Wednesday, June 22, 2011

Bento - a Blue Exorcist/青の祓魔師 fanfiction

Little Yukio. Drabble, crack, monolog?
Ia tidak tahu ada hal lain yang bisa dilakukan kakaknya selain berkelahi.
Ia tidak tahu ada hal lain yang bisa dilakukan kakaknya selain berkelahi. Karena sepertinya hanya berkelahi saja yang bisa Rin lakukan dengan baik. Seperti sebuah talenta sejak lahir. Karena ia tidak pernah melihat kakaknya itu melakukan hal lain selain memukuli anak-anak yang selalu menjahilinya.
Bagaimana mungkin anak seperti dia bisa melakukan yang sehebat ini?
Bagaimana bisa seorang pembuat onar seperti Rin yang melayangkan tinju tanpa ampun dapat membuat sesuatu yang berwarna dan lucu seperti apa yang sekarang ada di pangkuannya yang sejak tadi ia pandangi dengan takjub?
Apa anak itu benar-benar punya sisi misterius yang belum ia ketahui?
Yang duduk dengan manis di pangkuannya saat ini adalah sebuah kotak makan persegi panjang ukuran sedang warna biru biasa. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan benda itu. Namun isinyalah yang membuatnya bernilai lebih.
Empat potong sosis yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai gurita merah kecoklatan tampak bahagia bersarang di antara rimbun hijau daun selada yang terlihat segar. Di sisi lain yang tidak dikuasai gerombolan gurita itu terdapat telur dadar gulung dengan warna kuning emas yang telah dipotong membentuk lingkaran-lingkaran tipis. Daun seledri yang dipotong-potong halus bertaburan di atas nasi putih yang telah dipadatkan dan sebuah tomat kecil dibenamkan di tengah-tengah bekal menjadi pusat.
Yukio masih terlalu takjub dan tidak sadar mulutnya menganga, hingga air liurnya hampir menetes. Segera ia mengusap bagian bawah bibirnya menggunakan punggung tangan dan menelan ludah.
Entah mengapa hal sesederhana ini terlihat begitu menggunggah selera baginya.
Ia mengambil sumpit dan menjepitnya di antara jemarinya yang kecil-kecil, dengan hati-hati mencomot sepotong sosis dan memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya perlahan.
Sepasang matanya berbinar pada detik ketiga. Enak.
Kemudian ia mencoba telur dadar gulung yang mengingatkannya pada gulungan lipan, hanya terlihat lebih enak tentu saja. Dan ternyata memang benar. Enak.
Dengan semangat ia pun menghabiskan bekalnya tanpa menyisakan sebutir nasi pun.
Sekarang ia sudah kenyang dan senyuman terukir menghiasi wajah berpipi chubby itu.
Besok-besok ia akan meminta kakaknya untuk membuatkannya bekal lain yang tidak kalah enaknya dengan hari ini.
Karena ia baru tahu ada hal lain yang bisa dilakukan oleh Rin dengan baik selain berkelahi.
OWARI

No comments:

Post a Comment