Friday, September 2, 2011

Author: seorang perangkai kata


Jika ditanya apa cita-citamu? Mungkin saya adalah orang yang paling tidak bisa menjawabnya. Selama sembilan belas tahun hidup ini, saya mengalami banyak sekali perubahan dan keinginan. Dulu sewaktu duduk di bangku sekolah dasar jawabannya sudah jelas. Saya katakan tanpa ragu, dokter! Memasuki bangku SMP saya masih menggantungkan cita-cita itu dengan judul dokter. Atau mungkin ada judul lain, hanya saja saya lupa.

Duduk di bangku SMA, rasa-rasanya angin berhembus semakin kencang. Nilai-nilai penyokong saya goyah. IPA saya tidak bisa diharapkan. Bagaimana mungkin seorang dokter hebat berasal dari orang yang rutin mengikuti remidi IPA? Lagipula kenyataan berkata lain, fakultas kedokteran membutuhkan biaya selangit yang sama saja artinya dengan bunuh diri. Dengan uang sebanyak itu dan nilai seminim itu, saya tidak akan mampu.

Masa-masa kejayaan akademik saya saat SMP sudah usai. Kertas cita-cita berlabel 'dokter' pun tertiup angin, terbang jauh ke negeri tak bernama.

Ada pilihan yang cukup menggelitik minat saya. Arsitek.

Ya. Saya melewati masa SMA dengan impian itu. Saya ingin menjadi seorang arsitek. Saya bisa menggambar. Saya pikir saya mampu menangani rumusan rancangan bangunan. Saya ingin merancang rumah masa depan saya sendiri.

Selain itu ada hal lain yang juga menarik minat saya. Penulis.

Menulis. Sesuatu yang sudah saya lakukan sejak kecil. Pelajaran Bahasa Indonesia setelah libur sekolah adalah sesuatu yang selalu saya tunggu-tunggu saat SD. Menulis pengalaman liburan yang menyenangkan. Saat itu saya menulis rekaan saja. Tidak mungkin saya menuliskan bahwa liburan saya habiskan di rumah saja, bermalas-malasan. Menuliskan apa yang ada di dalam pikiran saya, bukan apa yang saya alami. Dari situ saya mengembangkan daya imajinasi saya. Memikirkan tentang cerita apa yang kira-kira dapat menarik minat pembaca.

Hal yang begitu dekat dengan saya.
Saya bisa duduk berjam-jam di depan komputer hanya untuk mengetik sebuah cerita. Biasanya saya melakukannya secara spontan. Begitu mendapatkan giliran untuk menggunakan komputer, saya membuka Microsoft Word dan diam sejenak. Memikirkan tentang apa yang ingin saya tulis. Atau meneruskan ketikan saya yang sebelumnya.

Karena itu saya sangat memperhatikan pelajaran mengetik sepuluh jari di SMP. Semata-mata karena terkadang otak saya bekerja lebih cepat daripada tangan saya. Menulis di atas kertas tidak lagi menyenangkan bagi saya.

Penulis, seorang perangkai kata.
Tapi saya bukan sekedar penulis. Saya juga pengarang, seorang perangkai imajinasi.

Bahasa Indonesia adalah pelajaran favorit saya, meskipun saya tidak pernah mengakuinya secara terang-terangan seperti saat menjawab pertanyaan apa mata pelajaran favoritmu. Saya mengaguminya diam-diam. Ada keinginan untuk memperdalamnya. Menyelami lebih dalam tentang kesusastraan yang begitu memikat. Tapi orang yang menuruni saya bakat-bakat menulis ini tidak mengizinkan saya bergelut lebih jauh. Ayah, beliau selalu mengatakan bahwa bahasa bukan sesuatu yang perlu dipelajari secara khusus. Oke, saya menurut.

Kadang saya menyesal karena menuruti kata-kata beliau. Saya ingin tahu lebih jauh tentang seni menulis indah. Tapi saya juga berpikir, alangkah sempitnya dunia saya kalau berkutat di sana. Saya pikir saya tetap bisa menjadi seorang penulis meskipun bukan lulusan sastra. Saya tetap harus menjadi arsitek.

Ada apa dengan arsitek?
Seni menggambar. Saya suka.

Tapi ada hal-hal besar yang membuat saya mengubur impian saya dalam-dalam. Akademik masih jadi masalah. Tidak hanya diperlukan kemampuan menggambar, tapi IPA juga berpengaruh. Hitungannya rumit. Saya pikir kalau saya melakukan sesuatu yang saya sukai, saya akan berusaha dengan keras untuk dapat melakukannya. Tapi mungkin itu bukan jalan saya.

Kertas berlabel 'arsitek' juga terbang tertiup angin. Ke negeri yang jauh tak bernama.

Sekarang saya di sini, di tempat saya menimba ilmu yang tidak pernah saya bayangkan dulu. Keuntungannya mungkin saya dapat memperluas bidang ilmu saya. Tidak melulu dunia gambar dan tulis. Tapi saya masih tetap menulis. Saya masih tetap ingin menjadi seorang penulis.

Penulis tidak sebagai pekerjaan utama; karena menulis adalah hobi.

Saya juga sedang mencoba untuk tetap menggambar. Mungkin saya tidak bisa merancang rumah saya sendiri. Setidaknya saya menggambar apa yang saya mau. Suatu hari nanti saya akan membuat runtutan cerita mini bergambar yang disebut sebagai komik. Saya ingin melakukannya sendiri. Sebagai scriptwriter dan artist.

Untuk saat ini saya akan merangkai kata dulu, sementara saya belajar menggoreskan pensil dengan baik di sela-sela kesibukan saya sebagai mahasiswa.

Dan cita-cita menjadi sesuatu yang semakin absurd bagi saya.
Tidak mungkin lagi jika ditanya 'apa cita-citamu?' saya menjawab dokter. Saya selalu menjawab, belum tahu. Saya memang tengah dilanda kegalauan tentang akan jadi apa saya nanti. Justru saat semua sudah terarah dengan baik saya tidak dapat menjawab dengan pasti.

Resiko bukan pilihan hati.

Tapi tekad itu masih tetap. Saya ingin menjadi seorang penulis, seorang perangkai kata.

No comments:

Post a Comment