Thursday, February 28, 2013

Aku, Hujan, dan Kerudung Biru - 3

Bagian 3
Cepat sekali hari berlalu.
Padahal rasanya baru kemarin aku menyelesaikan laporan untuk praktikum hari Senin, sekarang aku sudah berkutat dengan rekapan data lagi untuk laporan yang harus dikumpulkan lusa.
Aku mengalihkan perhatianku dari lembaran data di tangan, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sudah 10 menit aku di sini dan belum ada yang datang lagi. Hanya ada aku dan pemuda berkacamata tebal yang duduk di bangku deretan depan.
Melirik jam tanganku, jarumnya menunjukkan angka 06.44.
Rupanya aku memang datang terlalu kepagian.
Biasanya pada hari Sabtu dengan cuaca mendung begini, aku baru bangun tidur. Tidak bangun sendiri tentu saja, terima kasih kepada jam daduku yang sudah setia membangunkanku dari jam 6 pagi. Tapi pagi ini sedikit berbeda dari ritual biasanya. Aku bangun 20 menit sebelum alarm berbunyi. Kemudian menghabiskan waktu 20 menit itu untuk memelototi pergantian angka di layar jam hingga alarmnya berbunyi, yang langsung kumatikan dengan gerakan cepat. Dengan bunyi klik yang membuatku merasa sangat puas.
Kurasa ada yang salah dengan tubuhku hari ini. Karena semalam aku juga sibuk berkutat dengan game yang baru kuminta dari Arga, kemudian pergi tidur saat tengah malam. Padahal cuaca pagi ini mendukungku untuk memanfaatkan jatah bolos 20% yang belum pernah kugunakan.
Aku menghela nafas dan kembali memelototi lembaran data di tangan.
Terdengar langkah kaki mendekat, bergema di dalam ruang kelas yang sunyi. Dari bunyi tip-tap yang lembut ini aku menebak ia laki-laki. Sepatu converse. Selain itu tidak ada aroma flora yang tercium. Aku mendengarkan langkah itu berhenti sejenak. Lalu berlanjut lagi menuruni anak tangga.
Aku menolehkan kepalaku dan bertemu pandang dengan sepasang mata coklat tua yang bersinar hangat.
Si kerudung biru.
Ah, tidak. Kali ini kerudungnya berwarna oranye.
Ia tersenyum, “Pagi.”
“Pagi.”
Lalu duduk di deret bangku tempatku duduk, berjarak dua bangku dariku. Sementara ia mengaduk-aduk isi tas ransel coklatnya, aku melirik ke bawah. Converse abu-abu. Ia meletakkan binder di atas meja. Sampulnya sudah diganti dengan kertas bergambar kartun sapi gendut belang hitam-putih. Apakah ia menggambarnya sendiri?
Aku melipat lembaran data dan menyelipkannya di buku, kemudian melihat ke arah kanan sambil berpangku pada tangan kiri. “Jurusan apa?”
“PTP.”
“Oh.” Produksi dan Teknologi Peternakan.
“Kamu anak lanskap, ya? Yang kemarin praktikum di pastura, kan?”
Aku menganggukkan kepalaku, memperhatikannya membuka-buka bindernya dari sudut mataku. Jari-jari tangannya panjang dan lentik. Cantik sekali, mengingatkanku pada sejenis kue kering yang selalu ibu buat saat lebaran. Apa namanya, kue jari manis? Kuku-kukunya dipotong rapi, tidak juga dihiasi oleh cat kuku warna-warni. Ada plaster luka yang mengelilingi jari telunjuk tangan kirinya.
Lalu aku sadar, ia tidak memakai kacamata frame putihnya. Sepasang matanya tidak tampak aneh, tidak seperti saat Fera melepaskan kacamata tebalnya. Ia tidak menyipitkan mata, tidak terlihat bekas gagang kacamata di pelipisnya. Aku tebak ia jarang memakai benda itu.
“Minus berapa?”
Aku sendiri terkejut saat mendengar pertanyaan itu meluncur dari mulutku secara tiba-tiba. Aku bahkan belum tahu siapa namanya, kenapa malah menanyakan hal spesifik seperti minus yang ia derita?
Seulas senyuman menghiasi wajahnya. Senyuman seperti yang kau tunjukkan kepada orang yang bertanya tentang kabarmu hari ini. “Setengah.”
“Oh.”
Perbincangan kami mati.
Aku tidak tahu apa-apa tentang si kerudung oranye ini dan tidak berani menanyakan apa-apa, kecuali berapa minusnya. Caranya tersenyum padaku entah kenapa membuat lidahku kelu. Tidak sedikit gadis murah senyum seperti dia; orang-orang setipenya bertebaran di mana-mana. Di seantero kampus yang luas dan di tiap sudut yang sunyi. Tidak ada yang istimewa dengan senyuman itu. Ia tidak luar biasa cantik sampai membuat mulutku menganga, hanya cantik yang biasa. Tapi aku baru menyadari lengkungan unik yang menghiasi pipinya saat tersenyum. Manis.
Dibandingkan dengan Fera atau Asti, penampilan gadis ini tidak ada apa-apanya. Sepatu converse yang ia kenakan menunjukkan betapa freestyle-nya dia. Kalau dilogika, tentu saja ia tidak mungkin ke kandang memakai high heels. Tapi bahkan ia tidak mengenakan make-up atau memoles bibirnya dengan lipgloss merah jambu. Baju yang melekat di badannya bukan baju-baju wanita gaya sekarang dengan lengan lebar seperti kelelawar. Hanya kemeja kotak-kotak oranye-hitam biasa. Ujung lengan panjangnya sedikit dilipat, memperlihatkan jam tangan putih melingkari pergelangannya.
Ia menoleh ke arahku, sepertinya menyadari kalau pandanganku tertuju kepadanya dengan tidak biasa. Aku hanya melempar senyum singkat dan pura-pura sibuk membaca catatanku.
Bagaimana aku akan menanyakan siapa namanya?
Saat waktu menunjukkan pukul tujuh kurang lima, dosen yang mengampu mata kuliah ini datang. Beliau duduk dan mengeluarkan laptopnya. Pemuda berkacamata tebal yang duduk di depan maju untuk membantu memasangkan kabel LCD sambil berbasa-basi mengenai materi kuliah sebelumnya. Kemudian segerombolan mahasiswa datang, berpencar mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Kuliah dimulai pukul tujuh lebih lima dan persentase mahasiswa yang datang baru ada setengahnya.
07.14 am dan rombongan mahasiswa injury time memasuki ruang kuliah dengan gaduh. Dosen kami hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Aku pikir tidak seharusnya mereka mengambil mata kuliah ini, kalau hanya akan bertindak seenaknya sendiri. Kelas supporting course seperti ini memang sering kali dianaktirikan. Diambil hanya untuk memenuhi kredit semester. Aku pun menyesali perbuatanku sebelum-sebelumnya, yang selalu datang di atas jam 7. Coba kalau aku yang jadi dosen dan berdiri di depan kelas, sepenuh hati membagi ilmu sementara hanya dianggap seperti tontonan semata. Aku benar-benar merasa tidak enak dengan Pak Dosen. Air muka beliau jelas menunjukkan kecewa, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Di awal kontrak kuliah juga sudah dijelaskan bahwa toleransi keterlambatan adalah 15 menit. Tapi tentu beliau tidak mengharapkan sebagian besar mahasiswanya akan datang dalam perpanjangan waktu itu.
“Eh, geser dong!”
Aku menoleh ke samping kanan. Ada dua mahasiswi dengan make-up tebal dan baju model kelelawar, menjinjing tas yang terlalu ramai oleh asesoris metal dan rumbai-rumbai. Si kerudung oranye bergeser, duduk tepat di sebelah kananku. Tanpa mengucap terima kasih kedua mahasiswi itu duduk, mengeluarkan blackberry mereka dan sibuk berkutat dengan benda itu.
Aku mengembalikan perhatianku ke depan. Mencoba terus fokus memperhatikan materi yang diterangkan dosen, sementara bau floral parfum kedua boneka itu bercampur dan mengontaminasi udara yang kuhirup. Jujur, aku merasa sedikit mual.
“Tanda tangannya dua kali ya, bray!”
Pemuda yang duduk di sebelah kiriku, mahasiswa yang satu fakultas denganku, mengesampingkan daftar hadir kepadaku. Sambil membubuhkan tanda tangan pada kolom namaku, ada lampu pijar yang menyala di atas kepalaku. Sebentar lagi aku akan tahu nama gadis berkerudung oranye di sebelahku.
“Ini, tanda tangan dua kali.”
Aku memperhatikannya membuka daftar hadir.
Kiyoko Adelina R.
Satu-satunya mahasiswa dengan nomor induk kode Peternakan. Ah, harusnya aku bisa tahu siapa namanya dari dulu.

No comments:

Post a Comment