Tuesday, May 3, 2011

What If People Know (Chapter 2)

“Awas aja kalo lo nyanyinya jelek, An. Balikin duit gue.”
Andria tertawa kecil, menepuk lengan Iren main-main.
“Tenang aja. Dijamin lo bakal terpukau sama suara emas gue,” balasnya dengan nada angkuh yang jelas dibuat-buat. Mei hanya tertawa mendengarnya.
“Si Aldi dateng juga kan, An?” tanya Mei.
“Iya lah, secara dia kan cowok gue. Mau nggak mau, sempet nggak sempet, dia wajib nonton gue,”
Iren baru saja akan menimpali ketika dirasa ponsel yang ia genggam bergetar. Segera ia membukanya dan mendapati sebuah pesan dari Ibran.
Nggak bisa nganter pulang, maaf ya?
Be careful,
Ia segera melipat kembali ponselnya saat Andria melongok penasaran.
“Aish, siapa sih? Gebetan lo?”
“Nggak penting. Gue balik dulu ya?” Iren meraih tasnya dan beranjak sambil membenarkan kerudung yang tersampir di pundaknya.

“Nih, gue mau yang Koizora sama Hanamizuki. Besok bawain, ya?” Mei menyerahkan sebuah flasdisk putih kepada Iren yang kemudian memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tasnya.
“Oke. Gue duluan, ya?” Sebelum melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kuliah ia menyempatkan diri untuk melihat ke arah Ibran yang duduk di deretan depan masih dengan dikelilingi Risma dan kawan-kawan.
Lalu ia keluar.
...
Dia bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda menyadari kehadirannya selama kuliah seharian tadi. Semuanya seperti biasanya.
Tidak ada tegur sapa, tidak ada tukar pandang, tidak ada apa-apa.
Kalau bukan karena pesan singkat yang dikirimnya tadi, mungkin ia akan percaya kalau semua itu hanya mimpi. Atau ia mulai gila dan berimajinasi. Karena tidak mungkin seorang dengan tingkat kecerdasan yang tinggi seperti Ibran menaruh perasaan khusus padanya.
Pada seorang gadis yang teramat sangat biasa saja.
Seharusnya dia mempertanyakan hal ini sejak awal, apakah ini semua sandiwara?
Sandiwara dengan plot terumit dan paling tidak logis yang pernah ada.
Karena rasanya sama saja.
Tidak ada yang berbeda dari hari ini dan hari-hari sebelumnya. Semuanya tetap saja.
Kecuali sekarang ia punya nomor mahasiswa terpintar itu.
...
Ibran menoleh ke belakang, sempat melihat sekilas sosok Iren sebelum gadis itu benar-benar meninggalkan ruang kuliah. Terbersit perasaan bersalah di dalam lubuk hatinya. Apakah ia pantas memperlakukan gadis itu seperti ini?
Ini baru hari pertama.
Lalu akan jadi seperti apakah hari-hari selanjutnya? Apakah penyamaran mereka akan sesempurna hari ini? Apakah sikap mereka akan tetap sedingin hari ini? Dan apakah gadis itu akan dapat terus tertawa ceria seperti tak ada apa-apa, seperti tawanya hari ini?
“Bran, yang ini gimana nih? Gue nggak ngerti juga,”
Dia mengemasi buku-bukunya dengan tatapan heran dari Risma dan Tias.
“Eh, kok udahan?”
“Saya masih ada urusan lain. Besok lagi aja, ya?”
Dengan tergesa-gesa ia menuju ke parkiran di samping ruang kuliah dan menyalakan mesin motornya. Tanpa menunggu lama segera melaju menyusuri jalan yang akan membawanya ke Asrama Putri 5.
Tak sampai satu menit ia menyusul Iren yang tengah berjalan sambil asyik berkutat dengan ponselnya. Ia menekan klakson sekali, gadis itu berjalan lebih ke pinggir. Klakson berbunyi dua kali, baru gadis itu menoleh dan senyumannya mengembang.
“Hei, mau kemana?” Ia melipat ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.
“Ikut yuk,” Ibran menghentikan motornya, kaki kirinya menapak aspal untuk menjaga keseimbangan.
“Lho, katanya nggak bisa ngantar pulang?”
Ibran menoleh ke belakang sebentar. Memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. Ia hanya tidak ingin ada teman sekelasnya yang melihat mereka berdua.
“Udah ayo.” Ada sedikit paksaan dalam nada bicaranya.
“Mau kemana?” Lagi-lagi Ibran menoleh ke belakang, ia berdecak pelan. Ternyata Iren tidak sepolos yang ia kira. Susah juga membujuk gadis itu.
“Bentar ayo!” Ia menoleh lagi ke belakang dan Iren akhirnya menyadari keanehan hal itu. Seorang pemuda berkemeja biru terlihat tengah berjalan ke arah mereka. Bukankah dia teman sekelas sekaligus satu kamarnya? Galih Putra, kan? Apakah ia melihatnya sekarang?
Ibran menarik tangan Iren pelan, “Ayo.”
Tapi ini hanya di antara kita saja, ya?
Ia tahu ia tidak boleh menyusahkan Ibran.

No comments:

Post a Comment