Saturday, November 24, 2012

Flashfic: Hujan

Hujan. Lagi-lagi turun hujan. Beberapa hari ini, sore terus dirundung hujan.
Aku menghentikan tarian jemariku di atas keyboard, mengecilkan volume lagu yang kudengarkan melalui headset. Samar-samar aku dapat mendengar suara derasnya hujan di luar sana. Bercampur angin dan petir yang menyambar-nyambar.
Aku bosan menulis hujan. Bosan mendeskripsikan anggunnya rintik-rintik air menimpa dedaunan. Bosan membual tentang pertemuan kita berlatarbelakang orkestra alam; suara hujan yang teredam.
Semua tentang hujan dan dirimu membuatku bosan.
Kau tidak pernah nyata, kan? Karena kau hanya sekedar imaji. Kau imaji yang terlahir bersama dengan mendung gelap dan berkembang seiring dengan turunnya hujan. Rekaan otak kananku yang haus akan rangsangan. Kau tidak pernah nyata, karena kau memudar seiring dengan berhentinya hujan. Bahkan tidak menggenang, tidak meninggalkan sisa-sisa kenangan. Sejak awal kau hanya bagian dari diriku yang merasa kesepian.
Aku tidak pernah tahu bagaimana sesungguhnya rupamu. Apa warna rambutmu, warna matamu, bentuk alismu, paras wajahmu… Apalagi untuk tahu berapa tinggi dan beratmu. Pikiranku terlalu temaram, seperti langit malam yang kelam. Sulit untuk membayangkanmu bersamaan dengan turunnya hujan. Jalanan licin dan aku tergelincir. Aku terjatuh dan sadar tak ada dirimu yang akan mengulurkan tangan kepadaku.
Kau tidak pernah nyata. Kau hanya imaji semata.
Kau-…
“Hujannya nggak reda-reda ya, dari tadi?”
…tidak nyata.
Sepasang mata coklat tua itu seperti yang pernah aku bayangkan. Rambut hitam-kemerahan yang menyentuh kerah leher bagian belakang juga pernah kulihat sebelumnya, dalam pikiranku. Seulas senyuman hangat itu juga begitu familiar.
Mungkin aku tidak menyadarinya, tapi pikiranku sudah membentuk sosok imaji yang luar biasa cantik. Seperti nyata, benar-benar penipuan yang menyesatkan.
“Sibuk ngerjain laporan, ya?”
Sial. Aku mulai sulit membedakan antara realita dan mimpi.
Tapi kalau mungkin, kalau memang benar, aku ingin mencoba untuk percaya. Sebagaimana kau menatapku dengan sorot matamu yang hangat, aku yakin waktu akan mengatakan padaku yang sebenarnya. Apakah ini nyata, atau aku mulai gila.
Karena sosokmu tak pernah terlihat sesolid ini…
Bogor, 23 November 2012

No comments:

Post a Comment