Wednesday, May 11, 2011

What If People Know (Chapter 4)

Gadis itu memandangi layar ponselnya dengan muka serius. Jemarinya yang ramping mulai menari di atas keypad.
Kebetulan aja ketemu di situ. Lo sama Andria tadi?
Delivered to Mei Fithriani
Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar lagi.
Nggak, sama temen sekamar gue. Besok fd gue jangan lupa, ya?
Iren mengistirahatkan kedua tangannya pada pembatas balkon dan menghela nafas panjang.
Padahal tadi mereka sudah menjauhi daerah kampus dengan harapan tidak ada anak kelas yang memergoki mereka berdua. Namun Mei sempat melihat mereka berdua tadi.
Walaupun sebenarnya tidak jadi masalah sama sekali bagi Iren jika ada anak kelas yang melihat mereka. Ia malah sedikit berharap ada Risma dan Tyas atau bahkan Wulan yang melihat mereka tadi.
Asal jangan Mei. Karena ia tahu betul Mei masih menyukai Ibran meskipun ia selalu mengelak dan mengatakan bahwa ia hanya pernah menyukainya saja.
Dalam sehari ini saja ia sudah menghitung setidaknya 5 kali gadis itu memandangi Ibran. Bukan cuma melirik, tapi memandang.
Ia hanya tidak siap dengan respon Mei jika dia mengetahui tentang mereka berdua.
Ia tidak siap menerima cap sebagai penghianat atau apalah itu namanya.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tidak siap jika harus melepaskan Ibran begitu saja seandainya Mei memintanya untuk melakukan hal yang demikian. Bahkan meski atas nama persahabatan, ia tidak akan siap melakukan hal itu.
Tidak untuk sekarang atau nanti.
Iren menghela nafas panjang lagi.
Padahal ia sendiri tidak tahu betul apa alasan yang membuatnya merasa begitu berat untuk melepas Ibran yang bahkan bisa dianggap baru dikenalnya?
Ia menengadahkan kepalanya dan menatap langit, seperti tadi sore. Langit yang cerah dengan taburan bintang-bintang yang tertutup rimbunnya dedaunan.
Mungkin karena ia tidak ingin kisah cerita rahasia di antara mereka yang baru saja dimulai ini berakhir begitu saja. Atau mungkin ia hanya ingin permainan sandiwara ini berlangsung lebih lama dari kisahnya yang sebelumnya.
Membuka kontak telepon, ia mencari nomor Ibran dan menekan tombol call.
“Halo? Ada apa, Ren?” suaranya yang khas terdengar dari seberang.
“Ibran lagi ngapain? Aku nggangguin kamu ya?”
“Nggak kok, cuma lagi nulis-nulis. Kenapa emang? Kok jam segini belum tidur?”
“Iya. Si Mei bilang dia ngeliat kita tadi pas makan bareng.”
Diam sejenak. “Ibran?”
“Oh? Ah, terus si Mei ngomong apa lagi?”
“Cuma nanya dikit sih, terus aku bilang aja tadi kebetulan ketemu di situ.”
“Oo, sama siapa dia tadi? Andria?”
“Nggak. Katanya sama temen sekamarnya.”
“Ya udah. Iren tidur sekarang, ya? Udah hampir jam 11 ini, besok kuliah jam 8 kan?”
“Iya. Ibran juga. Sampe ketemu besok.”
...
Sambungan terputus.
Aku menghela nafas panjang dan meletakkan pensil yang dari tadi diapit oleh jemariku. Tiba-tiba saja aku kehilangan semangat untuk menyelesaikan soal Fisika di hadapanku.
Mei melihat kami.
Iren sudah beralasan kalau kami hanya kebetulan bertemu tadi, tapi hal itu tidak langsung membuatku tenang.
Aku tahu dia dan Iren dekat, begitu pula dengan Andria. Lalu bagaimana kalau Mei masih mempermasalahkan kejadian tadi dan menanyakannya lagi kepada Iren?
Entah mengapa aku tidak yakin kalau Iren akan merahasiakannya dari Mei. Mengingat mereka berdua cukup dekat dan seperti tipikal wanita pada umumnya, aku yakin mereka saling berbagi rahasia.
Kemudian pintu terbuka dan aku menoleh, mendapati Galih masuk dengan membawa seperangkat alat mandi. “Mandi gih, Bran. Jangan belajar mulu. Bau.”
Aku hanya mendengus. “Saya udah mandi ya, enak aja. Kamu tuh yang aneh, jam segini mandi. Nggak dari tadi juga,”
Tawanya terdengar nyaring di kesunyian malam. Bahkan kamar sebelah kami yang biasanya berisik pun tenggelam dalam kesunyian juga.
“Gerah, Bro. Lo nggak panas apa pake kaos panjang gitu?”
Aku menggelengkan kepalaku dan beranjak dari kursi untuk merebahkan diri di atas tempat tidur. Meninggalkan begitu saja bukuku yang masih terbuka lebar.
“Lo tadi ngabur kemana sih? Ditelpon nggak diangkat. Gue nungguin 3 jam di kamar Firman sampe lumutan, tau nggak?”
“Ya salah kamu sendiri. Pergi nggak bawa kunci.”
“Ah lo mah bisanya nyalahin gue. Namanya juga lupa,”
“Terus, saya gitu yang salah?”
Dari sudut mataku terlihat Galih sedang asyik dengan ipodnya, kedua telinganya tersumpal oleh earphone dan kepalanya mulai mengangguk-angguk mengikuti irama musik. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.

No comments:

Post a Comment