Sunday, January 27, 2013

Kiss

“Orin!”
Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum membalas cengiran lebar yang Adith kembangkan.
“Choco-milkshake as you wish, mi Senorita.”
Aku tertawa kecil dan menerima gelas cup plastik yang ia sodorkan.
“Makasih.”
“Cuma makasih doang? Itu mahal loh, goceng satunya!” Adith berujar sembari melompat duduk di sebelahku. Pada bangku semen yang terasa dingin permukaannya.
Aku hanya tertawa menanggapi kelakarnya.
Lalu tawaku mereda dan kami terdiam. Mendengarkan suara debur ombak yang menyapu bibir pantai. Menghirup aroma eksotika laut yang dibawa oleh angin menuju daratan. Memandang jauh horizon yang tampak samar, batas antara langit dan samudra. Mengamati titik-titik hitam di kejauhan yang berupa perahu-perahu nelayan pada kanvas birunya lautan.
Aku mengangkat tangan kananku, menyematkan helaian rambut hitam malamku ke balik telinga. Menghela nafas dan tersenyum mendengar suara berisik yang ditimbulkan Adith saat menyedot sisa-sisa minumnya.
“Yaah, abis.”
Ia meletakkan cup plastik kosong di antara kami, kemudian menyandarkan punggungnya ke belakang.
“Rin?”
“Hm?”
Angin bertiup dan aku menyematkan rambutku ke balik telinga lagi.
“Kamu seneng, kan?”
Aku melihat ke arahnya dengan alis berkerut, tapi Adith tidak sedang melihatku. Melainkan langit biru di atas sana. Pada parasnya terukir seulas senyum yang jarang kulihat. Bukan cengiran konyol yang sering ia pamerkan setiap hari. Sesuatu yang lebih serius dari itu.
“Seneng apa?”
Tapi melihatnya membuatku sedikit khawatir.
“Kita. Sama aku, sekarang.”
Butuh waktu beberapa detik untukku mencerna arti empat kata yang keluar dari mulutnya. Dan aku tersenyum, meletakkan cup plastik setengah kosong di samping cup plastik Adith. Embun yang terbentuk di permukaan luar cup menetes turun.
“Iya.”
Aku tidak bohong, karena hubungan kami baru seumur jagung. Belum ada permasalahan pelik yang kami hadapi. Hanya deburan-deburan ombak kecil yang sedikit menggoyangkan perahu kami. Bukan hal yang besar semacam badai atau tsunami.
Tiga bulan ini aku bahagia. Setidaknya Adith belum membuatku meneteskan air mata. Setidaknya aku belum membuatnya menggeram murka. Setidaknya semua di antara kami masih baik-baik saja.
Ada interlud yang lumayan saat dia mulai bicara dengan nada serius.
Seneng, ya? Tapi dia suka nggak mau cerita, apalagi kalo ditanyain tentang temen-temennya.”
Satu hal yang selalu membuatku tidak tenang adalah saat ia mulai bicara dengan menempatkan diriku sebagai orang ketiga. Sudah beberapa kali ia melakukannya dan pembicaraan kami akan berakhir dengan Adith yang mendecakkan lidahnya. Aku sendiri lebih memilih untuk diam dan mengalah, atau lebih tepatnya tidak mau berkomentar lagi.
“Kemarin kan ketemu temennya di food court. Aneh gitu jadinya, nggak happy-face lagi. Ditanyain kenapa, jawab ala kadarnya aja.”
Sepasang mata coklat tuanya melirik ke arahku dengan tajam. Aku mengalihkan pandanganku dan mengamati kulit kerang yang ia ambil beberapa waktu lalu.
Kenapa Adith masih mengingat-ingat pertemuan kami dengan orang itu kemarin? Padahal kupikir tidak ada sesuatu yang aneh dan aku sudah bersikap sewajarnya.
“Kenapa sih mukanya jadi berubah gitu kemarin? Atau jangan-jangan cowok yang kemarin itu mantannya? Tapi kok dia nggak pernah cerita?”
Kadang keingintahuan Adith tidak bisa kumengerti. Orang mana yang suka diceritakan tentang mantan pacar oleh kekasihnya sekarang? Bukan berarti orang kemarin itu mantan pacarku, karena Adith adalah yang pertama. Tapi sudah kubilang bahwa orang kemarin bukan siapa-siapa, hanya orang yang tidak penting. Kukira ia percaya, ternyata masih mempertanyakan juga.
“Nggak ada mantan, Dith.”
“Oh, jadi masih, sampai sekarang?”
Kenapa hari ini ia harus memutuskan untuk bersikap sentimentil?
“Kok ngomongnya gitu?”
Aku merasa angin pantai sekarang berhembus lebih kencang.
“Habisnya dia nggak mau cerita. Kenapa sih suka rahasia-rahasiaan? Apa dia nggak percaya?”
Saat mengatakannya sorot mata Adith melunak, namun masih lebih tajam dari biasanya. Aku tidak ingin melihatnya memandangiku seperti itu, seperti polisi yang tengah menginterogasi pencuri. Penuh curiga. Aku tidak melihat kepadanya, tapi ia terlihat dalam pandangan periferalku.
Aku mengelus permukaan kasar kepingan kalsium di tanganku.
Orang kemarin. Kenapa kemarin aku harus bertemu dengan orang itu?
Tadinya semua baik-baik saja. Hari yang cerah. Menghabiskan akhir pekan dengan Adith; pergi jalan-jalan, nonton, makan. Semuanya baik-baik saja sampai kami bertemu dengan orang itu di food court.
Tidak, sampai aku melihat orang itu dan bertemu pandang dengannya.
Canggung. Tentu saja aku merasa canggung saat itu. Sebenarnya aku ingin sekali menarik tangan Adith dan mengajaknya pergi dari sana. Sayang sekali ia sudah terlanjur melihat apa yang kulihat dan tidak membiarkanku melarikan diri.
Kami hanya bertukar sapa, itu saja. Kemudian orang itu pergi, sementara aku dan Adith makan. Hanya itu.
“Jadi dia pengen tahu?” Gerakan jemariku menelusuri pola yang terbentuk di permukaan kerang terhenti.
Aku sedikit mengerti mengapa Adith kadang-kadang berbicara dengan menempatkanku sebagai orang ketiga. Kupikir hal itu membuat mudah mengatakan semuanya. Seolah-olah kami tengah mendiskusikan suatu objek tertentu, bukan tentang kami sendiri.
“Iya.”
Adith menegakkan badannya. Kedua tangannya dilipat di depan dada, menunggu aku angkat bicara.
Tadinya aku selalu percaya bahwa cerita tentang orang itu tidak akan pernah terangkat ke permukaan lagi. Aku yakin semua orang juga sudah lupa tentang apa yang menyangkut aku dan dia. Bahkan dia sendiri juga mungkin lupa, mengingat ekspresi wajahnya kemarin.
Mungkin cuma aku saja yang masih mengingat hal itu. Rangkaian kejadian 12 tahun yang lalu.
Saat itu, aku hanya siswi kelas 3 sekolah dasar.
Hari pertamaku sebagai siswi kelas 3. Entah kenapa aku merasa sudah menjadi dewasa. Karena itu artinya aku tidak lagi duduk di bangku kelas yang memanjang untuk 3 orang, melainkan duduk di bangku individu. Tidak lagi menggunakan pensil untuk mencatat pelajaran, mulai berlatih menggunakan pena. Tidak lagi pulang jam 10 siang, tapi jam 11 siang.
Aku pikir tahun ketigaku di sekolah dasar akan sempurna, duduk dengan dikelilingi teman-teman baikku. Ya, semuanya masih baik-baik saja sampai aku bertemu dengan dia dan teman-temannya. Kelompok anak yang tinggal kelas itu.
Lebih parah lagi Ibu guru mengacak tempat duduk dan aku berakhir di sarang penjahat. Rasanya aku ingin menangis.
“Orin, mana PR Matematikanya?”
Tanpa suara aku menyodorkan buku tulis bersampul kertas coklat padanya. Aku tahu aku tidak mungkin membantahnya. Tinggiku hanya 110 cm, hanya sampai mendekati pundaknya. Ketua dari geng anak tinggal kelas yang jadi teman sebangku ku, Alan namanya.
Hari itu Ibu guru tidak mengajar karena jatuh sakit, beliau hanya menitipkan tugas yang harus kami kumpulkan sebelum pulang sekolah. Tapi tugasnya banyak, sepertinya beliau sengaja melakukannya agar kami tidak bisa bebas berkeliaran. Akhirnya kami berakhir duduk rapi di bangku masing-masing, mengisi lembar kerja dengan patuh. Apalagi Pak guru olahraga mengawasi kami dari pintu.
“Heh, yang ini bacanya apa? Nggak keliatan, kecil banget tulisannya!”
Alan menarik ujung rambutku. Aku hanya mengaduh, ia memelototiku dan membuatku mengkerut takut. “Yang mana?”
“Yang ini!”
Mataku mengikuti arah yang ditunjuk oleh jarinya yang panjang.
“Oh, itu- 11 x 4 = 44.”
“Makanya lain kali tulisannya yang gede, biar jelas!”
Aku selalu takut dengan sepasang matanya yang mengingatkanku pada mata predator. Tajam dan mengintimidasi. Dengan sekali lirik saja ia bisa mendapatkan berkoin-koin uang dari teman-temanku yang ketakutan.
“Eh, Orin! Besok pake pita yang merah, jangan biru terus! Bosen liatnya!” Alan berujar sambil memilah-milah rambut sebahuku dengan penggaris plastik.
Aku tidak bereaksi. Lebih tepatnya tidak berani berbuat apa-apa. Pura-pura tidak terganggu dan terus mengerjakan lembar kerjaku.
“Udah beres belum? Cepetan, mau nyontek!”
Pundakku ditepuk pelan dengan penggaris plastik bergambar Mickey Mouse.
“Bentar lagi.” Aku bergumam pelan.
Beberapa hari kemudian aku menyadari sesuatu, Alan tidak pernah bicara kasar kepadaku, tidak seperti bagaimana ia bicara dengan teman-teman satu gengnya, atau dengan anak-anak kelas. Mungkin nada bicaranya tinggi, tapi aku tahu ia melunakkan suaranya saat bicara denganku. Ia juga tidak pernah meminta uang jajanku, hanya menagih pekerjaan rumah untuk ia contek. Aku enggan untuk mengakuinya, tapi ia sering tersenyum padaku. Lebih tepatnya menyeringai.
Bukannya aku merasa kalau ia terlihat manis saat tersenyum, karena ia selalu membuat bulu kudukku berdiri dengan sikap manisnya yang hanya ia tujukan kepadaku.
Tadinya aku tidak mengerti. Aku hanya delapan tahun dan yang kutahu usianya hampir sepuluh tahun karena tidak naik kelas sekali. Aku hanya mengira kalau ia bersikap baik padaku karena kami teman sebangku. Atau karena ia membutuhkan contekan pekerjaan rumahku.
Tapi sikapnya padaku yang berbeda justru membuatku lebih takut lagi. Apalagi aku tidak bisa bermain dengan teman-temanku, karena mereka semua diancam oleh Alan dan tidak berani dekat-dekat denganku. Akhirnya aku seperti tidak punya teman, diasingkan. Hanya ada Alan dan teman-temannya yang selalu menggangguku.
Ah, kupikir kelas 3 ini aku akan hidup dengan tenang dan bahagia.
“Ha! Akhirnya pake pita merah juga! Lebih cantik kan jadinya!”
Begitu aku memasuki kelas, aku disambut oleh cengiran lebar Alan. Tidak biasanya ia datang lebih awal dariku. Semakin hari ia semakin aneh saja.
“Senyum dong, Cantik!”
Tiba-tiba ia menarik sisi pipiku, memaksa untuk membentuk senyum di wajahku.
Kalau yang melakukannya Mas Dimas, kakakku, pasti aku sudah menendang tulang keringnya dengan keras sampai ia melompat-lompat dan mengaduh kesakitan. Tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya pada Alan. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan untuk membalas perbuatanku seandainya aku berani menendangnya dan aku tidak mau membayangkan hal-hal buruk yang pernah ia lakukan pada anak kelas.
Jadi aku membiarkannya mencubit pipiku sampai mataku hampir berair dibuatnya.
Alan mengakhiri siksaannya dan cengirannya melebar.
“Sekarang pipinya Orin merah, cocok sama warna pitanya!”
Aku ingin menangis menahan perih.
“Cantik deh!” Dengan cepat dan tiba-tiba ia mengecup pipiku, lalu berlari pergi dengan tawanya menggema di koridor kelas.
Aku mengerjapkan sepasang mataku, masih meregistrasi apa yang terjadi.
Barusan Alan-
Tanganku terangkat untuk mengusap pipiku.
Basah.
Aku melangkah dengan gontai menuju tempat dudukku di pojok, sambil mengusap-usap pipiku dan menahan isak. Entah kenapa aku tidak bisa menghentikan cairan hangat mengalir dari kedua kelopak mataku yang terasa panas. Beberapa pasang mata anak kelas tertuju ke arahku. Aku hanya duduk di bangku dan menyembunyikan mukaku. Mereka berbisik-bisik, sesuatu yang tidak dapat aku dengar. Tapi memikirkannya membuat dadaku terasa semakin sesak.
Apa-apaan Alan itu?
Aku berusaha untuk duduk sejauh mungkin dari Alan. Selalu bersiap-siap untuk kabur kapan pun dia mendekat ke arahku. Aku menghindarinya, memasang pose defensif tiap kali dia mengulurkan tangannya untuk menggangguku.
Aku tidak mau kejadian memalukan seperti tadi terulang lagi. Aku tidak akan membiarkannya.
Bel pertanda pulang sekolah berbunyi nyaring. Aku baru selesai mengemasi alat tulisku dan bersiap untuk melompat pergi, tapi kalah cepat dari Alan yang sudah menghadangku duluan dengan merentangkan kedua tangannya.
“Kenapa buru-buru, Rin? Mau kemana?”
Aku menelan ludah. Muka Alan terlihat seram. Aku belum pernah melihatnya bertampang sinis seperti itu, setidaknya selama ini tidak pernah ia tujukan ke arahku.
“Pulang.” Tanganku berkutat dengan strap tas.
Aku memberanikan diri untuk melirik Alan. Sekarang cengiran lebar menghiasi mukanya, ia kembali menjadi Alan yang kukenal.
“Mau dianter pulang nggak?” Nada bicaranya sama sekali berbeda dengan tadi. Ada tanda keceriaan di sana. Tapi aku masih terpengaruh oleh suara sinisnya sebelumnya, membuatku takut dan hampir menangis.
Aku menggelengkan kepalaku pelan, kedua tanganku masih berkutat dengan strap tas, erat.
“Kamu nggak takut? Nanti kalo diganggu orang gila di jalan gimana?”
Satu-satunya orang yang berani menggangguku itu kamu.
Aku tidak merespon. Masih menunggu Alan pergi dari hadapanku, tapi sepertinya ia tidak berniat untuk segera meninggalkanku. Sementara satu persatu anak kelas mulai pulang, tidak peduli dengan aku yang dikepung oleh Alan dan gengnya. Lagipula mereka tidak berani melakukan apa-apa. Tidak ada yang berani pada geng anak-tinggal-kelas.
Mataku terasa panas. Aku ingin pulang…
“Ayo, Lan! Keburu rame tempat PSnya!” Andi, anggota geng anak-tinggal-kelas, memecahkan keheningan diantara kami.
“Oh, iya! Ya udah deh, Orin ati-ati pulangnya, ya! Besok pinjem PR IPA, ya!”
Kupikir ia akan pergi begitu saja, menyusul teman-teman satu gengnya yang sudah terlebih dulu meninggalkan kelas.
Ia mendekat, sementara aku melangkah mundur. Namun tangannya yang sigap menangkap pundakku dan seperti waktu itu, dengan cepat ia mencium pipiku. Kemudian pergi dan melambaikan tangan dengan tingkah yang kelewat riang. Dia meninggalkanku di kelas sendirian, mengusap-usap bekas yang ia tinggalkan pada pipiku dengan perasaan campur aduk antara kesal, malu, marah dan muak.
Padahal aku sudah tidak memperbolehkan Papa mencium pipiku lagi sejak aku naik kelas 3. Aku kan sudah dewasa, aku tidak mau diperlakukan seperti anak TK. Lalu kenapa Alan berani melakukannya? Bahkan aku tidak ingat Mas Dimas pernah mencium pipiku. Kenapa Alan yang bukan siapa-siapa itu berani memperlakukanku seolah-olah aku ini orang kesayangannya?
Aku berjalan pulang sambil menyeka air mataku yang terus mengalir, menahan isak.
Akhir-akhir ini Alan sering sekali membuatku menangis. Semuanya karena sikapnya yang suka seenak sendiri. Aku lebih memilih ia memperlakukanku seperti anak kelas pada umumnya, bicara dengan suara keras, dimaki, dimarahi, didorong, dimintai uang saku dan segala tindak kejahatan lain yang bisa dilakukan siswa kelas 3 sekolah dasar. Aku akan merasa lebih tenang kalau ia tidak bersikap manis padaku. Setidaknya dengan begitu aku tidak akan sendiri, ada banyak temanku merasakan hal yang sama.
Tidak seperti ini…
Dan masih ada setengah tahun lagi sampai aku naik ke kelas empat.
“Orin cantik, lihat PR nya dong!” Alan berujar dengan riang, sesuatu yang membuatku muak mendengarnya.
Aku ingin melawan. Aku tidak mau terus-terusan diganggu olehnya. Aku tidak mau selalu ditekan olehnya. Aku tidak ingin membiarkannya berbuat seenaknya sendiri seperti ini.
“Nggak mau.”
Aku tidak tahu dari mana aku memperoleh keberanian untuk menentangnya, karena aku sendiri terkejut begitu mendengar kata-kata itu meluncur dari mulutku. Anak-anak yang ada di kelas juga terkejut. Alan terkejut, teman-teman satu gengnya juga terlihat terkejut.
Dia melangkah ke arahku dengan santai. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai keramik terdengar menggema di tengah suasana kelas yang tiba-tiba menjadi sunyi.
“Heh? Kan kemarin udah janji mau kasih pinjam,”
Alan berdiri di samping bangku tempatku duduk, jelas sekali melihat tajam ke arahku. Aku melihat balik ke arahnya. Entah bagaimana sorot mataku saat ini, tapi yang jelas bertindak sejauh ini dan membantahnya membuatku hampir menangis.
Ah, aku kan cuma anak kecil yang cengeng. Bisanya cuma menangis…
“Mana, pinjam?” Ia mengulurkan tangan kanannya. Aku masih tidak mau menyerahkan buku kepadanya.
“Kerjain sendiri sih,”
Aku bangkit dari bangku, sudah menyiapkan mental dan fisik untuk mendorongnya menjauh dan berlari keluar kelas. Aku tidak akan melapor ke kantor guru, tidak ada yang berani melakukan hal sejauh itu. Aku hanya ingin pergi ke UKS sampai bel masuk berbunyi.
“Kalo bisa, aku juga udah ngerjain sendiri, Orin!”
Saat itu ia mendorongku dan aku jatuh terduduk lagi di bangku.
“Makanya kalo dikelas jangan suka asik gangguin orang!”
Air mataku menetes.
Ah, mudah sekali bagi Alan untuk membuatku menangis.
“Hahaha, tambah cantik deh kalo marah!”
Tentu saja. Aku sudah tahu dari dulu kalau aku cantik, tidak perlu diberitahu oleh orang seperti dia!
“Grr!” Aku menendang tulang keringnya. Ya, aku benar-benar menendangnya, meski tidak sekeras tendangan yang selalu kulayangkan pada Mas Dimas kalau dia menggangguku. Cukup untuk membuatnya mengaduh.
“Ish, sakit tau!”
Alan mendorongku lagi, kali ini cukup keras. Aku tidak sempat mengantisipasi perbuatannya dan jatuh terbaring pada kursi di belakangku. Sebelum aku dapat kembali memposisikan diri untuk duduk, Alan sudah mengunci kedua pundakku. Sepasang matanya yang tajam tertuju ke arahku.
Tuhan, apa yang akan dia lakukan kepadaku?
Aku takut, sorot matanya membuatku gemetar. Dicengkeram seperti hewan buruan. Aku takut, tapi tidak ada yang akan datang untuk menolongku. Tidak ada anak kelas yang berani pada predator ini. Tidak ada juga yang berani melapor pada guru. Tidak ada yang berani melakukan apa pun.
“Mamaa!” Aku berseru, berusaha untuk mendorong Alan.
Percuma.
Anak itu sudah pasti jauh lebih kuat dariku. Makannya banyak, tingginya saja sepantaran dengan Mas Dimas yang duduk di kelas 6. Ia kuat sekali, dapat memukul bola kasti hingga jauh. Ia selalu menjadi yang pertama mencapai garis finis saat lari. Belum ada yang bisa memecahkan rekor lompat tingginya. Belum ada yang bisa menyamai jarak lompat jauhnya.
Alan jauh, jauh lebih kuat dariku.
“Mamaa…”
Aku menangis. Aku takut. Aku takut sekali.
Dan tidak ada yang datang untuk menolongku.
Aku memberontak lagi, mencoba mendorongnya pergi. Aku tahu, aku hanya membuang-buang energi. Tapi aku takut dan aku tidak mau dicekam terus seperti ini.
“Makin cantik deh kalo nangis.” Alan berbisik di telingaku, kemudian mengecup pipiku dan melepaskanku. Ia mengambil buku bersampul coklat dan duduk di kursinya, mulai menyalin pekerjaan rumah dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Suasana kelas begitu sunyi, tidak ada yang berani buka mulut. Sunyi sekali, sampai-sampai aku dapat mendengar dengan jelas suara detik jarum jam yang tergantung di dinding depan kelas.
Aku duduk. Di samping Alan, di tempat dudukku sendiri. Menyembunyikan mukaku. Tidak lagi peduli untuk menyeka air mata di pipiku, atau menghapus bekas ciumannya di sana.
Aku ingin menangis sejadi-jadinya, berteriak sekeras-kerasnya. Aku ingin berlari pulang. Aku ingin pergi. Sejauh-jauhnya dari anak yang duduk di sampingku.
Tapi aku hanya menyembunyikan mukaku dan terisak menahan tangis.
Suara sepatu Ibu guru yang merdu terdengar memecahkan kesunyian kelas dan pelajaran dimulai.
Hari itu aku terus menangis sampai sekolah usai.
“Orin, tomatnya dimakan juga. Susunya dihabiskan ya!” Mama tersenyum kepadaku, meletakkan segelas susu coklat hangat di hadapanku.
Aku menganggukkan kepala, kemudian menyendok nasi goreng dan potongan tomat. Memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya pelan.
“Mama, susu coklatnya kurang kental. Nggak suka, bikin kembung.”
Dari sudut mataku, aku bisa melihat Mas Dimas mengaduk-aduk segelas susunya dengan enggan.
“Masa sih? Ya udah Dimas tambah lagi susunya sana, kotak susunya di meja dapur.”
“Kopi Papa malah terlalu kental, Ma. Agak pahit jadinya.”
“Heeeh? Kok pada protes, sih? Kayak Orin dong, diam-diam aja.” Mama mengulurkan tangannya dan membelai kepalaku.
Sarapan yang tenang, aku tersenyum dalam hati. Suasana rumah selalu membuatku nyaman.
Melihat Mama, Papa dan Mas Dimas berinteraksi seakrab ini membuat perasaanku menghangat. Aku bersyukur sekali dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang bahagia seperti keluargaku sekarang. Saat-saat seperti ini membuatku merasa ringan, seperti tidak ada masalah apa pun yang terjadi.
Sejenak aku lupa dengan Alan.
“Pa, nanti kan Dimas ada les, jadi pulangnya sore. Tambah uang saku dong.”
“Bukannya dibawain bekal sama Mama? Iya kan, Ma?”
“Iya. Kamu mau jajan apa lagi, sih? Jangan suka jajan sembarangan, nanti sakit perut.”
“Yaaah, mau uang saku lebih, Paa…”
Aku menyelesaikan suapan terakhirku dan meneguk habis segelas susu coklat hangat buatan Mama. Kemudian aku ingat, setelah ini aku akan kembali pada kehidupan sekolahku yang menyebalkan.
Ah, aku tidak ingin berangkat sekolah hari ini, besok, lusa, dan seterusnya. Aku tidak ingin bertemu dengan Alan. Aku tidak ingin diganggu olehnya lagi.
Aku ingin mengadu pada Papa, mengadu pada Mama, mengadu pada Mas Dimas.
Pa, Ma, Mas Dimas; Orin pengen pindah sekolah. Orin nggak mau sekolah di sana lagi.
Mataku terasa panas.
Aku tidak mungkin mengadu pada mereka, karena pasti mereka akan bertanya ada apa; kenapa tiba-tiba aku enggan untuk berangkat sekolah? Lalu, apa yang harus kukatakan pada mereka?
Orin diganggu Alan terus. Dia suka nyontek PR Orin, dia suka cium-cium Orin…
Tidak mungkin.
Hal seperti itu tidak mungkin aku adukan pada Papa, Mama, atau Mas Dimas. Tidak mungkin aku mengatakan hal memalukan seperti itu pada mereka. Tidak mungkin aku mempermalukan mereka dengan pengakuan memalukan seperti itu.
Air mataku menetes.
Aku menyekanya dengan punggung tanganku sebelum ada yang menyadari hal itu.
“Orin udah selesai, kan? Berangkat yuk!”
Mas Dimas dan aku berpamitan pada Papa dan Mama. Mencium tangan mereka dengan takzim. Saat itu Mama mengelus kepalaku dan menempatkan kecupan di pipiku.
“Mama.” Aku bergumam pelan, sedikit bernada protes.
“Belajar yang rajin ya! Jangan jajan sembarangan!”
Mas Dimas dan aku berjalan kaki menuju sekolah, dengan langkah yang santai tidak tergesa-gesa. Kakakku berjalan beberapa langkah di depanku sambil membaca catatannya. Mas Dimas ada ulangan pada jam pelajaran pertama.
Aku memandangi punggungnya. Dari belakang dia sangat mirip dengan Alan. Tingginya sama, postur tubuhnya juga hampir sama, model rambutnya juga mirip.
Ah, kenapa aku mengingat-ingat tentang Alan?
Aku mengelus pipiku, tempat dimana Mama menempatkan ciumannya. Rasanya berbeda. Tidak ada perasaan benci yang membuatku tidak tenang. Tentu saja aku tidak membenci Mama. Aku sayang sekali pada Mama.
Mama mencium pipiku.
Mama.
Alan juga mencium pipiku.
Alan…
Air mataku menetes lagi, segera aku seka dengan punggung tanganku. Langkah kakiku terhenti. Air mataku masih mengalir tidak mau berhenti. Kenapa aku menangis di jalan menuju sekolah seperti ini?
“Orin?” Mas Dimas memanggilku. Langkahnya juga terhenti, menungguku.
Aku mengambil nafas dalam-dalam.
Aku tidak boleh menangis hanya karena hal semacam itu. Aku tidak akan menangis lagi. Aku tidak boleh menangis lagi.
“Mas Dimas mau nerusin ke mana setelah lulus?” Suaraku terdengar sedikit serak.
“Hmm, pengen ke SMP 1! Orin nggak boleh sedih kalo nanti nggak satu sekolah sama Mas! Nggak boleh nangis!” Mas Dimas menepuk puncak kepalaku pelan, tersenyum.
“Yaaah, nanti Orin berangkat sekolah sama siapa dong?”
Air mataku masih menetes, tapi kali ini seulas senyuman juga terbentuk di wajahku.
“Nanti Mas Dimas antar Orin pake sepeda, deh! Tapi berangkatnya harus pagi-pagi, ya!”
Aku tertawa kecil mendengarnya, menganggukkan kepalaku dengan antusias. Kemudian kami meneruskan berjalan kaki menuju sekolah. Kali ini Mas Dimas menggandeng tanganku. Erat.
Ah, aku tidak boleh menangis lagi.
Aku tidak ingat bagaimana selebihnya aku menghabiskan tahun ketigaku di sekolah dasar. Mungkin aku masih menangis karena diganggu Alan. Yang jelas, aku tidak pernah mengadukan hal itu pada siapa pun. Tidak kepada Papa, tidak kepada Mama, tidak juga kepada Mas Dimas.
Yang aku tahu, saat aku naik kelas 4, Alan pindah sekolah karena pekerjaan orang tuanya. Dan rangkaian kejadian saat kelas 3 tidak pernah diungkit-ungkit lagi. Tidak pernah muncul ke permukaan. Perlahan-lahan semua anak melupakan tentang Alan dan semua perbuatannya.
Tapi aku tidak pernah lupa.
“-masih ngerasa aneh aja. Masih agak takut juga, makanya nggak pengen ketemu lagi…”
Aku menghela nafas dan menyeka air mataku yang mengalir turun, lalu menyembunyikan mukaku dan menahan tangis.
Adith diam dari tadi, mendengarkanku bercerita dengan serius. Ia sama sekali tidak menyela. Benar-benar baru pertama kali ini dia mendengarkanku secara keseluruhan. Saat memasuki bagian dimana suaraku mulai bergetar, Adith melingkarkan lengan kirinya di pundakku, menepuk-nepuk pelan dengan irama teratur yang sedikit menenangkanku.
“Pantes sering ogah-ogahan kalo mau dicium.” Ia mengatakannya setengah berbisik, sepertinya ditujukan pada dirinya sendiri.
Tangan kirinya merayap naik, kemudian mengelus kepalaku dengan lembut dan mendorong kepalaku untuk bersandar pada bahunya yang lebar.
Hening lagi di antara kami.
Desir angin pantai yang menenangkan, deburan ombak, dan tawa anak-anak di kejauhan. Aku mendengarkan detak jantung Adith yang teratur, detak jantungku yang masih belum stabil; dan detik arloji yang melingkari tangan kiri Adith.
Menceritakan hal itu pada orang lain membuatku merasa lebih tenang.
Tidak ada yang perlu aku takutkan lagi sekarang. Aku bukan anak kecil lagi, bukan siswi kelas 3 sekolah dasar lagi. Aku sudah berubah dari anak perempuan yang cengeng menjadi wanita muda yang seperti sekarang. Masa laluku menjadikan aku diriku yang sekarang.
Entahlah, aku tidak pandai mendeskripsikan bagaimana perasaanku. Tapi aku merasa lega, jauh lebih lega.
“Maaf ya, jadi maksa Orin cerita itu…”
Tidak penting lagi, semua itu sudah berlalu. Tidak akan ada yang berubah, karena semuanya sudah berubah menjadi seperti sekarang. Aku memejamkan kedua mataku, menikmati bagaimana Adith mencium puncak kepalaku dengan sayang.

Weleri, 26-27 Januari 2013
Apa kabar kamu yang di sana? Masihkah ingat aku dan rangkaian kejadian itu?

No comments:

Post a Comment