Tuesday, December 27, 2011

My Drama Project

Lagi muter-muter di folder lama yang udah lama ngga dibuka, folder SMA yang dicopy dari komputer di rumah. Eh, nemu naskah drama Bahasa Indonesia ini. Waktu itu tanggal 23 Maret 2009, kelas 2 SMA tuh, awal-awal make kerudung *Alhamdulillah* And here's the starring~!
- Mirna Verawati as Inem
- Syahra S Fatimah as Ny. Preti
- Wulan Fitri Avriani as Lili
- Me as Lulu
- Indriana as Inah
- Nurma Yuliani as Desi
We are XI IPA 1 of SMA N 1 Weleri :)

...
Inem Pembantu Gokil

Adegan 1
Pada suatu siang yang panas, Ny. Preti sedang bersih-bersih rumah ketika Lili pulang dari sekolah
Ny. Preti          Li, cepat ganti baju dan bantu Mami bersih-bersih! (menyapu)
Lili                   Iya, Mi. (masuk ke dalam rumah sambil menggerutu)
Beberapa saat kemudian Lili keluar dari dalam rumah sambil membawa kemoceng dan membantu Maminya bersih-bersih
Lili                   (membuang kemoceng) Ah, capek aku Mi! Masa’ aku terus yang kerja?! Si Lulu tuh! Kerjaanya main terus, tidak pernah disuruh-suruh! (beralasan)
Lulu                 (tiba-tiba keluar dari dalam rumah) Enak saja! Memangnya aku pembantu?!
Lili                   Dasar anak manja! (mengambil kembali kemoceng yang tadi dibuangnya dan mengacungkannya ke arah Lulu)
Ny. Preti          Eh, sudah-sudah! Li, adik kamu itu kan masih kecil, kasihan dia. Kamu mengalah dong, kamu kan kakaknya! (maju dan melerai kedua putrinya)
Lulu                 (menjulurkan lidah pada Lili, merasa senang karena dibela)
Lili                   Awas kamu, ya?! (mengacungkan tinju dengan kesal)
Terdengar pintu gerbang diketuk, Ny. Preti membukakan pintu. Lili yang penasaran mengikutinya
Inem                Maaf, Bu, apa di sini ada lowongan pekerjaan? Mungkin saya bisa bantu-bantu Ibu. Begini-begini saya ini pintar masak lho, Bu! Saya juga bisa bersih-bersih rumah. (sedikit menyombong)
Lili                   Terima saja, Mi! Kebetulan kan? (memainkan alisnya dengan jenaka)
Ny. Preti          (terlihat sedikit berpikir)
                        Itu anak kamu? (menunjuk seorang gadis yang berdiri di belakang Inem)
Inem                (merangkul pundak gadis tadi) Oh, iya Bu, ini Inah. Yah, nanti dia kan bisa bantu-bantu juga.
Ina                   (tersenyum sopan dan sedikit membungkukkan badan) Iya, Bu. Saya bisa bantu-bantu juga, kok.
Ny. Preti          (menghela nafas) Baiklah, kamu dan anak kamu saya terima kerja di sini.

Inem                (terlihat gembira, tersenyum senang)
                        Wah, terima kasih banyak, Bu. (menyalami tangan Ny. Preti dan Lili secara bergantian dengan semangat)
Adegan 2
Ny. Preti berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan tidak sabar dan terlihat kesal.
Ny. Preti          Inem~!! Mana tehnya?! (berjalan dengan kesal)
Inem                (memasuki ruang tengah dengan tergesa-gesa sambil membawa secangkir teh)
                        Iya, Nyah, sabar. Ini tehnya. (menyodorkan cangkir kepada Ny. Preti dengan sopan)
Ny. Preti          (menerima cangkir dengan kasar) Kamu ini membuat teh kok lama sekali! Memangnya kamu memetik tehnya dulu di puncak, ya?!
                        (meminum teh kemudian menyemburkannya)
Ny. Preti          Puah~!! Apa ini?! Teh kok rasanya asin?! Kamu masukkan apa ke dalamnya?! Masa’ membedakan gula sama garam saja tidak bisa?!
                        (mengembalikan cangkir tadi kepada Inem dengan kasar)
Inem                (menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan tampang tidak bersalah sedikit pun) Gulanya habis, Nyah. Jadi saya pakai garam. Kan sama saja ta?
Ny. Preti          (berkacak pinggang kesal)
                        Dasar kamu ini! Ya sudah, cepat beli gula sana! (dengan nada mengusir)
Inem                Iya, Nyah. (segera pergi menyingkir)
Lili yang baru pulang sekolah memasuki ruang tengah.
Lili                   Mana si Inem, Mi? Suruh dia buatkan minum! Haus, nih! (kipas-kipas)
Ny. Preti          Si Inem sedang beli gula. Suruh si Ina saja. (masuk ke dalam, meninggalkan Lili)
Lili                   (duduk di sofa dan melepas sepatu, melemparnya ke sembarang arah)
                        Ina~!!
Ina                   (berlari kecil memasuki ruang tengah, membungkukkan badannya dengan sopan di depan Lili) Iya, Mbak?
Lili                   Cepat buatkan es teh! Aku haus, nih! (melepas kaos kaki dan melemparnya ke sembarang arah juga)
Ina                   Maaf, Mbak, tapi gulanya habis. Teh pahit mau? (dengan nada takut-takut)

Lili                   (menegakkan badannya secara refleks, kedua alisnya bertautan, terlihat kesal)
                        Hah?! Teh pahit?! Memangnya kamu pikir aku ini kuli?! Sirup saja, cepat sana!
Ina                   (mengerjapkan mata terkejut mendengar teriakan Lili barusan)
                        I-iya, Mbak. (segera melesat ke dapur)
Sementara itu, Inem berjalan keluar dari supermarket sambil membawa belanjaan.
Inem                Nyonya itu hobinya marah-marah, memangnya aku salah apa sih? (menghela nafas)
Seorang wanita yang mengenakan pakaian yang tampak sederhana menghampiri Inem yang tengah
berjalan dengan langkah gontai.
Desi                 (menghadang Inem)
                        Eh-eh, kamu itu pembantu barunya Bu Preti, kan? (dengan nada sok kenal)
Inem                Iya. Mbak ini pembantu tetangga sebelah ta? (menunjuk ke arah Desi)
Desi                 Kamu kok betah sih kerja sama Bu Preti? Sudah orangnya gendut, galak, pelit lagi! Apalagi anak-anaknya itu, lho! Malas-malas semua! Satu keluarga kok tidak ada yang beres! (sewot sendiri)
Inem                (mengibaskan tangannya pelan)
                        Ah, Mbak ini. Ndak baik ngomongin orang, dosa. (sok  menggurui)
Desi                 (balas mengibaskan tangan, tapi lebih kasar)
                        Memang kenyataannya begitu, kok! Dari dulu itu, tidak ada yang betah kerja sama Bu Preti! (dengan tampang sok serius)
Inem                (kelihatan tidak percaya) Masa’ sih, Mbakyu?
Desi                 (berkata dengan nada sedikit kesal)
                        Iya, dibilangin tidak percaya! Lebih baik kamu keluar saja, cari majikan lain. Daripada kamu sama anak kamu mati kelaparan? (berusaha menakut-nakuti)
Inem                (mengangguk-anggukkan kepala sok mengerti) Begitu ya, Mbakyu?
Desi                 (menganggukkan kepala dengan mantap, senang karena berhasil mempengaruhi Inem) Iya!
Tiba-tiba saja Lulu sudah ada di dekat mereka berdua
Lulu                 Eeh, kamu ini, Nem! Bukannya belanja malah ngegosip! Pulang sana! Aku adukan ke Mami, lho! (berkacak pinggang dan berkata dengan galak)

Inem                (terlihat sedikit takut)
                        Wah, jangan dong, Non. Saya kan cuma ngobrol sebentar sama Mbak Desi. (berkata dengan nada memohon)
Lulu                 (mengibaskan tangannya) Alah, sama saja! Cepat pulang sana! (mengusir)
Inem                Iya, Non. (membungkukkan badannya patuh dan segera pergi dari sana)
Lulu melipat kedua tangannya di depan dada dan melihat dengan tatapan menyelidik ke arah Desi.
Lulu                 Kamu ngobrol apa tadi sama si Inem? Pasti bilang yang tidak-tidak kan?! (dengan nada menuduh)
Desi                 (menggelengkan kepala) Tidak kok, Mbak. Cuma ngobrol biasa. (berbohong)
Lulu                 Dasar tukang gosip! Awas kamu, ya?! (pergi dari sana dengan angkuh)
Desi                 (diam-diam menjulurkan lidah pada Lulu dengan kesal)
Adegan 3
Pada siang hari yang panas seperti biasanya di musim kemarau, Inem dan Ina tengah duduk di ruang tengah. Kelelahan setelah bekerja keras.
Inem                (memegang tangan Ina) Nduk, kita pulang ke kampung saja, yuk?
Ina                   (menatap ibunya dengan heran) Kenapa, Bu?
Inem                Mbak Desi bilang, kalau kita kerja sama Bu Preti, lama-kelamaan kita bisa mati kelaperan! (berkata dengan nada serius)
Ina                   (terlihat tidak percaya dengan perkataan ibunya) Masa’ begitu sih, Bu?
Inem                (menganggukkan kepala dengan pasti) Iya!
Ina                   Aku sih terserah Ibu saja.
Ny. Preti diikuti Lili dan Lulu memasuki ruang tengah, terlihat sangar seperti biasanya.
Ny. Preti          (berkata dengan galak dan sedikit membentak)
                        Ngapain kalian? Curhat terus! Cepat kerja sana! Jangan malas-malasan!
Lili                   Iya, nih! Males banget sih?! Setrikakan bajuku sana! (menimpali)
Lulu menyodorkan sebuah buku kepada Ina dengan kasar.
Lulu                 Ina! Nih, buatkan PR!
Ny. Preti          (membentak) Cepat!!
Inem                (berkata dengan enggan) Aduh Nyah, Non, kami ini masih capek. Mbok ya biar istirahat dulu.
Ina menganggukkan kepalanya, setuju dengan perkataan ibunya.
Ny. Preti          (terlihat tidak senang) Eeh, tidak bisa! Kalian saya bayar bukan untuk malas-malasan! Cepat kerja sana!
Inem bukannya berdiri dari sofa malah menyandarkan punggungnya dengan acuh.
Inem                Capek, Nyah. Nyonya kan nganggur, kenapa tidak dikerjakan sendiri?
Ny. Preti          (berkacak pinggang dengan kesal)
                        Ngelawan kamu, ya?! Saya pecat baru tahu rasa kamu! (mengancam)
Lili                   (lagi-lagi menimpali) Iya, Mi! Pecat saja!
Inem beranjak dari sofa dan menggandeng tangan Ina.
Inem                Tidak usah repot-repot, Nyah. Saya juga mau mengundurkan diri, kok. Ayo Nduk, kita pergi. (mengambil tas yang entah sejak kapan ada di sana)
Ina                   Eh, iya, Bu.
Inem dan Ina berjalan dengan santainya melewati Ny. Preti dan kedua putrinya yang melihat ke rah mereka dengan heran)
Inem & Ina      Pulang dulu, Nyah. Assalamu’alaikum.
Ny. Preti          (melambaikan tangannya sedikit bingung) Eh-eh, mau kemana kalian?
Tapi Inem dan Ina tidak mendengarkan panggilan Ny. Preti dan tetap berjalan keluar hingga akhirnya tidak terlihat oleh Ny. Preti lagi.
                        ....
Lili                   (terlihat kebingungan) Yah, bajuku gimana dong?
Lulu                 (sama bingungnya dengan Lili) PR-ku? Mi, gimana nih?
                        (beralih melihat ke arah Ny. Preti dengan bingung)
Lili                   (melakukan hal yang sama seperti Lulu) Iya, Mi! Gimana nih?!
Ny. Preti terlihat sama bingungnya seperti kedua putrinya
Ny. Preti          Ya sudah, mulai sekarang semuanya kerja!
Lili dan Lulu saling berpandangan dengan tampang ‘capek deh’ dan kemudian berujar secara bersamaan dengan kompak.
Lili & Lulu      Aah~ nggak mau!!!
---

That's the end! :D
Pretty tragic and- gaje right? Ahahaha...silly me for made something odd like that :)

Missed you all, guys :')

No comments:

Post a Comment