Sunday, May 8, 2011

What If People Know (Chapter 3)

Mereka duduk di bawah sebuah pohon beringin yang rindang dengan berjarak sekitar 30 cm. Ibran tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengusir kecanggungan di antara mereka berdua.
Jelas Iren bukanlah gadis ceriwis seperti Risma atau Tyas yang bisa langsung cocok dengan siapa saja. Ia juga bukan seorang yang kritis seperti Wulan.
Ibran baru menyadari kalau sebenarnya selama ini ia belum pernah sekalipun mengobrol berdua saja dengan gadis itu. Lalu apa yang membuatnya secara tiba-tiba jatuh cinta pada gadis itu dan nekat menyatakan perasaannya?
Yang lebih penting lagi, apa alasan gadis itu menerimanya begitu saja?
Selain karena komunikasi sesama anggota kelompok belajar, mereka berdua tidak pernah terlibat dalam obrolan santai, apalagi pembicaraan serius. Bisa dikatakan belum pernah ada komunikasi pribadi sama sekali.

Dia menoleh ke arah gadis yang duduk di samping kanannya. Lagi-lagi gadis itu berkutat dengan ponselnya. Ia jadi penasaran dengan apa yang sedang Iren lakukan. Jangan-jangan dia sedang berkirim pesan singkat dengan pemuda lain?
“Kamu lagi ngapain sih?” tanya Ibran, mencoba untuk terdengar biasa saja.
Gadis itu menoleh dan seulas senyum mengembang menghiasi wajahnya. Dan ia juga baru menyadari satu hal ini, bahwa gadis itu punya dua titik lesung di kedua ujung bibirnya.
“Teman SMA dulu. Cewek kok,” Senyumannya melebar. Ternyata gadis itu bisa bercanda juga. Ibran hanya bisa tersenyum malu menanggapinya.
Ponselnya bergetar dan perhatiannya kembali tersita. Lagi-lagi keheningan tercipta di antara mereka. Karena Ibran juga bukanlah seseorang yang bisa bicara dengan siapa saja dengan santainya.
“Ee, udah makan belum?”
“Belum.” Iren menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Ibran tidak begitu senang karena ia jadi tidak diperhatikan.
“Makan dulu, yuk. SMSnya diterusin nanti aja,” Dengan cepat Ibran mengambil ponsel dari tangan Iren dan menenggelamkannya ke dalam saku celana. Ia pun beranjak dari bangku dan menuju ke motornya sebelum Iren sempat mengutarakan protes.
“Ayo.”
...
Permainan baru saja dimulai.
Mereka berdua kini duduk berhadapan di sebuah food court yang terletak di luar daerah kampus. Di depan mereka terhidang dua porsi nasi goreng spesial dan dua gelas jus melon.
Apa ia boleh menyebut ini sebagai sebuah kencan?
Saat Iren melirik ke arah Ibran, pemuda itu terlihat begitu menikmati hidangannya dan makan dengan lahap. Ia tersenyum geli, bagaimana pun juga Ibran juga sama seperti laki-laki lainnya yang semangat dalam hal makanan.
Ia tidak terlihat seperti seorang jenius yang bahkan dapat membuat alis dosen berkerut saat penjelasannya dipertanyakan.
Dua pasang mata mereka bertemu dari balik lensa masing-masing.
“Kamu kok nggak makan? Nanti keburu dingin,”
Dia hanya menganggukkan kepalanya dan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, mengunyahnya perlahan. Sebenarnya ia tidak lapar karena tadi sempat jajan bersama Mei dan Andri. Namun Ibran tidak memberinya pilihan lain.
Satu porsi nasi goreng itu terlalu banyak.
...
“Jangan ngebut, ya?”
Iren melambaikan tangan kanannya kepada Ibran yang sudah bersiap untuk memacu gas motornya. Pemuda itu hanya mengangguk kemudian menurunkan kaca helmnya dan melaju pergi dari area Asrama Putri.
Gadis itu masih tetap berdiri di tempatnya beberapa saat setelah sang pengendara motor tadi menghilang dari hadapannya. Dia menengadahkan kepalanya dan menatap langit jingga senja dari balik rimbunnya pohon daun jarum yang tumbuh di sekitar asrama. Wangi cemara yang khas tercium memenuhi hidungnya.
Menghela nafas pendek, gadis itu melangkah masuk ke dalam asrama.
Ia membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci dan meletakkan tasnya di atas meja. Pintu satunya lagi -yang menuju ke balkon- terbuka dengan Maya, teman sekamarnya, duduk di depannya.
“Eh, baru pulang. Diantar siapa tuh? Cieee...” goda Maya.
Iren tertawa, “Tukang ojek gratis. Jangan sirik, ya?”
“Hih, ngapain? Siapa sih, cowok asrama 4 itu, ya?” Iren mendekat dan duduk lesehan di samping Maya yang sedang membaca sebuah manga.
“Bukan. Cuma tukang ojek gratis yang nggak penting.”
Menutup manga yang sudah selesai baca, Maya memandangi Iren penuh selidik. “Di dunia ini nggak ada yang gratis, Ren.” katanya dengan nada serius yang dibuat-buat.
“Apaan sih. Gimana tadi, jadi makan siang bareng Yudha?” Iren mengganti topik pembicaraan ke arah yang kira-kira dapat mengalihkan perhatian Maya dari ‘tukang ojek gratis’ yang ia lihat tadi.
Terbukti usahanya itu berhasil, melihat air muka Maya yang segera berubah dan senyum menghiasi wajahnya. “Hehe, jadi dong. Malahan karena si Ardi nggak bisa dateng, kita jadinya cuma makan berdua. Agak-agak garing juga sih.”
“Cieee...sering-sering aja tuh. Kapan-kapan ajak aku juga dong. Jadi pengen nggangguin kalian nih,” ujar Iren usil.
“Aish, jangan atuh. Nanti aja kalo udah beneran, aku traktir deh.”
“Ciee...kaya’nya udah ada kemajuan banyak nih. Udah, tinggal tembak aja kok susah. Jangan nunggu kelamaan,”
Maya menatapnya dengan muka aneh. “Heh, ngomong apa sih kamu? Masa’ cewek duluan? Malu-maluin banget deh,”
Iren menepuk-nepuk pundak Maya. “Itu namanya emansipasi wanita, May.”
“Emansipasi wanita dari Hongkong? Itu namanya centil! Atau jangan-jangan kamu juga gitu lagi sama si tukang ojek gratisan tadi? Hayoo~”
“Nah lho, main ngasal aja kamu. Nggak mungkinlah!”
“Udah, ngaku aja. Nggak usah malu-malu gitu, Ren.”
Perdebatan mereka berdua terhenti ketika terdengar samar-samar terdengar suara adzan dari kejauhan. Langit yang tadinya jingga berangsur-angsur menghitam. Angin sore yang dingin menggoyang-goyangkan akar-akar beringin yang panjang menjuntai menyentuh lantai bumi.

No comments:

Post a Comment