Monday, November 28, 2011

What If People Know (Chapter 7)


Ibran memandangi layar ponselnya dengan kening berkerut.
Nggak usah. Saya bisa pulang sendiri.
Apakah sikapnya tadi keterlaluan?
Padahal hujan turun lagi dan ia tidak menemukan gadis itu di depan laboratorium. Ia juga tidak berpapasan dengannya di jalan yang membawanya menuju ke asrama.
Apakah ia sengaja lewat jalan yang berbeda dari biasanya?
Ibran mengambil handuk kering dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan tangan kiri, tangan kanannya sibuk mencari nama Iren dalam kontaknya. Call.
Psychedelic Parade terdengar memecah kesunyian malam. Ponsel yang terletak tidak jauh darinya bergetar. Dengan enggan ia mengulurkan tangannya untuk meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menelponnya.
Ibran.
Iren meletakkan ponselnya ke atas meja dan menutupkan bantal ke kepalanya. Saat itu Maya masuk ke dalam dan heran dengan tingkah teman sekamarnya yang sejak pulang kehujanan tadi terlihat tidak senang.
“Ada telpon tuh. Si Ibran.” Gadis itu melongok layar ponsel di atas meja .
“Bilangin kalo aku udah tidur. Berisik banget tuh hape,” Suara Iren terdengar teredam oleh bantal yang menutupi mukanya.
Maya hanya mengangkat bahu dan mengangkat telpon dari teman Iren yang bernama Ibran itu. “Halo? Oh, Irennya udah tidur. Tadi kehujanan dia, abis mandi langsung tidur.”
“Iya. Kayaknya kecapekan deh, kasihan dia.”
Iren segera bangkit dari posisi tidurnya dan memelototi Maya. “Tutup, tutup!” bisiknya.
“Iya deh. Oke, wa’alaikumsalam.” Sambungan terputus.
“Kok kamu malah ngobrol sama dia? Pake acara curhat segala,”
“Kamu kenapa sih? Ada masalah? Cerita aja, jangan di pendam sendiri.” Maya duduk di ujung tempat tidur. “Si Ibran itu siapa? Cowok yang naksir kamu? Jangan-jangan dia tukang ojek gratisan yang waktu itu lagi?”
Iren menghela nafas panjang dan membenarkan kuncir rambutnya.
Mungkin tidak apa-apa kalau dia menceritakannya kepada Maya, toh tidak akan ada yang berubah kalau gadis itu tahu. Lagipula, bagaimanapun juga Maya adalah teman sekamarnya. Ia pasti bisa mengerti.
“Lagi backstreetan sama si Ibran. Tapi nyebelin,”
Raut muka Maya tidak berubah banyak. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi dengan teman sekamarnya dan hal itu ada hubungannya dengan tukang ojek gratisan yang akhir-akhir ini sering mengantarnya pulang. Ia tidak ingin fudul dan menanyakannya langsung, hanya menunggu saat gadis itu membuka mulutnya sendiri.
Setiap orang berhak punya privasi dan berhak punya rahasia.
“Terus nggak ada yang tahu selain kalian, sama aku sekarang?”
Iren menganggukkan kepalanya perlahan.
“Kenapa kamu mau di ajak backstreetan? Kan resikonya emang gitu. Nyebelin setengah mati karena nggak ada yang tahu. Iya, kan?”
Lagi-lagi gadis itu menganggukkan kepalanya.
I wonder myself. Padahal tadinya biasa aja, tapi sekarang- nyebelin deh.”
Be patient aja. Pasti ada alasan yang kuat kenapa dia pengen kalian backtreet. Nanti juga ada saatnya semua bakal kebuka. Cheer up!
Tapi tidak mudah menjalani ini semua. Tidak mudah bagi gadis seperti dirinya untuk tersenyum seakan tidak ada yang terjadi. Rasanya ia sudah bosan dengan semua sandiwara dan permainan ini.
Bosan melihat bagaimana Ibran menganggapnya seakan tidak ada.
...
“Kemarin kamu ke mana? Saya cari-cari nggak ada,”
“Pulang.”
“Kenapa nggak nungguin saya?”
“Kasihan kamunya, nanti bolak-ba- hatchii!”
Ibran hendak mengelus pundak Iren, Tangannya hanya tinggal beberapa sentimeter saja dari menyentuhnya. Tapi ia mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya.
“Kamu hujan-hujanan, ya?”
Iren mengangkat kepalanya dan bertemu dengan sepasang bola mata hitam kecoklatan yang memancarkan kekhawatiran itu, yang membuatnya mengerutkan alisnya.
Apa kau benar-benar mengkhawatirkan aku?
“Udah lama nggak hujan-hujanan. Kangen.” Tersenyum kecil, kemudian bersin lagi. Ia terserang flu pagi tadi, bangun dengan hidung mampet dan kepala sedikit pusing.
Menghela nafas, Ibran merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan. Ia mengusap hidung Iren yang memerah. Gadis itu secara refleks memundurkan badannya untuk menghindar, tapi kemudian ia mengambil alih sapu tangan itu dari Ibran.
“Jadi sakit, kan? Udah minum obat belum?”
“Udah kok.”
Kecanggungan yang mulai terkikis di antara mereka kini merebak kembali.
Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya, ia bahkan tidak tahu apa pun tentang gadis yang menyandang gelar rahasia sebagai salah satu wanita penting dalam hidupnya.
Kalau saja diadakan ujian tertulis yang materinya adalah tentang Iren, ia yakin bahkan nilai B pun tidak dapat ia raih.

No comments:

Post a Comment