Saturday, June 22, 2013

Across The Street (2)


Dia tinggal di seberang jalan. Di rumah megah bercat abu-abu suram yang dipagari oleh bunga petunia ungu.
...
“Pemuda yang tinggal sendirian di seberang jalan itu? Siapa namanya?”
Pemuda di seberang jalan?
“Lennix, Bu. Kedua orang tuanya sIbuk bekerja di seberang samudera. Oh, Ibu tahu, dia sangat pandai Matematika! Bahkan dia pernah menjuarai olimpiade! Dia anak tunggal, tapi orangnya sama sekali tidak manja dan arogan! Tadi dia membawakan kami semua cokelat yang enak-enak!”
Aku menghentikan goresan krayonku di atas kertas dan ikut mendengarkan celotehan Viona. Akhirnya aku dapat sebuah nama. Bukan Prince Charming, tapi sesuatu yang lebih spesifik dari itu.
Lennix.
Pandai Matematika dan tidak sombong.
Tunggu dulu. Dari mana Viona tahu semua itu?
“Dia satu kelas denganmu?” Aku bertanya.
Viona menghampiriku, mengulurkan kedua tanganya dan mencubit pipiku hingga memerah. “Iya, adikku yang manis! Pangeran yang tinggal di balik pagar petunia itu beruntung bisa sekelas dengan kakakmu yang mempesona ini!”
Aku mengerutkan hidung dan menepis tangannya. Viona sangat menyebalkan saat ia memuji dirinya sendiri. Tapi harus aku akui ia cantik. Rambut pirang ikalnya cantik sekali seperti gulungan spageti. Aku sering merasa iri padanya. Dia pintar, tinggi, cantik dan menawan. Viona bak putri di buku cerita dalam versi nyata.
“Oh, iya Bu! Lennix akan datang berkunjung sore nanti. Apakah kira-kira Ibu punya waktu untuk membuat kue pie? Aku menceritakan padanya tentang Ibuku yang luar biasa dan dia sangat ingin bertemu denganmu! Lagipula kita kan bertetangga!” Viona berlari ke arah Ibu, memeluknya dari belakang.
“Hmm, apakah pie apel terdengar cukup menarik? Ibu tidak sempat mempersiapkan bahan-bahan lain.”
“Tidak apa-apa, Bu. Aku yakin Lennix akan menyukainya. Ibu kan koki paling hebat di seluruh dunia!”
Aku memandangi buku gambar di hadapanku. Pangeran dan putri adalah pasangan yang serasi. Jika Lennix adalah pangeran yang tinggal di balik pagar petunia ungu, apakah Viona adalah putri yang tinggal di balik pagar besi? Entahlah, aku merasa kalo Viona bersikap tidak seperti biasanya. Dia terlihat begitu antusias saat membicarakan Lennix. Apakah Viona juga telah jatuh cinta pada sang pangeran petunia?
Ah, memang pangeran dan putri adalah pasangan serasi.
Dia ada di ruang tamu, sedang berbincang lepas dengan Ayah dan Ibu. Viona juga ada di sana. Aku bisa mendengar tawa cerianya. Aku ingin bergabung dengan mereka. Aku ingin melihat Lennix dari dekat, berjabat tangan dengannya. Aku ingin melihat senyumannya.
“Kalau aku tidak salah, kalian masih mempunyai seorang anak perempuan lagi, benar?” Suaranya yang dalam membuyarkanku dari lamunan.
“Helena? Kurasa dia sudah tidur. Iya kan, Bu? Seharian tadi dia berlarian kesana kemari menghabiskan energinya sendiri.”
“Iya. Helena yang manis. Waktu itu ia memanjat pagar besi hanya untuk melihat truk pindahan. Dia pasti begitu girang karena mengira akan punya tetangga sebaya. Kasihan.”
“Dia pasti merasa kesepian. Apalagi beberapa waktu yang lalu temannya berubah menjadi kepompong dan sama sekali tidak bisa diajak bercanda!”
Mereka tertawa. Lalu aku juga mendengar suara Simon. Aku merasa terasingkan. Tapi aku ingin bertemu Lennix. Tidak cukup hanya melihatnya dari seberang jalan tiap pagi. Aku ingin bertemu dengannya.
Aku melompat turun dari tempat tidur, merapikan sedikit piyama merah jambu yang melekat di badanku. Cermin besar di dekat pintu menghentikanku. Rambutku terlihat berantakan. Aku melakukan gerakan menyisir dengan jari. Warnanya pirang pucat, sandy seperti pasir pantai di musim panas. Aku sendiri tidak terlalu menyukainya. Aku ingin rambut pirang keemasan seperti punya Viona. Aku ingin ikal alami seperti punya Viona.
Sejenak aku mematut diri di depan cermin. Sekarang aku merasa seperti anak kecil. Memang aku masih kecil, tapi aku tidak pernah merasa sekecil ini. Aku membayangkan Viona berdiri di sampingku. Tinggiku bahkan tidak mencapai dadanya. Aku baru sadar kalau aku begitu kecil. Mungil. Seperti anak berusia tujuh tahun yang seharusnya.
Berapa usia Lennix? Dia sebaya dengan Viona, 15 tahun.
Aku mendengus dan berpaling dari cermin. Meneruskan langkahku ke ruang tamu. Kali ini aku sengaja tidak menyeret boneka kelinci kesayanganku dan meninggalkannya di tempat tidur. Aku tidak ingin terlihat seperti anak kecil yang manja di depan Lennix.
“Ibu.”
Mereka bertiga menoleh secara bersamaan.
“Oh, Helena sayang? Apakah kami membangunkanmu?” Ibu menghampiriku dan memelukku. Aku melihat ke arah Lennix. Dia melihat ke arahku. Kami berpandangan selama beberapa detik sampai Ibu mengangkatku dan membawaku duduk di sofa.
“Perkenalkan, Lennix, ini adik kecilku, Helena. Helena, sapa tetangga baru kita, Lennix O’Connor.”
Aku mengerjapkan sepasang mata biruku. Lennix mencondongkan badannya ke depan, lalu mengulurkan tangan kanannya dan tersenyum. “Hai, Helena. Aku Lennix, tetangga barumu.”
“Helena.”
Senyumannya melebar saat tangan mungilku menyambut tangannya yang cukup besar bagiku. Dari jarak sedekat ini ia terlihat begitu tampan. Persis seperti Prince Charming. Oh, Lennix bahkan lebih tampan dari itu. Kacamatanya membuatnya terlihat sangat jenius tanpa berkesan geeky. Viona yang mengajarkan kata itu kepadaku. Geeky, yang merujuk pada seorang temannya yang berkacamata dan berkawat gigi. Tapi Lennix tidak terlihat geeky. Tidak sama sekali.
“Simon.”
Lennix menaikkan kedua alisnya. “Eh?”
“Simon.” Aku merentangkan kedua tanganku ke arahnya, seakan memintanya untuk memelukku. Ayah, Ibu dan Viona melihat ke arahku dengan heran. Lennix terlihat bingung, tapi kemudian ia melihat ke pangkuannya dan tertawa. “Ahahaha, Simon, ya? Kukira namanya Monica; seperti kata Viona?” Ia mengangsurkan makhluk berbulu hitam-putih kepadaku. Simon mengeong pelan saat aku berhasil mengamankannya dalam dekapanku.
“Monica terdengar lebih manis. Iya kan, Ayah?”
Ayah menganggukkan kepala.
Simon mengeluarkan suara purrr­-nya yang khas saat aku menggaruk bagian belakang telinganya. “Dia kan laki-laki.” Aku menggumam.

Mereka bertiga tertawa.

No comments:

Post a Comment