Wednesday, June 20, 2012

Touch You

…pertama kalinya dibuat ketawa-ketawa dan nangis oleh satu anime movie. Masih suka sedih kalau ingat saat Gin mengamati tangannya yang mulai terdispersi.
Dimas Galih: Wah, suka nonton anime juga ya? Saya juga sedih nontonnya :(
Irene Zaniar: Iyaa. Tapi kurang suka yang banyak episodenya kayak Naruto :p
Dimas Galih: Eeh, seru loh padahal :D
Irene Zaniar: Males ngikutinnya, lama.
Dan kemudian kami berkenalan, lebih jauh.
Namanya Dimas Galih Anggara, mahasiswa jurusan Arsitektur sebuah institusi di Bandung. Hobinya tidak jauh-jauh dari game, anime dan manga. Sekarang semester 7, satu tingkat di atasku. Kami akan bertemu hari ini di kampusku, di Bogor. Sedikit ragu, apa benar keputusanku untuk bersedia kopi darat dengannya?
Barusan dia mengirim pesan singkat, katanya sudah dekat. Aku menghela nafas dengan sedikit gugup. Aku mengedarkan pandanganku ke setiap penjuru taman rektorat, kalau-kalau pengendara motor berhelm biru muncul.
Helm biru dengan sentuhan gambar Luffi dan topi jeraminya.
Tidak seperti fotonya di jejaring sosial. Lebih baik dari itu.
Ia tinggi, dengan tinggiku yang tak sampai menyamai telinganya. Agak tirus, dengan garis rahang yang tidak begitu tegas. Sorot matanya tajam namun bersahabat. Hidungnya mancung dan kalau ia tersenyum, lesung pipi akan nampak menghiasi parasnya.
Manis, meski tidak semanis Korea.
Spirited Away, Howl’s Moving Castle- eh, Karigurashi Arrietty sudah nonton?”
Aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum.
Cengirannya mengembang, “Makin lama artnya Ghibli makin keren. Adem banget kalo ngeliat background hijaunya Arrietty.”
“Oh iya, Harvest Moon udah tahun keberapa? Eh, kamu main yang mana; Back to Nature?”
Obrolan kami hari itu tidak jauh-jauh dari tiga hal: game, anime dan manga.
Tiga minggu kemudian Dimas meminangku jadi calon istrinya. Aku hanya tersenyum geli dan menuduhnya bercanda.
“Dua tahun dari sekarang, kalau kamu sudah wisuda. Tapi untuk saat ini, pacaran dulu mau?”
Aku memandangi sepasang mata coklat tuanya yang cemerlang, mengerjap dan kemudian memperhatikan layar laptopnya yang menayangkan sebuah anime.
“Serius?”
“Iya dong. Kalau bisa sih segera setelah aku wisuda, tapi nunggu Ren dulu deh. Sambil kerja.” Dia memamerkan cengirannya, dengan gigi gingsul yang membuatnya tampak manis. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya tidak komikal.
Aku menganggukkan kepalaku dan cengirannya melebar.
“Tapi nggak boleh megang sama sekali. Seperti di Hotarubi no Mori e.” Entah kenapa dia mengingatkanku kepada tokoh Gin di film itu. Juga impianku untuk memiliki Gin yang cukup nyata bagiku. Gin yang tidak akan terdispersi kalau aku menyentuhnya.
“Hah? Kok gitu?” Alisnya berkerut.
“Nanti nambahin dosa.” jawabku singkat dan sederhana.
Dimas terdiam. Aku juga diam. Samar-samar terdengar suara televisi dari ruang tengah kosan, diikuti gelak tawa penontonnya, teman-teman satu kosku.
Kulihat dari ekor mataku Dimas tampak terdiam merenungi perkataanku. Mungkin dia sambil mengingat-ingat jalan cerita Hotarubi no Mori e yang kusebutkan tadi. Gin akan menghilang kalau menyentuh atau disentuh manusia. Memang Dimas tidak akan menghilang kalau aku menyentuhnya, tapi aku akan berdosa. Begitu juga dengannya.
Dan sore itu berakhir di teras kosan dengan kami berdua yang membisu.
Dia masih datang tiap akhir pekan. Bandung-Bogor.
Sudah kubilang tidak perlu tiap minggu ia mengunjungiku. Seorang mahasiswa tingkat akhir sepertinya pasti disibukkan oleh banyak tugas. Tapi ia berdalih pandai membagi waktu dan menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik.
Kedua tangannya tenggelam di dalam saku jaket biru-putihnya, sementara kedua tanganku bertautan di belakang.
Saat-saat seperti ini sering membuatku merasa bersalah. Kedatangannya jauh-jauh ke Bogor hanya untuk mengobrol denganku yang menyebabkan waktunya banyak terbuang percuma. Hanya mengobrol.
Tanpa ada sentuhan.
Aku sendiri juga merasa ini hambar, setidak-tidaknya dulu aku pun pernah bergandengan tangan. Rasanya aku bersikap tidak adil pada Dimas, sementara dengan teman-temanku yang laki-laki pun tidak masalah kalau kami berjabat tangan.
Mungkin memang aku terlalu naif, beranggapan bisa memiliki Ginku sendiri. Yang tak bisa kusentuh, atau ia akan menghilang pergi. Tentu saja Dimas tidak akan menghilang begitu saja, terdispersi menjadi kunang-kunang sebagaimana Gin. Mungkin aku saja yang gila, ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi Hotaru, yang tak bisa menyentuh orang yang kau kasihi.
Dosa.
Sejak kapan aku memikirkan hal itu? Berlagak sok suci.
Aku mengamati Dimas dari ekor mataku. Aku tidak tahu apakah ia merasakan apa yang kurasakan, tapi- I want to touch him…
Dua tahun sudah kami menjalani hubungan yang amat hambar ini. Dengan aku yang menyadari kejenuhannya, karena setahun ini dia tidak rutin datang lagi. Sibuk bekerja, katanya. Tapi aku merasa ia sudah bosan. Predikat pacar tidak ada apa-apanya, hanya status belaka tanpa ada tindakan nyata.
Setelah bekerja aku tahu Dimas sangat sibuk. Sibuk sekali hingga sms pun tidak, apalagi telepon. Sudah sebulan ia tidak datang ke Bogor, sebulan ini juga tidak ada kabar darinya. Aku tidak bertanya. Karena sebulan ini juga aku disibukkan oleh tugas akhir. Mungkin kami sama-sama jenuh dan tidak ada waktu lagi untuk sekedar mengobrolkan game terbaru.
Aku menghela nafas. Yang seperti ini jelas tidak akan bertahan lebih lama lagi. Dan aku mulai belajar melepasnya. Melepas sesuatu yang tidak pernah aku miliki sejak awal. Sesuatu yang tak terjamah sejak awal.
Aku bukan Hotaru, Dimas bukan Gin; kami bukan tokoh fiksi anime yang setia terhadap sang waktu. Kurasa perlahan-lahan Dimas mulai menghilang… Semoga tidak berubah menjadi kunang-kunang.
Ponselku bergetar.
Dimas Galih: Ren bulan depan wisuda, kan? Siap-siap dilamar ya :D
Aku tertawa membacanya. Dia benar-benar serius tentang perkataannya dua tahun lalu? Kukira ia hanya bercanda. Aku baru akan menulis balasan saat datang lagi pesan darinya.
Dimas Galih: Akhir-akhir ini aku emang sengaja nggak main-main ke Bogor. Sok sibuk sih. Daripada ketemu kamu malah pengen meluk terus? Uuuh, nanti dosa :)
Sekarang aku tidak tahu bagaimana harus membalas pesannya. Rasanya dadaku sesak.
I want to touch him…
Dari kamarku samar-samar dapat terdengar suara mereka di ruang depan. Ah, aku gugup.
“Mbak ndak usah grogi gitu. Biasa aja sih,” Ulfa, sepupuku, menepuk pundakku pelan. Aku agak kaget dibuatnya, tersenyum malu.
“Udah kebelet banget ya, Mbak? Padahal kemarin baru wisuda?”
Dia tersenyum menggoda, dapat kulihat dari kaca. Aku hanya tertawa.
Iya, memang benar minggu lalu aku baru diwisuda. Baru mendapatkan ucapan selamat dari orang-orang yang kukenal, dan kemudian mendapatkan ucapan selamat lagi untuk perihal yang berbeda.
Pernikahan tidak bisa dilakukan mendadak seperti ini, Dimas sudah merencanakannya sejak lama. Hebatnya lagi bapak dan ibu mau bersekongkol dengannya. Tidak pernah aku dibuat terkejut seperti ini semua. Karena ternyata selama ini ia tidak lupa… Rencana pernikahan tiba-tiba.
Tapi aku tidak dapat menyangkal, I want to touch him, segera…
Pintu kamar terbuka. Ibu.
“Ayo keluar.”
Ah, aku amat gugup.
Mereka semua tersenyum melihatku, aku membalasnya dengan senyuman kikuk. Aku tidak pernah terbiasa jadi pusat perhatian seperti ini.
Dimas terlihat begitu tampan. Manis dengan lesung pipi dan gigi gingsulnya.
Aku menoleh kepada ibu, berbisik, “Aku salim nih?”
Ibu memandangiku dengan takjub, seperti aku baru saja menanyakan siapa namaku. “Iyalah.” Memberiku dorongan, dalam artian sebenarnya.
Aku begitu gugup saat berjalan menghampiri Dimas, sampai-sampai menginjak bagian depan kebayaku dan hampir jatuh ke depan.
Dan hari pernikahanku akan jadi hari paling memalukan dalam hidupku!
Kecuali- Dimas dengan sigap menangkap tanganku.
Adegan saat Gin menyelamatkan seorang anak kecil terlintas di benakku. Aku dapat mendengar tawa, tapi aku memutuskan untuk tidak peduli, terkunci oleh sepasang mata coklat tua yang menawan itu.
Kau tidak akan menghilang, kan? Itu yang ingin kubisikkan padanya.
Tapi aku masih cukup waras untuk dapat membedakan fantasi dan realita, berdiri stabil di atas kedua kakiku lagi. Perlahan aku menerima uluran tangan kanan Dimas, menciumnya dengan khidmat. Mataku terasa panas. Dadaku sesak.
Tangannya kemudian memegang kedua sisi wajahku, dengan anggunnya menempatkan kecupan pada keningku. Seketika itu juga aku memejamkan mataku. Menyambut hangat yang merasuk dalam hatiku.
Kemudian Dimas merengkuhku, mencium puncak kepalaku yang tertutup kerudung. Berbisik, “I can finally touch you…”
Suki da yo…”
Dasar anime freak, pikirku. Tapi saat itu air mataku menetes.
E, atashi mo yo…”
Kami- anime freak.

Kau tidak akan menghilang, kan? | Tentu saja tidak, silly :)
Bogor, 19-20 Juni 2012


1 comment:

  1. aku suka banget sama blognya..
    isi blog dan postinganya bagus, menarik dan bermanfaat sakali..:)
    jangan lupa untuk terus menulis menulis yaa..^_^

    oia salam kenal
    kalau berkenan silahkan mampir ke EPICENTRUM
    folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,tukeran link juga boleh,,makasih..^_^

    ReplyDelete