Sunday, November 18, 2012

Reliable person

Bogor, October 18th 2012
…dari tiap-tiap kegiatan, ada pihak yang berperan besar dalam membuatnya sukses. A man behind the scene.
Hampir sama seperti sinematografi, ada orang di balik berjalannya sebuah acara. Bisa jadi sekelompok, atau mungkin saja seorang diri.
Seperti bagaimana yang terjadi di kampus.
Kami mungkin tidak sedang membuat sebuah film atau drama. Kami hanya menjalani kehidupan kami sebagai mahasiswa seperti biasa. Dan layaknya pelajar pada umumnya, kami dibebani oleh tugas-tugas untuk menguji seberapa dalam pemahaman kami tentang bidang ilmu yang tengah kami tekuni. Ada beberapa yang mengharuskan kami untuk bekerja secara individu dan mengandalkan diri sendiri, sementara beberapa yang lain mengharuskan kami bekerja secara berkelompok dan mengandalkan kerja sama dengan orang lain.
Di saat seperti itu, kata kami sedikit demi sedikit mulai terdispersi dan berubah menjadi aku bagi sebagian kecil dari kami. Termasuk aku. Ya, aku yang membuat racauan ini.
Para dosen selalu mengeluhkan tentang lulusan yang teamworknya kurang, lulusan yang individualis.
Aku sedikit tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Beberapa orang mungkin lebih senang bekerja sendiri, beberapa orang dapat bekerja dalam tim, sementara beberapa orang yang lain lebih memilih untuk mengandalkan orang lain. Tapi tidak ada yang salah dengan depend on others, karena memang manusia tidak bisa hidup sendiri.
Hanya konteksnya berbeda dalam hal ini.
Mengandalkan orang lain dalam kehidupan penugasan di kampus berarti ‘silakan kamu kerjakan tugasnya, aku bantu dengan doa’. Bagus kalau memang orang itu benar-benar mendoakan kelancaran pembuatan tugas kelompok, bagaimana kalau tidak? Karena kenyataannya mulut mudah mengucap sementara diri sulit untuk berbuat.
Bahkan berdoa pun tidak dilakukan, apalagi mengerjakan tugas.
Beralih ke aku; jujur saja, aku senang bekerja dalam tim. Aku masih membutuhkan arahan dan akan lebih menyenangkan kalau bisa melakukan sesuatu bersama-sama. Aku juga tidak mengelak kalau aku juga senang bisa mengandalkan orang lain.
I’d like to team up with smart and reliable people.
Bukannya supaya aku tidak perlu bersusah payah menyelesaikan tugas, tapi agar semuanya terarah. Aku mengandalkan mereka untuk memandu jalan, bukan melaluinya sendiri dan mengatakan hasilnya padaku. Tapi beberapa orang sangat tidak dapat diandalkan, yaitu mereka yang benar-benar hanya bisa mengandalkan orang lain.
And if I teamed up with that kind of people, I will just sigh, saying ‘Here it goes…’
Saat itu aku tidak lagi membutuhkan pemandu, karena aku yang jadi pemandu. Kunci dari segalanya. Sering terjadi kejadian seperti itu. Aku akan sedikit berspekulasi tentang posisiku, karena aku merasa aku dapat diandalkan. Ya, ketika itu, frasa tugas kami berubah menjadi tugasku.
Ada beberapa hal positif yang bisa diambil dari kejadian itu. Sebut saja aku memang dapat diandalkan, aku dianggap mampu untuk menyelesaikan, aku dipercaya untuk mengerjakan, aku diberi tanggung jawab yang mau tak mau harus aku emban. Harus kuakui aku merasa kalau aku lebih baik dari mereka. Tentu saja, kalau aku tidak lebih baik dari mereka, mereka tidak akan memberiku kepercayaan sebegitu besarnya padaku, yang jelas akan berpengaruh pada nilai mereka juga.
Bodoh, itu bukan diandalkan, tapi dimanfaatkan!
Aku tahu, aku tahu. Aku juga merasa seperti itu.
Tapi, aku ingin jadi orang yang bisa diandalkan. Meskipun itu berarti juga dimanfaatkan dalam waktu yang bersamaan. Tidak apa-apa. Karena dengan begitu aku tahu, aku cukup berguna dan mereka, orang-orang yang kurang berguna itu, membutuhkanku.
Jika kehidupan kampus dianalogikan seperti sebuah produksi film, maka aku adalah sutradara. Aku penulis naskah, aku editor, aku setter; siapa pun dia yang bekerja di balik layar. Siapa aktornya? Siapa pun jadi, bahkan cenderung mereka yang kurang dapat diandalkan.
Aku tertawa saja di balik layar.
Tepuk tangan dan pujian itu untuk kami, bukan aku.
Sudahlah. Tarik saja kesimpulan sederhana, I’m a reliable person, right?
Sekarang jadi lega, kan? Percayalah, kalau kau mengalami apa yang aku alami, merasakan apa yang aku rasakan; maka kau orang yang spesial. Kau orang yang dapat diandalkan. Kau orang yang sedikit lebih baik dari orang kebanyakan.
Daijoubu da yo. Ganbare, ganbare (Asaba Yuuta – Kimi to Boku)

No comments:

Post a Comment