Thursday, August 16, 2012

It's My Way


Sebuah sedan mewah bercat hitam elegan berhenti di depan rumahku, membuatku meletakkan koran sore yang tengah kubaca dan berjalan menuju teras rumah. Pintunya terbuka dan turunlah seorang wanita muda yang sangat kukenal.
Ia tidak langsung membuka pintu pagar untuk masuk, melainkan berbicara sebentar dengan laki-laki yang duduk di belakang kemudi, kemudian membungkukkan badannya sebagai tanda hormat dan membalikkan badan. Sedan mewah itu melaju pergi setelah membunyikan klakson dan aku menganggukkan kepalaku kepada pengemudinya.

“Pulang sore lagi?” tanyaku pada Irene, wanita yang resmi menjadi istriku sebulan lalu.
Irene tersenyum. “Iya, tadi ada sapi yang beranak, jadi stand by di sana sampai pemberian kolostrum.”
Sudah setengah tahun ini ia bekerja di dinas peternakan di bagian kesehatan hewan. Aku bertemu dengannya saat meninjau pembangunan sebuah jembatan. Ketika itu ia tengah bertugas di lapangan dan melakukan pemeriksaan kesehatan ternak pada peternakan rakyat di daerah tersebut.
“Udah makan?” Aku menutup pintu di belakangku dan mengikuti Irene yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam rumah.
“Tadi sekalian makan dulu sama dokter Alan.”
Yang aku tahu, secara tidak langsung, dia menjadi asisten seorang dokter hewan di sana, dokter Alan. Membuatnya mau tak mau banyak berhubungan dengan orang yang tadi mengantarnya pulang dengan sedan mewah.
“Akhir-akhir ini kamu pulang sore terus, diantar dokter Alan terus; seneng ya?” kataku dengan nada menyindir. Tapi bukan sindiran bercanda. Sindiran yang murni benar-benar sebuah sindiran.
Ia tertawa kecil. “Kenapa sih, Mas? Kok ngomongnya gitu?”
“Yaaa, tiap hari ketemu di kantor. Tugas di lapangan bareng. Sering diantar pulang juga kalo kesorean. Malah nggak pernah mau dijemput sama suami sendiri,”
Dan kurasa ia lebih senang diantar naik mobil mewah oleh dokter muda yang belum menikah itu. Kudengar dari rekan kerjanya, Irene pernah naksir dokter itu. Mungkin sampai sekarang sebenarnya ia masih menyimpan perasaan pada Alan. Ah, entahlah.
Ia menatapku dengan kening berkerut. “Mas Dimas kenapa sih? Aku nggak minta dijemput karena tahu Mas juga pasti capek abis dari kantor.”
Aku mendecakkan lidah mendengar alasannya. “Capek? Kalo kamu pikir Mas capek, ‘kan kamu bisa naik angkot? Rumahnya si Alan bukannya nggak searah? Bolak-balik dong kalo dia nganterin kamu?”
Melipat tangan di depan dada, aku melemparkan pandangan tajam kepadanya.
“Ih, kenapa sih? Orang dia yang nawarin, aku nggak pernah minta diantar kok. Lagian hemat ongkos. Yang penting aku selamat sampai rumah, ‘kan?”
Tidak biasanya aku beradu mulut dengan Irene, karena pada dasarnya dia penurut dan tidak pernah rewel. Tapi seharian ini aku disibukkan dengan tugas ini-itu yang membuatku gerah. Selain itu sudah seminggu ini Irene selalu pulang sore dan selalu diantar oleh dokter hewan itu. Melihatnya begitu akrab dengan Alan seperti tadi membuatku gusar.
“Bilang aja kamu seneng diantar sama Alan. Kamu tahu nggak, suami kamu di rumah belum makan, malah kamu makan bareng orang lain. Suami tuh pengennya kalo pulang, istrinya udah masak di rumah, terus makan bareng.”
Irene mendengus, memandangiku dengan tidak percaya. “Mas pengen aku berhenti dari kerjaan aku sekarang? Jadi ibu rumah tangga? Tiap hari kerjanya masak, nungguin Mas pulang kerja, gitu?” Nada bicaranya sengit.
“Kalo kamu mau silahkan saja. Malah bagus kan, rumahnya jadi keurus.”
“Dengar ya, Mas. Hubunganku sama Mas Alan itu sebatas profesionalitas rekan kerja. Jangan karena Mas nggak suka aku kerja bareng Mas Alan, Mas nyuruh aku keluar dari dinas. Emangnya selama ini kerjaan rumah nggak beres? Mas pengen aku jadi kayak wanita jaman dulu yang kerjanya cuma di dapur, sumur, sama kasur? Yang fungsinya cuma buat masak, nyuci, bersih-bersih rumah, sama ngelayanin suami? Mas masih nggak puas sama aku?!”
Pada akhirnya suaranya naik beberapa oktaf. Selama ini belum pernah aku mendengar Irene bicara dengan nada setinggi itu. Mendengarnya, entah kenapa membuat perasaanku memanas dan tanpa kusadari, tangan kananku sudah terlanjur melayangkan tamparan keras pada pipi kirinya.
Kemudian semuanya hening.
Irene memandangiku dengan mata berair sambil memegangi pipinya yang memerah. Beberapa detik kemudian ia berlari masuk ke kamar, membanting pintu dengan keras. Aku menghela nafas dan memandangi tanganku yang sedikit gemetar.
Tak sampai sepuluh menit, pintu dibuka dengan keras. Aku menoleh dan mendapati Irene sudah mengganti pakaian dinasnya dengan sweater strip abu-abu pink, pergi tanpa mengatakan apa-apa sambil menghentakkan kakinya marah.
“Mau kemana Ren?” Aku memanggilnya, tapi dia tidak mendengarkan dan pergi keluar. Membanting pintu depan dan membuatku berjengit kaget. Aku hanya mendecakkan lidah dan memencet-mencet remote televisi dengan kesal.
Apakah pantas seorang istri membantah suaminya sekeras tadi?
Adzan Isya’ berkumandang merdu. Aku mengambil air wudlu dan bersiap untuk shalat, kemudian terdiam. Biasanya kami shalat berjamaah…
Dan dia belum pulang juga, padahal waktu hampir menunjukkan pukul 9. Aku pun memutuskan untuk menelepon ke rumahnya, siapa tahu dia ada di sana. Ibu yang mengangkat telepon, dan malah balik bertanya ada apa, kenapa aku mencari Irene. Tak ingin membuat Ibu khawatir, aku beralasan ada kesalahpahaman diantara kami dan ia pergi keluar. Sebelum menutup telepon, aku berjanji akan mencarinya. Tentu saja, suami macam apa yang membiarkan istrinya pergi tanpa tahu dimana keberadaannya?
Padahal aku sama sekali tidak tahu ia ke mana. Apakah ia sedang bersama dengan Alan?
Argh, aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Tidak mungkin, dia bukan wanita yang seperti itu.
“Astaghfirullah…apa yang sudah aku lakukan?” aku memandangi telapak tangan kananku.
Pertama kalinya aku menampar seseorang, dan orang itu adalah istriku sendiri. Tangan yang ia cium dengan khidmat sebelum dan sepulang kami pergi bekerja; dan setelah shalat berjamaah. Tangan yang selama ini  selalu membelai rambutnya yang halus. Tangan yang sering mencubit pipinya dengan gemas. Tangan yang sama telah menamparnya dengan keras, kurang dari 5 jam yang lalu.
“Astaghfirullah…” Aku sudah sangat keterlaluan padanya.
Aku mengambil ponsel dan mencari namanya di kontak, menekan tombol call. Aku tidak yakin dia akan mengangkat telepon dariku, tapi tidak ada salahnya mencoba. Nada sambung berbunyi tiga kali, kemudian telepon diangkat.
“Assalamualaikum, Ren?”
Tidak ada respon. Aku hanya dapat mendengar samar-samar suara televisi dari seberang.
“Ren, Mas minta maaf, ya? Mas yang salah, Mas sudah keterlaluan sama kamu. Mas nggak bermaksud nyakitin kamu, Mas bener-bener minta maaf karena nggak bisa mengontrol emosi. Harusnya Mas nggak boleh marah sama kamu, harusnya Mas percaya sama kamu, harusnya Mas bisa bersikap profesional dan nggak kekanak-kanakan kaya’ tadi. Ren, maafin Mas, ya? Mas janji nggak akan ngulangin perbuatan Mas lagi. Maaf ya, Sayang? Sekarang Ren di mana, biar Mas jemput?”
Masih belum ada respon, tapi sekilas aku mendengar suara isakan; dan beberapa saat kemudian ada yang berbicara. Suara seorang perempuan, tapi bukan suara istriku.
“Halo?”
Kurasa dia teman Irene.
“Halo? Maaf Mbak, boleh tahu sekarang Irene ada di mana?”
Aku mengambil pena dan mencatat alamat yang disebutkan Hani, teman Irene. Ternyata dia pergi cukup jauh, ke daerah tempat tinggalnya dulu. Setelah berpesan pada Hani untuk menjaga Irene sebentar untukku, aku menutup telepon dan segera pergi mengendarai motorku dengan kecepatan tinggi. Membelah dinginnya udara kota malam hari dengan jalanan yang lenggang.
Satu jam kemudian aku sudah berdiri di depan pintu rumah bercat putih. Rumah Hani. Mengetuk pelan sambil mengucapkan salam, samar-samar aku mendengar jawaban dari dalam. Kemudian pintu terbuka dan Hani menyapaku, segera mempersilahkanku untuk masuk.
Aku mendapati Irene sedang duduk di ruang tengah. Ia menoleh sebentar ke arahku, dan melihatnya membuatku merasa sangat bersalah. Kedua matanya terlihat sembab dan berair. Bulir-bulir air mata menetes membasahi pipinya yang masih memerah, bekas tamparanku tadi sore.
“Ren.” Aku memanggilnya pelan saat ia memalingkan kepalanya, kemudian aku duduk di sampingnya. “Maafin Mas, ya.”
Ia tidak bergeming, masih tidak mau menatapku.
Tanpa mempedulikan Hani yang berdiri di dekat pintu, aku memeluknya, menghela nafas lega. Ia tidak memberontak, hal yang sebelumnya aku takut akan ia lakukan. Aku mencium puncak kepalanya dan menghirup aroma citrus yang menguar dari rambutnya. Kalau dalam suasana normal aku pasti sudah menegurnya karena berani menanggalkan kerudungnya selain di rumah. Tapi aku memutuskan untuk membiarkannya saja.
Dan ia semakin terisak di dalam pelukanku, hingga dapat kurasakan tubuhnya sedikit gemetar.
Aku membisikkan ribuan kata maaf kepadanya, yang aku tahu tidak akan dapat memutar waktu dan menghapus semua kesalahan yang telah aku perbuat padanya. Tapi aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan selain terus dan terus memintanya memaafkan sikap kasarku. Aku benar-benar merasa sebagai seorang suami yang begitu kejam.
Sepuluh menit berlalu, perlahan aku melepasnya. Memegang sisi wajahnya dengan kedua tanganku dan menyeka air matanya yang masih mengalir dengan ibu jari.
“Pulang, yuk? Kayaknya udah kemaleman, ke rumah bapak aja, ya?”
Aku menggandeng tangannya, dengan tangan yang sore tadi menganiayanya. Berpamitan pada Hani dan menuju rumah orang tuanya yang berjarak lima menit dari sini.
Ibu yang membuka pintu. Mengerutkan kening dengan heran begitu melihat mata sembab putrinya.
“Ada apa, Mas?” tanya Ibu khawatir.
Aku tersenyum dengan perasaan bersalah. “Tadi berantem sama Dimas, Bu.”
“Ooh. Ya biasalah, namanya juga anak muda. Ya sudah, tidur sana. Sudah malam.”
Sekali lagi aku melemparkan senyuman bersalah pada ibu, kemudian masih dengan menggandeng Irene, menuju ke kamar untuk beristirahat. Beruntung besok adalah hari Sabtu dan kami tidak perlu berangkat kerja.
Ia masih belum mau mengatakan apa-apa padaku, merebahkan diri memunggungiku. Aku hanya menghela nafas pendek.
Good night, Sweetheart.” Merunduk dan mengecup keningnya dengan sayang.
Aku terbangun saat samar-samar terdengar lantunan adzan Subuh dari surau di kejauhan. Menoleh ke samping dan masih disambut dengan punggung Irene. Dia sangat tenang dalam tidurnya dan tidak banyak berubah posisi. Aku berniat membangunkannya untuk shalat berjamaah, kemudian ingat kalau ia sedang berhalangan.
Hmm, mungkin hal itu juga yang membuatnya mudah emosi dan meladeni kata-kataku kemarin.
Selesai shalat, aku membangunkannya, menyuruhnya untuk cuci muka dan mengajaknya ke luar. Lebih tepatnya, memaksanya ke luar. Ia terlihat begitu enggan untuk naik ke atas boncengan motor. Tapi akhirnya toh Irene menurut juga. Dan motor yang kukendarai melaju dengan kecepatan sedang, menembus dingin dan gelapnya pagi.
Kukira Irene masih marah padaku. Mungkin memang ia masih marah, tapi ketika aku merasakan kepalanya bersandar di punggungku dan tangannya melingkari pinggangku, aku tersenyum. Ah, atau mungkin saja ia kedinginan. Ia kan hanya mengenakan sweater tipis.
Lima belas menit kemudian kami sampai di daerah pantai. Mentari pagi tampak menyembul di ufuk timur, langit berhiaskan semburat jingga yang indah. Irene memandangiku dengan tanya. Aku tersenyum, melepas jaket yang kukenakan dan memakaikannya pada Irene.
“Udah lama nggak ke pantai, kan?”
Menggandeng tangan Irene, aku membawanya berjalan menyusuri pantai, dengan pasir putih yang menggelitik telapak kaki kami. Angin yang bertiup semilir membawa aroma eksotik khas laut menyapa daratan. Deburan ombak cukup kuat untuk menjangkau kaki kami, membasahinya dengan air laut yang dingin.
Aku merasa seperti kembali menjadi anak SMA. Berduaan dengan pacar menyusuri bibir pantai, dengan atmosfer romantika yang pekat menggantung di antara kami.
Sampai mentari pagi seutuhnya menunjukkan diri. Memancarkan sinarnya yang menghangatkan bumi. Selain kami juga ada beberapa pasangan yang tampak menikmati udara pantai di pagi hari. Beberapa di antara mereka masih remaja, kutebak masih duduk di bangku SMA. Tapi kelakuannya di ruang publik malah melebihi aku yang sudah memiliki pasangan resmi ini. Membuatku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Beruntung aku menikah di usia muda. Setidaknya aku terhindar dari perbuatan zina. Ckckck…
Merasa kami telah berjalan cukup jauh, aku mengajak Irene duduk di sebuah bangku dari semen yang berada di bawah pohon waru. Kami terdiam. Menikmati simfoni alam berupa deburan ombak yang menyapu bibir pantai, berpadu dengan desiran angin. Dari kejauhan tampak perahu nelayan pemburu ikan, seperti titik-titik hitam pada kanvas birunya lautan.
Sebersit ide usil terlintas di benakku. Kuharap Irene tidak marah.
Dua jari telunjukku menyerang bagian pinggangnya dengan cepat, menggelitikinya. Seperti biasa ia meliukkan tubuhnya untuk menghindar secara refleks, tapi aku tidak membiarkannya begitu saja. Semakin mengencarkan serangan sambil memamerkan cengiranku. Tawanya yang clear meledak, seperti bunyi lonceng yang berdenting.
“Ii-ih, geli, Mas! Ahaha-”
Aku tidak menghentikan keisenganku, karena begitu mendengar tawanya, aku tidak ingin berhenti. Aku ingin terus mendengar nada keceriaan di dalamnya. Ingin terus memandangi wajahnya yang bersemu kemerahan, dengan lesung pipinya yang menemani setiap gelak tawa renyahnya. Aku ingin terus melihatnya tertawa lepas seperti ini.
So pure and innocent.
“Udah, iih!” Akhirnya ia berhasil menepis tanganku, tapi masih dengan sisa-sisa tawanya. Aku hanya memandanginya sambil tersenyum.
“Maafin Mas soal yang kemarin ya, Ren?” kataku tiba-tiba.
Seketika itu tawanya berhenti, tapi kemudian ia tersenyum padaku. Senyuman yang sama seperti yang ia tunjukkan ketika aku mengutarakan keinginanku untuk meminangnya. Seulas senyuman yang tulus.
Ia menganggukkan kepalanya pelan.
“Mas nggak bermaksud kasar sama kamu. Maaf ya? Pasti sakit banget…”
Ia masih tersenyum, tapi dengan senyuman yang berbeda, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Senyuman pahit. Ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Lebih sakit- di sini.” Irene berkata pelan, meletakkan tangan kanannya pada dadanya sebelah kiri.
Aku terdiam.
Tentu saja. Rasa sakit yang diderita secara fisik akan cepat pulih, tapi rasa sakit secara psikis? Ah, harusnya aku lebih berhati-hati. Wanita adalah makhluk yang rapuh perasaannya. Saking rapuhnya, dapat patah dengan begitu mudahnya.
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat dengan kedua tanganku.
“Maaf Ren. Mas tahu nggak akan bisa menarik lagi apa yang sudah Mas perbuat ke kamu. Tapi-…sebagai gantinya, kamu boleh nampar Mas sebanyak yang kamu mau.”
Kami berpandangan selama beberapa saat. Irene menarik tangan kanannya yang kugenggam dan memandangi telapak tangannya. Aku menghela nafas dan memejamkan kedua mataku. Laki-laki tidak boleh menarik perkataannya lagi, karena itu aku akan siap sebanyak apa pun tamparan yang akan Irene layangkan ke pipiku. Bahkan meski ia menamparku seribu kali pun, kurasa tidak akan pernah sebanding dengan sebuah tamparan yang sudah aku layangkan kepadanya.
Aku masih menunggu, hingga kemudian merasakan tangannya memegang pundakku. Dan tidak seperti yang kuharapkan, bukan tamparan yang mendarat di pipiku, melainkan sebuah kecupan hangat. Seketika itu aku membuka mataku.
Irene menarik diri dan tersenyum padaku. Sepasang mata coklatnya berkaca-kaca, kemudian meneteskan bulir air mata. Ia mencoba untuk menyekanya, tapi sebelum jemarinya yang lentik dapat menghapusnya, aku menarik tangannya untuk kugenggam. Membiarkan bulir-bulir air hangat jatuh bebas membasahi pipinya yang memerah.
Tangan kiriku menggenggam tangan kanannya, sementara tangan kananku menggenggam tangan kirinya, menahannya pada permukaan semen di kanan-kirinya. Aku mencondongkan badanku ke arahnya, memiringkan kepalaku dan dengan perlahan lahan, dengan penuh hati-hati mengecup bibirnya.
Tidak ada lagi yang bisa kukatakan pada Irene. Tidak ada lagi alasan bagiku mengemis maaf atas apa yang sudah kulakukan. Karena saat ia membalas semua kesalahanku dengan caranya yang manis, aku tahu kalau kata maaf dariku tidak akan ada artinya lagi. Sebanyak apa pun, tidak akan cukup untuk menebus kesalahan yang sudah kuperbuat.
Perasaannya begitu rapuh dan mudah patah. Seperti bagaimana ia mudah tersakiti. Seperti bagaimana ia mudah memaafkan orang yang sudah menyakitinya.
Aku masih merasa tidak pantas untuk ia maafkan, tapi kata maafku tidak akan berguna lagi. Dan inilah caraku meminta maaf kepadanya.
Aku menciumnya dengan lembut.
Dedicated for my (unknown) future husband. Yes, I have a way to love you…
Weleri, 10 Agustus 2012

2 comments:

  1. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    jujur dalam segala hal tidak akan mengubah duniamu menjadi buruk ,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    ReplyDelete