Friday, November 2, 2012

Don't do it


don’t do things you’ll regret later

Tapi kan kita nggak tahu, karena penyesalan memang datangnya belakangan.

Justru setelah tingkat 3 seperti ini, semester 5 sekarang, kepikiran lagi tentang kalo-kuliah-di-Semarang. Dan semuanya dipenuhi oleh kata-kata penyesalan itu, ‘kalau saja…’

Bayangkan, kalau saja dulu pas daftar SNMPTN online pilihannya ditukar, alternatif pertama prodi Tata Kota Undip, alternatif kedua IPTP IPB. Atau prodi lain, yang jelas di Semarang. Keterima, kuliah di Semarang, ngekos di Semarang, tiap minggu bisa pulang ke rumah. Libur dua-tiga hari pulang. Bolak-balik Semarang-Weleri. Tata Kota, nggak belajar tentang peternakan. Nggak belajar tentang produksi ternak, pakan, nutrisi, pengolahan hasil, pengolahan limbah… Nggak ngitung-ngitung energi metabolis, kecernaan, kebutuhan nutrien, heritabilitas, ripitabilitas, fumigan, kapasitas tampung, satuan ternak… Kalo Tata Kota..entah apa yang diurusin di sana, apa aja yang dipelajari, apa aja yang diitung. Tapi yang jelas, nggak akan ketemu sama sapi, domba, kambing, kelinci, ayam, puyuh…

Jelas nggak akan seperti belajar di peternakan.

Nggak akan ketemu dengan temen-temen yang sekarang. Nggak akan ngerasain asrama, welcome party, farewell party, MPKMB, MPF. Keadaannya pasti beda banget. Nggak akan jalan-jalan di Bogor, Jakarta; karena jalan-jalannya pasti sekitar Semarang. Mungkin akan terus terkurung di sekitaran Jawa Tengah, ke Jogja, Pekalongan, dan Kendal tentu saja.

Ah, what is done is done

Bukannya nyesel kuliah di Bogor, apalagi karena prodi yang sekarang ini. Nggak nyesel sama sekali masuk Peternakan, ketemu sapi dan kawan-kawan, main-main rumput di padang pastura. Nyeselnya karena UTS tadi nggak bisa ngerjain. Salah sendiri sih, nggak belajar.

But I’ve never felt that hopeless before.

Seenggaknya selama di Fapet ini; nggak pernah merasa sebegitu nggak berdayanya ngerjain soal. Masa 70%-nya nggak bisa? Mungkin lebih, karena yang lain juga nggak yakin bener. Sempet terpikir pengen ngelakuin kecurangan, nengok ke samping ato ke belakang, minta jawaban…

…don’t do things you’ll regret later

Bisa jadi nyesel karena nggak ngerjain sendiri, bisa jadi nyesel karena nggak minta jawaban. Tapi rasanya cenderung ke nyesel kalo nggak ngerjain sendiri. Karena meski nilainya bagus, it’ll feel empty. Itu kan bukan hasil kerja keras sendiri. Jujur aja, lebih seneng ujian dengan pengawasan yang super ketat sampe nggak bisa nengok kanan-kiri, bahkan mau garuk-garuk kepala aja ragu. Entah itu soalnya bisa dijawab dengan lancar atau bisa dikarang dengan lancar, yang penting nggak ada yang bisa nyontek.

Agak kurang seneng juga kalo lagi ujian terus yang bagian belakang pada bisik-bisik tukeran jawaban. Selalu doa dalam hati, moga-moga ditegur sama pengawasnya. Bukannya sirik karena aku nggak bisa minta jawaban juga, tapi emang nggak suka sama mereka yang ribut pas ujian.

Helloo ini ujian ya, please! Buat mengevaluasi apa yang udah dipelajari, bukan buat kerja sama. Kerja sama itu ada bagiannya sendiri, misalnya pas ngerjain laporan kelompok, ngerjain power point buat presentasi, piket… Justru saat kerja sama diperlukan, malah sifat individualis muncul. Saat ujian yang harusnya individualis, sifat kerja sama malah muncul. Nggak ngerti sama orang-orang sekarang.

Ah, bodo…

Hidup masing-masing, terserah deh.

1 comment:

  1. mangat unyuuuuuu!!! you can fix them when final test comes!!! belajaaaaaaar! :D

    ReplyDelete