Tuesday, June 12, 2012

Something about being sibling #2

sumber: google
Let's put all the quarrel-things aside; see it from the bright side. Because the truth is, really, being sibling isn't always that bad. You might hate each other, sticking tongue out at every encounter, fighting over some trivial matters. But you're sibling after all. Because sibling is a sibling. Blood related, and there's nothing can change that fact. 

Mungkin -dan memang benar- kami selalu bertengkar, mengganggu satu sama lain, tertawa di atas penderitaan yang lain, menjahili satu sama lain dan kelihatan saling benci. Tapi di atas semua itu, kami adalah saudara. Terikat oleh hubungan darah yang tidak dapat dipungkiri lagi.

Kami empat bersaudara. All girls. Aku, neechan, dan dua adik perempuanku. Jarak kami tidak terpaut jauh. 1990-1992-1993-1997. Kami berempat selalu bertengkar. Meributkan hal-hal sepele. Selalu beranggapan bahwa bapak dan ibu tidak pernah bersikap adil. Kadang hanya pertengkaran kecil, hanya main-main. Kadang pertengkaran hebat hingga suara kami naik beberapa oktaf. Kalau sudah begitu, biasanya berakhir dengan menangis. Salah satu atau kedua pihak. Atau bapak murka. Bantingan pintu, tempat tidur berantakan, buku-buku berserakan. Anything possible.

Tidak selamanya suasana rumah seperti neraka. Kadang-kadang kami akur. Biasanya kalau kami tertinggal kelaparan karena tidak ada makanan. Atau makanan terlalu melimpah ruah. Atau hanya random, tiba-tiba saja akur.

Namun dewasa ini kami tidak bertengkar lagi. Tentu saja, bagaimana mau bertengkar kalau aku ada di Bogor sementara dua adikku jauh di rumah? Tetap saja rasanya berbeda. Aku kira kami sudah mulai dewasa. Kadang rindu juga rasanya; keributan kecil di rumah kami.

Dari dulu aku ingin punya seorang kakak laki-laki. Sosok yang mampu melindungi dan menjaga kami. Someone that will beat anyone who make me cry. Tapi tentu tidak akan seindah itu; apalagi kalau keadaannya seperti persaudaraan kami, selalu bertengkar. Dan kemudian aku pikir sudah cukup seperti ini. Cukuplah bapak jadi the best and the most handsome man I've ever known -at least at home-.

Kemudian lagi, kalau aku punya kakak laki-laki mungkin tidak akan seperti sekarang ini. Tidak akan satu kosan, tidak akan berbagi makanan, tidak akan berbagi detergen, tidak akan berbagi baju. Karena Allah selalu punya rencana yang terbaik.

Dulu aku juga sering merutuki keberadaan dua adikku. Dunia akan terasa sempurna kalau hanya ada aku berdua dengan kakak. Uang saku ku pasti lebih banyak. Silly me. Karena siapa yang akan menunggu kehadiranku pulang tiap semester? Siapa yang akan aku ganggu saat libur panjang di rumah? Dan memang benar, Allah selalu punya rencana yang terbaik.

Cukuplah bagi kami. Kami berempat. Berenam dengan bapak dan ibu. Bertujuh dengan seekor kucing. Rumah yang dulu terasa sempit sekarang pasti terasa begitu luas dengan absennya aku dan kakak. Bahkan kalau aku pulang pun, masih terasa luas bagiku. Merindukan berkumpulnya kami berenam, bertujuh dengan seekor kucing. Ya, kucing menjadi bagian penting dalam hidupku. Seperti keluarga tambahan.

Itsuki

minus neechan

minus me

Mood: plain | Music: Taylor Swift~

No comments:

Post a Comment