Wednesday, January 9, 2013

Aku, Hujan, dan Kerudung Biru - 2

Bagian 2
“Zakki, tanah yang sebelah sini masih terlalu keras!”
Aku menengadahkan kepalaku. Siang yang terik di bawah sengatan matahari. Lain kali aku akan memakai topi yang lebih meyakinkan daripada topi baseball ini. Peluh membasahi dahi dan pelipisku, mengalir turun meninggalkan kesan lengket yang membuatku mengernyitkan alis. Aku menyeka keringatku dengan punggung tangan. Tapi tak lama kemudian aku mengutuk perlahan, baru sadar kalau tanganku belepotan tanah.
Menanam bukan kegiatan yang tidak kusukai. Tapi mencangkul sepetak tanah bukanlah perkara mudah. Sialnya, Ryan harus jatuh sakit di saat yang tidak tepat seperti hari ini. Akhirnya aku harus menggulung lengan kaosku tinggi-tinggi dan menyelesaikan pekerjaan kasar ini seorang diri. Tidak mungkin aku membiarkan dua gadis teman sekelompokku ikut-ikutan mengangkat cangkul.
Aku tidak mencoba menjadi pahlawan, tapi memang ini tugas laki-laki.
“Benihnya bener yang ini, kan? Jarak penanamannya berapa sentimeter, ya?”
Aku pikir tugas seorang arsitek hanya duduk menghadap meja dan mendesain bangunan; atau taman, dalam kasusku. Ternyata aku harus terjun ke lapangan juga dan menanam jagung. Akan lebih menarik kalau sejak awal penanamannya mengikuti pola yang dibentuk dengan perhitungan terlebih dulu. Dengan demikian saat tanamannya tumbuh nanti, aku dapat melihat hasil desainnya.
Ah, lagipula siapa yang menanam jagung di taman depan rumahnya?
Menghela nafas panjang, aku meletakkan cangkul dan duduk di bangku, meluruskan kedua kakiku. Lagi-lagi aku memilih jadwal dengan waktu yang kurang tepat. Setelah ini masih ada kuliah lagi dan kaos yang kukenakan melekat di badanku dengan tidak nyaman. Lengket oleh keringat.
Sekarang setelah pekerjaan kasar selesai dilakukan, giliran gadis-gadis itu yang turun ke lapangan. Membawa kantong benih sambil tertawa-tawa. Andai saja mereka tahu betapa melelahkannya apa yang kami para pria lakukan, tentu mereka tidak akan tertawa dengan muka sebahagia itu.
Dalam sekejap area ladang dipenuhi celotehan gadis-gadis bertopi jerami dengan pita merah muda melambai-lambai tertiup angin semilir. Mereka memutuskan untuk bersikap manis hari ini. Meninggalkan sepatu berhak tinggi di rumah dan berganti dengan sepatu boot. Aku bertaruh kulit mereka sudah pasti terlindungi oleh tabir surya setebal beberapa senti.
“Ayo, siapa selanjutnya?”
Aku menolehkan kepalaku ke arah samping.
Tempat praktikum kami ada di dalam laboratorium lapang Fakultas Peternakan. Bersebelahan dengan kandang sapi belang hitam-putih yang sekarang dipenuhi oleh mahasiswa Fakultas Peternakan, tentu saja. Mereka mengenakan baju lapang terusan berwarna biru dongker dengan lambang universitas terbordir di sebelah kiri dan nomor induk mahasiswa di sebelah kanan.
Mereka sedang praktikum semacam- pengendalian sapi? Entahlah, yang kulihat, satu per satu dari mereka maju dan menarik tali yang mengikat sapi. Membawa ternak besar itu memutari area berumput samping kandang yang tidak seluas area penanaman tempatku berada. Beberapa dari mereka, terutama wanita, tampak ragu-ragu dan terlihat tegang. Beberapa dari mereka terlihat cukup percaya diri. Aku sendiri tentu tidak akan berjalan setenang itu dengan menuntun binatang besar bertanduk di sebelahku. Bagaimana kalau ia memberontak dan menyerangku? Menanduk perutku? Memburai ususku?
Aku bergidik ngeri, gambaran seekor banteng bermata merah dengan hidung berasap terlintas di benakku.
“Serem ya, nuntun sapi begitu? Tadi sempet ada yang nyeruduk-nyeruduk loh, untung bisa cepet dihandle lagi.” Seorang teman sekelasku duduk di sebelah, menyeka keringat yang membasahi lehernya dengan handuk kecil.
“Hmm.”
Dalam bayanganku, mahasiswa Fakultas Peternakan itu berkemeja kotak-kotak, bersepatu boot tinggi, memakai topi jerami dan menaiki kuda. Ah, hanya sosok cowboy yang muncul di benakku. Berlatar belakang gurun pasir dan pohon kaktus berduri. Atau hamparan karpet rumput yang menghijau sepanjang mata, dengan beberapa ekor sapi belang hitam putih yang nampak bahagia mengunyah rumput.
Tapi melihatnya sendiri, mereka sama seperti kami. Mahasiswa biasa. Mereka tidak bertopi jerami dan tidak berkuda dengan tali laso di tangan. Ah, kurasa saat ini mereka sedang belajar menjadi cowboy. Belajar menaklukan sapi.
“Berikutnya!”
Aku menolehkan kepalaku lagi.
Gadis yang waktu itu.
Kerudung biru tuanya cocok dengan baju lapang yang ia kenakan.
Biru.
Ia terlihat percaya diri. Tangan kirinya memegangi tali yang mengikat moncong sapi, sementara tangan kanannya memegang gulungan tali kendali. Sama seperti yang lain, ia menuntun hewan besar itu berkeliling. Kuperhatikan si sapi itu menurut sekali padanya, tidak berhenti untuk makan rumput seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Cengiran menghiasi parasnya saat ia berhasil menyelesaikan satu putaran dan menyerahkankan kendali ke temannya. Ia mengatakan sesuatu pada temannya yang lain, sambil tertawa, tapi aku tidak bisa mendengarnya.
Aku masih saja memperhatikannya.
Ah, ia tidak memakai kacamata berbingkai putihnya.
Tiba-tiba ia melihat ke arahku dan kami bertemu pandang.
Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aku membalasnya dengan hal yang sama. Kemudian ia kembali terlibat obrolan dengan kawannya. Aku pun mengalihkan pandanganku dari sosoknya, memperhatikan Fera dan Asti yang asik menanam jagung.
Mungkin lain kali aku akan menanyakan namanya.
Gadis berkerudung biru itu.


 tautan ke Bagian 1

No comments:

Post a Comment