Friday, June 21, 2013

Across The Street (1)

Dia tinggal di seberang jalan. Di rumah megah bercat abu-abu suram yang dipagari oleh bunga petunia ungu.
Aku gadis kecil berusia tujuh tahun. Aku tinggal bersama ayah, ibu, dan Viona kakak perempuanku yang begitu menyayangiku. Ah, aku hampir saja melupakan Simon; kucing mungil belang hitam-putih peliharaanku. Kami tinggal di rumah sederhana di pinggir jalan raya. Setiap pagi aku duduk di bingkai jendela, menghitung lalu lalang mobil yang jarang sambil menyeruput susu hangat. Aku tersenyum dan melambaikan tangan kepada ayah yang berangkat ke kantor, ibu yang pergi ke pasar, dan Viona yang pergi ke sekolah bersama teman-temannya. Kemudian hanya tinggal aku dan Simon yang tidur di sofa keluarga; mendengkur.
Usai meneguk habis segelas susu aku merasa bosan. Hari ini tidak ada hal menarik yang ingin kulakukan. Ulat yang sering kuamati di kebun depan rumah sudah menjadi kepompong kemarin sore. Ayah bilang beberapa hari lagi ia akan menjadi kupu-kupu yang cantik. Aku tidak sabar ingin berbincang dengannya lagi. Tapi hari ini belum bisa. Jadi aku tidak tahu apa yang akan kulakukan.
Aku menoleh ke arah Simon yang menggulung diri membentuk bola. Udara cukup dingin pagi ini, kurasa ia juga merasakannya. Lagipula bulunya masih terlalu tipis. Tidak seperti gambar kucing dalam sulaman kruistik yang ibu pajang di ruang tamu. Aku melompat turun dan melepas syal yang melingkari leherku. Simon lebih membutuhkannya daripada aku. Umurnya baru 3 bulan, masih terlalu kecil.
Syal rajut merah muda kugunakan untuk membungkus tubuhnya. Cakarnya yang mungil terentang. Aku tersenyum dan mengelus kepalanya dengan sayang.
“Simon tidur, ya. Aku mau bermain di luar sebentar.” bisikku pelan.
Tadinya Ibu selalu khawatir jika aku melangkah keluar pintu depan. Selalu berlari dengan panik dan segera memelukku, membawaku kembali masuk ke dalam depan. Kemudian ayah membangun pagar-pagar besi setinggi Viona, yang bahkan kuncinya tidak bisa kuraih. Sekarang aku bebas keluar rumah, meski hanya di halaman depan saja. Bagiku itu sudah cukup. Ada banyak bunga yang bisa kucium harumnya tiap hari. Aku bahkan memiliki beberapa teman; pak belalang, bibi kupu-kupu dan Lucy si tupai. Kadang aku bertanya-tanya, akankah aku punya teman seperti teman-teman Viona? Bukannya aku tidak suka dengan teman-temanku sekarang, namun aku juga ingin mendengar cerita dari mereka Aku cepat bosan karena hanya aku yang bicara, sementara mereka hanya memandangiku dengan mata bulat yang menggemaskan.
Aku ingin punya teman seperti Viona. Teman manusia.
Suara bising truk membuatku mengernyit. Bertanya-tanya ada apa dan aku melongokkan kepalaku dari balik jeruji besi. Rivera Moving Company, begitu tulisan pada badan truk. Aku mengerjapkan mataku dengan takjub saat dua orang berkaos merah menurunkan barang-barang dari dalam truk dengan cekatan dan membawanya masuk ke dalam rumah di seberang jalan sana.
Oh, akhirnya rumah itu ada penghuninya. Yang aku tahu, rumah bercat abu-abu suram berpagar petunia ungu itu sudah kosong sejak aku lahir. Dan akhirnya aku akan punya tetangga juga. Kuharap mereka memiliki anak kecil yang seusia denganku. Atau yang sedikit lebih tua juga tidak apa-apa. Aku menaikkan kakiku pada pijakan semen dan melongokkan kepala ke luar pagar untuk melihat lebih jelas. Aku ingin menyapa dan berkenalan dengan tetangga baruku segera.
Seorang pemuda berkacamata yang barusan keluar dari dalam rumah melihat ke arahku. Kemudian tersenyum dan melambaikan tangan. Aku ingin membalas lambaiannya, tapi kedua tanganku sibuk berpegang pada pagar besi agar aku tidak jatuh. Jadi aku hanya tersenyum kepadanya.
Dia mengingatkanku pada seseorang…
“Helena, apa yang sedang kau lakukan, Sayang?!”
Aku menoleh ke arah barat dan melihat ibu berlari dengan panik menghampiriku. Membuka pintu pagar dengan tergesa dan menjatuhkan belanjaannya, memelukku dengan khawatir.
“Kenapa kau memanjat pagar?! Itu berbahaya, Sayang. Bagaimana kalau bajumu tersangkut? Bagaimana kalau kau jatuh? Bagaimana kalau orang jahat menarikmu keluar?!” Sebentar kemudian aku sudah dilingkupi oleh kedua lengan ibu yang memelukku erat. “Mana syalmu? Kenapa kau bermain di luar tanpa memakai sweater? Lihat, hidungmu merah seperti Rudolf!”
Aku masih diperlakukan seperti anak berumur 3 tahun dan dibuai-buai manja. Padahal aku sudah besar. Sebentar lagi aku akan pergi ke sekolah seperti Viona.
Pemuda berkacamata di seberang jalan masih melihat ke arahku. Aku yakin dia sedikit terkejut dengan aksi ibu barusan, terbukti dari bagaimana tangannya yang tadi sedang memberi pengarahan pada kedua pekerja berkaos merah kini terhenti di udara. Ia tersenyum geli dan kembali melanjutkan kegiatannya. Mukaku memerah. Bukan karena dingin, tapi karena saat tersenyum pemuda itu mengingatkanku pada pangeran di buku cerita.
Ah, aku ingin berkenalan dengannya. Apakah namanya Prince Charming juga?
Sejak saat itu aku masih duduk-duduk di bingkai jendela sambil minum susu. Aku tidak lagi menghitung mobil yang semakin lama semakin banyak berlalu lalang. Aku menunggu pemuda yang tinggal di seberang jalan muncul dan membuat dadaku terasa sesak seperti dipenuhi permen kapas yang lembut.
Aku, Helena Ackerman, gadis berusia tujuh tahun, telah jatuh cinta.

No comments:

Post a Comment