Wednesday, June 22, 2011

Sacrifice (Chapter 2) - a Durarara!!/デュラララ!! fanfiction

It would be wise that I warn you first, this would be inconvenience for minors. For you who don't get the meaning of shounen ai, it's a boyxboy thing. Just so you know what to do. Back off if you don't really into that thing, because it would just cause you trouble.
In any case you stubborn, this is PG13, suggestive mature content and I would like to say for some other people, it might be too much and will be rated as mature.
I know it might be inappropriate for me to publish these kind of things here, but somehow I have to. It would not be good for me to post link, because I don't want this blog to be link-full.
I've warned you, you might as well back off if you really don't know about shounen ai thing.
And now with the story-
Aku bangun dengan seluruh badanku sakit. Terutama bagian- ah, aku bahkan tidak mau mengingatnya.
Sinar matahari pagi yang hangat menyelusup masuk melalui jendela kamar yang tirainya telah terikat dengan rapi di ujung. Aku mengerjapkan sepasang mataku yang masih terasa begitu berat. Jam berapa sekarang?
Mengedarkan pandangan, aku tidak menemukan sosok Izaya di dalam kamar bernuansa putih ini.
Kemudian pintu terbuka dan orang yang kucari ada di sana, berdiri dengan tangan terlipat dan tubuhnya menyandar ke daun pintu.
“Ne Masaomi-chan, kau sudah bangun rupanya.”
Aku mengalihkan perhatianku ke selimut putih tebal yang menutupi tubuhku, mencengkeramnya dengan erat ketika Izaya mendekat dan mencodongkan badannya ke arahku.
“Ohayou.” Dia berbisik lirih di telingaku. Seperti desau angin menerbangkan benih-benih dandelion yang seakan-akan menggores leherku perlahan. Membuatku bergidik.
Tidak cukup sampai di situ sapaan selamat paginya. Karena yang selanjutnya ia lakukan adalah memegangi tengkukku dan menyegel bibirku dengan bibirnya. Oh, bukankah aku baru saja bangun pagi ini?
Aku berusaha melepaskan diri darinya dengan mendorongnya menjauh dariku. Namun usaha yang kulakukan sia-sia saja. Izaya malah makin memperdalam ciumannya dan membuatku sesak. Bisa kurasakan seringainya yang menyebalkan itu saat ia menyadari bahwa ia –lagi-lagi- berhasil mencuri oksigenku.
Begitu ia menarik diri, aku mengambil nafas dalam-dalam seperti minum air. Informan itu hanya memperhatikanku dengan kesenangan tersendiri.
Belum puas aku mengisi paru-paruku, Izaya kembali memegangi tengkukku dan memaksa untuk menciumku lagi. Kali ini ia melakukannya lebih kasar dan menggigit bibir bawahku perlahan, membuatku mengerang dengan suara yang tidak ingin kuakui sebagai suaraku sendiri. Ia bahkan menarik rambutku dengan kasar dan mencuri kesempatan untuk menjelajahi rongga mulutku dengan lidahnya. Membuat air liur kami bercampur.
Rasa kopi yang manis dan pekat tertangkap oleh indra pengecapku.
Meskipun aku memukul-mukul dada bidangnya, usaha yang kulakukan seperti tidak memberi pengaruh apapun padanya. Seharusnya aku menyerah saja sejak awal. Karena aku tahu, aku tidak mungkin sanggup melawannya.
Izaya menarik diri dengan seringai masih menghiasi wajahnya, meninggalkanku terengah-engah berusaha mengumpulkan nafas.
“Mandi dan bersihkan dirimu, Masaomi. Aku akan mengantarmu ke sekolah.”
Dengan itu dia pergi. Langkah bak aristokrat yang selalu berhasil membuatku merasa tidak berarti sama sekali.
...
Ia mempersilahkanku duduk di kursi penumpang depan dengan selembar roti yang masih hangat dari toaster. Tidak hanya itu, dia membuatku membawa sebuah kotak makan di dalam tasku yang entah apa isinya aku tidak tahu. Izaya juga memaksaku membawa sebotol minuman berisi cairan berwarna mandarin yang kuasumsikan sebagai jus jeruk. Bukan tidak mungkin ia menaburkan racun di keduanya. Siapa yang tahu apa yang akan informa itu lakukan?
“Habiskan bekalmu dan kita bertemu lagi nanti saat jam pulang sekolah, ne? Jangan coba-coba untuk kabur seperti kemarin-kemarin, Kida-kun. Kau tahu kau tidak akan bisa lari dariku.” Dia mengatakannya dengan begitu mudah seperti membaca buku, sambil menyalakan mesin mobilnya.
Tidak sedikitpun aku merasa nyaman selama perjalanan kami menuju sekolah. Aku hanya memandang keluar jendela dan berharap tidak akan berpapasan dengan Mikado di gerbang sekolah. Atau semuanya akan kacau.
“Bagaimana kalau kita makan malam di restoran seafood yang kutunjukkan padamu beberapa hari yang lalu, Kida-kun? Kau suka?”
Izaya mengatakannya seakan-akan aku bisa memilih saja. Kenyataannya dia akan melakukan apapun yang dia suka tidak peduli aku suka tau tidak suka, setuju atau tidak setuju.
“Aku bertanya padamu, Masaomi.”
Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, ia menarik daguku dengan sedikit kasar. Kemudian sekilas memandangku dengan sorot matanya yang tajam dan berbahaya.
“I-iya.”
“Bagus-bagus. Sudah kuduga kau menyukai tempat itu.”
Segera ia melepaskan cengkeramannya dan menepuk-nepuk puncak kepalaku seperti aku ini anaknya yang penurut atau apa.
Gedung sekolahku sudah terlihat di depan mata dan jantungku berdegup semakin cepat mengingat kemungkinan bertemu Mikado di sana. Bagaimana jika dia melihatku keluar dari mobil dengan Izaya yang mengemudikannya? Apa yang akan dia pikirkan tentangku? Bagaimana kalau Anri juga melihatku?
Aku terlalu disibukkan oleh bermacam ‘bagaimana’ yang terlintas di otakku hingga tidak menyadari kami sudah berhenti tepat di depan gerbang Raira Academy.
“Ne, kita sudah sampai, Kida-kun. Atau kau begitu tidak ingin berpisah denganku, hmm?”
Aku tersentak kaget dan segera membuka pintu untuk melompat keluar, lalu menutupnya kembali.
“Sampai jumpa nanti, Kida-kun.” Izaya melambaikan tangannya dari dalam mobil dengan gaya kekanak-kanakan yang membuatku mual.
Begitu membalikkan badanku, aku dibuat kaget lagi karena Mikado berdiri tepat di belakangku. Anri berada tidak jauh darinya.
“Sepertinya akhir-akhir ini kau sering diantarkan ke sekolah, Masaomi?”
“Ah, i-iya. Ayahku sedang tidak begitu sibuk.” Aku memaksakan cengiran lebar menghiasi mukaku yang sedikit memucat.
“Oh. Terakhir kali kulihat, yang kuingat mobil ayahmu bercat hitam.”
Aku tertawa kecil dan mengibas-kibaskan tanganku. “Ahahaha, aku bahkan tidak ingat warna catnya, Mikado!”

No comments:

Post a Comment