Sunday, March 24, 2013

Sup Daging

Written for my mother's birthday on March 21, 2013
...
“Ibu, aku ingin makan sup daging.”
Ibu hanya tersenyum. Tidak menyanggupi, tidak juga mencibir kesal. Tapi aku tahu kalau senyuman Ibu sudah cukup. Aku tidak benar-benar membutuhkan sup daging.
“Kunci semua pintu dan jendela. Jangan bukakan pintu untuk siapa pun. Ibu tidak mau melihatmu bermain-main di halaman rumah seperti kemarin.”
Kotak makan biru tua dijejalkan ke dalam tas yang sudah terlalu penuh. Oleh berlembar-lembar kain warna-warni, oleh bergulung-gulung benang pelangi, oleh benda apa saja yang bisa Ibu jejalkan ke dalam.
“Tapi aku bosan di dalam rumah terus.”
Sorot mata Ibu mengeras. Tidak menerima pembantahan dalam bentuk apa pun.
Kata-kata rajukan di ujung lidahku mati sebelum sempat dimuntahkan.
“Ibu pulang agak larut, makan malam kau panaskan sendiri.”
Tangan kasar itu mengacak rambut emasku.
“Kalau sempat, nanti Ibu buatkan sup daging.”
Perlahan sosok tangguhnya menghilang dari area pandangku.
xxx
Aku berpangku tangan pada meja kayu di dekat jendela. Sudut favoritku. Dari sini aku melihat dunia luar. Mengamati sulur-sulur anggur tumbuh merambati dinding bata penuh lumut.
Ibu tidak pernah mengizinkanku keluar. Tidak sekali pun.
Ibu bilang dunia luar begitu kejam dan aku tidak mungkin bisa bertahan.
Aku tidak pernah meragukan kata-katanya, aku selalu percaya. Karena hanya Ibu yang kulihat saat aku pertama kali terlahir ke dunia, membuka mata, menangis dan hidup. Hanya Ibu yang aku tahu.
Pernah sekali waktu aku bertanya, siapa mereka di luar sana? Memakai pakaian yang sama, berjalan beriringan tertawa-tawa. Mereka terlihat begitu bahagia. Benarkah dunia luar sekejam yang Ibu katakan?
Ibu tidak menjawab. Cukup mendelik dan aku menyerah. Seperti biji buncis lama, aku mengerut. Tatapan Ibu sudah menjawab semuanya. Aku terlalu banyak bertanya.
Tapi aku ingin keluar. Seperti kemarin, di halaman rumah. Merasakan kerikil-kerikil tajam di bawah telapak kaki. Menyentuh kuncup-kuncup mawar dengan ujung jari. Menyerap hangat sinar matahari. Saat itu aku merasa hidup, untuk pertama kalinya, benar-benar merasa hidup. Tanpa Ibu.
Terlalu sibuk berlari dan menari di antara hampar ilalang yang menjulang. Aku merasa bebas.
Untuk pertama kalinya aku meragu.
Aku mulai berpikir mungkin dunia tidak sekejam yang Ibu bilang.
Seekor kupu-kupu hinggap di bunga kertas yang tumbuh membingkai jendela. Aku menggeser kaca jendela, menjulurkan tanganku keluar. Makhluk mungil itu hinggap di ujung jariku. Sayapnya mengepak anggun. Aku tersenyum.
Sejenak menikmati sunyi. Simfoni alam yang mendamaikan.
Aku merasa dunia tidak kejam.
“Hei Nak, mau bermain di luar?”
Kupu-kupu biru terbang pergi.
Mataku menyipit, mengamati sosok laki-laki di luar pagar dengan senyuman lebar. Aku sering melihatnya. Aku tidak tahu siapa namanya, tapi ia tinggal di seberang. Di rumah megah bercat abu-abu suram.
“Lihat, Oom punya permen kapas yang enak.” Ia mengangkat sebuah tusukan dengan gulungan permen kapas merah muda. Sepasang mata biruku mengerjap.
Warna yang begitu cantik.
“Sini, sini. Ada kue-kue dan biskuit juga.” Tangannya melambai-lambai.
Maaf Ibu, tapi aku ingin tahu, bagaimana kumpulan kapas itu meleleh di mulutku.
xxx
Hari sudah gelap. Semburat jingga penghias langit sudah lenyap. Berganti biru pekat. Hitam.
Aku melangkah gontai, menyeret sebelah kakiku sambil berjengit menahan sakit di tiap langkah. Perih. Sakit, tapi aku tidak boleh menangis keras-keras. Tidak bisa. Suaraku sudah habis. Dilahap dengan rakus oleh Oom pemilik permen kapas yang sekarang tertidur pulas di kasur berlapis kain sutranya. Bulir-bulir air hangat mengalir dari kedua pelupuk mataku. Kuseka dengan marah.
Harusnya aku tahu Ibu tidak pernah salah.
Kau terlalu cantik dan rapuh. Dunia luar begitu kejam dan jahat, Sayang. Mereka hanya akan menyakitimu, menjatuhkanmu, memangsamu hingga habis.
Harusnya aku tidak pernah beranjak pergi dari sudut favoritku. Harusnya aku tidak menyeberang jalan dan datang untuk menjilati permen kapas merah muda yang begitu manis di lidah.
Dengan begitu tidak akan ada dorongan, tidak ada paksaan, tidak ada tangisan dan teriakan keluar dari mulutku. Tidak ada benda asing memaksa menembus lapisan pelindungku. Aku seperti kaca, pecah dan berserakan.
Sekarang aku hanya menginginkan senyuman Ibu. Menenangkan, meyakinkan, membisikkan buaian. Aku ingin memeluk sosok solid Ibu dan menangis tanpa suara.
Rambut emasku bergoyang-goyang tertiup angin.
Ada leleran darah di kakiku. Membercak pada rumput yang kupijak. Tapi aku tidak peduli. Yang penting aku kembali lagi pada tempatku seharusnya. Sudut favoritku di dalam rumah. Memandang benci ke seberang jalan. Menangis dalam diam.
xxx
“Kau pergi ke luar?” Nada bicara Ibu tidak pernah meninggi. Hanya berubah intonasi. Dingin seperti es.
Aku mengangguk pelan.
Ibu tidak pernah marah, tapi muka diamnya cukup membuatku kisut. Merasa begitu salah.
“Katakan, apa pelajaran yang kau dapat hari ini, dengan melanggar Ibu?”
Aku menceritakan semuanya dengan suara pelan. Tidak ada tangisan, karena sakit itu hanya sesaat. Tidak juga terisak, perih itu hanya sementara. Hanya ada kekosongan. Hampa tanpa asupan kehidupan dari Ibu; senyumannya.
Ibu mendengarkan dengan tenang. Tangannya membelai puncak kepalaku pelan. Menyisir surai-surai keemasan dengan sayang.
“Tidurlah. Besok kita makan sup daging.”
Ibu tersenyum.
Saat itu duniaku kembali bersinar, tak peduli gelapnya malam mencekam.
xxx
Aku bangun disambut wangi sup kental merasuk hidung. Sesuatu yang begitu menyenangkan di pagi hari. Apakah ada sesuatu yang spesial?
Langkah kakiku tergesa-gesa menuruni anak tangga. Rumah dipenuhi aroma sedap rempah-rempah. Kental dan menyenangkan.
Ibu memunggungiku, menyibukkan diri dengan potongan daging di atas talenan. Panci sup di atas kompor mengepul.
“Selamat pagi.”
“Pagi, Sayang. Tunggu ya, sebentar lagi matang.”
Ibu tersenyum. Pagiku lengkap sudah.
Sempurna.
xxx
Aku menjilati jari-jariku, mencecap nikmat sisa kuah rempah-rempah. Tidak ada yang seenak sup daging di hari yang dingin. Apakah kemarin aku benar-benar menangis? Karena hari ini rasanya aku begitu bahagia.
Ibu sudah pergi bekerja, setelah menggiling tulang belulang yang debunya beterbangan ke mana-mana. Ibu bilang akan menjual tepungnya ke pasar untuk makan ayam. Aku duduk dengan puas di sudut favoritku. Kemudian sepasang mata biruku mengamati rumah megah di seberang jalan. Lampunya masih menyala. Melompat turun, aku menuju perapian. Ada mainan baru yang Ibu berikan khusus untukku.
Kaki mungilku menendang sebentuk kepala, memainkannya seperti bola. Wajah yang terukir di sana membuatku tersenyum, mengingatkanku pada permen kapas merah muda. Aku pasti akan merindukan rasa manis yang meleleh memenuhi mulutku.
Aku menjulurkan lidah menjilat sudut bibirku. Sup daging masih terasa memenuhi rongga mulut.

xxx

AN: In case you didn't completely catch it, that golden haired girl was raped by her neighbor. The mother then killed him and made soup of his meat, grinding his bones to bone-meal (used for chicken feed, as I mentioned before. I learned this at college. Not human bone, though ._.). And in the end, that golden haired girl kicked the rapist head, using it as her plaything ._.

No comments:

Post a Comment