Thursday, November 29, 2012

Kalau boleh

Aku pernah berkisah tentang mereka, orang-orang yang kurang dapat diandalkan, bukan? Tentang bagaimana mereka begitu mengandalkan kami, orang lain.

Saturday, November 24, 2012

Flashfic: Hujan

Hujan. Lagi-lagi turun hujan. Beberapa hari ini, sore terus dirundung hujan.
Aku menghentikan tarian jemariku di atas keyboard, mengecilkan volume lagu yang kudengarkan melalui headset. Samar-samar aku dapat mendengar suara derasnya hujan di luar sana. Bercampur angin dan petir yang menyambar-nyambar.
Aku bosan menulis hujan. Bosan mendeskripsikan anggunnya rintik-rintik air menimpa dedaunan. Bosan membual tentang pertemuan kita berlatarbelakang orkestra alam; suara hujan yang teredam.
Semua tentang hujan dan dirimu membuatku bosan.

Thursday, November 22, 2012

Bad Mood


Zizi mau makan apa?”
Dani menoleh ke arahku. Kedua alisnya sedikit terangkat.
Ayam bakar, soto, spageti, nasi rawon, sup; tidak ada yang terlihat menarik buatku. Aku sedang bad mood hari ini. Semuanya salah Dani si bodoh itu. Melihat tampangnya yang sok cool membuatku kehilangan selera makan.
Tanpa mengatakan apa-apa aku meninggalkannya sendiri berdiri di antrian, menuju ke sebuah meja di pojok dan duduk di kursi kosong. Aku tahu matanya terus memandangiku. Aku juga sempat mendengar dia berdecak pelan. Aku tidak peduli.
Aku sedang bad mood.

Sunday, November 18, 2012

Reliable person

Bogor, October 18th 2012
…dari tiap-tiap kegiatan, ada pihak yang berperan besar dalam membuatnya sukses. A man behind the scene.
Hampir sama seperti sinematografi, ada orang di balik berjalannya sebuah acara. Bisa jadi sekelompok, atau mungkin saja seorang diri.
Seperti bagaimana yang terjadi di kampus.
Kami mungkin tidak sedang membuat sebuah film atau drama. Kami hanya menjalani kehidupan kami sebagai mahasiswa seperti biasa. Dan layaknya pelajar pada umumnya, kami dibebani oleh tugas-tugas untuk menguji seberapa dalam pemahaman kami tentang bidang ilmu yang tengah kami tekuni. Ada beberapa yang mengharuskan kami untuk bekerja secara individu dan mengandalkan diri sendiri, sementara beberapa yang lain mengharuskan kami bekerja secara berkelompok dan mengandalkan kerja sama dengan orang lain.

Wednesday, November 14, 2012

Aku, Hujan, dan Kerudung Biru - 1

Bagian 1
Pagi yang mendung.
Sekumpulan awan hitam terlihat menggantung di langit barat, membuatku enggan beranjak dari tempat tidur. Cuaca sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini. Seringkali hujan, biasanya sore, tapi kadang-kadang di waktu yang tidak tepat seperti ini.
Jam digital berbentuk dadu di atas meja menampilkan angka 6.30. Setengah jam lagi kelas dimulai dan aku masih duduk santai. Ah, toleransi keterlambatan 15 menit.
Kakiku menapaki lantai keramik yang dingin. Tanganku menyambar handuk dan sambil menggaruk rambutku yang mulai menyentuh kerah kaosku, aku menuju kamar mandi. Sepertinya sudah saatnya aku ke tukang cukur rambut.

Saturday, November 3, 2012

I know, but do you? - a Kimi to Boku fanfiction

Disclaimer: Kimi to Boku and its charas belong to their respectful owner. And the story, you belong with me~ *nyanyi lagunya Taylor Swift*
Warning: OOC, mess sentences ._.
Aku tahu kau menyukai kakakku.
Aku sudah tahu sejak lama, bahkan sejak kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Kau membuat semuanya terlihat begitu jelas. Sepasang matamu yang bersinar-sinar dan senyuman termanis yang hanya kau berikan untuknya. Kau selalu menunjukkan yang terbaik kepadanya. Kau selalu berhasil menarik perhatiannya. Aku ingat dulu kita sering bertengkar karena kukira kau ingin merebut kakakku. Sebagai anak tunggal, kau pasti merasa kesepian. Tidak punya kakak, tidak punya adik, ayah dan ibumu juga sibuk. Pasti kau iri padaku, karena aku punya seorang kakak yang cantik dan sangat peduli padaku. Kukira itu alasanmu. Sesederhana itu.

Friday, November 2, 2012

Don't do it


don’t do things you’ll regret later

Tapi kan kita nggak tahu, karena penyesalan memang datangnya belakangan.

Justru setelah tingkat 3 seperti ini, semester 5 sekarang, kepikiran lagi tentang kalo-kuliah-di-Semarang. Dan semuanya dipenuhi oleh kata-kata penyesalan itu, ‘kalau saja…’

Bayangkan, kalau saja dulu pas daftar SNMPTN online pilihannya ditukar, alternatif pertama prodi Tata Kota Undip, alternatif kedua IPTP IPB. Atau prodi lain, yang jelas di Semarang. Keterima, kuliah di Semarang, ngekos di Semarang, tiap minggu bisa pulang ke rumah. Libur dua-tiga hari pulang. Bolak-balik Semarang-Weleri. Tata Kota, nggak belajar tentang peternakan. Nggak belajar tentang produksi ternak, pakan, nutrisi, pengolahan hasil, pengolahan limbah… Nggak ngitung-ngitung energi metabolis, kecernaan, kebutuhan nutrien, heritabilitas, ripitabilitas, fumigan, kapasitas tampung, satuan ternak… Kalo Tata Kota..entah apa yang diurusin di sana, apa aja yang dipelajari, apa aja yang diitung. Tapi yang jelas, nggak akan ketemu sama sapi, domba, kambing, kelinci, ayam, puyuh…

Jelas nggak akan seperti belajar di peternakan.

Nggak akan ketemu dengan temen-temen yang sekarang. Nggak akan ngerasain asrama, welcome party, farewell party, MPKMB, MPF. Keadaannya pasti beda banget. Nggak akan jalan-jalan di Bogor, Jakarta; karena jalan-jalannya pasti sekitar Semarang. Mungkin akan terus terkurung di sekitaran Jawa Tengah, ke Jogja, Pekalongan, dan Kendal tentu saja.

Ah, what is done is done

Bukannya nyesel kuliah di Bogor, apalagi karena prodi yang sekarang ini. Nggak nyesel sama sekali masuk Peternakan, ketemu sapi dan kawan-kawan, main-main rumput di padang pastura. Nyeselnya karena UTS tadi nggak bisa ngerjain. Salah sendiri sih, nggak belajar.

But I’ve never felt that hopeless before.

Seenggaknya selama di Fapet ini; nggak pernah merasa sebegitu nggak berdayanya ngerjain soal. Masa 70%-nya nggak bisa? Mungkin lebih, karena yang lain juga nggak yakin bener. Sempet terpikir pengen ngelakuin kecurangan, nengok ke samping ato ke belakang, minta jawaban…

…don’t do things you’ll regret later

Bisa jadi nyesel karena nggak ngerjain sendiri, bisa jadi nyesel karena nggak minta jawaban. Tapi rasanya cenderung ke nyesel kalo nggak ngerjain sendiri. Karena meski nilainya bagus, it’ll feel empty. Itu kan bukan hasil kerja keras sendiri. Jujur aja, lebih seneng ujian dengan pengawasan yang super ketat sampe nggak bisa nengok kanan-kiri, bahkan mau garuk-garuk kepala aja ragu. Entah itu soalnya bisa dijawab dengan lancar atau bisa dikarang dengan lancar, yang penting nggak ada yang bisa nyontek.

Agak kurang seneng juga kalo lagi ujian terus yang bagian belakang pada bisik-bisik tukeran jawaban. Selalu doa dalam hati, moga-moga ditegur sama pengawasnya. Bukannya sirik karena aku nggak bisa minta jawaban juga, tapi emang nggak suka sama mereka yang ribut pas ujian.

Helloo ini ujian ya, please! Buat mengevaluasi apa yang udah dipelajari, bukan buat kerja sama. Kerja sama itu ada bagiannya sendiri, misalnya pas ngerjain laporan kelompok, ngerjain power point buat presentasi, piket… Justru saat kerja sama diperlukan, malah sifat individualis muncul. Saat ujian yang harusnya individualis, sifat kerja sama malah muncul. Nggak ngerti sama orang-orang sekarang.

Ah, bodo…

Hidup masing-masing, terserah deh.