Friday, April 13, 2012

Degradasi Otak

Pertanyaannya, mungkin nggak sih otak mengalami kemunduran atau degradasi?


Kalo kalian tanya gue, gue akan jawab iya. Sangat mungkin. Bahkan pasti otak akan mengalami degradasi seiring dengan bertambahnya usia kita. Tapi yang gue maksud dengan pertanyaan di atas adalah degradasi otak yang terjadi di usia produktif.

Gue nggak akan ngasih kuliah umum tentang proses dan faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan kemunduran pada fungsi otak, gue hanya ingin memaparkan apa yang sudah gue alami sendiri.

Hari Selasa kemarin, 10 April 2012, gue mengikuti tes IQ online di IQ Elite. Bisa dibayangkan jenis soalnya seperti apa, kan? Dan hasil tes IQ gue 115. Gue berhasil menjawab dengan benar sebanyak 13 dari 19 pertanyaan. Riwayat tes IQ yang pernah gue jalani; yang pertama saat gue duduk di bangku kelas 3 SD, gue berhasil mengumpulkan poin 133. Selain itu gue juga pernah tes IQ kelas 3 SMP, tapi sayang gue lupa hasilnya berapa. Waktu kelas 1 SMA gue juga ikut tes IQ dan poin gue saat itu 122.


Perhatikan angkanya; 133, 122, 115.

Status gue yang saat tes online kemarin sebagai free user membuat gue dibatasi oleh waktu, cuma 10 menit. Jadi gue ngeles, beralasan bahwa hasil segitu gue dapat karena gue tesnya sambil dikejar waktu. Yeah, whatever.

Tapi mari tinggalkan IQ dan mengingat lagi ujian Ilmu Produksi Ternak Perah kemarin. Soalnya di luar bayangan gue. Penerapan, bukan text book. Ada yang menggelitik dari ujian kala itu, soal hitungan.

Memang gue udah mempersiapkan kalkulator, tapi selama gue baca slidenya nggak ada hitungan yang kira-kira nggak bisa dihitung pakai tangan alias manual. Berbekal kesongongan gue tersebut, kalkulator gue tinggal di tas.

Ujian dimulai dan kita dibuat shocking-soda dengan sistem penilaian minus pada jenis soal yang modelnya pilihan ganda. Mampus. Nggak berani ngeluarin jurus ngitung kancing. Apalagi di situ ada notification kalau jawaban benar bisa lebih dari satu, artinya bulatan di lembar jawaban pada satu nomor bisa dua, bisa tiga bahkan semua. Baru pertama kali ini gue ketemu soal yang begitu modelnya.

Susah dan bikin galau. Ya udah, gue move on ke soal dari dosen lain, soal yang ada hitungannya. Pas gue baru mulai membuat konsep hitungan, temen sebelah gue minta izin ke dosen pengawas untuk mengambil kalkulator.

Gue galau, saat itu yang ada di pikiran gue adalah bagaimana gue minta izin. Gue mikir nggak akan sopan kalau gue bilang, “Saya juga, Pak.” Gue mikirnya nanti si bapak malah balik tanya “Juga apa?” dan akhirnya gue diketawain anak-anak sekelas. Gue bakal malu.

Tapi gue males ngomong panjang lebar, karena kondisi gue lagi flu dan batuk parah yang membuat suara gue sengau-sengau nggak jelas. Akhirnya gue nekat menghitung manual. Songong.

Mulailah gue dengan kesongongan gue itu mengerjakan soal. Awalnya gue masih lancar-lancar aja, soalnya masih tambah-tambahan jumlah hari. Kemudian nomor itu beres dan gue beralih ke soal selanjutnya. Yang ini agak ribet karena bermain logika dan persenan pakan. Untung gue ngerti konsepnya gimana, jadi bisa langsung dihitung. Dan gue mulai menghitung.

Tahu apa yang terjadi, gue bahkan lupa 8x3 itu berapa hasilnya! Nggak cuma itu, gue mesti mikir lebih dari dua detik untuk mengalikan satuan lainnya. Anak SD aja udah lancar yang begituan!


Sungguh, gue merasa sangat terhina dengan diri gue waktu itu. Sampe senyum-senyum sendiri saking malunya. Apa-apaan itu, mahasiswa butuh waktu 5 detik untuk menjawab perkalian satuan!

Saat itu gue mikir, degradasi otak. Itu yang terlintas di pikiran gue selain jenis kandang yang baik bagi kambing atau berapa lama masa laktasi kambing. Gue merasa tertohok, I am no smarter than fifth grader!

Apa kata ade gue yang SMP kalo dia tahu gue gagap dalam menghitung angka sesederhana itu? Bisa jatuh martabat gue sebagai kakak yang harus lebih pintar dari adiknya di segala bidang. Gila, gue ngerasa konyol banget. Gue merasa gagal sebagai lulusan SD!

Tapi untunglah gue masih sadar dan nggak terpuruk sampai di situ. Gue pun berhasil menyelesaikan perkalian-perkalian sederhana itu dan move on nerusin hitungan. Kali ini gue dihadapi pembagian. Sekilas dilihat, agak ribet nih angkanya. Udah ketebak bakal berbuah koma-koma, bukan angka bulat. Gue pengen nyerah dan izin ngambil kalkulator.

Dan gue ingat, kalkulator yang bikin gue gagap ngitung perkalian sederhana macam tadi! Terlalu dimanja, sampai-sampai gue lupa perkalian dasarnya. Akhirnya gue bismillah menghitung manual, gue nggak akan takut sama angka koma-koma.

Toh akhirnya gue bisa juga, Alhamdulillah. Gue pun meneruskan mengarang bebas untuk soal-soal berikutnya yang untungnya bukan soal hitungan.

Selesai ngurusin soal essay, gue kembali beralih ke soal pilihan ganda dengan sistem minus. Gue baca lagi petunjuknya baik-baik. Nilai maksimum +100,0, nilai minimum -60,0


Kemudian gue ngitung bulatan jawaban gue, baru 22. Gue kaliin 2,5 dan gue sadar nilai tertinggi yang bisa gue raih cuma 55. Itu pun kalo bener semua. Nah kalo salah? Minus 1 per jawaban, bisa minus juga nih nilai gue.

Gue mikirnya, kalo nilai terendah -60 berarti ada 60 jawaban! Langsung gue buletin jawaban-jawaban yang baru gue tandain doang di soalnya. Kemudian gue hitung lagi total bulatan jawaban gue, 40; dengan dua nomor yang sama sekali nggak gue tahu jawabannya apa. Tiba-tiba gue ngerasa ada yang ganjil, gue baca lagi petunjuknya pelan-pelan. Gue cerna dengan hati-hati dan akhirnya gue buka mulut, “Oh!”

Total jawaban benar bukan 60, tapi 40! Dalam hati gue nepok jidat sendiri, betapa bodohnya gue ini sampe salah ngitung hal sefatal itu! Untungnya gue belum bikin bulatan terlalu banyak, malah udah pas 40 tuh jawaban gue. Cuma pasti ada salahnya, soalnya dua nomor nggak gue isi.

See? Gue sendiri merasa kalo, Hey, your brain are getting worse.” Gue mengalami degradasi otak. Kemunduran. Padahal di usia gue yang 20 ini adalah masa-masa produktif di mana ilmu yang gue pelajari sekarang akan sangat berguna buat masa depan gue setelah jadi sarjana.

Lalu kenapa basisnya aja gue udah mulai lupa? Dilihat dari IQ juga turun. Bisa gawat ini kalau turun terus-terusan, bisa-bisa jongkok IQ gue!

Gue pun mulai mewaspadai degradasi otak lebih lanjut, gue nggak mau. Sepertinya memang gue mesti belajar lebih rajin dan lebih banyak lagi. Gue juga nggak boleh terlalu bergantung sama kalkulator sebagai alat bantu hitung.

I don’t wanna be a person with rotten brain!
Semangat besok UTS terakhir, Bahasa Inggris Lanjut!

No comments:

Post a Comment