Wednesday, June 22, 2011

Sacrifice (Chapter 3) - a Durarara!!/デュラララ!! fanfiction

It would be wise that I warn you first, this would be inconvenience for minors. For you who don't get the meaning of shounen ai, it's a boyxboy thing. Just so you know what to do. Back off if you don't really into that thing, because it would just cause you trouble.
In any case you stubborn, this is PG13, suggestive mature content and I would like to say for some other people, it might be too much and will be rated as mature.
I know it might be inappropriate for me to publish these kind of things here, but somehow I have to. It would not be good for me to post link, because I don't want this blog to be link-full.
I've warned you, you might as well back off if you really don't know about shounen ai thing.
And now with the story-

Waktu berlalu begitu cepat di sekolah. Atau mungkin hanya karena aku yang tidak memperhatikan sama sekali apa pun yang diterangkan oleh sensei dari tadi.
Pikiranku tidak ada di sini.
“Masaomi!” Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang, mendapati Mikado berlari kecil ke arahku. Di belakangnya mengekor Anri.
Secara refleks aku memamerkan cengiranku.
“Kau terlihat sedang terburu-buru, Masaomi?”
“Oh, seorang temanku membutuhkan bantuanku sekarang. Mana bisa aku membiarkannya begitu saja, Mikado? Kalau kalian mengizinkan, aku harus pergi untuk menolongnya sekarang. Ja ne!”
Dengan itu aku meneruskan langkahku, berlari kecil meninggalkan mereka berdua yang hanya bisa memandangiku dengan heran.
Setidaknya aku tidak bohong soal teman yang membutuhkanku, Mikado.
Karena memang ada seorang yang membutuhkan kehadiranku saat ini, menurutku.
...
Aku berdiri tepat di depan pintu kamar bernomor 201 yang sering kukunjungi akhir-akhir ini. Entah kenapa kali ini aku merasa ragu, tanganku hanya memegang handle pintu tanpa berani memutarnya.
“Masaomi?”
Aku tersentak.
“Masaomi kaukah itu?”
Saki. Dia tahu aku ada di sini?
Pintu terbuka pelan. Senyum manis Saki menyambutku.
Gadis itu tengah duduk dengan sinar matahari sore di belakangnya, membuatnya terlihat seperti malaikat dengan sayap-sayap emas.
“Ternyata benar itu kau, Masaomi.”
Aku hanya tersenyum. Mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur, berhadapan dengannya.
“Izaya-san baru pergi sekitar 30 menit yang lalu. Dia bilang kau akan datang ke sini. Dan benar apa yang ia katakan,”
Izaya. Mengapa kau begitu mempercayai orang itu? Apakah benar dia tidak pernah salah dengan ucapan-ucapannya seperti katamu?
“Aku benar-benar berhutang padamu, Masaomi. Izaya-san bilang kau yang menanggung semua biaya perawatanku. Aku jadi merasa tidak enak,”
Sepasang mata onyxmu selalu memancarkan kehangatan. Tidak pernah tidak.
Sesuatu yang selalu membuatku kembali lagi padanya, tak peduli seberapa besar keinginanku untuk terlepas dari semua itu. Rasa bersalah yang mengikatku kepadamu, Saki.
“Ah, itu bukan apa-apa.”
Aku mengalihkan perhatianku ke luar jendela. Ikebukuro yang disirami oleh sinar keemasan matahari sore.
“Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih padamu, Masaomi.” Kau menggenggam tanganku dengan tanganmu yang hangat.
Semua tentangmu selalu hangat dan bersahabat. Semua tentangmu...semakin membuatku tidak bisa melepasmu.
“Tapi...ada yang ingin kutanyakan, Masaomi. Err...darimana kau mendapatkan uang untuk membayar perawatanku?”
Aku terdiam.
Bukan itu yang ingin kudengar dari mulutmu, Saki. Bukan pertanyaan yang akan mengingatkanku pada hal itu.
...
“Kaki kirinya patah. Apa yang akan kau lakukan, ne Masaomi?”
Aku hanya memandangi tubuhnya yang terbaring lemah di atas tempat tidur dengan tidak percaya. Apa yang sudah kulakukan pada Saki?
“Hmm...kalau administrasinya tidak dilunasi, dokter bilang perawatannya tidak bisa diteruskan. Tentunya kau tidak mau hal itu terjadi, kan?” Izaya berbisik di telingaku. Dengan suara rendah yang berbisa. Yang membuatku tidak bisa berpikir jernih, tidak di saat yang begitu kacau seperti ini.
“A-apa yang harus kulakukan?”
Kedua orang tuanya tidak tinggal di kota ini. Tidak mungkin aku menghubungi mereka dan memberitahukan tentang Saki, karena ini semua salahku. Salahku yang tidak bisa menyelamatkannya. Salahku yang membautnya menderita seperti ini!
Kedua tangannya yang menari-nari di atas pundakku mendarat dengan mulus untuk mencengkeramku.
“Aku bisa membantumu, Masaomi.”
Tanpa perlu melihatnya langsung pun aku sudah tahu, ada seringai setan yang menghiasi wajahnya.
Dan sejak saat itu, aku terikat kontrak dengan setan itu. Perjanjian yang hanya kami saja yang mengetahuinya. Cukup kami saja yang tahu.
...
“Kau tidak menghabiskan makananmu, Kida-kun.”
Aku mengangkat kepalaku untuk bertemu dengan orbs merah yang berkilauan itu.
“Oke, aku minta maaf kita tidak jadi makan seafood. Tapi bukan berarti kau boleh marah dan tidak menghabiskan makananmu, Kida-kun.”
Ini akan jadi malam kesekian yang kuhabiskan di apartemennya. Entahlah ini yang keberapa, aku sudah tidak menghitungnya lagi. Dan aku mulai lupa bagaimana rasanya tidur di kamarku sendiri yang tidak begitu luas.
Kamarku yang nyaman.
“Aku-...sudah kenyang.”
Izaya mendengus dan meneruskan makannya. “Bohong. Kau bahkan belum makan setengahnya.”
Pasta di depanku, entah mengapa tidak terlihat menarik.
Aku tidak ingin menghabiskannya karena aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Dan aku tidak menginginkannya.
“Kau boleh tidur awal kali ini, Masaomi. Sayang sekali aku sedang banyak pekerjaan dan tidak bisa menemanimu bermain-main. Tidak apa-apa, kan?”
Kau bercanda, Izaya?
Bebanku terasa sedikit berkurang. Setidaknya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Mungkin.

No comments:

Post a Comment