Thursday, November 22, 2012

Bad Mood


Zizi mau makan apa?”
Dani menoleh ke arahku. Kedua alisnya sedikit terangkat.
Ayam bakar, soto, spageti, nasi rawon, sup; tidak ada yang terlihat menarik buatku. Aku sedang bad mood hari ini. Semuanya salah Dani si bodoh itu. Melihat tampangnya yang sok cool membuatku kehilangan selera makan.
Tanpa mengatakan apa-apa aku meninggalkannya sendiri berdiri di antrian, menuju ke sebuah meja di pojok dan duduk di kursi kosong. Aku tahu matanya terus memandangiku. Aku juga sempat mendengar dia berdecak pelan. Aku tidak peduli.
Aku sedang bad mood.
Berpangku tangan, aku mengeluarkan ponselku dan segera asik dengan game yang kusenangi, Fruit Ninja. Meluapkan kekesalanku dengan menganiaya layar ponselku tanpa ampun. Beberapa saat kemudian Dani menyusul dan duduk berhadap-hadapan denganku. Ia meletakkan papan bernomor 17 di atas meja.
“Aku pesenin ayam bakar sama nutri sari jeruk.”
Ck, sejak kapan dia tahu apa yang aku sukai?
Lima menit selanjutnya aku masih belum mau berbicara dengannya, melihatnya pun tidak. Pura-pura asik dengan ponselku, padahal game ini membuatku hampir gila karena berulang kali terkena bom dan game over. Tapi masih lebih baik daripada melihat wajah tampannya yang menyebalkan. Jauh lebih baik daripada melihatnya menatapku dengan alis berkerut.
Aku sedang bad mood dan ini semua karena dia.
Si bodoh itu harusnya tidak perlu memaksa ingin mengantarkanku pagi ini, hingga membuatku bangun lebih pagi dan berpenampilan lebih cantik untuk bertemu dengannya. Dia tidak perlu muncul di depan rumah kos dengan sepeda motor birunya dan helm bergambar Luffy, yang membuat ibu kos menggodaku dan mas-mas dari rumah kos sebelah bersiul-siul nyaring. Karena dengan begitu, aku tidak perlu ikut menungguinya menambal ban motor yang tiba-tiba bocor di tengah jalan. Aku tidak perlu tinggal karena merasa tidak enak meninggalkannya sendiri di bengkel kecil depan gerbang utama universitas. Aku tidak perlu terlambat dan tidak diizinkan masuk kelas, bersama dengan beberapa temanku yang terkenal sebagai mahasiswa injury time. Tapi biasanya dosen mata kuliah ini baik dan tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatan. Sialnya, hari ini yang masuk bukan dosen yang biasanya dan toleransi keterlambatan sepuluh menit benar-benar cuma berlaku sepuluh menit.
Semuanya salah si bodoh Dani ini.
“Masih marah, ya?”
Buah semangka merah yang muncul di layar kumutilasi berkali-kali karena kesal. Poin yang kudapat cukup tinggi.
Tidakkah dia tahu hal sejelas itu?
“Maaf deh. Tadi kan udah dibilang, Zizi duluan aja, nggak usah nungguin.” Dani memainkan papan bernomor 17. Mengetuk-ketukkannya ke meja, menimbulkan bunyi berisik yang membuat urat berkedut muncul di pelipisku.
Seenaknya saja dia berkata seperti itu. Siapa yang ngotot ingin mengantarku? Tiba-tiba saja menyuruhku pergi naik ojek sendiri. Laki-laki macam apa dia? Setelah kutemani setengah jam menunggu, dia menurunkanku di depan gedung fakultas dan kabur mengejar kelas paginya juga.
Tak-tak-tak! Tak-tak-tak!
Ingin sekali rasanya merampas papan nomor itu dan membuangnya jauh-jauh. Untungnya mbak-mbak pegawai kantin segera datang dan meletakkan pesanan, membawa serta papan yang sempat jadi mainan Dani sementara waktu.
Game over. Lagi dan lagi.
Aku hampir menggeram kesal, tapi tiba-tiba ponselku dengan cepat berpindah tangan. Membuatku mengangkat kepalaku, memicingkan mata memandangi Dani yang melihatku dengan muka datar. Ia memasukkan benda itu ke dalam saku kemeja kotak-kotak merah marunnya.
“Makan dulu. Mainnya terusin nanti.”
Selalu seenaknya sendiri. Menyebalkan sekali.
Kami makan dalam suasana yang tidak menyenangkan. Tidak ada obrolan santai, tidak ada senyum dan tawa, tidak ada kata-kata candaan yang terlontar dari mulutnya. Dia sepertinya tahu aku sedang tidak ingin diganggu, terlebih karena hari ini aku juga sedang kedatangan tamu bulananku. Tidak ada yang boleh main-main dengan wanita dalam kondisiku sekarang. Aku siap kapan saja menusuknya dengan garpu kalau ia bersikap menyebalkan lagi.
Dani yang pertama selesai. Tentu saja, makannya lahap sekali seperti orang kelaparan. Ia menyedot es tehnya sampai habis. Sampai berbunyi seperti yang sering kulakukan juga. Kemudian ia berpangku tangan, memandangiku makan.
Aku tidak memperhatikannya, tapi ia memang terlihat dalam pandangan periferalku dan tidak ada yang bisa kulakukan kecuali merasa tidak nyaman. Bagaimana bisa aku makan dengan tenang sementara dipandangi seperti pencuri yang tengah diinterogasi?
Garpu di tangan kiriku terlihat menjanjikan. Aku baru mengangkatnya sedikit, Dani sudah duluan memegang tanganku dengan waspada.
“Lagi makan, nggak boleh mainan garpu, Zi.”
Dia tidak sempat mengelak saat aku memukul kepalanya dengan sendok.
“Itu kan kotor! Aduuuh, Zizi!” Dengan sedikit kesal ia mengusap-usap rambutnya. Keningnya berkerut semakin dalam saat menemui sesuatu yang lengket di kepalanya. Butiran nasi.
Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar nyaring, karena aku memang sedikit membantingnya tanpa peduli beberapa pasang mata tertuju ke arah kami.
“Mau kamu apa, sih? Cuma telat sepuluh menit doang ngambek kayak gini? Emang tadi ada kuis sebelum kuliah, terus kamu ketinggalan?”
Brak! “Bego! Nggak boleh masuk tadi!”
Pertama kalinya aku menggebrak meja, meski tidak terlalu keras. Sekarang semua perhatian pengunjung kantin tertuju ke arah kami. Dani hanya mengerjapkan matanya, mencoba mencerna apa yang kukatakan sebelumnya. Saat ia baru akan mengatakan sesuatu, aku pergi meninggalkan meja. Menghentakkan kaki dengan kesal. Dani mencoba menyusulku, sayangnya aku lebih dulu memanggil ojek dan pulang. Sementara ia bergegas ke parkiran motor.
Aku tidak peduli. Aku sedang bad mood hari ini.
“Zian, pacar kamu nyariin tuh, di depan.” Ibu kos mengetuk pintu kamarku pelan.
“Suruh pulang aja, Bu. Zian nggak pengen ketemu.”
Aku tidak senang. Aku tidak ingin melihat Dani lagi hari ini. Dia menyebalkan sekali dan aku kesal padanya. Tatapan ibu kos juga membuatku tidak senang. Beliau menepuk pundakku dengan pengertian.
“Lagi berantem? Padahal tadi pagi masih adem-ayem aja, Zi?”
Aku diam. Ibu kos tidak mengusikku lebih lanjut. Samar-samar kudengar beliau menasehati Dani untuk pulang. Dan sebentar kemudian terdengar suara motor menjauh.
Mungkin aku sedang tidak berpikir logis hari ini. Bisa jadi karena pengaruh tamu bulanan juga, sehingga membuatku benar-benar kesal hanya karena masalah yang dianggap sepele oleh Dani. Tidak diizinkan masuk kelas juga sebenarnya bukan perkara besar. Bukan cuma aku yang mengalaminya, ada setidaknya 10 anak merasakan hal yang sama. Lagipula sejak awal aku sudah memilih ini sendiri. Dani sudah memintaku untuk meninggalkannya. Tapi gadis mana yang tega meninggalkan pacarnya sendirian di tempat tambal ban? Mungkin banyak, tapi bukan aku.
Aku tidak membencinya. Tidak. Aku tidak membenci Dani. Aku hanya kesal padanya. Kesal sekali. Aku sedang bad mood hari ini.
Satu-satunya cara yang ampuh untuk menyalurkan kekesalanku adalah dengan memutilasi buah-buahan di game Fruit Ninja kesukaanku. Dan aku baru sadar kalau Dani masih menahan ponselku. Memikirkannya membuatku semakin kesal. Sekarang rasa kesalku berlipat-lipat. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja tanpa menitipkan ponselku pada ibu kos? Apa dia berniat menjualnya?
Aku kesal dan harus segera mendapatkan ponselku kembali. Dani begitu iseng dan dia pasti akan membuat semuanya kacau berantakan. Bagaimana kalau ia bisa tahu passwordnya dan berhasil membongkar semua aib yang kusimpan di sana? Seperti bagaimana aku mempermalukannya dengan memampang foto tidurnya di facebook? Bukan tidak mungkin dia akan membalas kejahatan yang kulakukan padanya.
Aku harus pergi dan mengambil ponselku, meski itu artinya melihat Dani lagi hari ini. Tidak akan lama, aku hanya perlu merampas kembali ponselku dan meninggalkannya seperti tadi. Kalau dia lagi-lagi bersikap menyebalkan, mungkin aku akan memukulnya kali ini. Atau menendang selangkangannya kalau ia berani menarik tanganku seperti tadi.
Setelah itu aku akan melampiaskan rasa kesalku dengan bermain Fruit Ninja.
Aku memasuki ruang tamu dan langkah kakiku terhenti.
Yang tidak kutahu, tadi bukan suara motor Dani. Mungkin motor mas-mas penghuni rumah kos sebelah. Karena orang yang menyebalkan dan tampan itu duduk dengan santai di sofa. Mata coklat tuanya memandangiku dengan tatapan yang hampir terlihat memelas. Si bodoh itu tidak beres membersihkan rambutnya, karena masih ada butiran nasi di sana yang pasti sudah membuatku tertawa kalau bukan karena suasana hatiku yang sedang buruk.
Dani berdiri dan menarik tanganku, hanya untuk mengembalikan ponsel.
“Nih, main Fruit Ninja sampe puas. Nanti hari Sabtu aku jemput. Kita nonton Star Wars, terus makan es krim coklat; pas kamu udah nggak marah-marah lagi.” Ia mengatakannya dengan tenang sambil tersenyum. Kemudian mengacak rambutku pelan dan pamit pulang. Kali ini deru motor yang menjauh itu benar-benar Dani. Lagi-lagi dia bersikap seenaknya sendiri, meninggalkanku terpaku di sini.
Hari Sabtu berarti 4 hari lagi. Saat itu harusnya tamu bulananku sudah pulang.
Aku memeriksa ponselku dan menemukan catatan kecil yang ia tinggalkan padaku.
“Besok mau diantar lagi, kan? Janji deh, kali ini nggak akan telat lagi! Kita berangkat jam 6, kalo perlu aku jadi penyusup terus nemenin Zizi kuliah. Mumpung besok pagi nggak ada kelas :p”
Seulas senyum mau tak mau terbentuk menghiasi wajahku.
Aku benci Dani karena dia begitu sempurna. Aku benci Dani karena dia membuatku merasa menjadi seseorang yang istimewa. Aku benci Dani karena dia begitu mengerti.
Aku benci Dani karena dia sudah membuatku begitu menyukainya.
Bogor, 22 November 2012

Komik version part 1 - here

No comments:

Post a Comment