Saturday, May 21, 2011

What If People Know (Chapter 6)


Hari-hari berikutnya masih sama. Tidak ada komunikasi di antara mereka berdua saat berada di dalam kelas. Kalau sedang bosan atau mengantuk dengan penjelasan dosen, Ibran memberitahukannya lewat sebuah pesan singkat. Dan Iren hanya tersenyum.

Permainan ini sudah berjalan lebih dari seminggu dan mereka berdua dengan pintarnya menyembunyikan hal ini dari semua orang. Beruntung Mei tidak pernah menanyakan apa yang ia lihat, karena sepertinya gadis itu cukup puas dengan alasan ‘kebetulan’ yang diberikan Iren.
“Ibran, nanti bantuin bawa buku laporan anak-anak, ya? Banyak tuh.”
Pemuda itu menoleh, kemudian menganggukkan kepalanya dan kembali berkonsentrasi pada soal latihan yang tengah ia kerjakan.
Mereka berdua masih tinggal di laboratorium bersama dengan tiga asisten praktikum sementara anak-anak yang lain sudah kembali ke asrama masing-masing.
“Kalo ada yang nggak ngerti tanya aja ya, Bran?” Salah satu asisten praktikum berujar dari pojok ruangan tempat ia dan dua rekannya mengoreksi laporan.
“Iya.”
Minggu depan akan ada seleksi untuk Olimpiade Fisika, karena itu ia masih berada di sini dan mengerjakan soal latihan yang diberikan oleh asisten praktikumnya. Sementara Wulan menunggu semua laporan selesai dikoreksi karena ia yang bertanggung jawab untuk membagikannya besok.
Ia duduk di samping Ibran dan memperhatikannya mengerjakan soal dengan lancar.
“Kalo Ibran mah nggak usah belajar juga pasti terpilih jadi wakil universitas,”
Dia tidak menoleh, hanya tertawa kecil sambil jemarinya masih menari-nari di atas kertas. Pujian seperti itu bukan hal yang baru bagi seorang Ibran Aji Praditya.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Lampu-lampu jalan dan fakultas baru menyala. Sementara langit yang biasanya masih biru bersemburat oranye kini berwarna biru gelap. Mendung. Angin bertiup cukup kuat untuk dapat menggoyang-goyangkan dahan pepohonan.
Ibran dan Wulan berdua keluar dari laboratorium dengan membawa setumpuk buku laporan. Tapi tampaknya mereka harus tertahan di sana untuk sementara waktu karena hujan keburu turun dengan derasnya.
Mereka berdua diam, dengan irama hujan mengalun di antara sunyi. Kemudian dari arah jalan raya terlihat sosok Tyas tengah berlari kecil dengan buku yang ia coba jadikan sebagai pelindung kepala.
“Tyas? Dari mana? Kok hujan-hujanan?” Wulan bertanya dengan heran, sementara Ibran hanya mengangkat sebelah alisnya.
“Gue baru kumpul sama anak-anak tadi. Pas mau balik, eh tiba-tiba aja hujan. Mana nggak bawa payung. Basah kuyup gini deh,” ujarnya sambil mengelap wajahnya yang basah dengan tissu.
Beberapa saat kemudian dari arah datangnya Tyas tadi muncul seorang pemuda berpayung yang berjalan dengan tenangnya di antara hujan. Ketika sosoknya mulai dekat, Ibran mengenalinya sebagai Alan yang satu asrama dengannya.
“Kamu ngapain, Lan?”
Pemuda itu tersenyum malu. Ia kelihatan sedikit terkejut dengan keberadaan Ibran.
“Hehe, tau gitu gue bawa payung lebih tadi, Bran. Sorry, ye? Ayo Wul,”
Ibran melihat ke arah Wulan dengan heran. Gadis itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Duluan, ya?”
Dengan itu mereka berdua pergi melenggang di bawah naungan sebuah payung transparan, menembus hujan yang kian lebat.
“Waduh...ada yang patah hati, nih? Hiks-hiks..” goda Tyas sambil tersenyum usil.
“Apaan, sih? Tuh, Wulan udah punya cowok. Terbukti kan, saya nggak ada hubungan apa-apa sama dia?”
Gadis yang memakai kemeja merah terang itu tertawa. “Iya-iya, gue udah tahu dari lama kali! Seneng aja ngegodain Mas Praditya, mumpung masih single, hahaha!”
“Dasar!”
“Eh, dingin banget nih! Sini jaket lo gue pake, Bran! Tega banget sih sama cewek? Udah tau basah kuyup gini juga!” Tyas menarik-narik ujung jaket hitam yang Ibran pakai.
“Bentar, jangan ditarik-tarik! Saya lepas dulu,”
...
Gadis itu berjalan sendirian menyusuri koridor yang sepi. Sudah tidak terlihat tanda-tanda berlangsungya kegiatan belajar mengajar di sekitar sini. Tadinya ia pergi ke koridor FMIPA bersama dengan Galih, tapi kemudian pemuda itu ada urusan tiba-tiba dan mereka pun berpisah. Sialnya hujan turun dan ia tidak membawa payung.
Ia bertemu dengan Ibran dan Tyas di depan laboratorium Fisika. Mereka tengah  bersenda gurau saat ia datang ke tempat itu.
“Hai, Iren! Dari mana?” sapa Tyas.
“Koridor- FMIPA.” Iren tertegun melihat jaket yang dikenakan Tyas. Bukankah itu jaket Ibran? Lalu kenapa dipakai oleh Tyas?
Angin yang berhembus saat itu entah kenapa terasa begitu dingin menusuk tulang. Menit-menit yang tidak nyaman baginya.
Kemudian hujan mereda, berganti gerimis kecil.
“Anterin pulang ya, Bran? Takut masuk angin nih gue. Lo bawa motor, kan?”
“Manja banget sih. Bentar, kamu tunggu sini.” Ibran pergi.
Ia sedikit berharap pemuda itu akan menolak permintaan Tyas barusan dan mungkin- mengantarkannya pulang. Sedikit berharap pemuda itu membuka celah pada dunia luar tentang mereka.
Ponselnya bergetar, bertepatan dengan Ibran yang muncul dengan mengendarai motornya dan berhenti di depan mereka.
Tunggu bentar, ya? Nanti saya balik lagi.
“Iren, duluan, ya! Da-daah!”
Tanpa berkata apa-apa padanya, Ibran tancap gas dan pergi begitu saja. Membawa serta Tyas bersamanya, meninggalkannya sendiri, di antara hembusan angin yang terasa semakin dingin, dan langit yang semakin gelap.
Ia ingin percaya dan menuruti kata-kata Ibran, menunggunya kembali untuknya.
Iren mengeluarkan ponselnya dan menulis sebuah pesan balasan kepada Ibran.
Nggak usah. Saya bisa pulang sendiri.
Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari naungan atap laboratorium dan menyambut gerimis kecil yang turun membasahinya.
Aku berhak untuk merasakan perasaan ini, kan? Perasaan yang membuat angin tidak lagi terasa dingin, yang membuat hujan seperti begitu mengerti aku, yang membuatku ingin sekali meneriakkan namamu di antara simfoni alam yang sunyi.
Kedua matanya terasa panas. Iren melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan punggung tangannya.
Ketika ia menarik tangannya-
Hujan. Tangannya yang gemetar basah oleh air hujan.
Seulas senyum pahit menghiasi bibirnya. Kembali ia melangkahkan kaki di antara hujan yang bersahabat dengannya kali ini.
I love walking in the rain, because no one knows- I’m crying.

No comments:

Post a Comment