Friday, November 29, 2013

You Don't Know Love (2) - a Hetalia fanfiction

Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
Warning : AU, omegaverse, OOC, yaoi
Broken
Sinar matahari sore keemasan menyusup masuk, jatuh pada sosok Alfred yang berdiri di dekat jendela, masih berusaha mengancingkan kemejanya. Rambut pirangnya terlihat berkilauan, seperti surai-surai emas yang menawan. Ada keringat yang mengalir pada pelipisnya, yang kemudian ia seka dengan helaan puas. Seringaian lebar masih menghiasi wajah tampannya. Ia terlihat seperti singa yang telah kenyang memangsa buruannya.
Puas dan lega.
Arthur mengalihkan perhatiannya, memandangi tangan kanannya yang mencengkeram sprei putih dengan longgar. Ia begitu lelah. Sepasang mata emeraldnya terasa berat. Berat dan sembab. Ada sisa-sisa air mata membercak pada pipi pucatnya. Mulutnya sedikit terbuka, masih dalam isak tanpa suara. Tenggorokannya sakit, hidungnya sakit, dan bagian tertentu dari tubuhnya terasa sakit luar biasa.
Air matanya menetes lagi.
“Berhenti menangis,” Alfred meraih jaketnya yang tersampir pada kursi, memakainya. “Aku tidak mengeluarkannya di dalam. Tidak akan terjadi apa-apa.”
Pemuda itu membalikkan badannya menghadap jendela. Menikmati semilir angin sore meniup-niup rambutnya yang mencuat aneh.
Arthur memandangi punggung berlapis jaket bernomor 50 dengan pandangan yang dikaburkan oleh air mata.
Lalu apakah ia harus berterimakasih? Heh.
“Ah, sudah jam berapa ini? Gilbert akan membunuhku kalau aku tidak segera kembali.” Alfred merapikan rambutnya yang berantakan. Sepasang mata birunya memandangi Arthur, kemudian kedua tangannya ia letakkan pada pinggang. “Hei, kau butuh bantuan? Aku bisa― umm… membantumu merapikan pakaianmu. Kau ingin kuantar ke kelas?”
Ada sedikit nada iba pada bicaranya, membuat Arthur mengerutkan kening. Tapi bukan itu yang ia butuhkan. Hal seperti itu tidak bisa mengembalikan sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Tidak juga mengurangi rasa sakit pada hatinya. Justru ia merasa dihina. Apakah itu simpati? Ia tidak butuh belas kasihan dari orang yang sudah membuatnya seperti ini.
“Hei, kau mendengarku?” Alfred melambaikan tangannya di depan muka Arthur.
Ia menepisnya dengan lemah, mengubah posisi kepalanya dan kini pipi kanannya menyentuh sprei yang lembut. Dengan begitu ia tidak perlu melihat Alfred. Ia ingin sekali meninju wajah tampan itu.
“Hidungmu berdarah lagi. Kau tida―”
“Tinggalkan aku.”
“Tapi―”
“Pergi!” Sisa-sisa tenaganya ia kerahkan untuk meneriakkan satu kata itu. Suaranya parau, penuh amarah. Penuh luka.
Kenapa pura-pura bersikap peduli setelah semua ini terjadi? Setelah menghancurkan hidupnya seperti ini? Kenapa tidak menertawakannya, memperolok tentang betapa malangnya dia. Kenapa tidak pergi begitu saja, membanting pintu dan meninggalkannya sendiri. Membiarkannya menangis dalam sepi. Sendiri, merenungi tentang 15 tahun hidupnya yang dihancurkan dalam 15 menit saja.
Kenapa tidak terus saja menyakitinya?
Kenapa menyelimuti tubuhnya yang lelah?
Arthur ingin menyingkirkan lembaran kain lembut yang menutupi punggungnya, tapi rasanya terlalu nyaman. Terlalu hangat, dan ia terlalu lelah untuk peduli. Hal terakhir yang ia tahu sebelum kegelapan menariknya pergi adalah tangan besar yang membelai puncak kepalanya pelan.
Pintu ruang kelas F terbuka. Alfred melangkah masuk dan membenarkan letak strap tas pada pundaknya.
“Hei, Al! Dari mana saja kau? Gilbert mencarimu tadi.” Ia mengangkat tangan kanannya menyambut high five Aksel. “Oh, rambutmu basah. Kau mandi? Kau bahkan tidak berkeringat saat keluar dari pertandingan! Kau hanya bermain sebentar, Al!”
Pemuda itu hanya mengangkat bahu. “Aku ada kencan dengan Kiku setelah ini.”
“Tidak biasanya kau mandi di hari yang dingin seperti ini, apa pun alasannya.” Antonio berkomentar, mengangkat sebelah alisnya.
“Apa maksudmu? Aku tidak mungkin membiarkan Kiku mencium bau-bauan aneh dari kepalaku. Kau tahu, helm itu bau!” Alfred mengatakannya sambil tertawa.
“Tunggu dulu―” Sepasang mata biru Aksel melebar, ia menangkap siku Alfred. “Ada bau yang lain. Bukan bau Kiku. Bau― bau siapa ini? Aku sama sekali tidak mengenalinya!”
Tiba-tiba pintu kelas F terbuka. Kali ini dengan dorongan kasar yang hampir merusakkan engselnya.
“Oh, jadi kau pergi mencari omega di luar? Seenaknya saja kau meninggalkan tim! Gara-gara kau tidak bermain maksimal akhirnya kita kalah!”
Pemuda albino bernama Gilbert Beilschmidt melangkah masuk dengan gusar. Dia bersiap-siap melayangkan tinju pada Alfred, yang langsung ditangkis oleh pemuda itu dengan mudah.
“Hei, hei! Kau tahu kan tanganku cedera tadi.”
Gilbert menarik tangannya, mendengus kesal. “Memar, Al. Sedikit memar. Dan kulihat sudah tidak apa-apa, melihat bagaimana mudahnya kau menangkis seranganku barusan.”
Alfred tertawa. “Kalian tidak akan percaya siapa yang kutemui barusan.”
Ketiga temannya diam, mengerutkan kening mereka dalam-dalam.
“Siapa? Kau benar-benar pergi mencari omega di luar? Tapi bukankah kau ada kencan dengan Kiku setelah ini? Apa kau tidak bisa menunggu sebentar?” Antonio mengerutkan hidungnya, memasang tampang aneh.
Gilbert menepuk pundak Alfred, menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau akan terkena penyakit kalau berganti-ganti pasangan, Al!”
“Bicaralah pada cermin, munafik! Sekarang cepat beri aku 100 dollar, kalian kalah!”
“Apa maksudmu?! Tim kita kalah karena kau tidak bermain dengan baik, Alfred! Dan kau ingin kami membayarmu? Cih, yang benar saja!” Gilbert marah dan melayangkan tinju pada Alfred lagi. Tapi pemuda itu dapat menghindarinya dengan mudah.
“Aku tidak membicarakan football! Ini tentang taruhan kita, 100 dollar per orang!” Alfred segera mengatakannya saat melihat gelagat Aksel yang seperti akan menyerangnya juga.
Gilbert terdiam, tangannya mengepal di udara, siap untuk memukul Alfred. Aksel juga diam, kakinya sudah bersiap menendang pantat Alfred. Antonio yang tadi sempat melangkah mundur untuk mengamankan diri juga diam. Mereka bertiga berpikir, dengan alis yang berkerut dalam. Ada keheningan yang membuat Alfred tidak sabar. Sadar betapa bodoh ketiga temannya.
Hingga akhirnya Gilbert membelalakkan sepasang mata merahnya. “Kau pasti bercanda!”
Alfred menggelengkan kepalanya, tersenyum penuh kemenangan. “Coba kalian cek sendiri! Mungkin sekarang dia masih tertidur di klinik sekolah.”
Gilbert mengacak rambutnya dengan kesal. “Argh, brengsek! Bagaimana bisa kau mendahuluiku?!”
Sepasang mata birunya bersinar-sinar. “Sudahlah. Cepat serahkan uangnya, aku tidak punya waktu seharian untuk mendengarkanmu menggerutu.”
“Hah? Jadi― ini bau omega itu? Wow, benarkah?”
Alfred menganggukkan kepalanya kepada Aksel.
“Kau gila! Seratus dollar dari setiap orang itu bukan jumlah yang sedikit! Bagaimana bisa kau begitu serakah, Al? Kau bisa membeli semua game yang kau inginkan dengan uang sebanyak itu!” Gilbert, menarik lembaran uang dari dompetnya dengan enggan, menyerahkannya pada Alfred. Raut mukanya jelas menunjukkan rasa tidak ikhlas.
“Hei, ini semua idemu, Gil! Dan kau sendiri yang menentukan nominalnya!” Sambil menyeringai Alfred memasukkan uang dari Gilbert ke saku belakang celananya. Uang itu tidak akan berada lama dalam genggamannya. Ada game yang sangat ingin ia beli hari ini. “Jangan bicara seolah-olah aku penjahatnya!”
“Tapi kau memang penjahatnya, Al.”
“Diamlah, Antonio. Mana uangnya?” Alfred mengulurkan tangannya pada pemuda berkulit tan yang sudah kembali berdiri di sampingnya.
“Kupikir aku yang akan menang! Dan kau sempat menolak untuk bergabung saat pertama kali kuajak!”
Alfred memamerkan cengirannya. “Heh, aku beruntung karena bertemu dengannya hari ini. Dia bahkan sempat mengobati lukaku.”
“Bagaimana bisa kau bersenang-senang padahal kelas kita kalah, Al? Kau sungguh keterlaluan.” Aksel berkomentar, mengangsurkan 100 dollarnya pada Alfred. Dia menghela nafas dan memperhatikan dengan tidak rela bagaimana uangnya berpindah tangan.
“Iya, Al. Setidaknya kembalikan setengahnya, aku sudah tidak punya uang lagi.” Antonio berkata sambil menarik keluar bahan kantong celananya. Hanya debu dan remah-remah biskuit yang berjatuhan.
Alfred mengibaskan uang yang ia dapat. “Kalian berkata seperti itu hanya karena kalah. Padahal kalian sendiri yang setuju dengan taruhan ini. Coba kalian ada di posisiku, tidakkah 2900 dollar terdengar menggiurkan?”
Gilbert meninju lengan Alfred main-main. “Ah, baiklah! Anggap ini sebagai bentuk balas dendam pada kelas A-sshole itu. Aku penasaran sekali karena, kau tahu, aku tidak menyangka ada omega seusia kita yang masih begitu polos. Jadi, bagaimana dia?” Pemuda albino itu memainkan alisnya dengan jenaka.
Alfred tertawa. Ia tahu betul apa yang dimaksud Gilbert. Tentu saja hal pertama yang dia tanyakan adalah tentang itu.
“Iya, Al. Bagaimana dia?”
Ketiga temannya tampak menunggu, sementara seringaian Alfred melebar seperti kucing Ceshire.
Dia sedang mencari kata yang paling tepat untuk menggambarkan kejadian tadi. Sesuatu yang akan membuat Gilbert, Aksel dan Antonio iri hati. Oh, tidak hanya mereka bertiga, seisi kelas pasti akan iri. Tidak, bahkan seluruh sekolah. Semua alfa dan beta di setiap penjuru sekolah akan iri padanya. Karena, hei, kapan lagi bisa berkopulasi dengan omega yang begitu cerdas dan menempati peringkat pertama dengan nilai tertinggi sepanjang sejarah? Momen bersejarah seperti itu harusnya diabadikan di atas lempeng batu. Bagaimana mungkin ke-29 alfa kelas A tidak tertarik dengannya? Mereka pasti sudah gila. Meski pun alis tebalnya terlihat konyol dan menggelikan, secara fisik Arthur tidak buruk. Seperti omega lain, badannya cenderung kecil dan terlihat rapuh, meneriakkan peringatan mudah pecah pada alfa yang melihatnya. Dan yang Alfred tahu, rambut pirangnya halus sekali seperti helaian sutra. Ia baru sadar tadi, saat akan meninggalkan pemuda itu.
“Al, berhenti membayangkannya sendiri! Ceritakan pada kami!” Antonio menyenggol lengannya.
Pemuda Amerika itu tersadar dari lamunannya, tersenyum. “Aku sedang berpikir, apa menurut kalian tidak aneh, kenapa alfa-alfa kelas A itu tidak melakukannya sejak hari pertama?”
“Mereka hanya jenis yang aneh, itu saja. Karena kalau itu aku, maka aku akan melompat ke arahnya begitu ia masuk kelas, hahaha!” Gilbert tertawa, sepasang mata merahnya bersinar-sinar.
“Kalau semua orang sepertimu, Gil, taruhan ini tidak akan ada dan Alfred tidak akan mendapatkan uang.” Aksel berkomentar.
“Taruhan apa?”
Secara bersamaan mereka berempat menoleh ke arah pintu masuk.
“Ah, Kiku? Kau sudah selesai?” Alfred melompat turun dari meja yang ia duduki, menyambar tasnya dan berjalan menghampiri seorang pemuda Asia yang berdiri di dekat pintu. Tangan kanannya langsung merangkul pundak pemuda bernama Kiku tersebut. “Hei, tidak keberatan kalau kita mampir ke toko game dulu? Ada game yang sangat ingin kubeli.”
“Al, kau belum menjawab pertanyaanku tadi!” seru Gilbert.
Sebelum benar-benar melangkah keluar dari kelasnya, Alfred menoleh ke belakang dan memamerkan cengirannya.
That was awesome!”
Komentarnya barusan membuat Gilbert mengutuk pelan. “Sial, beruntung sekali dia!”
Sementara Kiku sedikit mendongakkan kepalanya, mengerutkan alisnya kepada Alfred. “Apa aku melewatkan sesuatu? Apa maksudnya tadi?”
Dia tersenyum. “Tidak apa-apa, Sayang. Hanya permainan bodoh yang biasa dilakukan para alfa, itu saja.”
“Dan kenapa aku meragukanmu, Alfred-kun?”
Alfred mengibas-kibaskan tangan kirinya yang sudah sembuh sejak tadi. “Percayalah, Kiku. Aku ini kan pahlawan!”
Sepasang mata emerald itu terbuka, mengerjap sekali, dua kali. Kemudian pemiliknya, seorang pemuda berambut pirang dengan alis tebal, melompat kaget berubah ke posisi duduk. Ia segera menyesali aksinya karena rasa sakit yang tajam langsung menjalari ruas-ruas tulang punggungnya. Sambil mencoba untuk tenang dan menunggu rasa sakitnya mereda, Arthur mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia masih berada di klinik sekolah dan tidak ada siapa-siapa di sini.
Memangnya siapa yang ia harapkan?
Kemudian pandangannya jatuh pada selimut putih yang terkumpul di sekitar badannya. Tentu saja dia akan pergi dan tidak menunggunya sampai bangun. Bagaimana mungkin ia berharap akan bangun dengan disambut wajah tampan yang tersenyum lebar? Yang seperti itu hanya ada di drama televisi, tidak di kehidupan nyata.
Tangannya terulur naik, menyentuh rambutnya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Apakah ia bermimpi Alfred membelai kepalanya? Menyedihkan sekali.
Arthur menghela nafas dan mengancingkan kemejanya. Keningnya berkerut saat menyadari ia kehilangan 3 kancing bajunya. Apa yang akan ia katakan pada ibunya nanti? Ia tidak mau membuat ibunya khawatir dan mengira ia sudah berkelahi.
Tidak. Mungkin ia bisa berbohong pada ibunya hingga membuatnya percaya kalau ia berkelahi, tapi tidak dengan Allistor. Kakaknya punya penciuman yang tajam sebagaimana alfa pada umumnya. Arthur mencoba mengendus dirinya. Ia menggelengkan kepalanya dengan frustasi. Ada bau-bau tidak familiar yang tercium darinya. Bau sex, sudah pasti. Dan bau Alfred. Bau alfa yang tajam dan menyengat, membuatnya muak. Arthur menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Tiba-tiba ia merasa mual.
Ia harus segera menghilangkan bau Alfred dari dirinya.
Dengan susah payah ia beranjak dari ranjang, membenarkan seragamnya dan melangkah ke luar klinik dengan langkah gontai. Ia kira sekolah sudah sepi. Bagaimana pun juga, pertandingan football sudah selesai dari tadi. Semua orang pasti sudah pulang. Ia melangkah sambil menahan sakit, menggigit bibir bawahnya dan berusaha untuk tidak mengerang. Tapi begitu membuka pintu, ia langsung berpapasan dengan Allistor dan teman-teman satu tim baseballnya. Kedua pasang mata emerald bertemu. Seketika itu tawa Allistor terhenti.
“Hei, itu adikmu kan, Kirkland?” Salah satu teman kakaknya bertanya, menyenggol lengan Allistor dan menyeringai. “Ah, aku bisa mencium bau― Jones? Hmm, cukup mengejutkan. Kukira bocah Amerika itu sudah punya pasangan, eh? Pemuda Asia bermata sipit itu. Siapa namanya? Hona?”
“Honda, bodoh!”
“Ah. Itu maksudku!"
Mereka tertawa, kecuali Allistor.
Pemuda berambut merah itu masih memicingkan matanya memandangi Arthur dengan tajam, sementara adiknya sudah menjatuhkan pandangannya ke arah lantai saat mendengar nama Alfred disebut. Tiba-tiba sekujur tubuhnya gemetar.
“Kalian duluan saja.” Nada bicara Allistor dingin seperti es.
“Baiklah. Sampai jumpa besok, Kirkland. Jaga kondisimu untuk final nanti.” Pundak Allistor ditepuk pelan.
Dan gerombolan alfa kelas tiga itu pergi, meninggalkan Kirkland bersaudara berdua saja.
Arthur masih memandangi lantai di bawah kakinya. Jantungnya berdegup kencang. Keheningan yang merebak di antara mereka adalah hening sebelum badai. Ia tahu Allistor marah, terbaca jelas dari aura murka yang menguar dari tubuhnya. Menekan dan menyesakkan. Memang benar pemuda itu tidak pernah bersikap baik padanya, tapi ia juga tidak pernah terlihat semarah ini. Sangat marah sampai ingin membunuh. Arthur benar-benar sedang tidak beruntung hari ini.
“Apa yang sudah kau lakukan?” Allistor mendesis. Suaranya penuh dengan bisa yang mematikan. Arthur tidak berani menatap kakaknya.
“Aku hanya―”
Pasrah dan membiarkan alfa menyentuhnya? Tidak. Arthur sempat melawan. Tentu saja ia memberontak. Tapi bagaimana pun juga, ia kalah kuat dari mereka. Lalu apa yang akan ia katakan pada Allistor? Kak, seorang alfa sudah menyentuhku, begitu? Dengan muka memerah dan berlinangan air mata. Akankah Allistor memeluknya, menenangkannya, mengatakan semuanya baik-baik saja? Akankah Allistor menyeka air matanya?
Tidak mungkin.
“Tidak tahu diri! Ikut aku!” Pergelangan tangannya ditarik dengan kasar, kemudian dia dipaksa mengikuti langkah cepat Allistor sepanjang koridor yang sepi. Arthur mengerang kesakitan, memohon pada Allistor untuk memperlambat lajunya, tapi kakaknya tidak mendengarkan. Tidak ada orang lain di sekitar sini. Tidak ada yang menegur mereka. Tidak ada yang dapat menolong Arthur. Air matanya mengalir lagi. Ia bisa merasakan lukanya terbuka di bawah sana dan ada sesuatu yang mengalir pada pahanya. Darah?
Cengkeraman Allistor pada pergelangan tangannya tidak mengendur, kalau mungkin malah semakin erat. Kemudian mereka sampai di kamar mandi gymnasium dan Allistor menendang pintu salah satu bilik, mendorong Arthur masuk dengan kasar. Badannya membentur dinding keramik, perlahan jatuh. Kakinya lemas dan mati rasa.
“Kau pikir apa yang sudah kau lakukan? Menjijikkan!” Tanpa berpikir dua kali Allistor meraih selang air dan menghujani Arthur dengan air dingin. “He-hentikan!” Secara refleks kedua tangannya tergerak untuk melindungi kepalanya, melindungi badannya, melindungi dirinya. Tapi tentu saja ia tahu itu percuma.
Allistor menggertakkan giginya dengan kesal dan terus menggencarkan hujan buatan tanpa ampun kepada Arthur. Dia tidak menghiraukan teriakan parau Arthur yang memohonnya untuk berhenti. Dia tidak juga merasa iba saat adiknya mulai menggigil kedinginan dan hanya bisa memeluk lututnya dengan lemah. Setelah lima menit yang terasa seperti seabad berlalu, dan bau alfa yang bercampur dengan bau familiar Arthur dibasuh oleh air dingin, baru Allistor mematikan aliran air. Ia membanting selang air, jatuh di dekat Arthur. Ia menahan diri untuk tidak melemparkannya mengenai kepala Arthur. Hal terakhir yang ia inginkan adalah mendapati ibunya histeris karena melihat adiknya berlumuran darah.
Tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar isakan Arthur dan tetes-tetes air yang jatuh dari ujung-ujung rambut pirangnya.
Allistor memicingkan matanya memandangi sosok Arthur yang menyedihkan. Ia berjongkok di dekat Arthur, menarik segenggam rambut pirangnya dan memaksanya mendongakkan kepala. Sepasang mata emerald Arthur tampak memerah dan memancarkan ketakutan.
“Aku tidak peduli seberapa putus asanya dirimu, tapi melakukannya di sekolah sudah di luar batas! Kau tidak tahu betapa aku ingin membunuhmu tadi, mesin produksi bayi! Kau sudah mempermalukanku di hadapan teman-teman timku!”
Lagi-lagi ia menahan diri untuk tidak membenturkan kepala Arthur ke dinding keramik. Allistor bangkit dan menendang pintu dengan kasar, menggetarkan engselnya.
“Jadi ini tujuanmu masuk ke sekolah ini? Kenapa kau tidak menjual diri saja?! Setidaknya kau akan mendapatkan uang, bodoh!”
Dia melangkah gusar mengitari kamar mandi. Kedua tangannya mengepal kesal. Cermin besar yang terpasang di hadapannya terlihat menggiurkan untuk dihancurkan. Allistor mengeratkan pegangannya pada pinggiran wastafel. Arthur masih diam dan menangis, sesekali terdengar isakan yang berusaha untuk ia tahan. Dari pantulan di cermin, Allistor dapat melihat adiknya menggigil kedinginan. Ia tidak peduli. Air yang dingin akan membantu Arthur berpikir jernih dan memikirkan tentang perbuatannya, lalu menyesalinya.
Allistor begitu terkejut saat melihat Arthur keluar dari klinik sekolah, dengan kemeja berantakan, muka memerah dan bau sex yang memuakkan. Padahal ia pikir Arthur berbeda dengan omega lainnya. Sejak kecil dia memiliki rasa ingin tahu yang besar dan mudah tertarik dengan sesuatu yang baru. Tapi seperti sebuah pernyataan bahwa rasa penasaran membunuh sang kucing, apakah keingintahuan Arthur juga yang telah menjerumuskannya?
“A―aku tidak memintanya.”
Allistor memicingkan matanya, menoleh ke belakang pada Arthur yang masih memeluk kedua lututnya.
“Dia― yang memaksa― melakukannya…”
Alisnya berkerut dalam, berusaha mendengarkan racauan Arthur yang tidak koheren. Dia terdengar seperti orang mabuk dengan suara parau yang gemetaran.
“―tidak bisa melawan. Terlalu kuat…”
Perlahan dia melangkah mendekati Arthur, berjongkok lagi di hadapannya. Di antara tetes-tetes air yang membasahi wajahnya, Allistor dapat membedakan dengan mudah mana yang merupakan air mata. Sedikit ragu, Allistor mengulurkan tangannya, yang kemudian membeku di udara. Ada sesuatu yang menghalanginya untuk menyentuh Arthur. Sosok adiknya yang muncul dari balik pintu klinik terbayang lagi di benaknya.
Perlahan Arthur mengangkat kepalanya, memamerkan mukanya yang memucat karena kedinginan. Tapi hidungnya memerah, bibirnya membiru. Allistor baru menyadari ada plester yang merekat pada pangkal hidungnya. Ada bercak darah yang tak sempat terhapus oleh air.
Alisnya berkerut dalam.
“…sakit―” Sebelum tubuh lemah itu jatuh sepenuhnya pada lantai yang basah dan dingin, Allistor menangkapnya. Ia memeluk Arthur, tidak peduli bagian depan bajunya basah.
Seperti perkiraan Allistor, ibunya panik saat ia sampai di rumah. Pada lengannya ia membawa Arthur yang menggigil dan basah kuyup, diselimuti oleh blazer Allistor yang tidak banyak membantu. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang kejadian di klinik sekolah, juga di kamar mandi gymnasium. Saat itu hujan turun dengan deras dan ibunya mengira Arthur hanya kehujanan.
Ia bersandar pada bingkai pintu dan mengamati ibunya mengganti baju Arthur. Allistor memicingkan matanya melihat memar-memar dan bekas memerah pada beberapa bagian tubuh Arthur, kemudian ibunya melemparkan tatapan tanya ke arahnya dan ia hanya bisa mengangkat bahu.
Arthur tidak meninggalkan tempat tidur selama seminggu karena demam tinggi.
Allistor tidak pernah mengunjungi kamarnya dan bertanya. Ia hanya membuka pintunya sedikit, hingga cukup memberinya celah untuk mengintip dan mengamati kondisi Arthur pada malam yang sunyi. Tentu saja saat itu adiknya sudah jatuh tertidur. Ia tahu ibunya banyak bertanya, tapi Arthur tidak pernah mau memberikan jawaban jelas. Wanita itu pun lelah dan tidak lagi memaksa. Karena Arthur bersikap biasa saja. Seolah-olah ia hanya kehujanan dan terserang demam kemudian.
Kedua pasang mata emerald mereka sempat bertemu saat sarapan pagi tadi. Tertahan beberapa detik, kemudian Arthur melepas pergi. Ia menundukkan kepala dan meneruskan makannya.
Allistor tidak pernah bertanya. Dia juga tidak mencari tahu siapa itu Jones. Dia sudah tahu siapa dia. Tidak ada yang tidak mengenal siswa kelas 1 pemain inti tim football sekolah itu. Dia juga tahu tentang taruhan konyol kelas F yang berakhir pada hilangnya kepolosan Arthur. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak punya niat untuk melakukan sesuatu. Taruhan semacam itu adalah hal yang biasa. Bahkan dia pernah terlibat di dalamnya. Menjadi yang pertama adalah tema favorit para alfa. Harusnya dia tidak terkejut ketika adiknya yang dijadikan sebagai target. Ide utama dari permainan ini adalah sesuatu yang tidak biasa. Dan bagaimana pun juga, Arthur bukan omega biasa. Dia mempunyai nilai lebih yang enggan untuk Allistor sebutkan.
Allistor tidak mau mengakuinya, tapi ia sempat merasa khawatir saat tahu Arthur masuk kelas unggulan. Ia tidak melarang adiknya dan memaksanya meminta dipindahkan ke kelas reguler karena tahu Arthur tidak akan melakukannya. Selain itu dia tidak mau dikira peduli pada adiknya. Jadi dia diam saja dan mengamati dari kejauhan.
Allistor tahu Arthur diacuhkan oleh teman-teman satu kelasnya. Dia pikir itu yang terbaik. Tidak salah ia masuk ke kelas A. Tapi Allistor salah kalau mengira dengan begitu posisi Arthur sudah aman. Karena tidak ada yang melindunginya, berada di antara para alfa yang tidak peduli padanya tidak berpengaruh apa-apa. Di luar sana, di luar kelas unggulan A yang dipenuhi para gentleman, masih ada banyak serigala yang berkeliaran. Bahkan di antara teman-teman sekelasnya sendiri, Allistor menyadari hal itu. Kalau bukan karena Arthur adalah adiknya dan mereka adalah siswa kelas 3 A unggulan, mereka juga akan mengadakan taruhan. Ia menduga kelas-kelas lain juga punya taruhan serupa.
Dan Alfred F. Jones dari kelas F yang keluar sebagai pemenangnya.
Arthur tahu ada sesuatu yang tidak beres. Semua orang melihat ke arahnya dengan tatapan yang tidak biasa. Apakah mereka masih bisa mencium jejak-jejak bau Jones pada dirinya? Arthur mencoba mengendus dirinya. Tidak ada bau yang aneh. Hanya sesuatu yang familiar tentangnya; wangi teh dan scone yang ia lahap untuk sarapan pagi tadi.
Ia mempercepat langkahnya meniti anak tangga dengan kepala tertunduk. Hampir saja menabrak seorang beta yang kemudian berhenti dan ikut memperhatikannya.
Ada sesuatu yang salah dengan orang-orang ini.
Arthur yakin sekali ia memakai seragamnya dengan benar dan rapi seperti biasa. Dan meski alis tebalnya terlihat konyol dan menggelikan, tidak pernah sampai menjadi perhatian siswa seluruh sekolah. Rasa-rasanya rambut pirangnya yang liar juga tidak begitu berbeda dari biasanya.
Kemudian langkah kakinya terhenti.
Apakah setelah melakukan itu memberikan perbedaan signifikan pada tubuhnya? Mungkin seperti― pinggangnya melebar, pantatnya menjadi lebih lebar? Tapi dia tidak merasakan apa-apa. Ibunya juga tidak berkomentar apa-apa. Allistor? Ah, bahkan kalau kepalanya terbentur hingga bocor dan berdarah-darah pun kakaknya itu hanya akan melihatnya sambil lalu. Kalau moodnya sedang bagus, Allistor akan menertawakannya. Jadi kesimpulannya, tidak mungkin ada perubahan drastis pada dirinya yang membuatnya menjadi perhatian seisi sekolah.
Atau― mereka semua tahu tentang hal itu?
Ia tidak dapat menemukan alasan lain yang menyebabkan semua ini. Mungkinkah semua orang di sekolah sudah tahu? Tapi siapa yang memberitahu? Dan apa yang begitu penting hingga semua orang di sekolah ini harus tahu?
Oh. Apakah ada CCTV di klinik sekolah?
Muka Arthur memerah. Ia meneruskan langkahnya dengan gontai. Tiba-tiba kakinya terasa lemas. Sekolah bergengsi seperti ini pasti memasang CCTV di mana-mana. Ia tidak bisa membayangkan semua orang berkumpul di auditorium dan menonton rekaman kejadian itu. Terlalu memalukan.
“Aduh.” Dan karena tidak melihat ke depan, Arthur menabrak seseorang dan orang itu menjatuhkan buku-buku yang ia bawa. “Ah, maafkan aku.”
Ia segera membantu memberesi buku dan kertas-kertas yang tersebar di sekitarnya.
“Sekali lagi aku minta maaf. Ini bukumu―” Sepasang mata emeraldnya bertemu dengan keping onyx yang datar tanpa emosi. Pemuda Asia. Seorang omega, lebih tepatnya.
“Tidak apa-apa. Terima kasih karena sudah membantuku― Kirkland-kun.” Dia sempat membungkukkan badannya sedikit, lalu melenggang pergi.
Arthur dibuat terdiam di tempat.
Hebat, sekarang semua orang mengenalinya.
Lalu bagaimana dengan teman-teman sekelasnya? Mereka juga pasti sudah tahu. Dan pasti tidak peduli. Setidaknya Arthur masih bisa duduk dan mengikuti pelajaran dengan tenang. Ia yakin para alfa itu tetap tidak akan menggubrisnya.
Jadi Arthur menghela nafas dan meneruskan langkahnya. Papan yang bertuliskan kelas unggulan A sudah terlihat dalam pandangannya. Untuk pertama kalinya dia ingin cepat sampai ke kelasnya, hanya agar bisa bersembunyi dari tatapan-tatapan aneh yang ditujukan kepadanya.
“Kita tidak bisa membiarkannya tetap berada di kelas ini, Beilschmidt!”
Arthur menghentikan langkah kakinya begitu sampai di depan pintu kelasnya yang tertutup. Ia kenal suara itu. Vash Zwingli. Siapa yang sedang dia bicarakan?
“Kenapa? Dia punya hak untuk tetap di sini.” Ludwig dengan suara bassnya.
“Dan kita punya hak untuk mengusirnya pergi!” Vash berseru lagi, diikuti suara gebrakan meja.
Arthur berjengit. Sepertinya dia tahu siapa yang sedang menjadi bahan pembicaraan mereka.
Siapa lagi kalau bukan dirinya?
“Awalnya aku diam saja karena tahu dia masih bersih! Tapi sekarang apa? Dia sudah sama seperti omega yang lain; kotor! Dan lebih parahnya lagi, si brengsek Jones dari kelas F itu yang sudah melakukannya! Membiarkan omega itu tetap tinggal di sini berarti mengaku kalah pada kelas Fuckers itu!”
Benar, kan?
“Aku setuju dengan Vash. Para mofo* itu hanya akan menertawakan kita! Untuk apa menyimpan sampah sisa mereka?!”
Arthur sulit bernafas. Rasanya seperti ada seutas tali kapal yang menjerat lehernya.
Sampah sisa. Serendah itukah dirinya?
“Jadi apa yang ingin kalian lakukan? Meminta kepala sekolah mengeluarkannya dari Hetalia?”
Seekstrim itu?
Arthur tahu kalau melakukan kegiatan seksual di lingkungan sekolah jelas-jelas melanggar peraturan. Tapi― tapi ini tidak adil!
“Ya! Aku tidak ingin melihatnya lagi!”
Apakah dia benar-benar akan dikeluarkan dari sekolah? Kenapa? Apa salahnya?
“Tidak semudah itu. Kepala sekolah tidak akan mengabulkannya dengan alasan sepele seperti perselisihan kelas!”
Sepasang mata emeraldnya basah.
“Baiklah. Tidak apa-apa kalau dia tidak dikeluarkan dari sekolah, tapi aku ingin dia dikeluarkan dari kelas kita! Kelas ini bukan tempat sampah! Kelas ini tidak menerima barang bekas pakai dari siapa pun!”
Vash terdengar seperti sedang melakukan orasi untuk melawan penjajah. Nada bicaranya berapi-api, dibakar oleh amarah. Alfa-alfa yang lain tidak ada bedanya. Mereka seperti grup paduan suara paling kompak yang pernah ada. Memiliki misi yang sama; mengusirnya.
Dan bahkan dia tidak bersalah.
“Kirim dia ke kelas F! Biarkan Jones menyimpan bekasnya!”
Jones… Bekas Jones.
“Iya! Segera transfer dia ke kelas F! Sejak awal dia tidak pantas berada di sini! Omega tidak seharusnya berada di kelas ini!”
Tidak peduli seberapa cerdasnya dia, tidak akan mengubah kenyataan bahwa dia hanya seorang omega. Hanya omega yang tidak berhak atas pengakuan selain sebagai produsen bayi. Tidak akan ada gelar lain untuknya.
“Kalian tahu kelas itu dipenuhi para berandalan. Kalian tega mengirimnya ke sana?”
Arthur tidak mengerti kenapa hanya Ludwig yang memperlakukannya dengan cara berbeda. Mengakui keberadaannya, memanggil namanya yang sebenarnya, bahkan sekarang membelanya. Ketua kelas tidak punya tugas sampai sejauh itu.
“Aku tidak peduli. Di sana kan ada Jones, biarkan dia mengurus benda bekas pakainya! Aku juga tidak akan peduli kalau Jones akan membuangnya. Aku hanya ingin omega itu dikirim ke kelas F!”
Kenapa mereka begitu membencinya?
“Kau tidak usah membelanya lagi, Beilschmidt! Kau tidak punya pilihan lagi! Negara ini menganut demokrasi dan suara terbanyak yang menang! Kita akan mengirim omega itu ke kelas F! Tidak akan ada barang bekas pakai orang lain di kelas ini!”
Tangannya yang gemetar memutar knob pintu, membukanya dengan sedikit bunyi berderit. Kemudian semua mata tertuju kepadanya. Ke-29 pasang mata alfa yang selama ini menjadi teman-teman sekelasnya.
Dia sudah tidak bisa lagi mendengarkan konspirasi itu. Sudah tidak tahan dengan sebutan barang bekas pakai yang merujuk pada dirinya. Sudah muak dengan nada-nada hinaan yang ditujukan padanya.
“Apa salahku?!”
Air mata pertamanya hari ini jatuh.
“Kenapa kalian begitu membenciku?! Memangnya apa yang sudah kulakukan pada kalian?! Apa yang membuat kalian begitu membenciku?!” Ia berteriak dengan suara parau. Berhasil mengundang perhatian siswa-siswa kelas unggulan lain yang ada di lantai itu. Menciptakan kerumunan orang dalam sekejap.
“Kenapa kalian mengatakan seolah-olah ini semua salahku?! Apa kalian pikir aku yang memintanya?! Kalian pikir aku menginginkannya?! Kalian pikir aku begitu putus asa hingga melakukan hubungan seks di sekolah?!” Arthur tidak pernah suka jadi pusat perhatian. Tapi ia sudah tidak peduli lagi. Ia sudah kehilangan harga dirinya, tidak ada lagi yang bisa dirampas darinya. Bulir-bulir air matanya mengalir bebas. “Aku juga tidak menginginkan semua ini terjadi! Aku tidak pernah menginginkannya! Aku sudah melawan! Tentu saja aku melawan! Tapi― tapi aku hanya omega…  Aku―”
―hanya makhluk yang rapuh. Begitu lemah. Seperti ranting kering, mudah patah. Seperti kaca, mudah pecah. Seperti kertas, mudah diremas. Sesuatu yang tidak bisa diulang lagi, seperti waktu yang terus berlalu. Dia sudah dipatahkan dengan mudah. Dipecahkan hingga berkeping-keping. Diremas-remas hingga tak utuh lagi.
Kedua kakinya sudah tidak mampu menahan bebannya. Arthur jatuh terduduk di atas lantai, di ambang pintu kelasnya.
…omega. Kenapa― kenapa kalian begitu membenciku hanya karena aku omega?!”
Omega. Dia bahkan tidak suka bagaimana kata itu meluncur dari mulutnya.
Arthur mengangkat kepalanya. Mengedarkan pandangannya menatap sekilas satu per satu teman-teman sekelasnya. Tidak ada yang terlihat iba. Tidak ada simpati. Tidak ada belas kasihan terpancar dari sorot mata mereka.
“Kenapa aku tidak bisa hidup tenang seperti kalian? Kenapa aku terlahir sebagai omega…”
Arthur belum pernah merasa sangat menyesal seperti ini. Ibunya selalu berhasil membuatnya bermimpi tinggi-tinggi. Tentang masa depannya yang cerah dan bahagia. Tentang hidupnya dengan seorang alfa yang begitu peduli padanya. Ia menggantungkan harapannya terlalu tinggi hingga harus berjinjit pada ujung jari kaki. Ia tidak pernah membayangkan akan jatuh tergelincir dari tempat yang begitu tinggi.
Rasanya sakit sekali. Jatuh dari langit.
*mofo: motherfucker, orz

No comments:

Post a Comment