Tuesday, January 8, 2013

Ketua Kelas

Source: google
Sinar hangat mentari pagi menerobos masuk melalui celah tirai yang sedikit tersibak dan jatuh tepat mengenai wajah seorang anak yang masih tertidur pulas dengan posisi meringkuk memeluk guling. Merasakan wajahnya menghangat ia membalikkan badannya sehingga punggungnya menghadap jendela, kemudian meneruskan tidurnya. Tidak peduli dengan kicauan burung yang bertengger di ranting pepohonan di luar. Tidak peduli dengan sayup-sayup suara yang memanggil namanya.
Pintu terbuka dan seorang gadis berseragam putih abu-abu masuk sambil membenarkan posisi kerudung yang tersampir pada pundaknya. Ia terkejut melihat adiknya yang masih meringkuk dengan santainya di atas tempat tidur.
“Astaghfirullah, Aji! Sudah hampir jam setengah tujuh ini, ayo bangun!”
“Hhn-” Hanya itu responnya.
Urat berkedut nampak di pelipis kiri gadis bernama Kika itu. Dia meraih bantal di ujung tempat tidur yang jika tersenggol sedikit lagi akan jatuh dan menimpa buku-buku yang berserakan di bawahnya.
“Heh, bangun! Mau tidur sampai kapan kamu? Ini kan hari pertamamu masuk kelas!” Kika memukul punggung Aji menggunakan bantal. “Bangun, bangun!”
“Aaah...Kakak berisik nih!”
...
Masa orientasi sekolah bagi siswa baru yang kerap kali identik dengan perploncoan dan ajang balas dendam senior tidak berlaku di sini, SMA N 1 Purin. Sebutannya adalah masa perkenalan sekolah siswa baru yang dilaksanakan selama seminggu dan sarat dengan kegiatan yang bermanfaat seperti seminar-seminar, pembekalan materi, motivasi dan talkshow. Selain itu juga terdapat sesi permainan yang menyegarkan dan menghibur siswa-siswa baru. Sama sekali tidak ada tindak bullying dalam bentuk apa pun.
Itulah yang menjadi alasan bagi Aji Praditya untuk memilih bersekolah di sini, selain karena memang kualitasnya yang telah terbukti dan diakui. Butuh perjuangan yang cukup berat baginya karena harus melalui tes masuk yang diikuti oleh lebih dari 60 persen siswa lulusan SMP di kotanya, sementara kuota hanya dibuka bagi 300 siswa baru.
Sebenarnya ibu agak khawatir dengan pilihan Aji untuk bersekolah di tempat yang sama dengan kakaknya karena dia merupakan lulusan sebuah SMP kecamatan. Ibu takut Aji mengalami kesulitan dalam bergaul dengan siswa lain yang sebagian besar berasal dari kota besar dan malah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif. Namun melihat betapa bulat tekad Aji serta janji Kika untuk menjaga adiknya, ibu pun mengizinkan, karena ayah juga tidak masalah dengan hal itu.
Dan sekarang, siswa baru itu tengah duduk setengah mengantuk di deretan bangku belakang. Semalam ia asyik bermain ular tangga dengan kakak laki-lakinya yang sedang libur kuliah hingga lupa waktu dan tidur terlalu malam.
Ia tidak begitu mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh guru yang akan menjadi wali kelasnya di depan. Yang ia tahu hanya namanya Bu Irma dan beliau mengajar Bahasa Inggris.
“Baiklah. Sekarang kita mulai saja membentuk kepengurusan kelas, ya?”
‘Pasti Kak Dika masih meringkuk dengan tenangnya di atas kasurnya yang empuk,’ Itu yang ada di dalam pikiran Aji. Betapa mengantuknya ia. Salahkan Dika yang tidak mau mengakui kekalahannya dan menantang Aji untuk bermain lagi hingga ia dikalahkan oleh kakaknya itu.
“Jadi siapa yang mau mencalonkan diri sebagai ketua kelas?”
Mereka berpandangan satu sama lain.
“Bagaimana kalau kamu saja yang sedang mengantuk di pojokan?”
Ketigapuluh pasang mata –termasuk Bu Irma- tertuju ke arahnya. Aji hanya mengerjapkan mata dan melihat ke arah gurunya dengan tampang tidak mengerti. Fiqi, teman sebangkunya yang baru dikenalnya satu minggu ini hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Iya, kan?” Bu Irma tersenyum penuh arti.
Dia ingin menyikut Fiqi dan menanyakan apa yang tengah terjadi, namun sepertinya hal itu tidak akan mudah mengingat sorot mata manusia-manusia asing yang baru dikenalnya itu semakin tajam saja. Seperti sedang menginterogasinya.
Aji pun mengangguk dengan keragu-raguan, karena ia memang sama sekali tidak tahu apa-apa. “I-iya, Bu?”
Bu Irma menganggukkan kepala dengan puas, senyumnya mengembang.
“Oh, siapa tadi namamu?”
“Aji Praditya, Bu.”
“Karena tidak ada kandidat lain, dengan begitu telah diputuskan bahwa Aji Praditya yang akan menjadi ketua kelas ini. Kamu siap kan, Aji?”
Lagi-lagi berpasang-pasang mata melihat ke arahnya dan membuatnya gugup, apalagi setelah ia tahu apa yang terjadi selama ia sibuk membayangkan betapa empuknya kasur di rumah tadi.
“Eeh? Ketua kelas?”
“Aji sudah bilang iya, lho!” Bu Irma lagi-lagi tersenyum.
Ia hanya bisa menatap gurunya itu dengan tidak percaya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa beliau menganugrahkan begitu saja jabatan dengan tanggung jawab sebesar itu pada siswa yang mengantuk di belakang? Dan bagaimana mungkin tidak ada siswa lain yang berminat?
“Aji pernah menjadi ketua kelas sebelumnya, kan?”
“I-iya sih..”
Kenyataannya ia adalah ketua kelas selama sembilan tahun berturut-turut sejak kelas 1 sekolah dasar. Sebuah prestasi yang ia sendiri tidak bangga akan hal itu. Karena selama sembilan tahun itu ia menjabat sebagai ketua kelas dengan terpaksa, yang berarti tidak ada siswa lain yang mau.
Dan kenapa hal yang sama terulang di sini? Padahal ia pikir dengan bersekolah di SMA favorit seperti SMA N 1 Purin ini akan ada banyak kandidat pemimpin kelas yang bermunculan dan bersaing secara sehat seperti dalam pemilihan ketua OSIS.
“Kalau begitu tidak masalah, kan? Sudah berapa kali Aji menjabat sebagai ketua kelas?”
Aji berharap semoga tadi ia jatuh tertidur dan sedang bermimpi saat ini. Karena bagaimana pun juga, ia tidak ingin membuat rekor baru sebagai ketua kelas selama 12 tahun.
“Sembilan kali.”
Hening sekali. Rasanya seperti saat lagu Mengheningkan Cipta dinyanyikan dalam upacara bendera yang ia ikuti tidak lebih dari satu jam yang lalu. Hingga kemudian terdengar tepuk tangan Bu Irma yang nyaring, segera diikuti oleh siswa-siswa yang lain dengan semangat.
“Sempurna! Berarti Ibu tidak salah pilih, kan? Kelas kita akan dipimpin oleh seorang yang sudah berpengalaman selama sembilan tahun!”
Ia tidak tahu harus tersenyum bangga atau tersenyum kecut mendengarnya. Karena hal itu tidak terdengar seperti sebuah pujian yang menyanjung baginya.
Fiqi menepuk-nepuk pundaknya dengan penuh kekaguman. Ia tidak menyangka duduk sebangku dengan ketua kelas profesional seperti Aji. Padahal tampangnya tidak meyakinkan sama sekali. Lihat saja bagaimana ia mengantuk di hari pertama mereka masuk kelas.
“Nah, sekarang siapa yang berminat menjadi sekretaris dan membantu Ibu mencatat susunan pengurus kelas?”
Aji yakin ada lebih dari sepuluh orang siswa yang mengangkat tangannya saat itu. Rasa kantuk yang menyerangnya sejak awal hilang seketika dan entah kenapa pundaknya terasa berat.
...
“Kenapa kau tidak memperingatkan aku tadi?”
“Kenapa? Bu Irma memang tidak salah pilih, kan? Aku bahkan belum pernah tahu ada orang yang selama sembilan tahun sekolah menjabat menjadi ketua kelas!”
“Dasar kau!” Aji meninju lengan Fiqi main-main.
Mereka berdua cepat akrab dan tampak seperti kawan lama. Semuanya berawal setelah Fiqi mengetahui riwayat Aji yang mengagumkan. Bahkan dia belum pernah satu kali pun terlibat dalam keorganisasian kelas. Hanya kali ini saja dia berani mencalonkan diri sebagai wakil ketua kelas, mengingat atasannya adalah seorang yang telah berpengalaman selama sembilan tahun dalam bidangnya. Atau setidaknya itu yang ia tahu.
Kebetulan rumah mereka searah, hanya berjarak tiga blok saja ternyata. Kika yang berjalan di ujung kiri menertawakan adiknya. Ia berulang kali memberitahu Aji bahwa mungkin saja ia memang ditakdirkan untuk menjadi ketua kelas seumur hidup.
“Tapi kali ini kau harus sungguh-sungguh, Ji. Tidak bisa main-main seperti waktu SD atau SMP dulu,” Kika memperingatkan di sela-sela tawa Aji dan Fiqi. Langsung ampuh membunuh tawa Aji yang nyaring.
Memang benar selama sembilan tahun ini dia tidak bersungguh-sungguh, malah cenderung bersungut-sungut melaksanakan tugasnya. Lagipula ia banyak dibantu oleh wali kelasnya. Sekarang kan dia sudah SMA, mana mungkin ia sampai merepotkan Bu Irma untuk tugas yang seharusnya dapat ia laksanakan?
Lalu apa saja yang sudah ia dapat selama sembilan tahun ini?
Tiba-tiba saja ia merasa seperti baru pertama kali ditunjuk menjadi pemimpin kelas. Rasa takut akan tanggung jawab besar yang akan ia tanggung mulai hari ini. Padahal biasanya ia tidak merasa demikian.
Aji pun ragu, apakah ia sanggup melaksanakan tugasnya dengan baik?
“Tenang saja, aku akan membantumu, Ketua!” Fiqi menepuk pundak Aji dengan pasti sambil memamerkan gigi gingsulnya.
Ya, bukankah ia tidak sendirian? Masih ada Fiqi dan teman-teman barunya yang lain yang akan membantunya. Mungkin semuanya tidak seberat yang ia kira.
...
Bogor, 26 April 2011
Astagaaa, udah lama yaa ini bikinnya...pas tingkat 1 ._.

No comments:

Post a Comment