. Mana mungkin dia cemburu, Eri kan bukan siapa-siapanya.
Apa yang dirasakan Haruto hanya dia saja yang tahu. Namun selang beberapa detik, fragmen-fragmen memori seperti beterbangan di dalam kepalanya.
Ryū dan kawanannya, dia jatuh. Orihime. Perang, api, tunggu- perang? Dia ingat, dia terluka parah akibat serangan Ryū, bukan karena kecelakaan seperti yang dikatakan Eri. Lalu malaikat datang menolongnya. Bukan, bukan. Bukan malaikat, tapi Eri.
Gadis itu yang menolongnya. Ya, dia benar-benar malaikat penolong baginya. Tapi tunggu dulu- kalau memang Eri yang menolongnya, berarti dia menguasai hirenkyaku. Apa itu artinya dia seorang bangsawan juga? Bukankah hanya ada satu bangsawan yang ada sebelum deadly entry?
Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Haruto tidak menyadari Eri sudah menarik diri. Anak laki-laki itu mengerjapkan matanya. Eri yang masih berdiri di hadapannya itu membuang mukanya, menolak untuk kembali bertemu pandang dengan Haruto.
Bibirnya menyimpulkan senyum. Tanpa mempedulikan Rukia dan Uryū yang berdiri tidak jauh dari mereka, dia mengangkat dagu gadis di hadapannya dan menariknya untuk sebuah ciuman lagi. Kali ini Eri yang terkejut, tentu saja.
Rukia kembali membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya setelah tadi sempat memekik –hah?!- cukup keras dan sepasang mata violetnya melebar, lebih lebar dari reaksi yang tadi ia berikan.
Uryū? Dia menepuk dahinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran kalau dia cemburu. Dan terus menggumam dalam hati, ‘Aku tidak cemburu, aku tidak cemburu-’, sambil memejamkan matanya.
Sementara itu dari balik gedung sekolah, Orihime yang tidak ikut berkumpul di ruang klub kendo menyaksikan kejadian itu dengan hati hancur. Cairan hangat mengalir di kedua sudut matanya. Merasa tak sanggup meyaksikannya lebih lama lagi, ia berlari menjauh dari tempat itu. Pandangannya mengabur karena air mata, dan tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Orihime pun terjatuh.
“M-maaf, i-ini salahku..”
Orang yang barusan ditabrak Orihime mengulurkan tangannya, hendak membantu gadis itu berdiri. “Kau tidak apa-apa?”
Orihime mendongakkan kepalanya, masih menangis. “Tezuka-senpai...?” lirihnya.
Karena Orihime tidak menyambut uluran tangannya, Tezuka Kunimitsu, murid kelas 3-1 itu berlutut di samping Orihime. Memegang pundak Orihime yang bergetar karena terisak. “Inoue? Kenapa kau menangis?” tanyanya penuh perhatian.
Orihime menggelengkan kepalanya, berusaha untuk menghentikan tangisannya. Tapi ia kembali teringat kejadian tadi, dan usahanya sia-sia.
Tidak tega melihat seorang gadis menangis tepat di depannya, Kunimitsu merangkul pundak Orihime dan mengusapnya pelan, berusaha menenangkannya. Beberapa murid yang tadinya berlalu-lalang di sekitar mereka menoleh, ada yang berhenti dan memperhatikan, saling berbisik. “Eh-eh, itu kan Tezuka, ketua klub tennis? Memangnya dia pacarnya Inoue, ya?” “Entahlah, aku tidak tahu.”

“Ryū, kapan kita akan menangkap mereka?” Gaara mencondongkan badannya ke depan dan berbisik kepada Ryū. Matanya mengawasi guru Matematika yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas, kalau-kalau guru yang terkenal killer itu menangkap basah aksi bisik-bisiknya.
“Immobile.” Dan dengan tenang Ryū menoleh ke belakang, “Menurutmu, kapan waktu yang tepat?”
Sekarang mereka bisa bicara dengan leluasa. Tapi Gaara malah terdengar sedikit mengeluh. Padahal ia sengaja tidak melakukan immobile agar bisa tetap mengikuti pelajaran Matematika favoritnya.
“Entahlah, kau yang memberitahu aku.” Dia mengangkat bahu.
“Kenapa tidak nanti saja saat istirahat makan siang?” celetuk Sakurako.
Ryū pun menganggukkan kepalanya.
Orihime memandang keluar dari jendela kelasnya, mengamati murid-murid kelas 1 yang sedang berolahraga di bawah sana, di lapangan sekolah. Ia pun teringat kejadian beberapa hari lalu, saat ia melindungi Haruto.
Ah, Sakuraba Haruto.. Sebenarnya siapa anak itu? Apa benar dia seorang Quincy?
Tanpa sadar cairan bening mengalir dari kedua sudut matanya. Orihime menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isakannya. Tapi usahanya sia-sia saja, akhirnya tangisannya pecah. Beruntung jam pelajaran sedang kosong dan ramainya celotehan teman-teman sekelasnya berhasil menyamarkan isak tangisnya.
Tiba-tiba ia teringat kejadian tadi pagi, di samping gedung sekolah. Ia tidak tahu benar apa alasannya menangis mengingat kejadian tersebut. Apa perasaannya begitu hancur? Kenapa, dia kan bukan siapa-siapa bagi Haruto. Kenapa dia harus menitikkan air mata baginya?
Karena cinta sejati tidak pernah mengharap balasan. Seharusnya dia tidak berharap Haruto akan membalas perasaannya. Sejak awal dia sudah tahu –semua orang juga sudah tahu- kalau Sakuraba Haruto menyukai Sawachika Eri. Seharusnya dia siap menerima kenyataan tersebut. Harusnya dia siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk kejadian tadi. Dan ia juga harus siap dengan kemungkinan terburuk, bisa saja Eri menyukai Haruto. Dan kalau hal itu benar-benar terjadi, ia harus patuh pada anonim bahwa cinta tidak harus memiliki. Harus.
Gadis berambut pink cerah yang sejak tadi memperhatikan sosok yang berdiri di dekat jendela menghela nafas. Ia ingin mendekat dan memegang erat kedua pundaknya. Mendengarkan semua keluh-kesahnya dan berbisik pada Orihime bahwa semuanya akan baik-baik saja, dengan begitu mungkin dia bisa melihat senyuman gadis itu yang khas.
Simca menghela nafas lagi. Beberapa hari terakhir ini Orihime memang tidak pernah terlihat ceria, tidak pernah tersenyum. Di rumah pun ia terlihat begitu depresi selama Simca mengamatinya secara diam-diam. Pasti gadis itu sedang punya banyak masalah. Entah itu karena kejadian beberapa hari yang lalu yang telah membuatnya dicap sebagai penghianat atau karena masalah lain.
Simca tidak tahan kalau harus menjauhi Orihime lebih lama lagi. Bagaimana tidak? Ia dan Orihime adalah sahabat karib yang sudah seperti kakak adik. Kemana-mana selalu bersama, saling berbagi suka dan duka, tertawa menangis bersama..
Simca merasa hukuman Orihime terlalu berat. Memang pada awalnya dia juga sangat marah dan kecewa atas tindakan Orihime, meskipun kalau harus jujur ia juga tidak akan tega membiarkan Ryū melukai Haruto. Tapi melihat gadis itu begitu tertekan, semua amarahnya seakan menghilang begitu saja. Dan sekarang yang ingin ia lakukan adalah menghibur Orihime.
Menghibur sahabat sekaligus adiknya.
Simca beranjak dari bangkunya, ragu-ragu antara hendak mendekat pada Orihime atau tidak. Akhirnya dia hanya bisa menatap punggung dengan rambut coklat cerah itu hingga bel istirahat pun berbunyi nyaring.
Bel istirahat menggema memenuhi ruang kelas 3-1. Seorang pemuda berkacamata yang duduk di deretan bangku belakang mengangkat kepalanya, kedua alisnya bertautan. Dia merasakan sesuatu yang tidak beres. Dan beberapa saat kemudian dia sudah berlari keluar kelas, menerobos kerumunan murid-murid di sepanjang lorong sekolah.
‘Sang Pangeran tidak bisa selamanya melindungi orang lain, bahkan mungkin melindungi dirinya sendiri dia tidak mampu.’
Anak laki-laki berambut raven kebiruan melepas kacamatanya dan meletakkan benda itu di atas meja, kemudian dia memijit pangkat hidungnya. Bel istirahat yang nyaring bunyinya sepertinya telah membuatnya sedikit pening.
Hari yang cukup melelahkan bagi seorang Ishida Uryū, meski hari ini dia tidak –atau belum- berurusan dengan para Raien. Ia menoleh ke samping belakang, di sana Sakuraba Haruto terlihat duduk dengan santai sambil menulis-nulis di bukunya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, seperti tidak pernah terjadi apa-apa tadi pagi.
Uryū mendengus pelan lalu memalingkan mukanya. ‘Apa-apaan aku ini?!’ batinnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. ‘Kenapa aku malah teringat kejadian tadi?!’
Sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak menyadari Eri yang tengah melangkah menuju ke luar kelas bersama Rukia menoleh ke arahnya dengan wajah khawatir, dan dengan rasa bersalah.
Di tempat lain, Ryū dan gerombolannya melangkah dengan angkuh menyusuri lorong sekolah. Beberapa Raien telah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Mereka akan melaksanakan rencana besar, penangkapan Quincy. Dan tak lama kemudian semua pergerakan mortal terhenti. Kali ini Ichigo terlihat serius dan tidak menjahili mortal yang berhenti bergerak di sekelilingnya, tidak seperti biasanya. Atmosfir yang menyelubungi area sekolah begitu tegang, berbeda dari biasanya.
Semua sudah paham apa yang harus dilakukan. Langsung menuju ke kelas 2-1 untuk melaksanakan rencana.
Simca melongokkan kepalanya keluar dari pintu kelas, dari ujung lorong dia melihat Ryū dan gerombolannya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Tapi ia ragu, apakah dia benar-benar akan melakukannya dengan mereka?
Simca menoleh kepada Orihime yang masih berdiri di dekat jendela. Tentu gadis itu tidak tahu apa yang akan Ryū lakukan pada Haruto. Karena bila ia tahu, tidak mungkin dia hanya tenang-tenang saja berdiri di sana.
Simca kembali menoleh pada Ryū dan gerombolannya yang semakin mendekat. sepertinya mau tak mau dia juga harus terlibat dalam pelaksanaan rencana itu.

Tiba-tiba saja Kunimitsu sudah bertengger di salah satu kusen jendela kelas 2-1. Uryū yang kebetulan duduk di kursi dekat dengan jendela itu sedikit terlonjak kaget dengan kehadiran seniornya itu. ‘Apa dia Raien? Kenapa aku tidak mendeteksi reiatsu-nya sebelumnya? Atau mungkin dia-’
“Pangeran, situasi darurat.” Tanpa disangka-sangka Uryū, Kunimitsu melompat dan berlutut hormat di hadapannya.
“Enclose zone!” Uryū menoleh secara refleks ke arah pintu kelas. Dan masuklah Ryū, mengekor di belakangnya adalah gerombolannya. Simca dan Zakuro ada diantara mereka.
“Kau terjebak di sini, Pangeran.” kata Ryū, seulas senyum simpul menghiasi wajahnya. Sepasang mata safir Uryū mengerjap, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Entah apa itu enclose zone, ia tidak tahu. Tapi yang jelas ia tidak menemukan celah untuk kabur dari mereka, seperti ada suatu lapisan yang menyelubungi kelasnya. Teknik rahasia Raien.
“Aku cukup tekejut mengetahui kalau kau juga seorang Quincy, Tezuka.” komentar Kid, menatap Kunimitsu dengan tatapan dingin. “Mana dua orang temanmu itu? Sakuraba dan Sawachika?”
Entah kenapa bibir Uryū menyimpulkan seulas senyum samar. Tanpa ragu dia beranjak dari bangkunya dan balas menatap Ryū.
‘Sudah terlanjur basah. Tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Jika memang hari ini adalah saatnya, aku tidak akan menyesal. Setidaknya Eri, Ketua dan Rukia bisa bertahan lebih lama. Semoga saja.’
Uryū mendengus tertawa, padahal dalam hati ia merasa sedikit panik. “Kemana saja kau selama beberapa hari ini? Masa’ baru menemukan aku sekarang?” tanyanya dengan nada mengejek.
Tapi Ryū tidak terpancing dengan perkataannya. Pemuda itu masih menatap dingin tepat ke arah sepasang mata safir itu, seolah-olah ingin menyelami apa yang ada di dalam benak sang pangeran.
‘Aku tidak bisa merasakan reiatsu-nya, tapi kenapa sorot matanya begitu tajam dan mengintimidasi? Teknik apa yang dipakainya? Apakah begini seorang pangeran seharusnya?’
Mereka berdua saling melempar tatapan dingin selama beberapa saat. Sakurako yang biasanya segera ikut campur tidak berani memecah keheningan itu, sedikit goyah oleh sepasang mata safir yang begitu indah itu.
“Riwayatmu tamat sampai di sini, Quincy. Hado 17!”
Kilat putih melesat cepat persis ke arah Uryū. Tapi dengan mudah anak itu menghindarinya. Dan serangan itu tepat mengenai dinding belakang kelas, hampir saja melukai seorang mortal yang duduk di belakang.
“Fool.” gerutu Uryū menyaksikan dampak serangan Ryū barusan. Dia menarik nafas dalam-dalam dan berkonsentrasi.
“Chrysalis.” Dan dengan begitu semua mortal yang ada di dalam ruang kelas itu terlindungi oleh semacam lapisan cahaya seperti pada kepompong. Jujur saja, Ryū cukup terkesan dengan tindakan Uryū barusan. Menggunakan chrysalis seperti itu sangat tidak biasa. “Kau lumayan juga, Quincy.”
Tangan kiri Uryū segera berpegang pada tepi meja untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang tiba-tiba goyah. Menggunakan chrysalis untuk melindungi beberapa mortal sekaligus cukup menguras energinya.
Kunimitsu menoleh kepada Uryū cemas. Belum apa-apa anak itu sudah menghabiskan setengah energinya untuk menerapkan chrysalis. ‘Sudah kuduga, bahkan melindungi dirinya sendiri dia belum bisa.’
Ryū tertawa kecil, “Dengan begini aku tidak perlu berhati-hati lagi. Hado 33, tembakan api biru!” Sebuah bola api biru meluncur dengan cepat ke arah Uryū. Anak laki-laki bermata safir yang tidak siap dengan serangan mendadak Ryū segera melindungi diri dengan shield. Shield yang ia gunakan sepertinya tidak cukup kuat untuk menahan serangan Ryū dan segera lenyap bersamaan dengan hilangnya hado.
Dalam hati Ryū tersenyum melihatnya. Tampaknya menghadapi Quincy ini dalam bentuk seorang Ishida Uryū tidak akan terlalu sulit. Selain itu jelas energinya sudah terkuras karena penggunaan chrysalis. ‘Anak bodoh.’
Serangan berikutnya dilancarkan oleh Gaara, Kunimitsu yang sudah terlebih dulu membaca pergerakan pemuda berambut merah darah itu melompat ke depan Uryū dan bertahan dengan shield. Di sisi lain, para Raien cukup terkejut juga dengan tindakan Gaara. Karena pemuda itu jarang bersikap agresif seperti tadi. “Jadi, kau ini pengawalnya, Tezuka? Begitukah?” tanya Gaara dengan nada sinis.
Kunimitsu tidak menanggapinya, ia sedikit menoleh kepada Uryū di belakangnya. “Uryū, kita harus pergi dari sini,” katanya berbisik.
“Memangnya siapa juga yang mau berlama-lama ada di sini.” Nada sarkastik jelas sekali terdengar dalam bicaranya. Kunimitsu hanya menghela nafas mendengarnya. Sepertinya ia memang sudah kebal dengan nada-nada sarkastik semacam itu.
Tidak membiarkan mereka berdua kesempatan untuk mengelak, Ichigo dan Kid pun melancarkan serangan secara bersamaan. Yang kemudian disusul oleh Raien yang lain. Kecuali Zakuro dan Simca. Entahlah, mereka berdua hanya merasa tidak adil dua lawan banyak begini.
Kunimitsu tak henti-hentinya menggunakan shield untuk melindungi mereka berdua, karena dari tadi Uryū tidak melakukan apa-apa. Lagi, dia menoleh ke belakang. Anak berambut raven kebiruan itu sedang sibuk sendiri dengan Quincy cross-nya. Entah apa yang tengah dilakukannya.
“Mitsu-nii, Quincy cross-ku tidak bisa dipakai.” bisiknya. Kunimitsu tampaknya tidak terlalu terkejut mendengarnya, Quincy cross yang dipakai sebagai identitas dan untuk men-summon busur itu tidak berfungsi stabil pada keadaan kekurangan energi. Namun tidak biasanya terjadi macet pada Quincy cross, seperti yang dialami Uryū sekarang ini. Itu artinya Uryū tidak bisa menyerang, dan itu berarti Kunimitsu harus berjuang sendirian.
“Sudahlah, kau diam saja. Biar aku yang mengatasi semuanya,” kata Kunimitsu pada akhirnya. Uryū memasang tampang tidak suka mendengarnya. Ia memang tidak bisa menyerang karena tiba-tiba saja Quincy cross-nya tidak bisa digunakan, tapi dia paling tidak suka kalau harus bergantung pada orang lain seperti itu. Apalagi nada bicara Kunimitsu sedikit terdengar meremehkan baginya.
“Omong-omong, cukup aneh juga mendengarmu memanggilku dengan sebutan kakak, Ishida Uryū.” kata Kunimitsu lagi, sempat-sempatnya terkekeh dalam situasi seperti itu.
Mereka tidak mungkin bertahan selamanya dengan shield. Tapi bahkan intensitas serangan yang diluncurkan para Raien tidak menurun, malah semakin menjadi-jadi saja. Kunimitsu sampai kewalahan dibuatnya.
“Pengecut! Apa keahlianmu hanya bertahan dan bertahan saja, Tezuka?!” teriak Sakurako sambil melancarkan hado 5.
“Serang mereka, biar aku yang memakai shield. Perisaimu itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” kata Uryū, merasa kalau pertarungan kali ini benar-benar tidak menarik baginya. Bagaimana tidak? Dari tadi mereka hanya bersembunyi di balik shield saja. Apa menariknya?
Kunimitsu menurutinya. Dia segera men-summon busurnya setelah dirasa Uryū mampu melindungi mereka dengan shield. Sebuah anak panah melesat cepat, tapi secepat meluncurnya, secepat itu pula menghilangnya. Ryū tersenyum mengejek melihat perbandingan kekuatan di antara kedua pihak. Selain itu Uryū belum menunjukkan kehebatannya dari tadi. Sebenarnya dia sedikit mengharapkan hal itu, bertarung yang sesungguhnya. Tapi seperti ini pun tidak buruk.
Ruang kelas 2-1 tiba-tiba saja berubah menjadi arena pertarungan. Dinding kelas mengalami kerusakan di sana-sini. Terima kasih kepada enclose zone Ryū yang berhasil memperkokoh kelas itu sehingga tidak hancur. Dan terima kasih juga kepada chrysalis Uryū, dengan begitu para mortal tidak akan terluka.
Sementara teman-temannya terus melancarkan serangan, Ryū memperhatikan si anak bermata safir yang berdiri tepat di belakang Kunimitsu. Ia cukup kagum dengan kemampuan perlindungan anak itu yang hebat, shield-nya seperti tidak dapat tertembus bahkan oleh hado yang dilancarkan secara bersamaan. Tapi kenapa dari tadi dia tidak ikut menyerang? Bukankah akan lebih mudah?
Ryū mengernyitkan keningnya, menyadari ada sesuatu yang janggal. Kalau memang anak itu benar Quincy yang pernah bertarung dengannya, kenapa reiatsu-nya sama sekali berbeda? Ia tidak merasakan adanya reiatsu yang kuat seperti waktu itu, hanya tekanan biasa.
Apa benar dia Quincy yang waktu itu? Apa benar dia seorang pangeran?
“Hado 8, hujan meteor!” Ryū segera menoleh ke sumber suara. Gaara.
Dan- prang~!
Perisai iluminasi yang melindungi kedua Quincy itu terpecah, tidak mampu menahan serangan sehebat tadi. Uryū dan Kunimitsu bisa dikatakan cukup beruntung, karena mereka sempat menghindar.
“Hado 17!” Kilat putih melesat persis ke arah Uryū yang berlutut di lantai, masih mencoba mengumpulkan tenaganya untuk bertahan, karena hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Kunimitsu sibuk berurusan dengan serangan yang ditujukan pada dirinya, tidak punya kesempatan untuk melindungi sang pangeran.
“Hh-hh-hh...” Uryū melompat ke samping, menghindari serangan Ryū. Dalam kondisi tubuhnya yang seperti ini, bisa dibilang ia cukup lambat. Anak berambut raven itu memegangi lengan kanannya yang terkena serangan Ryū. Darah segar mengaliri lengannya dan menetes ke atas lantai.
“Hanya segitu saja kemampuanmu, Quincy?” Ryū memandang dengan tatapan mengejek kepada Uryū yang terengah-engah sambil menahan sakit. Dia bersiap untuk melancarkan serangan yang berikutnya.
Sepasang mata onyx-nya terlihat jahat, seperti seekor singa yang melihat hewan buruannya. Dengan kakinya yang sakit, anak itu tidak mungkin menghindar jauh. Inilah saat yang sudah lama Ryū nanti-nantikan, membunuh seorang Quincy. Bukan Quincy biasa, tapi sang pangeran. “Hado 33, tembakan api biru!”
Uryū mengerjapkan mata. Bayang-bayang api biru yang menyala-nyala tergambar jelas dan menyatu dengan sepasang mata safirnya yang indah. Refleksi yang begitu sempurna, sekaligus mematikan.
Waktu seperti terhenti saat itu. Bukan karena immobile, tapi detak jam seperti benar-benar terhenti bagi Ishida Uryū.
Apakah hidupnya benar akan berakhir sekarang, di dalam ruang kelasnya ini? Kenapa semudah ini? Dia tidak sempat melawan, tidak sempat bertarung membela klan-nya. Kenapa hidupnya akan berakhir setragis ini? Mati di tangan Raien. Sang pangeran yang menyedihkan. Bahkan untuk melepaskan sebuah anak panah saja dia tidak bisa. ‘Dasar Quincy cross tidak berguna.
Uryū memejamkan matanya, merasa silau oleh pancaran api biru yang menyala-nyala. Api yang akan mengambil nyawanya.
Beberapa detik sudah berlalu, tapi dia tidak yakin apakah dia sudah mati atau masih hidup. Selain karena tidak terjadi apa-apa, yang ia rasakan hanya rasa sakit pada tangan dan kakinya. Suara di sekelilingnya masih terdengar jelas, apa itu artinya dia masih hidup?
Uryū membuka mata safirnya dengan ragu, sosok yang berdiri tepat di depannya menghalangi pandangannya. Jadi...dia masih hidup?
“Kau Quincy terbodoh yang pernah kutemui, Uryū.” Suara itu...
Tiba-tiba saja dunia menjadi gelap gulita bagi Ishida Uryū.

Lembut... hangat... berat...
Sakit.
Sepasang mata safirnya terbuka perlahan. Mengerjap sekali, dua kali, dan gambaran kabur di sekelilingnya perlahan terlihat jelas. Yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit kamar yang bercat putih bersih. Dan ketika melemparkan pandangannya ke samping, dinding bercat biru muda menyambutnya, dengan berbagai perabot di sana-sini. Ini kamarnya.
“Dia sudah sadar.”
Uryū menoleh ke arah lain, mendapati beberapa orang yang dia kenal sedikit tergesa menghampiri sosoknya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tentu saja itu mereka; Eri, Haruto, Rukia, dan ada Kunimitsu juga.
Kenapa dia tidak pernah tahu kalau ada Quincy lain? Pasti Kunimitsu seorang ilusionist yang hebat, seperti dirinya.
“Bagaimana keadaanmu, Uryū?” Suara lembut Eri.
Bibirnya menyunggingkan senyuman lemah, memberi isyarat kalau dia merasa baik-baik saja, meskipun sebenarnya tidak.
“Akhirnya bangun juga kau.” Dengan sisa tenaganya, Uryū beralih ke posisi duduk. Dan ia harus menahan rasa sakit di sekujur badannya, hanya untuk memastikan kalau pendengarannya tidak salah.
Terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Orang itu beranjak dari kursi komputer dan tengah berjalan mendekati tempat tidur.
Agito?!
“Bodoh!! Apa kau tidak pernah belajar sesuatu?!” Uryū terhenyak.
Dia tidak suka sisi lain Agito. Sisi gelap si mata kuning emas itu yang begitu menakutkan. Nada bicaranya tidak pernah ramah. Dan itu selalu membuat Uryū terpaku, takut. Perasaan seperti itu tidak pernah berubah sampai sekarang. Tiba-tiba saja dia melupakan semua tanda tanya besar yang memenuhi kepalanya, kenapa orang itu bisa ada di sini? Yang ia rasakan sekarang hanya takut.
“Kau melakukan kesalahan besar!! Menggunakan chrysalis seperti itu membuang-buang energi!! Kau rasakan sendiri kan, konsekuensinya?! Quincy cross-mu tidak valid!” Agito mencondongkan badannya ke depan, berteriak cukup keras dengan wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Uryū.
Tapi tidak ada yang berani menegurnya. Agito benar-benar membuat semua orang yang ada di sana ketakutan.
“Hebatnya lagi, kau tidak membuat kemajuan apapun tiga tahun terakhir ini!! Kau pikir kau bisa menang melawan mereka dengan kemampuanmu yang tidak seberapa itu?! Kau tidak punya otak, ya?!” Uryū memejamkan mata dan menundukkan kepalanya, berusaha mencerna setiap kata-kata Agito. Sekaligus menghindari kontak dengan si rambut biru itu.
“Tatap mataku saat aku sedang bicara denganmu, Uryū!” Dengan kasar Agito menarik dagu Uryū dan memaksa anak itu membuat kontak mata dengannya.
“Kau-”
Agito mengadu kepalan tangannya dengan pipi kiri Uryū, membuat anak laki-laki itu terhempas dengan kepalanya sedikit membentur headboard, sementara tubuhnya tertahan oleh tumpukan bantal. Mereka yang ada di sana terkejut dengan tindakan Agito, tapi tetap, tidak berani berbuat apa-apa. Aura membunuh terpancar darinya.
Darah mengalir dari sudut bibir Uryū. Disekanya pelan menggunakan punggung tangannya, kemudian dengan ragu-ragu dia kembali menatap Agito. Sepasang mata kuning keemasan pemuda itu menyala-nyala marah.
“Lihat dirimu! Kau terluka, lemah, rapuh! Pathetic!!”
Dengan kasar pemuda itu mencengkeram kerah kemeja Uryū, “Kau tidak pernah mendengarkanku! Bukankah aku sudah memberitahumu untuk mencari mereka?! Kenapa kau tidak lakukan?!”
“Kau pikir untuk apa kau terlahir di dunia ini kalau bukan untuk menghentikan kejadian itu, Uryū?!” Uryū memalingkan mukanya, dan Agito bereaksi dengan menggeram marah, kemudian melepaskan cengkeramannya.
Pemuda berambut biru itu berjalan berputar-putar dengan frustasi, gerutuan-gerutuan serta kata-kata kutukan terus mengalir dari mulutnya. Sementara dia meninggalkan Uryū dengan perasaan bersalah, kembali teringat pada kejadian tiga tahun lalu.
Agito benar. Ia memang terlahir untuk mencegah terjadinya deadly entry, yang sudah tertulis dalam mimpinya. Tapi ia telah gagal melakukan tugasnya. Dan semua generasi Quincy menghilang karenanya. Ini semua salahnya.
“Kau lihat hasil perbuatanmu! Kau bahkan tidak mencariku! Kau tidak tahu kalau saat itu aku sedang mengetesmu, ya?!” Agito mendengus kesal. Pemuda itu berbalik dan berdiri di depan jendela membelakangi Uryū, mengatur nafasnya.
Beberapa saat kemudian sunyi, hingga detik jarum jam terdengar jelas.
“Memangnya kau pikir aku akan meninggalkanmu begitu saja?” Mereka yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Agito yang masih berdiri menghadap ke luar. Jelas sekali nada bicara pemuda itu berubah. Lebih tenang dan lembut, tanpa sedikit pun terselip emosi di dalamnya. Sisi baik Agito.
Dia membalikkan badannya, seulas senyum simpati terukir samar. Dengan tenang dia berjalan mendekati Uryū. Menaikkan salah satu kakinya ke atas tempat tidur, ia menyeka sisa darah yang mengalir di sudut bibir Uryū dan melingkarkan tangannya pada bahu anak itu. Kemudian merunduk, menyandarkan dagunya pada kepala Uryū dan menghirup dalam-dalam wangi segar rambut raven itu yang menentramkan. “Jangan hiraukan semua ucapanku tadi,” bisiknya lembut.
Agito mengangkat kepalanya, dan merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia memandang dalam-dalam sepasang mata safir indah Uryū. Tidak ada yang lebih indah dan lebih ia rindukan daripada itu tiga tahun terakhir ini.
“Dengar, dulu tugasmu memang untuk mencegah terjadinya deadly entry. Tapi semua sudah terjadi dan kita tidak bisa memutar kembali waktu. Sekarang, tugasmu adalah untuk memulihkan semuanya.” Benda yang mirip dengan kotak cincin itu dia letakkan di atas telapak tangan Uryū, menggenggamkannya.
“Di dalam benda ini, tersimpan kepingan kenangan setiap Quincy yang sekarang menghilang. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku mengumpulkan semua itu.” Senyuman hangat menghiasi wajahnya. Benar-benar berbeda dari Agito yang sebelumnya. “Hanya kau yang bisa melakukannya, Uryū. Hanya kau yang bisa mengembalikan semuanya,” tambahnya.
Uryū mengamati kotak kecil di telapak tangannya, lalu memberanikan diri untuk membukanya. Bagian dalam kotak itu dilapisi kain beludru, persis seperti kotak cincin. Uryū terkesiap melihat isi yang sebenarnya, sebuah kalung. Dari perak, menurutnya. Bandulnya berbentuk clover bening dari kristal, yang di dalamnya terdapat semacam serbuk kehijauan, seperti memberi warna pada benda itu.
Dia mengangkat wajahnya, memandang Agito dengan sedikit bertanya-tanya. Lagi-lagi pemuda itu menyunggingkan seulas senyum. Dia mengulurkan tangannya dan mengelus rambut raven kebiruan Uryū. “Aku menyebutnya Quincy Clover. Dengan itu, kau bisa melakukan re-entry kapan pun dengan mudah.” terang Agito.
Uryū kembali mengamati kalung itu. Jemarinya sedikit ragu meraba bandulnya yang indah. Jadi di dalam sini tersimpan setiap keping kenangan para Quincy yang menghilang, ne? “Apa re-entry benar-benar harus dilakukan?” tanya Rukia.
Kesunyian menjawab pertanyaannya. Rasanya sudah cukup perdebatan mengenai re-entry selama ini. Apapun yang terjadi, re-entry harus dilakukan.

“Kau tahu aku tidak pernah setuju dengan ide re-entry itu. Apakah memang harus dilakukan?” Gadis berambut hitam gelap itu menoleh, sedikit mendongak kepada sosok yang berdiri di sampingnya.
Menoleh, sepasang mata safir itu terlihat serius. “Aku tahu kau tidak setuju, Rukia. Tapi itulah tugasku sekarang, dan aku tidak mungkin mengabaikannya untuk kedua kalinya.” Uryū kembali memperhatikan semburat oranye di ufuk barat. Suasana senja yang tenang selalu membuatnya merasa tentram.
“Tugasmu untuk memulihkan keadaan, Uryū. Menanggulangi kesalahan yang telah kau lakukan. Tapi itu bukan berarti melakukan re-entry massal. Itu hanya akan menambah masalah saja,” kukuh Rukia, tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari Uryū.
Terdengar helaan nafas panjang Uryū. Anak itu membalikkan badannya dan bersandar pada teralis pengaman. Dia terlihat menggigit bibir bawahnya, berpikir.
“Kalau ada cara lain, akan kulakukan, Rukia.” katanya kemudian.
Gadis bermata violet itu menempatkan dirinya di hadapan Uryū dan menatap matanya serius. “Kau akan menemukan cara yang lebih baik.”
Kemudian Rukia berbalik dan keluar dari balkon, meninggalkan Uryū.
Sementara anak laki-laki itu memandangi punggung Rukia sekilas. Dia selalu heran kenapa gadis itu tidak sedikitpun mentolerir re-entry. Memang para mortal yang tidak bersalah tidak pantas kalau harus menjadi korban, sebagai nyawa pengganti atas setiap Quincy yang akan dire-entry.
Ini semua salah Raien.
Kalau saja mereka tidak ambisius untuk menguasai teknik-teknik rahasia Quincy, tentunya hal ini tidak akan terjadi. Padahal mereka juga punya teknik-teknik rahasia yang hanya mereka para Raien saja yang menguasainya. Semua klan pasti punya rahasia penting yang tidak boleh diketahui klan lain. Akan melanggar integritas klan bila bersikeras mengetahuinya.
Uryū memejamkan matanya. Tiba-tiba saja perasaannya terasa begitu perih. Menyadari bahwa dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Raien atas deadly entry. Dia sendiri bertanggung jawab untuk mencegah hal itu terjadi. Sebenarnya semua ini salahnya sejak awal. Hanya dia satu-satunya orang yang pantas disalahkan atas menghilangnya para Quincy tiga tahun yang lalu. Dia yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi sekarang, yang diakibatkan oleh deadly entry.
Dia sudah membuat teman-temannya dalam bahaya.
“Kau tidak boleh memejamkan matamu saat jatuh dan merasa lemah. Bukalah matamu, dengan begitu air matamu akan menguap sebelum sempat mengalir turun,”
Uryū menoleh ke arah pintu, dimana Eri bersandar pada kusennya, tersenyum. Gadis itu menegakkan badannya dan menghampiri Uryū, berdiri di dekatnya menghadap ufuk barat. Cukup dekat hingga bahu mereka bersentuhan.
“Terkecuali untukmu, Uryū. Kau boleh menangis. Aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya,” Eri memainkan ujung rambut pirangnya yang dianyam rapi.
“Jangan harap aku akan menangis di depanmu, Nona. Tidak akan.” tukasnya dengan nada bicara yang dibuat seserius mungkin. Namun beberapa saat kemudian cengiran kecil menghiasi wajahnya.
Eri tertawa kecil. Gadis itu melingkarkan lengannya hati-hati pada lengan kanan Uryū yang masih dibebat perban putih. Sang pangeran pun ternyata punya sistem penyembuhan yang hebat, rasa sakitnya sudah tidak begitu terasa lagi.
“Aku tidak akan membiarkanmu menangis di depanku, aku tidak akan membiarkan kau menangis.” Eri menyandarkan kepalanya pada pundak Uryū, memejamkan matanya. Tentu saja ia serius dengan kata-katanya. Tidak akan membiarkan Uryū menangis. Apapun yang terjadi, apapun yang harus ia lakukan. Bukankah setiap Quincy harus saling menjaga satu sama lain? Para mortal juga begitu kan?
Seulas senyum terbentuk di bibir Uryū. Bukan sepenuhnya senyuman karena senang mendengar perkataan Eri –yang sebenarnya membuat dirinya terlihat begitu lemah hingga harus dilindungi seorang gadis-, tapi karena merasa bersalah pada gadis itu dan semua masalah yang dialaminya karena deadly entry.
“Maafkan aku...” bisik Uryū, mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Eri. Tanpa sadar mereka berdua saling mengaitkan jari-jari.

Sementara itu di Amakusa Residence, para Raien berkumpul. Membahas apapun yang dapat mereka bahas mengenai Quincy. Sepertinya selama Quincy masih eksis di muka bumi, para Raien tidak akan pernah kehabisan bahan pembicaraan mengenai mereka.
Orihime ada di antara mereka. Duduk sendiri di pojok ruangan. Ia lebih memilih untuk tidak ikut bicara karena dia tahu, ujung-ujungnya pasti akan mengungkit-ungkit kembali kesalahan yang ia lakukan. Namun Orihime juga tidak acuh saja, ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan mereka.
“Ada Quincy lain, si rambut biru itu. Sepertinya dia hebat, Ryū.” Ichigo berkata sambil memainkan tali tudung jaket oranye yang ia kenakan merangkapi kaos hitam.
“Aku tahu. Dia orang yang waktu itu,” Ryū memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali sosok yang ia lihat dalam psikometrinya kemarin.
Sakurako sedikit melompat, memperpendek stanzanya dan Ryū. “Kau pernah melihat orang itu sebelumnya, Ryū?”
Perhatian terpusat pada sang pemimpin, Amakusa Ryū. Mereka menunggunya membuka mulut dan menceritakan apa yang ia tahu tentang si rambut biru misterius yang berhasil membawa kabur sang pangeran buruan mereka, serta menghancurkan enclose zone Ryū.
“Kemarin aku datang lagi ke basement rumah sakit, di sana aku menemukan tulisan darah yang dulu tidak ada saat kita ke sana. Si rambut biru itulah yang menulisnya, ditujukan kepada sang pangeran, Ishida Uryū.”
Orihime mengangkat kepalanya. ‘Ishida Uryū? Sang pangeran?’
Ingatannya kembali pada kejadian waktu itu. Ia menangis dalam pelukannya. Bukan, Orihime yang memeluknya. ‘Aku menangis di depan Quincy? Kalau begitu ia pasti mengerti apa yang aku bicarakan waktu itu...’
“Maaf, aku tidak begitu mengerti dengan apa yang sedang kita bicarakan. Memang apa bedanya Quincy biasa dengan pangeran Quincy?” Simca memberanikan diri untuk bertanya, memecah kesunyian sesaat yang menyelubungi ruangan itu.
Kid yang duduk di sampingnya menoleh, “Aku juga tidak begitu mengerti, karena dalam Raien tidak mengenal sistem bangsawan seperti itu. Kau tahu, Ryū?”
Pemuda berambut ungu yang disebut namanya tidak bergeming. Dia terlihat sedang berpikir dengan serius, kedua alisnya mengernyit.
Kemudian dia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak yakin, tapi yang jelas- gelar bangsawan itu tidak hanya sebagai seremonial saja. Selain menguasai teknik-teknik lama, mungkin kaum bangsawan memiliki keistimewaan tertentu.”
“Tapi dia terlihat biasa saja bagiku. Apalagi tindakannya menggunakan chrysalis tadi menunjukkan betapa kurang perhitungannya anak itu,” komentar Gaara.
Ryū sedikit menganggukkan kepalanya setuju. Tidak mungkin Uryū tidak tahu akibat penggunaan energi sebanyak itu untuk satu teknik. Benar-benar ceroboh anak itu! Padahal tadinya Ryū berpikir kalau dia harus memancing Uryū dan Kunimitsu keluar, agar tidak melukai mortal lain.
“Jadi itu sebabnya dia tidak menyerang sama sekali, ya? Karena kehabisan energi?”
“Aku tidak yakin dengan hal itu. Ishida masih bisa menggunakan shield, itu artinya ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menyerang. Bukan sepenuhnya karena kehabisan energi,” Sakurako melirik tajam ke arah Ichigo, tidak senang dibantah begitu saja oleh pemuda bermata coklat itu –yang tidak biasanya mengatakan sesuatu dengan alasan yang cukup bagus-.
“Ichigo benar. Ada yang membuatnya tidak bisa menyerang, bukan karena dia kehabisan energi.” Gadis bermata onyx itu mendengus kecil. Sekarang Ryū malah membenarkan Ichigo! Dilepasnya tangan Ryū yang dari tadi dia genggam dengan sedikit kesal. Kadang-kadang seorang Yukihira Sakurako dapat bersikap begitu kekanak-kanakan.
“Gelangnya.”
Berpasang-pasang mata menjatuhkan fokusnya kepada Kid. Pemuda bermata biru gelap itu membenarkan posisi duduknya dan merenggangkan badannya sejenak.
“Tadi kuperhatikan, dia sempat menyibukkan diri dengan gelang yang ia pakai. Waktu itu dia kelihatan sedang bingung,”
Ryū mengernyitkan kedua alisnya lagi, dia tidak ingat melihat Uryū mengotak-atik gelangnya. Atau mungkin dia tidak memperhatikan saja. Atau bahkan Kid yang terlalu kurang kerjaan sehingga memperhatikan hal seperti itu.
Seulas senyum simpul samar menghiasi wajah Kid, dalam hati dia agak terkekeh, karena merasa telah mendapatkan kesimpulan yang hebat. “Dan kalau kalian perhatikan, setiap Quincy yang kita temui mengenakan gelang, dengan bandul cross dan rantai perak yang indah.”
Sepasang mata biru gelapnya terlihat berbinar, membayangkan gelang perak berkilau itu melingkari pergelangan tangannya. ‘Aku jadi ingin memiliki yang seperti itu juga.’
“Aku sependapat. Si kapten basket itu juga tidak lagi menyerang setelah seranganku melukai tangannya waktu itu, mungkin aku berhasil memutuskan gelangnya.”
Memicingkan mata, Sakurako mencoba mengingat-ingat kejadian saat mereka hampir mengalahkan Haruto. Rasa-rasanya anak itu tidak pernah memakai gelang. Selain itu Eri juga tidak memakai yang seperti itu.
“Tapi Sakuraba tidak pernah memakai gelang. Sawachika juga.”
Ichigo, yang duduk berseberangan dengan Sakurako tertawa mengejek. Dia merasa pintar hari ini. “Ha-ha-ha, kau ini bodoh, ya? Tentu saja dalam kesehariannya mereka tidak memakai gelang! Akan mudah bagi kita untuk mengetahuinya!”
Sakurako mengerucutkan bibirnya, tidak senang diejek begitu oleh Ichigo. Dia mendengus dan memalingkan muka, sedikitpun tidak sudi bertemu pandang dengan si rambut oranye itu.
“Tapi Ishida selalu memakai gelangnya.”
Mereka menoleh ke arah Orihime yang duduk di pojokan.
“Dia bilang benda itu pemberian kakeknya.”
Ryū bangkit dari duduknya, menghampiri Orihime dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. Pemuda berambut ungu itu menatap Orihime penuh selidik, seakan gadis itu telah melakukan tindak kriminal. “Apa lagi yang kau ketahui tentangnya?”
Sedikit ragu, Orihime mengangkat kepalanya. Mata abu-abunya yang tampak redup menatap sepasang mata onyx itu sekilas, lalu berpaling. “Dia-... ah, hanya itu yang kutahu,” Dia kembali menundukkan kepalanya.
“Kau menyembunyikan sesuatu, Orihime.” Ryū berujar datar, meskipun begitu matanya mengisyaratkan kekecewaan.
Orihime memainkan kedua jari telunjuknya gugup, menyadari setiap Raien yang ada di ruangan itu masih berkonsentrasi padanya. Menunggu jawaban yang sebenarnya. Karena Orihime adalah seorang pembohong yang payah. Gadis itu tidak pintar menyembunyikan sesuatu. Siapapun dapat dengan mudah membaca wajah dan bahasa tubuhnya. Transparan seperti hujan.
Lalu kenapa? Memang tidak banyak yang Orihime ketahui, selain kalau gelang itu pemberian kakek Uryū. Lagipula mereka hanya pernah berbincang sekali, apa yang diharapkan dari hal tersebut?
Ryū masih menunggu. Dia yakin gadis itu punya pendapat lain tentang pangeran Quincy yang sedang mereka bicarakan. Meskipun dia tidak terlalu berharap akan sependapat dengan gadis itu, mengingat dia selalu menilai orang dari sisi baiknya.
Apa yang salah dengan hal itu?
Orihime terlalu lugu dan polos untuk menilai seseorang jahat. Terlalu baik untuk membenci seseorang. Terlalu suci untuk sebuah pembalasan dendam. Gadis itu terlalu tidak bersalah untuk dipersalahkan.
Tetap saja, penghianat adalah penghianat.
“Dia bukan orang jahat...” katanya lirih.
Ryū sudah menduga pertanyaan semacam itu akan dilontarkan Orihime. Dia memang tidak mengharapkan hal lain.
“Siapa sih, orang yang jahat menurutmu?” cibir Sakurako, menyilangkan kedua kakinya dengan angkuh. Dia tidak pernah menyukai orang macam Orihime. Gadis yang lugu dan polos, innocent. Lagipula dia tahu Ryū menyukainya. Pemuda itu selalu menyukai gadis yang polos dan apa adanya. Seperti Ran dan Orihime. Mereka berdua sama saja bagi Sakurako. Sama-sama bersikap sok malaikat.
Tanpa sadar tangan itu membentuk kepalan. Ryū hanya menunggu reaksi gadis itu selanjutnya. Mungkin akan terjadi sesuatu yang berbeda kali ini. Melihat Orihime tidak biasanya bersikap begitu, menunjukkan emosinya.
“Kau tidak bisa menilai orang hanya dari penampilan fisiknya saja.” Jelas terdengar kesungguhan dari nada bicara gadis itu. Sakurako mengerutkan alis mendengarnya.
“Kau selalu menilai orang dari perspektif yang sama. Kemudian apa? Kau ingin mengatakan kalau orang membunuh karena itu tugasnya, dan hal itu bukan apa-apa bagimu?!” Sakurako tidak pernah melewatkan kesempatan untuk berdebat. Lidahnya begitu tajam karena sering beradu mulut dengan Ichigo. Hanya saja dia tidak pernah mau kalah. Harus dialah yang keluar sebagai pemenang pada akhirnya.
Orihime bangkit, dengan tangannya masih mengepal marah. “Dia tidak melakukan apapun yang menyebabkan beberapa temanmu menghilang!”
“Kau ini-?! Aku tidak mengatakan kalau dia yang menyebabkan deadly entry!” Sudah sampai pada tahapan dimana Sakurako tidak bisa lagi mengontrol emosinya. Dan karena sepertinya Orihime juga sudah terpancing, entah apa yang bisa menghentikan adu mulut kali ini.
“Kau mengatakan seolah-olah ini semua salah Quincy! Padahal jelas terdapat larangan untuk mere-entry klan lain!”
Sakurako membalikkan badannya gusar, langsung menatap tajam ke arah sepasang mata abu-abu Orihime. “Masalahnya mereka akan melakukan re-entry massal! Aku tidak membicarakan siapa yang patut disalahkan atas deadly entry! Lagipula, aku tidak peduli dengan mereka yang musnah waktu itu!! Mereka pantas merasakan akibat perbuatan mereka!!”
Hit the spot.
Sepasang mata onyx Ryū melebar mendengar pernyataan Sakurako barusan. Tak sampai tiga detik, sebuah tamparan melayang ke pipi Sakurako. Gadis itu terkejut dengan tindakan Ryū barusan, menatap pemuda itu tidak percaya.
“Jaga bicaramu, Yukihira.”
Sakurako terpaku, meraba pipinya yang mulai terasa panas. Sementara Ryū melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

Malam itu langitnya kelihatan begitu cerah, dengan bintang-bintang berkerlip menghiasinya. Di area sekitar gedung bekas rumah sakit selalu tampak sepi, namun kali ini bahkan tidak terdengar suara serangga malam. Hanya desir angin malam sepoi-sepoi yang dingin menusuk tulang.
Keheningan itu tidak berlangsung lama. Dari arah timur terlihat siluet enam orang dalam kegelapan yang melangkah memasuki area rumah sakit. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah para Quincy; Uryū, Haruto, Eri, Rukia, Agito dan Kunimitsu.
Pemulihan akan dilakukan segera. Re-entry.
Mereka berenam tidak ada yang menyamarkan reiatsu mereka. Semuanya sudah terencana. Mereka akan bertarung habis-habisan malam ini, sementara sang pangeran Uryū akan melakukan tugasnya mere-entry semua generasi yang menghilang karena kejadian deadly entry tiga tahun yang lalu.
Bagi sang pangeran, melakukan re-entry ibarat membalikkan telapak tangan. Sangat mudah dan sederhana. Karena itu mereka nekad melakukannya di luar, tanpa perlindungan teknik tertentu untuk menyamarkan reiatsu. Tapi itu bukan tanpa alasan yang jelas. Re-entry kali ini bersifat khusus, karena tidak jelas apakah Quincy yang akan dire-entry itu menghilang dan mati atau menghilang kemudian ada di suatu dimensi lain.
Dengan melakukan re-entry di tempat yang menjadi daerah terjadinya deadly entry diperkirakan dapat mempermudah jalannya re-entry itu sendiri.
Reiatsu para Raien mulai menguat, pertanda mereka mendekati tempat di mana mereka berada sekarang. “Pastikan tidak memakan waktu lama, Uryū.” Agito menepuk pundak anak laki-laki yang berdiri di sampingnya. Dia hanya mengangguk.
Sementara itu, diam-diam Rukia memicingkan matanya menatap Uryū. Dia tetap saja tidak suka dengan ide re-entry itu.
“Tugasmu hanya melakukan re-entry, tidak perlu memikirkan Raien. Kami yang akan mengatasi mereka,” kata Kunimitsu. Pemuda berkacamata itu mendongak menatap hamparan langit biru gelap di atas. Reiatsu familiar para Raien terasa semakin dekat, dan entah ini hanya perasaannya atau memang benar, dinginnya malam kali ini terasa berbeda.
Uryū memandangi kalung berbandul clover di telapak tangannya. Masih sulit percaya bahwa dengan benda itu semua generasi Quincy yang menghilang akan kembali.
Sebentar lagi. Kehidupan baru bagi Quincy akan dimulai sebentar lagi.
Sementara itu mereka para Raien berlarian. Kali ini reiatsu yang terasa begitu solid. Ada beberapa Quincy, dan mereka tidak sedikitpun berusaha menyamarkan reiatsu. Ryū menyadari ada yang aneh. Ada sesuatu yang janggal. Mengapa mereka sengaja melakukannya? Apa tujuan mereka sebenarnya?
Dia tidak pernah suka menginjakkan kaki di tempat ini. Gedung bekas rumah sakit, yang selalu mengingatkannya kepada Ran dan semua kenangan itu.
“Lebih lambat dari yang kuperkirakan.”
Para Raien menoleh, mendapati seseorang dari samping gedung rumah sakit itu berjalan ke arah mereka dengan tenangnya. Kedua tangannya ditenggelamkan ke dalam saku celananya. “Kau-”
“Wanijima Agito. Salam kenal.” Pemuda berambut biru itu sedikit melambai.
Tak berapa lama kemudian muncul Quincy yang lain. Haruto dan Kunimitsu, di belakang mereka adalah Eri dan Rukia. Sepasang mata coklat Ichigo menatap tidak percaya ke arah Rukia. “Kau- Quincy?” lirihnya tidak percaya.

“Ternyata kalian tidak ada apa-apanya!”
Ryū melepaskan hado 17, kilat putih. Kelima Quincy yang ada di hadapannya tidak berkutik, bondage Gaara cukup untuk menahan mereka. Shield yang dikeluarkan Agito segera pecah berkeping-keping beradu dengan kilat putih Ryū. Pemuda berambut ungu dan teman-temannya itu semakin kuat saja.
“Sudah, tidak ada gunanya lagi kalian melawan!” tukas Ryū, dengan nada mengejek.
Ichigo tidak menyerang dari tadi, hanya memperhatikan Ryū dan teman-temannya. Pandangannya lurus ke depan, jatuh pada Rukia. Akhirnya ia tahu bagaimana perasaan Orihime.
Tapi ia tidak cukup punya keberanian untuk melanggar Ryū, ia hanya bisa diam dan menyaksikan gadis yang diam-diam disukainya itu bertahan melawan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan teman-temannya para Raien.
Entah bagaimana awal mulanya, ia merasa kalau pertarungan kali ini timpang. Padahal biasanya juga timpang, tapi rasanya kali ini berbeda. Tidak biasanya Quincy begitu mudah ditaklukan. Pertarungan-pertarungan yang sebelumnya juga tidak semudah ini. Ada yang salah. Atau mungkin ini jebakan? Tapi untuk apa?
“Ishida Uryū!! Keluar kau!!” teriak Ryū. Dia tahu sang pangeran ada di sekitar sini. Tapi reiatsunya tidak terbaca dengan jelas.
Dari samping gedung bekas rumah sakit itu, Uryū berjalan dengan tenangnya. Dia belum sempat melakukan re-entry tadi, karena tidak bisa berkonsentrasi mendengar serangan-serangan itu. “Apa yang kau lakukan di sini, Bodoh?! Cepat pergi dan lakukan re-entry!” teriak Agito marah.
“Tidak akan aku biarkan!” Ryū bersiap melancarkan serangan, begitu pula dengan Raien yang lain. Uryū merasakan benar aura membunuh yang terpancar dari masing-masing Raien yang kini bersiap menyerangnya.
Ryū tidak tahu apa yang dipikirkan anak itu, tidak ada yang tahu, karena bibir tipisnya itu tiba-tiba menyunggingkan senyum. Senyuman seduktif. Seperti ia ada di posisi Ryū dan para Raien itu ada di posisi yang dialami Quincy lain.
Agito terkesiap melihatnya. ‘Anak itu menjalankan rencana lain! Sial! Apa yang sudah dia lakukan?!’
Reiatsu itu lagi, batin Ryū.
Inilah sang pangeran yang sebenarnya. Reiatsu yang kuat.
Masih dengan senyuman terpampang di wajahnya, Uryū memandangi teman-temannya yang terkena bondage Gaara. Dia heran, kenapa mereka bisa takluk semudah itu?
“Akui saja, kau tidak bisa mengatasi mereka.”
Senyuman itu memudar, air muka Uryū berubah menjadi serius dan dingin. Sorot matanya tajam terarah kepada Agito. Sementara pemuda berambut biru itu mendengus, tidak mau mengakui kelemahannya. “Jangan bilang kalau kau tidak tahu bagaimana cara melepas bondage. Pelajaran pertama yang kau berikan untukku kan?”
Agito memalingkan mukanya. Anak menyebalkan itu kenapa malah menunjukkan diri dengan santainya di depan musuh, pikirnya sengit. Ia bersumpah akan memukul kepalanya nanti, setelah semua ini berakhir. Semoga saja ini bisa berakhir.
“Tapi terima kasih atas semuanya. Maaf sudah membuat kalian repot.”
Sepasang mata kuning keemasannya dengan cepat berfokus pada Uryū. Seperti anak itu baru saja menumbuhkan kepalanya yang kedua.
Uryū menundukkan kepalanya, menatap ujung sepatu putihnya. Tidak punya keberanian untuk bertatapan dengan Agito. Para Raien masih menunggu. Ryū merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Sang pangeran tidak satu jalan dengan teman-temannya yang lain. Terlebih karena senyuman itu menghilang begitu saja.
“Uryū, apa yang sudah kau lakukan?” Kunimitsu bertanya datar.
Dia seorang Quincy yang hebat dan pandai membaca situasi. Sejak pertarungan itu dimulai, dia sudah merasakan ada keganjilan. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka sudah terlanjur basah, berhadapan langsung dengan para Raien.
Tapi tiga orang Quincy yang lain tidak mengerti. Sama sekali tidak punya ide tentang apa yang sedang terjadi saat ini. Mereka saling bertukar pandang bingung.
“Sepertinya ada miskomunikasi di sini. Entah apa yang kalian permasalahkan, tapi ini semua sudah berakhir. Hado 17!”
Kilat putih meluncur cepat ke arah kelima Quincy tidak beruntung yang terkena bondage Gaara. Tapi langsung terhalang oleh shield yang dikeluarkan Kunimitsu.
Serangan beruntun.
Semuanya pecah tepat beberapa inci di depan target. Sepasang mata onyx Ryū membulat, padahal tidak ada shield atau apapun yang melindungi mereka. Dia menoleh kepada Uryū, yang masih menatap ujung sepatunya. Seperti seorang anak kecil yang menyesal telah bermain di bawah hujan dan membuat orang tuanya marah.
“Kenapa kau melakukan ini, Uryū?!” teriak Agito.
Quincy dan para Raien yang benar-benar tidak mengerti apa yang tengah terjadi mengumpulkan fokusnya kepada Uryū, yang masih menatap ujung sepatunya.
Perlahan-lahan dia mengangkat kepalanya. “Tidak ada kemungkinan kalian bisa menang melawan semua Raien ini.”
Agito menggeram kesal. “Bukan itu jawaban dari pertanyaanku! Kenapa kau tidak melakukan re-entry saja?!”
“Dan membiarkan kalian semua dalam bahaya? Aku tidak bisa melakukannya, maaf.” Uryū berkata dengan lirihnya, namun cukup untuk dapat terdengar karena tiba-tiba saja suasana menjadi sunyi. “Justru dengan begini kau membahayakan kami semua!” balas Kunimitsu.
‘Apa yang terjadi?’ batin Ichigo heran.
“Setidaknya- semuanya akan berjalan dengan baik sesuai rencanaku. Chrysalis.”
Kabut asap biru tebal menyelimuti kelima Quincy itu. Melindungi dari apapun yang mungkin melukai mereka. Ryū menyipitkan mata menatapnya. Lagi-lagi anak bodoh ini menghabiskan energi, chrysalis macam apa ini?
URYū!!!” teriakan Agito menggema memenuhi malam yang sunyi itu.
“Sekarang hanya tinggal aku dan kalian saja,” kata Uryū, kembali senyuman menghiasi wajahnya. Ryū tidak mengerti apa yang dipikirkan anak itu. Mood-nya cepat sekali berubah-ubah.
“Cih, kau pikir kau bisa menang melawan kami?” ejek Kyou, tertawa kecil.
Senyuman seduktif tadi kembali menghiasi wajahnya.
“Kenapa tidak?” Pernyataannya barusan menandai pertarungan tunggalnya melawan para Raien di hadapannya ini.

‘Ugh- apa yang terjadi?’ Ryū menyeka darah di dagunya pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Semua rekannya terbaring tidak berdaya. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, Ryū tidak ingat bagaimana. Benar-benar membingungkan, ilusi tingkat tinggi.
Dua puluh meter di depannya, adalah Ishida Uryū yang jatuh berlutut. Terengah-engah, berusaha mengumpulkan nafasnya.
“Hh-hh- sial. Tidak kuduga- akan seberat ini-,” gumamnya, cukup untuk didengar oleh Ryū.
“A-apa yang terjadi?” Menoleh, dia mendapati seorang gadis berambut coklat cerah berdiri dengan memandang tidak percaya ke sekelilingnya. “O-Orihime?”
Dia bergegas menghampiri Ryū dengan panik. “Ryū-senpai, apa yang terjadi?!” Gadis itu membantu Ryū berdiri. Tapi pemuda berambut ungu itu menggelengkan kepalanya. Karena ia memang tidak tahu pasti.
“Kau-... Apa yang sudah kau lakukan pada mereka semua?” tanya Orihime, dengan nada menuntut, sambil menatap tajam Uryū.
Anak laki-laki berambut raven kebiruan itu tersenyum dan mencoba berdiri, menatap Orihime. “Menurutmu apa?” Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan yang lain.
“O-Ori.. kaukah itu?” Simca.
Melepaskan pegangannya pada Ryū, Orihime berlari menghampiri Simca yang terbaring tidak berdaya di atas tanah. Darah mengalir dari pelipis kirinya. Mukanya yang biasanya mulus itu kini dihiasi beberapa luka goresan.
“Apa yang terjadi?” bisik Orihime dengan suara bergetar.
“La-ri Ori. Di-dia berbahaya..” Orihime menoleh kepada Uryū yang belum sanggup berdiri, masih mengumpulkan nafas dan tenaga.
“Ishida Uryū, apa yang sudah kau lakukan?” tanya Orihime dingin.
Diantara desah nafasnya dia masih sempat tertawa kecil. Dan hal itu membuat Orihime ingin berlari ke arahnya dan meninjunya tepat mengenai hidung.
Tawanya terhenti perlahan. “Aku sudah memperingatkan -hh-hh- setiap serangan –hh- akan berbalik sama -hh–hh-,” Anak itu menelan ludah. “Dan mereka –hh-hh- mengganggap aku bercanda-”
“Hado 5!” Orihime menoleh kepada Ryū dengan cepat. Kemudian mendapati Uryū terbaring di atas tanah, dengan darah segar mengaliri lengannya. Orihime memekik melihatnya, secara refleks ia menutupi mukanya dengan kedua tangan.
“Hado 17!” Serangan yang kedua.
Gadis itu menoleh ke belakang. Gaara yang melepaskan hado barusan.
Dia terbaring tidak berdaya, di atas genangan darahnya sendiri. Sekujur tubuhnya sakit. Memejamkan mata, dia tersenyum pahit. ‘Ternyata aku tidak mampu mengalahkan mereka. Maaf Agito, mereka terlalu kuat dari yang kubayangkan...’
Desahan nafas itu melambat. Tidak ada erangan. Dia tidak punya waktu untuk melakukan yang semacam itu. Terlalu sibuk dengan penyesalan, bahwa dia belum sempat mere-entry. Seharusnya dia percaya pada Agito dan yang lainnya tadi. Mungkin dengan begitu sekarang semua generasi duah kembali dan mereka akan bertarung bersama-sama melawan para Raien.
Tapi setidaknya mereka –teman-temannya- tidak menjadi korban. Semoga saja mereka bisa segera menyelamatkan diri setelah ini. Dan akhirnya Agitolah yang akan melakukan re-entry. Kemudian siklus hidup para Quincy akan berlanjut, dengan menambahkan pertarungan melawan Raien dalam daftar hidup mereka.
‘Dunia pasti akan begitu ramai... Sayang sekali aku tidak bisa menyaksikannya...’
Dan akhirnya dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

“Uryū!!” Gadis berambut pirang itu berlari menghampiri tubuh yang terbaring tak jauh darinya, setelah berhasil memecahkan chrysalis khusus yang dibuat Uryū. Keempat Quincy yang lain menyusul, tapi mereka berhenti tak jauh dari Eri.
Cairan hangat mengalir dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya yang merona kemerahan. Gadis itu menyentuh pergelangan tangan sang pangeran dengan tangan bergetar, mencari denyut nadinya. Tapi tidak terasa apapun. Tangan yang biasanya hangat itu mulai dingin. “Uryū?”
Beberapa detik kemudian, “Uryū bangun!! Buka matamu!!” Dia mengguncang-guncang bahu anak itu, berharap dapat membuatnya tersadar.
Sepasang mata coklat cerahnya memancarkan kemarahan. Ia menoleh ke arah Ryū, ke arah para Raien yang masih terlihat lemah, berdiri.
“Kalian akan membayar perbuatan kalian!” Dengan cepat dia men-summon busur di tangan kirinya dan bersiap melepaskan anak panah berintensitas membunuh, setelah sebelumnya melumpuhkan para Raien dengan bondage.
Rukia tidak pernah tahu Eri memasteri bondange. Gadis itu seperti menyimpan seribu rahasia. Dia tidak selemah kelihatannya.
Reiryoku yang dibutuhkan sudah terkumpul. Anak panah itu bersinar begitu terang diantara kegelapan malam, sinar birunya menyilaukan. Agito dapat merasakan betapa kuatnya anak panah itu, dan merasa terintimidasi.
Para Raien tidak mampu bergerak, termasuk Orihime. Seberapa sering Ryū mencoba melepaskan diri dari bondage Eri, rasanya teknik itu mengikatnya semakin erat saja. Dan melihat anak panah yang siap dilepaskan itu, tidak akan ada kesempatan baginya untuk menghindarinya. “Ini semua salah kalian,” kata Eri.
“Hentikan Eri!”
Rukia tiba-tiba sudah berdiri dengan merentangkan tangannya di depan para Raien. Sama seperti yang dilakukan Orihime waktu itu, menjadi tameng.
“Apa yang kau lakukan?! Cepat minggir!!” Pertama kalinya Orihime mendengar sang Jounan’s Princess berteriak pada sahabatnya. Melihat persahabatan keduanya hancur dengan cara yang begitu sederhana.
Ketiga Quincy lain, tidak mampu berbuat apa-apa. Ini adalah masalah mereka berdua, Eri dan Rukia. Mereka tidak bisa ikut campur.
Rukia menggelengkan kepalanya kukuh. “Kau hanya akan menambah masalah dengan melakukan ini, Eri! Nanti akan jatuh lebih banyak korban lagi!”
Eri menatap sahabatnya itu dengan tidak percaya, tidak sedikitpun mengendurkan anak panahnya. “Jadi maksudmu cukup Uryū saja yang jadi korban? Hh, memang kau pikir mereka akan membiarkan kita hidup?!”
“Cukup Eri! Ini tidak akan menyelesaikan masalah!” Rukia masih bersikukuh.
Tanpa diduga-duga, gadis berambut pirang itu menurunkan busurnya, dan anak panah itu menghilang dalam sekejap diikuti busurnya. Rukia menghela nafas lega, dia tahu Eri tidak akan mampu melukainya. Tapi yang lebih penting lagi, dia tahu Eri akan memikirkan hal ini.
“Kau bodoh, Rukia..” lirihnya.
Eri membalikkan badannya, kemudian kembali berlutut di samping Uryū. Gadis itu memeluk tubuh Uryū yang berlumuran darah, sehingga baju yang ia kenakan pun ternoda darah juga. “Uryū, gantikan aku, ya?”
Sepasang mata violet Rukia melebar, “Eri!!”
“Langit yang biru, awan putih yang berarak, angin semilir, daun melambai. Pelangi begitu indah, dunia begitu damai. Wahai jiwa yang tenang, dengarkan aku, penuhi panggilanku. Ambillah nyawaku, sebagai penggantimu.”
Sementara Eri mengucapkan kata-kata re-entry, Rukia berlari ke arahnya. “Eri!!!”
Tapi terlambat, kabut biru sudah menyelimuti Eri dan Uryū. Selama beberapa saat yang bisa dilakukan oleh mereka yang ada di sekitar sana hanya terkesiap, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
“E-Eri?!” Haruto masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya. Dia tidak bisa mencegah perbuatan Eri. Kenapa dia tidak bisa mencegahnya? Kenapa dia tidak mencegah gadis itu melakukan re-entry?
Nyawa dibalas dengan nyawa.
Satu jiwa untuk re-entry akan dibalas dengan satu jiwa seorang yang lain, seorang yang hidup. Entah itu mortal atau imortal. Yang terpenting adalah, orang yang dikorbankan untuk re-entry tidak bisa dire-entry ulang.
Itu artinya...
“Kau membangunkanku, Eri.”
Dari balik kabut biru itu terlihat Uryū, tanpa luka sedikitpun, dengan Eri di dalam pelukannya. Perlahan dia menurunkan Eri, membaringkannya, kemudian berbisik. “Tunggu di sini, ya?”
Perlahan dia berjalan menuju ke arah para Raien, dengan begitu santainya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Dia mengeluarkan kalung yang diberikan Agito dari saku kemejanya. Menunjukkannya kepada Raien, yang telah ia tahan dengan bondage. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau mereka kembali melancarkan serangan.
“Kalian tahu, di dalam bandul ini tersimpan setiap keping kenangan para Quincy. Dengan benda ini, re-entry semudah membalikkan telapak tangan saja bagiku.”
Ryū memicingkan matanya mengamati bandul clover yang sedikit berputar itu. Benda sekecil itu dapat membahayakan nyawa banyak mortal.
“Agito, maafkan aku.”
Uryū melempar benda itu ke udara. Dengan cepat ia men-summon busur di tangan kanannya, mengarahkannya ke atas langit. Dan dalam sekejap ia melepaskan anak panah, entah apa yang menjadi target bidikannya.
Tak berapa lama kemudian kepingan-kepingan kristal jatuh dari langit, sebuah rantai perak menyusul jatuh.
“Uryū?” Agito menatap anak laki-laki itu tidak percaya, bertemu pandang dengan sepasang mata safir cemerlang itu. “Maafkan aku, Agito. Hanya ini yang bisa kulakukan,”
Dia beralih menatap para Raien, “Dengan begini re-entry tidak mungkin dilakukan lagi. Tidak ada apapun yang tersisa. Apa itu cukup adil?” tanyanya.
Tidak ada yang merespon. Para Raien itu begitu terkejut, sekaligus tidak percaya. Selain itu mereka masih ada di bawah pengaruh bondage Uryū.
Anak laki-laki itu berlutut di samping Eri, persis seperti yang dilakukan gadis itu tadi. Seulas senyum menghiasi wajahnya, cukup samar. Dia membawa gadis itu ke dalam pelukannya, kemudian menempatkan kecupan hangat di keningnya.
Tapi tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada kabut biru, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang ditunjukkan Eri. Dia tetap diam, tidak bergeming. Uryū menghela nafas, sedikit tertawa. “Hentikan semua ini, Eri. Ayo bangun, kau membuatku cemas.”
Tidak terjadi apa-apa.
Desiran angin malam itu terdengar jelas. Dingin menusuk tulang seperti biasanya.
“Hei, bangun! Ini tidak lucu, Eri!”
Tentu saja, setiap dari mereka yang ada di sini tahu bahwa orang yang dikorbankan dalam re-entry tidak akan bisa dibangkitkan lagi. Jiwanya telah digunakan untuk menebus jiwa yang telah pergi.
“Bangun atau aku aku akan menceburkanmu ke dalam sungai, Nona!” dia tetap bersikeras. Orihime mengakui dalam hati ia iba melihatnya. Bagaimanapun juga, ini bukan salah Quincy. Mereka tidak pantas menanggung akibatnya, karena entah Ryū akan setuju dengan kenyataan bahwa tidak akan terjadi re-entry lagi atau tidak. Tapi mereka tetap tidak pantas kehilangan, bahkan satu orang pun.
“Uryū...”
“Tsk- kau menyebalkan sekali!”
Terdengar tawa kecil, dan mereka semua serempak membelalakkan mata terkejut. Mendapati Sawachika Eri berdiri dengan santainya, masih tertawa. Sementara itu Uryū terlihat tidak senang. Dia menarik rambut pirang gadis itu main-main.
“Ha-ha-ha, kenapa mukamu serius begitu?”
“Aku hampir mengira kalau kau benar-benar sudah tidak ada, Bodoh. Hampir!” Uryū mengatakannya dengan kesal, tapi tak sampai lima detik senyuman sudah menghiasi wajahnya lagi.
Gadis itu masih tertawa, memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih. Dia melingkarkan tangannya pada lengan Uryū manja. “Berterimakasihlah padaku, aku sudah menghidupkanmu,” bisiknya pelan.
“Kau juga. Karena aku pada akhirnya juga menghidupkanmu, kan?”
Entah apa yang sebenarnya terjadi.
OWARI

No comments:

Post a Comment