Monday, May 16, 2011

What If People Know (Chapter 5)

“Lo ngapain aja dari tadi? Udah hampir jam 8 nih, bisa telat kita.” gerutu Galih begitu melihat Ibran muncul dengan kedua tangannya sibuk mengancingkan kemeja. Kunci motor yang ia gigit terdengar bergemerincing nyaring.

“Kamu ngapain nunggu saya? Kenapa nggak berangkat duluan?”
“Hehe, kan kelasnya jauh, Bran. Lagian busnya penuh terus dari tadi. Males gue jadinya,”
Berdecak pelan, Ibran memasukkan kunci dan menyalakan mesin motornya. Tanpa menunggu lama mereka berdua pun melesat pergi.
Seperti yang sudah diduga sebelumnya, mereka terlambat. Beruntung hanya 7 menit dan dosen mata kuliah Fisika tersebut masih mengizinkan mereka untuk masuk.
Bergegaslah mereka berdua duduk di kursi yang masih kosong, yaitu di deretan belakang. Dan entah ini adalah sebuah keberuntungan atau tidak, Ibran duduk tepat di sebelah kanan Iren. Gadis itu hanya mengangkat kepalanya untuk menatap Ibran sekilas, kemudian kembali memperhatikan penjelasan dari dosen.
“Minggir Bran,” Ia menoleh ke arah kanannya dan badannya segera didorong ke belakang oleh Galih. “Ren, pinjem catatan yang kemaren dong?”
Ibran hanya memperhatikan saja bagaimana Iren menyodorkan bukunya dan Galih menerimanya dengan cengiran menghiasi wajahnya.
Ia tidak tahu kalau Galih cukup akrab dengan Iren.
Beberapa kali Galih dengan sengaja menyikut lengannya dan membuat tulisannya tercoret. Ia hanya melirik tajam ke arah Galih sementara pemuda itu lagi-lagi memamerkan cengirannya yang mulai terlihat menyebalkan bagi Ibran.
Merasa diperhatikan, Ibran menoleh ke arah Iren dan malah bertemu pandang dengan Mei yang langsung memalingkan mukanya kembali ke depan. Ia pun memusatkan lagi perhatiannya kepada dosen.
Kira-kira apa yang dipikirkan Mei tentangnya dan Iren?
Tak terasa seratus menit telah berlalu. Dosen Fisika tadi sudah keluar dari kelas dan membuat keadaan kembali ramai seperti biasanya. Mereka hanya harus menunggu 20 menit untuk menerima mata kuliah selanjutnya di ruangan yang sama.
“Ren, ikut seminar tentang arsitektur, yuk? Cuma Rp 20000 udah dapet snack sama makan siang. Lumayan banget, kan?”
Ia baru ingat kalau Galih dan Iren adalah satu jurusan.
“Kapan?”
“Minggu depan. Habis ini bareng aja ngambil tiketnya di koridor FMIPA. Lo mau ikutan juga nggak, Bran?” Galih menyikut lengannya.
“Nggak ah. Ngapain, saya kan bukan anak arsitektur.” katanya beralasan.
Galih menyikut lengannya lagi, kali ini lebih keras. Ibran sudah mencatat dalam hati untuk membalasnya dengan lebih kejam jika ia melakukannya sekali lagi. “Yee, nggak masalah juga kali, Bran! Si Wulan juga ikutan kok. Mau nggak?” godanya.
“Apaan sih? Nggak ah, saya-”
“Cieee...lagi-lagi bajunya samaan coba? Jodoh banget sih kalian ini?” Koor kacau kelas berkumandang kompak.
Tanpa menoleh ke sumber suara pun ia tahu siapa itu. Si tambun Risma dan gengnya yang berisik. Ia menoleh sekilas ke arah Wulan dan menghela nafas pendek begitu mengetahui kalau warna pakaian yang mereka kenakan sama, bahkan motifnya juga hampir serupa. Kotak-kotak merah marun bergaris hitam.
Mungkin ia harus berhenti memakai kemeja merah marun itu. Karena entah mengapa ia selalu memakainya berbarengan dengan Wulan.
“Eh, Mas Praditya duduknya pindah depan sini gih. Udah ditagin juga. Sini, sini!” Tyas melambaikan tangan dari kursinya di depan. Di sebelah kirinya yang kosong duduklah Wulan yang tidak mempedulikan paduan suara dadakan kelas dan masih asyik membaca bahan untuk kuliah selanjutnya.
Sekarang ia punya dua pilihan. Tetap duduk di tempat belakang di sebelah Iren atau pindah ke depan dan duduk di sebelah Wulan.
Ia bukan tipe mahasiswa yang senang duduk di belakang. Apalagi setelah ini ada mata kuliah Kalkulus yang jika ia tetap duduk di belakang begini dekat dengan jendela, ia pasti akan mengantuk.
Tapi pindah ke depan dan meninggalkan Iren untuk duduk di samping Wulan?
Mungkin ia akan melakukannya dengan senang hati dua hari yang lalu. Karena mulai sekarang ia akan merasa bersalah jika duduk di samping mahasiswi lain. Apalagi jika sebelumnya ia duduk di samping Iren seperti ini.
Dan ia baru menyadari bahwa ini adalah kali pertama ia duduk di samping gadis itu.
Namun tetap duduk di belakang juga bukan pilihan yang bijak. Ia takut Mei akan curiga, karena semua anak di kelas tahu ia paling tidak suka duduk di belakang.
Pasti Iren akan mengerti posisinya sekarang.
Ibran menyandang tasnya dan berpindah ke depan.

No comments:

Post a Comment