Thursday, April 19, 2012

Aku dan Bapak

Will use an egocentric word aku

Umumnya seorang anak gadis dekat dengan ibunya, tapi aku lebih dekat dengan bapak. Bukan berarti menomorduakan ibu, karena mereka berdua sama pentingnya bagiku.

Bapak
Sejak kecil aku selalu tahu kalau aku lebih dekat dengan bapak. Yang kuingat, sejak kecil hingga berakhir sekolah dasar aku selalu tidur dengan bapak. Di dalam kamar utama dengan 3 ranjang; ibu dengan kedua adikku, kakakku tidur sendiri, dan aku dengan bapak.

Bapak juga yang mengajariku naik sepeda, rasanya. Ibu terlalu sibuk mengurus adik-adikku. Apalagi jarakku dan adik pertamaku terlalu dekat. Kurasa, dan pasti begitu, ibu lebih memprioritaskan adikku. Tentu saja, aku kan bersama dengan bapak.

Bapak jarang membawa oleh-oleh atau makanan setelah bepergian, tidak seperti ibu. Selalu mengatakan "Insya Allah" jika aku minta dibawakan sesuatu, yang pada akhirnya tidak pernah [jarang sekali] dibawakan apapun. Sehingga aku pun mulai meragukan Insya Allah yang terucap dari mulut bapak dan selalu memaksa bapak untuk berjanji, sesuatu yang saat itu lebih menjanjikan bagiku.


Bapak tidak pernah membacakan dongeng sebelum tidur. Bapak hanya ingin bercerita kalau tahu aku akan mendengarkan dengan seksama. Bapak senang menceritakan masa kecil dan masa mudanya dulu, tentang bagaimana sulitnya hidup kala itu. Seringkali aku hanya mendengar sambil lalu, beranggapan: yang berlalu biarlah berlalu.

Bapak mengajarkanku banyak hal.

Aku masih ingat betul bagaimana bapak mengetes kemampuanku mengenali abjad saat aku masih sangat kecil. Beliau selalu menyediakan halaman utama koran dengan tulisannya yang besar-besar dan memintaku untuk mencari huruf tertentu, melingkarinya dengan pena merah. Bapak juga mengajarkanku mengaji, dengan membawa sebilah bambu tipis yang membuatku ngeri. Namun beliau tidak pernah memukulku dengan benda itu, hanya kadang menepukku pelan untuk mendisiplinkanku.

Bapak memenuhi semua rasa ingin tahuku. Selama beberapa tahun kami sempat berlangganan majalah anak-anak, yang kedatangannya selalu ditunggu tiap minggu. Tiap liburan semester pergi ke toko buku, tempat yang jadi favoritku ketika aku kecil. Memang untuk urusan bawa-membawa makanan ke rumah bapak tidak terlalu dapat diandalkan. Namun bapak menggantinya dengan membawa sesuatu yang lebih menarik dari itu. Buku-buku sains bergambar, ensiklopedi anak, berbagai jenis buku yang beliau tahu akan menarik minatku. Saat itu aku sangat suka membaca; membaca buku bergambar tentunya.

Bapak tidak pernah mengekangku. Atau yang pernah kuartikan sebagai bapak tidak peduli padaku. Saat semua temanku dilarang pergi main ke tempat jauh atau dilarang bermain terlalu lama, bapak tidak pernah memperingatkanku akan hal itu. Aku bebas pergi ke manapun yang aku suka. Aku tidak perlu minta izin mau main ke mana dan tidak perlu dicereweti untuk pulang dan makan. Kupikir dulu bapak tidak peduli, begitu pula dengan ibu. Tidak pernah ditanya saat pulang terlambat dan tidak dimarahi. Baru kemudian aku tahu, bapak percaya padaku. Aku meyakinkan diriku sendiri, bapak percaya padaku.

Bapak tidak pernah mendengarkan ocehanku tentang minta ini itu yang aku mau. Selalu mengatakan, "Bicara saja sesukamu, bapak dengarkan saja." Jika sudah begitu, maka aku diam; menghentikan racauanku mendata semua barang yang aku inginkan atau hal-hal menyenangkan yang ingin aku lakukan. Tapi bapak selalu memenuhi apa yang benar-benar aku butuhkan, atau apa yang terbaik untukku.

Aku tahu bapak punya keinginan supaya aku mengembangkan diri di dunia seni musik. Bapak selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti beliau akan menyanyi dan aku yang mengiringinya. Bapak suka musik, bapak seorang musikus. Bapak membeli keyboard mainan yang sudah lebih canggih daripada piano kayu punya nenekku. Mengajarkanku do-re-mi-fa-sol-la-si-do dan kunci sederhana hingga aku  mendapati bahwa aku mampu mengenali nada. Bapak meminjam recording dan mengajarkanku cara memainkannya juga. Kuingat seruling putih itu masih di rumah, kurasa beralih menjadi benda pribadi kami. Bapak membeli gitar dan mengajariku memainkannya, meskipun aku sudah menyerah duluan sebelum menguasainya benar. Hanya karena rasa sakit pada ujung jari-jariku.

Bapak yang selalu setia menemaniku.

Bapak mengantarkanku mendaftar SMP, mengenalkanku pada rekan-rekan beliau yang akan menjadi guru-guruku, mengamanahkanku pada mereka. Bapak menemaniku membeli baju, membeli buku, membeli es krim, membeli tas dan sepatu. Bapak yang jauh-jauh menjemputku ke Semarang saat hari terakhir tes SNMPTN, padahal beliau baru saja pulang dari tempat kerja saat itu; terlihat masih berseragam lengkap. Bapak mengantarkanku mengikuti tes STAN di sebuah perguruan tinggi di Semarang, berputar-putar mencari lokasi kampus yang benar dan menunggu sampai ujian selesai. Bapak menemaniku ke bank untuk melunasi administrasi kampus pertamaku dan membantuku melengkapi syarat-syarat yang harus kupenuhi. Bapak mengantarku langsung ke Bogor untuk melakukan registrasi dan saat itu menjadi akhir dari betapa intensifnya aku bersama beliau.

Karena kemudian aku meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh. Bapak tidak pernah mendikte jalan hidupku, hanya mengarahkan. Bapak percaya padaku dan membebaskanku memilih universitas sesuka hatiku, memilih jurusan semauku; hanya melarangku menekuni bahasa. Beliau bilang bahasa tidak perlu ditekuni, karena toh aku sudah cukup mahir; karena aku mewarisi kemampuan berbahasaku dari bapak, kata beliau. Bapak juga tidak mau aku kuliah di tempat yang tanggung, di mana aku bebas bolak-balik pulang-pergi tiap minggu namun masih menghabiskan uang untuk menyewa kosan: Semarang. Entahlah, karena bahkan bapak masih saja mengatakan kalau aku terlalu sering pulang. Padahal aku hanya bisa pulang tiap libur semester.

Bapak yang selalu setia menemaniku, dulu maupun sekarang.

Tidak lagi menemaniku ke mana-mana membeli segala keperluanku, karena memang kami terpisah oleh jarak yang jauh. Namun meskipun masih mengeluhkan tentang aku yang sudah dewasa tapi masih minta diantar kemana-mana, buktinya bapak masih setia menemaniku. Seperti saat libur semester lalu, tepatnya pada tanggal 20 Januari 2012. Bapak menemaniku ke puskesmas untuk melakukan operasi gigi, menungguku lebih dari 1 jam. Bapak juga masih mau menemaniku berkeliling.

I miss him, so much.

Aku merindukan saat menonton televisi dengan bapak, saat bercengkerama santai tentang rencana-rencana masa depan dengan bapak, saat bakar-bakar sampah dengan bapak, pergi ke mushala dengan bapak; saat-saat bersama bapak.

And what I've done to make him proud?
Apa yang sudah kulakukan untuk bisa pulang dengan bangga?

1 comment: