Wednesday, November 14, 2012

Aku, Hujan, dan Kerudung Biru - 1

Bagian 1
Pagi yang mendung.
Sekumpulan awan hitam terlihat menggantung di langit barat, membuatku enggan beranjak dari tempat tidur. Cuaca sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini. Seringkali hujan, biasanya sore, tapi kadang-kadang di waktu yang tidak tepat seperti ini.
Jam digital berbentuk dadu di atas meja menampilkan angka 6.30. Setengah jam lagi kelas dimulai dan aku masih duduk santai. Ah, toleransi keterlambatan 15 menit.
Kakiku menapaki lantai keramik yang dingin. Tanganku menyambar handuk dan sambil menggaruk rambutku yang mulai menyentuh kerah kaosku, aku menuju kamar mandi. Sepertinya sudah saatnya aku ke tukang cukur rambut.
6.46 am dan aku sudah siap dengan kemeja kotak-kotak merah marun. Sengaja tidak kukancingkan, memperlihatkan kaos hitam bertuliskan I am calm so shut up dengan gambar mahkota di atasnya. Menguap lebar, aku mengunci pintu kamar dan pergi meninggalkan kosan.
Sepeda motor biru melaju memecah jalanan yang masih sunyi, menyambut geliat kehidupan kampus di pagi hari yang mendung. Hari Sabtu.
Kelas supporting course seperti ini hanya penuh karena tidak ada lagi jadwal yang bersahabat, sementara kami harus memenuhi kredit semester yang belum tercukupi. Susah sekali mendapatkan jadwal yang tepat. Hari Sabtu jam 7. Aku pasti sedang tidak sadar sepenuhnya saat menekan tombol submit pada mata kuliah ini.
7.09 am, kelas masih sepi.
Rupanya aku kepagian 6 menit, karena kemudian terdengar derap langkah kaki segerombolan orang. Dosen yang tengah menerangkan sebuah grafik di slide hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Agak gaduh di belakang. Aku menggerutu sendiri, lalu menoleh saat ada seorang gadis yang pindah tempat duduk di depanku. Sepertinya ia terganggu dengan rombongan mahasiswa injury time. Selanjutnya aku menghabiskan waktu mendengarkan penjelasan dosen, sesekali mengamati kerudung biru muda di depanku.
Warna yang teduh.
8.52 am, aku masih ada di ruang kuliah. Menunggu sampai kelas cukup sepi, sementara aku menanyakan beberapa hal yang kurang kumengerti pada dosen. Saat aku membalikkan badan, hanya ada gadis berkerudung biru yang tampak sedang mengamati catatan di atas kertas bindernya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku.
Ah, ternyata ada materi yang perlu ia tanyakan pada dosen kami.
Kacamata tipis berframe putih. Bulu matanya melengkung indah. Ia menoleh ke arahku dan entah kenapa aku segera memalingkan muka, mengucapkan terima kasih pada dosen dan pergi.
Mencapai pintu kelas aku berhenti sebentar, menoleh sebentar ke arah si kerudung biru.
Dan akhirnya benar-benar pergi meninggalkan kelas.
Hujan.
Aku mengamati jalanan aspal yang didera guyuran hujan bertubi-tubi, menggenang. Mendengarkan suara derasnya hujan yang teredam, dari balik dinding-dinding kaca gedung perpustakaan. Laptop di hadapanku sudah hampir setengah jam terabaikan. Lampu parameter powernya berkedip-kedip oranye dalam mode sleep.
Tidak ada yang terlihat melintasi jalanan di tengah hujan sederas ini. Lagipula ini hari Sabtu, suasana kampus sepi seperti yang aku bayangkan. Pun dengan perpustakaan. Tadinya cukup ramai di sini, tapi waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan tidak terlihat lagi kelompok-kelompok orang berdiskusi. Tinggal aku dan beberapa orang di ruangan ini. Kalau bukan karena si layar 14 inci di hadapanku, pasti aku sudah pergi dari sini. Bodohnya aku lupa memasukkan jas hujan ke dalam bagasi motor setelah hujan kemarin.
Semoga saja hujannya segera reda, karena jujur saja aku merasa lapar. Kantin perpustakaan tidak buka hari Sabtu.
Menghela nafas panjang, aku mengalihkan perhatianku dari pemandangan di luar. Berfokus lagi ke laptopku. Menekan tombol sembarang, memasukkan password dan menekan enter.
Satu kalimat baru selesai aku ketikkan saat sekelebat biru muda terlihat dalam pandangan periferalku. “Boleh duduk di sini?”
Aku menangkat kepalaku dan bertemu dengan sepasang mata coklat tua di balik lensa tipis kacamata berframe putih.
Dengan sebuah anggukan singkat aku menjawab. Gurat senyum ramah menyambutku dan kini gadis itu duduk di hadapanku. Sebuah buku dengan sampul bergambar sapi – dengan belang hitam-putih seperti yang sering kulihat di iklan susu- menarik perhatianku. Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah.
Cowgirl, eh?
...
Bogor, 14 November 2012

1 comment: