Monday, November 4, 2013

You Don't Know Love (1) - a Hetalia fanfiction

Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
Warning : AU, omegaverse, OOC, shounen ai (yaoi?)
Sudah hampir satu semester.
Arthur Kirkland menghela nafas. Ia mengangkat kepalanya dan memperhatikan keadaan sekitar. Semua orang terlihat sibuk melakukan kegiatannya masing-masing. Beberapa dari mereka tengah berdiskusi, ada yang sibuk mengerjakan soal, ada yang mengobrol santai, bahkan ada yang makan siang dengan tenangnya.
Arthur menghela nafas lagi, kemudian kembali membaca diktatnya.
Sudah hampir satu semester dia berada sini, menjadi bagian dari kelas ini, dengan orang-orang ini. Tapi hampir tidak ada yang berubah. Semua masih sama seperti saat awal-awal dia datang. Apakah dia akan terus berada di antara orang-orang ini sampai lulus? Apakah keadaan akan terus berlanjut seperti ini hingga dua setengah tahun ke depan?

Lima bulan yang lalu dia diterima di sekolah ini, Hetalia International High School, dengan nilai ujian masuk yang mencengangkan. Dia sama sekali tidak menyangka akan ditempatkan di kelas unggulan, bahkan menduduki peringkat pertama dengan nilai total tertinggi sepanjang sejarah. Dia bangga, tentu saja. Tapi apalah artinya kalau hanya Arthur yang merasa demikian? Sejak awal dia sudah agak ragu, dapatkah dia bertahan di sini? Di antara orang-orang ini? Akankah mereka menerima kehadirannya?
Arthur kecil yang polos dan naif selalu mendengarkan cerita ibunya dengan mata hijau bulat bersinar-sinar. Ibu mengatakan ada tiga lapisan sosial yang terbentuk secara alami. Tiap-tiap golongan mempunyai fungsi dan peranan masing-masing. Ibu bilang keberadaan mereka begitu penting untuk mempertahankan kelestarian ras manusia. Ibu bilang mereka pasti akan dilindungi dan dijaga baik-baik. Seperti permata yang berharga. Mereka adalah harta karun yang tidak ternilai harganya. Mereka adalah omega. 

Tapi setelah cukup besar, dia tahu ada yang salah dengan cerita ibu. Tidak sinkron antara apa yang keluar dari mulut manis ibu dengan kenyataan di lapangan. Apakah benar omega adalah harta karun? Karena beberapa teman sejenisnya diperlakukan seperti mainan murahan. Mesin produksi bayi adalah sebutan yang diberikan oleh kakaknya sendiri pada Arthur yang waktu itu berusia 13 tahun. Dia marah dan mengatakan kalau hal itu tidak benar. Allistor hanya tertawa.
Baru-baru ini Arthur dengan terpaksa mengakui kalau kakaknya benar. Setidaknya orang-orang yang ia kenal berakhir sama. Mereka tidak melanjutkan sekolah karena kehadiran bayi. Benar-benar berakhir sebagai mesin produksi bayi.
Dan sekarang dia berada di sini. Di tengah-tengah para penyandang status tertinggi. Dia, seorang omega, berada di antara para alfa. Dia pikir pola pikir masyarakat sudah semakin membaik, dengan membiarkan omega meraih mimpi-mimpinya dan tidak akan berakhir sebagai sekedar pemuas nafsu. Dia pikir dunia sudah berubah menjadi lebih baik dan status sosial itu hanya simbol belaka. Betapa naifnya dia.
Tidak ada yang berubah.
Arthur memang diterima di kelas unggulan yang hanya berisi para alfa. Mendapatkan menu makan siang terbaik dan kesempatan untuk mempelajari apa yang tidak akan pernah diajarkan di kelas reguler. Tapi hanya itu saja. Selebihnya, seperti penghormatan dan penghargaan; tidak ada. Arthur bukan orang yang haus pujian. Dia yakin sekali semua itu tidak akan membuatnya kenyang. Yang ia butuhkan adalah pengakuan. Hanya itu.
Bahkan hal sesederhana itu tidak ia dapatkan di sini.
Mana mau para alfa yang angkuh itu mengakui kehadirannya di tengah-tengah mereka? Selama satu semester ini dia diacuhkan oleh semua orang yang harusnya menjadi teman sekelasnya. Kecuali guru yang memanggil namanya saat mengambil presensi, dia dianggap tidak ada. Bahkan dalam keadaan benar-benar terpaksa pun, dia tidak dipanggil sebagaimana mestinya. Selalu dengan hei kau atau omega atau panggilan-panggilan lain yang bernada merendahkan.
Dia tidak tahu apakah bisa bertahan dengan kondisi seperti ini hingga kelulusan yang masih dua setengah tahun lagi.
“Hei,”
Arthur mengangkat kepalanya setelah dikejutkan oleh kehadiran bayangan yang tiba-tiba menghalangi cahaya matahari dari bukunya.
“Iya?”
Sepasang mata emeraldnya mengerjap. Kemudian dia sadar bahwa ini pertama kalinya ada yang berbicara kepadanya minggu ini. Orang itu adalah Ludwig Beilschmidt, pemuda Jerman bersuara bass yang bermuka datar. Dia adalah satu dari sedikit orang yang pernah berbicara pada Arthur, hanya karena posisinya sebagai ketua kelas.
“Ini latihan soal untuk semua mata pelajaran. Pelajari baik-baik.” Pemuda bermata biru itu meletakkan berkas fotokopian di meja Arthur.
“Ah, terima kasih.”
Ludwig hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu, kembali ke bangkunya untuk meneruskan kegiatannya mengerjakan soal.
Arthur memandangi lembaran kertas di hadapannya.
Ujian adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Arthur. Dia tidak perlu berlama-lama berada di antara teman-teman alfanya yang selalu mengacuhkannya, cukup dua jam waktu ujian saja. Selain itu, waktu ujian adalah saat dia tidak merasa menjadi satu-satunya orang yang diacuhkan. Karena semua orang saling mengacuhkan satu sama lain dan bekerja secara individu. Arthur tidak perlu khawatir tidak mendapatkan partner untuk kelas diskusi atau untuk pemanasan saat kelas olahraga. Dia tidak akan merasa kesepian dan tidak punya teman makan siang. Arthur sangat menyukai waktu ujian, karena saat itu yang perlu ia lakukan hanya berkonsentrasi menjawab soal. Ia tidak perlu memikirkan bisik-bisik yang membuat punggungnya panas. Tidak perlu menghiraukan tatapan tajam yang dilayangkan ke arahnya. Ujian merupakan masa-masa yang paling tenang dan Arthur menyukai hal itu. Yang tidak ia sukai adalah kegiatan sesudahnya.
Sesuai tradisi, setelah ujian berakhir selalu diadakan perlombaan antarkelas.
Ujian terakhir sudah selesai satu jam yang lalu. Sekarang ia kembali duduk di bangkunya, di tengah-tengah para alfa, dengan tidak tertarik mendengarkan mereka meributkan perlombaan kelas. Semuanya sibuk mengangkat tangan dan mengutarakan pendapat, memilih dan menentukan siapa yang akan mengikuti cabang lomba apa. Arthur membaca lagi kertas berisi daftar lomba yang sebelumnya sudah dibagikan oleh Ludwig. Tidak ada yang menarik. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Semua cabang perlombaan adalah bidang olahraga. Sesuatu yang tidak ia sukai. Lagipula Arthur juga tidak mau repot-repot mencalonkan diri. Tidak akan ada yang memilihnya. Keberadaannya kan tidak dianggap di kelas ini.
Arthur menyadari kalau kehadirannya tidak diharapkan teman-teman sekelasnya. Dia beberapa kali mendengar kabar tentang kelas unggulan lain yang meremehkan kelas A hanya karena ada seorang omega di dalamnya. Karena ada Arthur. Semua teman sekelasnya membencinya karena hal itu.
Padahal dia tidak bodoh. Dia menduduki peringkat pertama saat ujian masuk dan nilai ujian tengah semesternya paling tinggi. Kalau bukan karena statusnya sebagai omega, tentu dia akan menjadi orang yang disegani. Teman-teman kelasnya akan bangga dan bersikap sangat baik padanya. Dia akan jadi rebutan dalam kelas diskusi dan pemanasan olahraga. Seisi kelas akan bertepuk tangan penuh kekaguman saat dia berhasil menyelesaikan soal kalkulus lanjut di papan tulis. Dia akan memiliki banyak teman, tergabung dalam organisasi kesiswaan, dikelilingi orang-orang yang selalu mendukung dan memujinya. Kemudian Arthur akan lulus sekolah dengan nilai tertinggi, diterima di universitas ternama, menjalani kehidupan kampus yang menyenangkan, lulus tetap dengan nilai tertinggi dan diterima bekerja di perusahaan besar. Kehidupannya akan jauh, jauh lebih baik jika dia terlahir sebagai alfa. Atau paling tidak sebagai beta.
Kalau setiap orang bisa memilih akan terlahir sebagai apa, akankah ada yang menginginkan kehidupan sebagai omega?
Tapi ibunya terlihat begitu bahagia dan meyakinkan. Ayahnya tidak diragukan lagi adalah seorang alfa yang disegani. Orang yang begitu menyayangi ibunya, sosok alfa pahlawan yang selalu diceritakan ibunya sebelum tidur. Seseorang yang setia dan selalu menjaga omeganya. Seseorang yang membuat omega merasa nyaman dan aman berada di sampingnya.
Apakah tidak ada alfa lain yang seperti ayahnya? Karena bahkan Allistor selalu menyakitinya. Atau― tidak adakah alfa lain yang menginginkan dirinya? Tidak satu pun dari teman kelasnya? Padahal Arthur pikir dengan menjadi seorang omega yang terdidik, dia akan memiliki kesempatan mendapatkan pasangan yang baik. Dengan menjadi omega yang cerdas, alfa-alfa unggulan akan berlomba-lomba untuk melihat siapa yang terbaik dan pantas untuk memilikinya. Karena seharusnya jika semakin berkualitas suatu barang, nilai jualnya akan semakin tinggi. Cara pikir yang logis dan begitu sederhana.
Atau definisi kualitas menurut Arthur berbeda dengan alfa-alfa unggulan berupa teman-teman sekelasnya? Apakah alfa unggulan juga hanya memilih pasangannya dari penampilan luar? Dari seberapa tebal make-up yang dikenakan, seberapa mudah mereka dirayu, ditarik ke tempat tidur dan diajak melakukan konsepsi? Apakah alfa-alfa unggulan ini punya cara pikir sedangkal itu?
Pada akhirnya, apakah omega memang hanya sebagai mesin produksi bayi tanpa memiliki arti lain?
“Semua sepakat, kan? Aku ingin kita memenangkan lomba sebanyak-banyaknya, jangan mau kalah dengan kelas F berandalan itu!” Vash Zwingli berseru, tangan kanannya mengepal dengan penuh semangat. Yang lain membalas dengan tak kalah semangat. Suasana kelas yang biasanya tenang berubah menjadi semarak oleh riuh rendah koor kelas.
Arthur menghela nafas panjang.
Pasti menyenangkan jika bisa menjadi bagian dari semua ini. Berada di antara tidak selalu berarti menjadi bagian dari sebuah kesatuan, Arthur tahu itu.
“Tunggu dulu,” Ludwig mengangkat tangannya, memberi isyarat teman-temannya untuk tenang. Dia tidak perlu susah-susah meneriaki mereka untuk diam, kaum elit sepertinya sudah punya kharisma yang mengagumkan. “Apa ada perlombaan yang ingin kau ikuti, Kirkland?”
Arthur tersentak dari lamunannya begitu mendengar namanya dipanggil. Selain para guru, tidak ada yang pernah memanggil namanya. Dan untuk kedua kalinya dia menjadi pusat perhatian, dengan berpasang-pasang mata predator tertuju ke arahnya. Pertama yaitu saat dia memperkenalkan diri di depan kelas setelah terlambat masuk karena harus mengurus administrasi yang berbelit-belit bagi omega seperti dirinya. Tidak ada yang berubah. Masih dengan nuansa yang tegang dan penuh tekanan. Ternyata diacuhkan memang lebih baik.
“Apa maksudmu, Beilschmidt? Kau ingin kelas kita kalah dan dijadikan bahan ejekan oleh seluruh penjuru sekolah?”
Arthur mengerutkan keningnya begitu mendengar protes yang dilontarkan alfa-alfa lain secara bertubi-tubi. Mereka mengatakannya dengan acuh seperti dia tidak berada di sini. Seperti sejak awal dia hanya dianggap sebagai benda mati; tidak berbeda jauh dari jam dinding, meja, kursi dan perangkat lainnya.
Tapi Ludwig tidak menghiraukan protes mereka. Sepasang mata birunya yang tajam bertemu dengan keping emerald Arthur. “Kirkland? Ada lomba yang ingin kau ikuti?”
Sambil terus mengutarakan protes dan gerutuan-gerutuan bernada sama, alfa-alfa di sekitarnya melemparkan pandangan tajam ke arahnya. Jika mata bisa membunuh, tentu Arthur sudah mati sejak lama, sejak pertama kali melangkahkan kakinya memasuki kelas ini.
Ternyata dia memang lebih suka diacuhkan daripada diberi perhatian berlebihan.
Dia memutuskan kontak mata dengan Ludwig, mengalihkan perhatiannya untuk mengamati mejanya yang selalu terlihat lebih menarik bila dibandingkan wajah teman sekelasnya. Arthur seorang omega dan tahu apa yang harus dilakukan di saat-saat seperti ini. Saat-saat yang membuatnya merasa tidak aman dan memaksanya untuk bertahan.
Dia menggelengkan kepalanya perlahan.
Ludwig diam sejenak. Suasana kelas tiba-tiba menjadi hening.
“Baiklah. Persiapkan semuanya. Perlombaan akan dibuka dengan cabang atletik besok pagi, dilanjutkan football siang harinya.” Suara bass Ludwig memecahkan keheningan prematur yang sempat tercipta.
Dan keadaan kembali ramai seperti semula. Tatapan-tatapan predator yang tadi ditujukan kepadanya sudah tidak ada, Arthur dapat kembali bernafas dengan lega.
“Kalahkan mereka!”
“Tunjukkan kemampuan kelas A unggulan yang sesungguhnya!”
“Habisi kelas F!”
Arthur berjinjit mencoba untuk melihat pertandingan football yang sedang berlangsung. Tapi percuma saja, para alfa yang berdiri di depannya semua berbadan tinggi besar, menghalangi pandangannya dari lapangan. Untuk apa dia datang kalau tidak bisa melihat apa pun? Arthur pun menyerah untuk mencoba melihat pertandingan, kembali duduk dan menghela nafas lelah.
Dia juga ingin melihat kelasnya bertanding. Dia ingin menjadi bagian dari kelasnya. Ingin menunjukkan pada Ludwig ― satu-satunya pemuda yang terlihat sedikit peduli padanya ― bahwa dia ikut mendukung penuh kelas mereka walau tidak berpartisipasi dalam lomba apa pun. Dia tetap mendukung mereka walaupun tidak pernah didukung balik.
Dari sorak-sorak teman-temannya dia bisa sedikit membayangkan apa yang terjadi di lapangan. Sepertinya tim kelas A sedikit unggul daripada kelas lawan, kelas F unggulan. Arthur tidak tahu pasti ada masalah apa antara kelasnya dan kelas F, tapi kedua kelas itu selalu berselisih. Yang ia tahu, kelas F adalah kelas yang berisi para alfa berandalan. Cerdik adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan mereka. Gabungan antara cerdas dan licik, kombinasi yang tidak akan berakhir baik. Ia sering mendengar para guru mengeluhkan kelas itu di sela-sela mengajar. Bagaimana mereka susah diatur, pembuat onar, dan kenakalan-kenakalan remaja lainnya. Benar-benar kontras dengan imej yang dibangun kelas A, sebagai kelas para gentlemen. Tapi Arthur jauh lebih tahu. Tidak ada alfa yang benar-benar seorang gentleman di kelasnya.
“Ah, nyaris touch down!”
Seorang alfa yang berdiri di sampingnya mengepalkan tangannya dengan kesal. Secara tidak sengaja sikunya mengenai hidung Arthur dengan keras. Pemuda itu tidak menyadarinya, masih menonton pertandingan dengan serius dan bersemangat.
“Akh-” Arthur meraba hidungnya yang nyeri. Ada darah yang mengalir dari hidungnya akibat tumbukan keras tadi.
Sambil menahan sakit dia bangkit dari bangkunya dan menerobos keramaian dengan susah payah, menghindari kebrutalan tidak sengaja yang ditimbulkan oleh suporter yang terlalu bersemangat. Dia harus berhati-hati kalau ingin keluar dari tribun dengan utuh, mengingat posisinya di antara para alfa yang memiliki proporsi tubuh lebih besar dari dirinya.
Suasana di dalam gedung sekolah begitu sepi. Semuanya terkonsentrasi pada lapangan football. Arthur melangkah dengan gontai melewati koridor sekolah sambil memegangi hidungnya yang berdenyut perih. Dia tidak yakin ada dokter di klinik sekolah, tapi setidaknya dia bisa beristirahat dan meringankan rasa sakitnya. Dia harus segera menghentikan aliran darahnya atau cairan merah pekat itu akan mengotori seragam putihnya.
Dugaannya benar. Begitu ia memasuki klinik sekolah, tidak terlihat siapa pun di sana. Tirai putih yang membingkai jendela berkibar-kibar tertiup angin. Arthur menghela nafas. Ia menuju lemari kaca, mengambil kotak P3K dan membawanya ke ranjang di dekat jendela. Ia merasa darahnya sudah berhenti mengalir, jadi ia mengambil kapas dan membersihkan bercak-bercak merah di sekitar hidung dan mulutnya. Kemudian dia merekatkan plester pada pangkal hidungnya dengan hati-hati. Semuanya dia lakukan dengan berjengit menahan sakit. Semoga saja tulang hidungnya tidak patah.
Ia sedang mencuci tangannya di wastafel saat tiba-tiba pintu terbuka dengan gebrakan yang cukup keras, mengagetkannya. Seorang pemuda berambut pirang berkacamata masuk sambil menggerutu. Dia mengenakan bomber jacket dengan nomor punggung 50. Dari postur tubuhnya yang besar dan tegap, Arthur bisa menebak dengan mudah kalau ia seorang alfa.
Sepertinya pemuda itu belum menyadari keberadaan Arthur ― karena terlalu sibuk menggerutu ­― dan duduk di tepi ranjang, menggulung lengan kiri jaketnya dan mengamati tangannya yang sedikit memar. Tiba-tiba saja dia mengangkat kepalanya dan sepasang mata biru itu memandangi Arthur dengan tajam.
Omega? Sejak kapan kau ada di sini?”
Arthur menutup keran dan menelan ludah. “Ah, sepuluh menit yang lalu?”
Pemuda itu hanya mengangkat bahu. Ia kembali memperhatikan warna kebiruan yang terbentuk pada tangannya, menekan-nekannya perlahan dan berjengit menahan sakit.
Arthur masih berdiri di dekat wastafel dan diam-diam memperhatikan pemuda tampan itu. Rasanya dia pernah melihatnya di suatu tempat baru-baru ini. Sepasang mata emeraldnya membulat begitu menyadari sesuatu. Dia kan yang tadi ikut bertanding melawan tim kelasnya. Jadi pemuda ini alfa dari kelas F? Kalau dia di sini, apakah artinya pertandingan football sudah berakhir?
“Maaf, apakah pertandingannya sudah selesai?”
Pemuda itu mengangkat kepalanya dengan cepat. Raut mukanya memperlihatkan kekesalan. “Iya. Kelas A hanya beruntung karena aku sedang tidak enak badan hari ini. Atau mereka akan kalah dengan skor akhir yang memalukan!”
Arthur hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Jadi kelasnya memenangkan pertandingan football melawan kelas pemuda ini, kelas F. Sayang sekali dia tidak melihat secara langsung kemenangan mereka. Sekarang, apakah dia harus bergabung dengan teman-temannya dan merayakan kemenangan itu? Ia tidak yakin akan ada yang berbagi kebahagiaan dengannya. Mungkin lebih baik Arthur pulang saja. Perlombaan kelas masih akan berlanjut hingga seminggu ke depan. Terlalu dini untuk bersenang-senang, apalagi merasa senang atas sesuatu yang dirinya tidak tergabung di dalamnya.
“Hei, kau mau ke mana?” Seruan pemuda tadi menghentikan langkah Arthur. Tangannya berpegang pada knob pintu. “Pulang.”
Pemuda itu mendengus. “Heh, kau sadar kalau tidak ada orang lain di sini, kan? Kau ingin aku mengobati lukaku sendiri?”
Arthur terlihat berpikir. Sebenarnya dia tidak begitu peduli pada pemuda ini. Bukan karena dia alfa dari kelas F, tapi karena jika pemuda ini tahu bahwa dia adalah kelas A, Arthur tidak tahu bagaimana reaksinya. Dia terlihat begitu kesal dengan kekalahan kelasnya.
“Cepat kemari dan bantu aku, omega!”
Betapa dia tidak suka disuruh-suruh dan dipanggil seperti itu.
“Aku punya nama, asal kau tahu saja.” Dengan enggan dia menghampiri pemuda itu dan duduk di kursi di hadapannya. Arthur paham betul kalau dia tidak boleh mencari masalah dengan alfa. Kalau dia kabur begitu saja, siapa yang tahu pemuda itu akan mengejarnya dan memberinya pelajaran. Bagaimana pun juga kebanyakan alfa bertemperamen rendah.
“Oh? Aku tidak tahu itu. Siapa namamu?”
Bolehkah ia memberitahu namanya pada pemuda ini? Ia tidak ingin semua alfa di sekolah ini memanggilnya omega.
“Arthur. Arthur Kirkland.” Dengan hati-hati ia memeriksa luka pada tangan kiri pemuda ini. Hanya memar biasa. Arthur tidak mengerti kenapa alfa ini begitu mempermasalahkannya. Dia tidak akan mati hanya karena luka memar seperti ini. “Kurasa tidak apa-apa. Setelah dikompres dengan air dingin akan baik-baik saja.”
Arthur belum pernah melihat sepasang mata warna biru langit seindah itu. Tapi ia segera mengalihkan pandangannya.
“Hmm, lalu apa lagi yang kau tunggu? Cepat kompres tanganku.”
Dia ingin protes, tapi pemuda itu menatapnya tajam. Menjanjikan ancaman yang tidak menyenangkan jika Arthur tidak menurutinya. Ini pertama kalinya ada alfa yang menyuruh-nyuruhnya seenaknya. Antara diacuhkan atau disuruh-suruh, Arthur tidak tahu harus memilih mana yang lebih baik untuknya. Keduanya sama-sama tidak menyenangkan.
Saat ia membasahi selembar handuk kecil di wastafel, pemuda itu melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di kursi. Dia mengenakan kaos putih polos di baliknya, yang memamerkan tubuh atletisnya. Bukan sesuatu yang asing bagi Arthur. Berada di antara para alfa membuatnya terbiasa menyaksikan pemandangan yang menggiurkan seperti ini.
“Alfred F. Jones. Kau boleh memanggilku Alfred kalau kau mau, Art.” Alfred membuat dirinya nyaman, menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang dan meluruskannya. Punggungnya bersandar pada sandaran tempat tidur. Angin yang berhembus menggoyang-goyangkan rambut pirangnya.
Sejenak Arthur dibuat terdiam. Entah kenapa jantungnya berdegup lebih cepat begitu mendengar namanya disebut. Bukan namanya yang sebenarnya, melainkan dengan pemenggalan kata yang sadis hingga membuatnya terdengar seperti nama hewan peliharaan. Tapi ini pertama kalinya dia dipanggil dengan nama selain hei kau atau omega, atau nama-nama lain. Sesuatu yang terdengar jauh lebih baik. Terdengar jauh lebih bersahabat dari nama Kirkland yang diucap Ludwig. Dengan nada bicara yang terdengar sedikit kekanak-kanakan dan ceria. Berbeda dengan suara bass Ludwig, dan Arthur memutuskan kalau ia lebih suka nama barunya. Terdengar seperti sesuatu yang indah saat meluncur dari mulut pemuda bernama Alfred itu.
“Hei, kenapa lama sekali? Kau membuatku mengantuk karena menunggu!”
Berisik dan tidak sabaran. Arthur tidak mengerti mengapa semua alfa begitu menyebalkan. Dia hanya menghela nafas dan kembali duduk di kursi dekat tempat tidur. Alfred segera mengulurkan tangan kirinya untuk dikompres oleh Arthur. Dia sedikit mendesis ketika kain handuk yang dingin mengenai luka memarnya.
“Jangan banyak bergerak.” Arthur memegang pergelangan tangan Alfred dan membenarkan letak handuk yang bergeser.
Arthur dapat merasakan sepasang mata biru cemerlang itu memperhatikannya. Membuatnya sedikit gugup, jadi ia menarik tangannya dan menyimpannya di atas pangkuannya. Tiba-tiba suasananya begitu hening. Tidak lagi terdengar samar-samar sorak-sorak penonton dari lapangan. Hanya suara gesekan badan Alfred dengan sprei putih tempat tidur. Pemuda itu sepertinya belum menemukan posisi istirahat yang nyaman.
Apakah dia sudah boleh pergi sekarang? Sebelumnya dia belum pernah berdua saja dengan alfa mana pun, jadi ia merasa sedikit tidak nyaman. Alfred tidak bermaksud menahannya di sini sampai ia sembuh, kan?
“Hei, hidungmu kenapa?”
Ia mengangkat kepalanya dan bertemu sepasang mata Alfred. Kemudian tangan kanannya terangkat, secara tidak sadar meraba plester yang merekat pada pangkal hidungnya. Masih terasa sedikit nyeri, tapi secara keseluruhan sudah tidak sakit lagi.
“Tadi ada yang tidak sengaja mengenai hidungku dengan sikunya.”
Alfred tertawa. “Hahaha, konyol sekali! Apa yang sedang kau lakukan sampai terhantam siku orang lain? Hahaha, bodoh sekali!”
Arthur ingin marah, tidak suka disebut bodoh karena sesungguhnya dia tidak bodoh. Tapi ia hanya bisa terdiam dan mendengarkan tawa Alfred. Suaranya bening sekali seperti dentingan bel gereja. Arthur pun tersenyum samar dibuatnya.
“Jangan bilang kalau kau mengobati lukamu sendiri!”
“Apa kau melihat ada orang lain di sini?”
“Aaargh, jangan bilang kalau kapas-kapas berlumuran darah di tempat sampah itu punyamu!” Alfred memegangi hidungnya. Membayangkannya saja sudah membuatnya merasa nyeri. “Kau yakin hidungmu tidak apa-apa? Tidak patah? Kurasa lebih baik kau pergi memeriksakannya ke dokter sekarang juga.”
Selain ibunya, belum pernah ada orang lain yang perhatian padanya. Arthur tidak tahu bagaimana tentang ayahnya. Pria itu sudah lama mati sebelum Arthur dapat mengingat wajahnya. Allistor? Jangan ditanya. Kakaknya adalah alfa pertama yang mematahkan cerita-cerita ibunya tentang alfa pahlawan yang akan melindunginya. Teman-teman sekelasnya? Ah, bahkan kalau dia mati pun Arthur yakin mereka tidak akan datang ke pemakamannya. Mungkin hanya Ludwig yang akan muncul, mengingat tanggung jawabnya sebagai seorang ketua kelas. Jadi ketika Arthur mendengar ada orang lain yang mengkhawatirkannya selain ibunya, perasaannya menghangat. Mungkin cerita ibunya tidak sepenuhnya salah. Mungkin memang benar akan ada alfa yang melindunginya.
Tapi dia tidak ingin terlalu berharap, apalagi pada orang yang baru saja ia kenal.
“Aku tidak apa-apa. Sudah tidak sakit lagi.” Arthur menggelengkan kepalanya.
“Hei, aku akan mengantarkanmu kalau kau mau. Sebagai ucapan terima kasih.” Pemuda Amerika itu tersenyum, memamerkan deretan giginya yang rapi.
Kenapa alfa ini begitu baik padanya?
Dadanya terasa nyeri mendengarnya. Ia sangat tidak terbiasa dengan hal ini. Arthur tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tiba-tiba ia merasa begitu gugup, jantungnya berdegup lebih kencang. Sekarang ia harus mengendalikan emosinya sebelum Alfred dapat mengendus perubahan auranya. Tentu Arthur tidak ingin Alfred berpikiran ia menyerahkan diri padanya. Masih terlalu cepat untuk hal itu. Dia tidak akan tunduk pada nafsunya dan berakhir menjadi sekedar mesin produksi bayi.
“Bagaimana, Art?”
Kenapa dia harus menyebutkan nama itu lagi?
Arthur merasakan wajahnya memanas. Ia memalingkan mukanya dan melihat ke luar jendela. Menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, mencoba menenangkan diri.
“Hei, kau tidak apa-apa? Mukamu memerah. Apa kau demam?”
Arthur menggelengkan kepalanya dengan keras. “Sudah kubilang aku tidak apa-apa, bodoh!” Kalau sudah begini, dia akan cenderung lebih emosional. Arthur berjengit setelah mendengar dirinya berseru kepada Alfred. Suaranya terdengar terlalu keras bahkan untuk standarnya sendiri.
Alfred terdiam. Dia cukup dikejutkan oleh teriakan Arthur. Sepasang mata birunya mengerjap polos.
Kemudian hening lagi.
Arthur kembali mengatur nafasnya, masih tidak mau melihat kepada Alfred. Ia merasa malu karena sudah berteriak pada alfa itu. Malu dan takut. Alfa mana yang tidak geram diperlakukan seperti itu oleh omega? Tapi sepertinya Alfred biasa-biasa saja. Dia berharap Alfred tidak akan memukulnya.
“…maaf.” Suaranya terdengar sedikit serak saat mengatakannya. Arthur memainkan jari-jarinya dengan gugup.
Alfred tersenyum, menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku kenal beberapa omega dan mereka jauh lebih emosional dari dirimu sekarang.”
Arthur mengangkat kepalanya. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata yang keluar. Dan ia menutupnya lagi. Ia tidak tahu apa yang ia katakan.
“Kau dari kelas apa?”
Arthur terdiam dibuatnya. Sepasang mata emeraldnya membulat.
Haruskah ia memberitahu Alfred?
“Ah, tunggu! Aku baru ingat! Sepertinya aku pernah melihatmu!” Kedua alis Alfred berkerut dalam. “Kau― tidak mungkin! Kau omega itu kan?! Kau― kau anak kelas A!” Alfred berseru dengan tiba-tiba, menegakkan badannya dan berhasil menjatuhkan handuk kecil yang mengompres tangannya. Ia segera berjengit menahan sakit karena terasa nyeri pada memarnya. Arthur sendiri juga cukup dikagetkan oleh seruan pemuda itu. Ia hampir saja melompat dari kursinya.
“Ah, ah, aduh… Sakit…” Alfred merengek seperti anak kecil. Meniup-niup lukanya dengan harapan akan mengurangi rasa nyeri yang tiba-tiba menyerangnya akibat gerakan mendadaknya barusan.
Arthur menghela nafas dan memungut handuk kecil yang terjatuh ke lantai. Ia baru akan melangkah menuju wastafel untuk membersihkannya saat pergelangan tangannya ditarik oleh Alfred. Ada tekanan yang tidak perlu di sana, seperti Alfred mencoba untuk mendislokasikan sendinya. Dia tidak berani menarik tangannya. Ada sesuatu yang membuatnya terdiam. Perasaan tentang tangan Alfred yang besar melingkari pergelangan tangannya. Perlahan-lahan ― meski masih dengan paksaan dan tekanan berlebih ― menariknya kembali. Alfred tidak membiarkannya pergi.
“Kau omega yang menjadi perbincangan itu, kan? Omega yang begitu pintar.”
Arthur membalikkan badannya, menghadap Alfred.
“Iya. Apa yang kau inginkan?”
Alfred menyeringai. “Ada sesuatu yang sangat ingin kulakukan pada omega cerdas seperti dirimu.”
Tiba-tiba saja dirinya ditarik lebih kuat, hingga jatuh ke atas ranjang dan tubuh Alfred yang lebih besar darinya langsung menindihnya. Arthur kesulitan bernafas, semuanya terasa sesak dan panik menyerangnya.
“Le-lepas!”
Alfred menahan kedua tangannya dengan mudah, dengan satu tangan saja. Tangan kirinya ― yang seharusnya terasa sakit ― menyusup ke balik kemeja putihnya, menjelajahi tubuh bagian atasnya. Arthur mencoba memberontak, tapi percuma saja, Alfred jauh lebih kuat darinya. Sebentar kemudian pemuda itu menciumi lehernya, menggigit pertautan antara leher dan bahunya. Arthur mengerang pelan. Air mata mengumpul pada sudut-sudut matanya, mengalir turun membasahi pelipisnya.
Harapannya akan alfa yang dapat melindunginya hancur berkeping-keping.

No comments:

Post a Comment