Saturday, March 31, 2012

Kamu introvert?

Menurut kamu?

Setelah dilihat dari beberapa sudut pandang yang berbeda, mungkin gue nggak sepenuhnya seorang social phobia disorder. Karena selama ini gue emang fine-fine aja sama society. Emang nggak sepenuhnya suka, tapi gue juga nggak nolak dan akan dengan senang hati menjadi bagian dari society kalo memang cocok. Memang masih ada beberapa hal yang membuat gue bisa menyandang gelar seorang social phobia.

Tapi gue ngerasa lebih cocok dengan sebutan introvert.


Basically, an introvert is a person who is energized by being alone and whose energy is drained by being around other people. Karena emang menurut gue, ngabisin waktu berjam-jam di tengah keramaian nggak jelas sambil basa-basi-busuk ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas itu melelahkan. Dan memang bener, ngabisin waktu sendirian, di tempat yang sepi dan tenang sambil dengerin musik -entah itu slow atau hard- adalah surganya dunia banget. Di mana kita bisa introspeksi diri, mikirin apa aja yang udah dilakuin seharian, apa yang akan dilakuin nanti dan sebagainya.

Introvert are more concerned with the inner world of the mind. They enjoy thinking, exploring their thoughts and feelings. They often avoid social situations because being around people drains their energy. Nggak tepat kalo dibilang antisosial. Gue menghindari society bukan karena gue nggak peduli dan nggak mau tau dengan apa yang terjadi. Tapi berbaur dengan mereka yang nggak deket memang melelahkan. Sekalinya gue nyebur ke keramaian, seharian ngabisin waktu dengan kegiatan-kegiatan yang mengharuskan gue interaksi sama orang-orang dalam waktu lama, gue capek. Bukan capek secara fisik, tapi psikis. 

When introverts want to be alone, it is not, by itself, a sign of depression. It means that they either need to regain their energy from being around people or that they simply want time to be with their own thoughts. Being with people, even people they like and comfortable with, can prevent them from their desire to be quietly introspective. Bukan karena galau; terus gue ngurung diri di kosan atau di rumah seharian, dengerin lagu-lagu galau, nangis-nangis, stress sendiri. Waktu yang gue habiskan sendiri sebagian besar itu quality time gue. Seperti hape atau leptop, manusia juga perlu dicharge. Dan itu gue lakuin waktu gue sendirian. 

Being introspective, though, does not mean that an introvert never has conversations. However, those conversations are generally about ideas and concepts, not what they consider the trivial matters of social small talk. Bukan sekedar basa-basi-busuk yang nggak ada isinya. Selama ini emang gue ngerasa nggak ada yang salah dengan diam. Karena toh nggak ada hal penting yang perlu dibicarakan. Ngapain juga capek-capek cuap-cuap, bikin lidah kelu doang. Ditambah lagi gue cadel, capek tau ngomong lama.

Untuk orang-orang extrovert yang kenal gue, kalian nggak perlu terlalu mikirin kalo gue lagi diem -meskipun sebagian besar waktu gue bareng kalian banyakan diemnya- karena saat itu memang nggak ada yang perlu gue omongin. Gue nggak bisa kayak kalian, ngobrol santai nggak jelas atau nyambung-nyambungin topik obrolan ke sana ke mari. Karena ketika gue nyoba untuk basa-basi, it's always end with a flinch for me. Gue ngerasa kalo itu garing dan 'apaan-sih-?'.

For me, silence is comfort.

Buat orang yang pernah ngeluh ke temen gue kalo lagi bareng malah diem terus, kediaman saat itu adalah sesuatu yang nyaman buat gue. Bukan awkward silence yang sering gue rasain kalo ada di antara masyarakat dinamis di mana gue nggak bisa ngikutin alur. Gue akan ngomong, kalo emang ada yang perlu diomongin. Gue nggak akan selamanya diem. Meskipun emang lebih banyak diem daripada ngomong.

Waktu-waktu yang gue habiskan sama diri gue sendiri adalah waktu dimana gue koreksi diri dan jadi sosok yang lebih baik. Seringnya saat gue kembali ke society, ritme yang udah rapi itu kacau lagi. Akhirnya nggak jelas lagi identitas gue.

Seringkali iri sama kalian, para extrovert. Dunia kalian begitu berwarna dan rame. Dan saat itu, saat gue ada di area pendaran keextrovert-an kalian, gue benci sama diri gue sendiri. Kenapa juga gue harus jadi introvert, shy, quiet, dan lain-lain. Kenapa gue nggak bisa jadi kayak kalian yang begitu menikmati gemerlap society. Seperti dunia ini sebuah panggung sandiwara, di mana kalianlah tokoh utamanya. Kalianlah the center of attention. Karena dengan gampangnya kalian bisa attract attention, mingle with others. Sementara gue cuma bisa stand still di tempat gue yang jauh dari keramaian, meski saat itu gue ada di antara kalian juga. Saat itu gue benci sama diri gue sendiri. Bertanya-tanya tentang kapan gue bisa kayak kalian.

But being an introvert means being myself.

Introvert nggak bisa memperbaiki diri. Mereka berhak dihargai dan dihormati untuk temperamen alaminya. Menjadi minoritas memang nggak mudah, tapi gue nggak ingin berakhir dengan membenci diri gue sendiri. Karena inilah gue. Gue nggak akan bisa jadi kayak mereka, gue bukan mereka.

Hidup gue mungkin nggak akan dipenuhi dengan hal-hal yang memacu adrenalin kayak hidup mereka. Hidup gue mungkin akan flat-flat aja dan cenderung nggak berwarna. Tapi gue akan belajar bersyukur dan menerima apa yang udah Allah kasih buat gue. Gue nggak akan neko-neko dan minta yang macem-macem sama Allah. Gue nggak akan ngeluh terus-terusan sama Allah tentang diri gue sendiri. Gue nggak akan nyalahin masa kecil gue yang traumatis dan nggak ada orang yang tau cerita jelasnya.

I will try to accept myself.

Karena gue nggak akan bisa hidup bahagia kalo terus berantem sama diri gue sendiri. Introvert emang nggak bisa diubah atau diperbaiki. Para extrovert-lah yang harus belajar buat bisa menembus atmosfer yang melindungi introvert, dan memahami mereka. Karena kami paham dengan kalian serta kesenangan kalian disirami perhatian. Namun kalian tidak memahami kami, dan kesendirian yang menjadi bagian dari kami. A comforting silence.

To introvert people around the world, we are special :)



Sebuah tes dari Similar Minds

Introverted (I) 83.33%  Extroverted (E) 16.67%
Sensing (S) 54.55%  Intuitive (N) 45.45%
Feeling (F) 52.94%  Thinking (T) 47.06%
Judging (J) 75%  Perceiving (P) 25%


ISFJ - "Conservator". Desires to be of service and to minister to individual needs - very loyal. 13.8% of total population.
Take Free Jung Personality Test
Personality Test by SimilarMinds.com


Introvert article from  Gifted Children

No comments:

Post a Comment