Tuesday, May 27, 2014

My Darlings

Bohong kalau aku bilang tidak sedih.


Tiga bulan. Tiga bulan itu bukan waktu yang singkat. Ada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa butuh waktu 15 hari bagi perempuan untuk jatuh cinta. Lalu bagaimana dengan 3 bulan ini? Sebenarnya tak butuh waktu 15 hari; cukup sekali pandang dan aku tahu aku menyukai mereka.

Ya, mereka. Subyek penelitianku. Kelinci-kelinci yang lucu.





Waktu pertama kali memutuskan untuk mengambil kelinci sebagai tema penelitian, aku tidak terpikir bagaimana rasanya berpisah dengan mereka. Tentu saja aku tahu sejak awal mereka akan mati kemudian, hanya aku tidak menyangka mereka akan begitu menggemaskan.

Mereka tidak bicara. Mereka tidak mengeong, mereka tidak melenguh, mereka tidak menggonggong. Mereka hanya diam dan menatapku dengan sepasang mata bulat yang bersinar-sinar. Mereka tidak menyapa dan mengajak bicara; apa kabarmu hari ini? Aku lapar, kau akan memberiku makan, kan? Hei, minumku telah habis. Aku tidak suka makanan ini! Maukah kau membantuku menggaruk telingaku? Hei, aku mau makan daun itu! Hei-- ini, itu; dan percakapan-percakapan yang mungkin terjadi di antara kami.


Mereka tidak bicara, tapi saat aku membuka pintu, menyapa mereka dengan sapaan biasaku halo, darlings! dan mengecek satu per satu kandang mereka, mereka berdiri. Cakar-cakar mungil mereka berpegang pada kawat-kawat besi. Sepasang mata bulat mereka bersinar-sinar; dan seolah berkata; hei, akhirnya kau datang juga! Aku sudah sangat lapar! Beri aku makan!



They don't speak. Right now, there's no need for words (Bleach-Stitches)

Mereka memang tidak bicara, tapi aku tidak perlu kata-kata. Tidak sulit menafsirkan gerak-gerik mereka. Mereka memang hanya diam. Tapi aku tidak pernah merasa kesepian di antara mereka. Suara cakar-cakar mungil mereka saat mencengkeram kawat besi. Gertakan gigi-gigi mereka saat mengerat kayu. Suara pakan yang dihambur-hamburkan. Mereka memang tidak bicara; mereka bercerita padaku dengan cara lain.

Tiga bulan ini aku banyak belajar dari makhluk-makhluk menggemaskan itu.


Selain apa yang memang harus kuambil dari penelitianku, aku belajar tentang hidup. Bagaimana mereka berjuang untuk bertahan. Karena, kau tahu, sebagian dari mereka tidak cukup kuat untuk bertahan. Menghembuskan nafas terakhir bahkan sebelum mencapai pertengahan jalan. Mereka makhluk yang menggemaskan, mungil, dan rapuh. Mereka begitu rentan terhadap pengaruh cuaca. Dan mereka mati dengan mudah. Seperti, hari ini makan dengan lahap dan antusias, keesokan harinya terbujur kaku. Seperti itu. Jadi aku harus berusaha lebih keras untuk mempertahankan kehidupan mereka. Mereka tidak boleh jatuh sakit. Tidak boleh kembung. Tidak boleh masuk angin. Tidak boleh kekurangan kasih sayang.

Tiga bulan ini aku belajar untuk menghargai kehidupan.

Mereka adalah makhluk yang menggemaskan, percayalah. Playful creatures. Mereka senang bermain, menggoda, melucu; benar-benar menggemaskan. Mereka memang tidak bicara, tentu saja. Tapi aku tidak perlu kata-kata. Tingkah mereka sudah cukup menjadi cerita. Dan aku tak pernah merasa kesepian memandangi mereka makan dengan lahap. Seperti aku tidak pernah memberi asupan yang cukup. Padahal mereka makan tiga kali sehari, sementara aku paling banter hanya dua kali. Mereka menjengkelkan dengan cara yang menggemaskan. Mana mungkin aku marah kepada mereka. Bahkan saat mereka bersikap begitu nakal dan memutuskan untuk menjadikan tanganku sebagai objek gigitan. Sakit memang. Berdarah. Tapi aku tidak marah. Mereka terlalu menggemaskan.

Tapi pada akhirnya, tidak ada sesuatu yang abadi. Bahkan meski aku berharap dapat terus menyaksikan tingkah lucu mereka, masa-masa ini ada batasnya. Dan aku sendiri yang mengantarkan mereka menuju kematian. Makhluk-makhluk yang kujaga hidupnya selama tiga bulan, pada akhirnya kulepas pada ajal. Memang bukan aku sendiri yang mengakhiri hidup mereka, aku tak akan tega. Tapi memindahtangankan mereka pada ajal, cukup menyesakkan.



Karena sekarang tak ada lagi cerita-cerita tanpa kata-kata. Tak ada lagi mata bulat yang bersinar-sinar. Tak ada lagi gigitan-gigitan mainan. Tak ada lagi canda diam. Tak ada apa-apa. Mereka telah tiada, dan jujur saja, aku kehilangan beberapa persen bagian diriku. Tiga bulan ini mereka telah menjadi lebih dari sekedar partikel-partikel  penting dalam hidupku. Dan aku menyayangi mereka. Sungguh-sungguh menyayangi mereka.

Thank you for your cooperations, Darlings. Your sacrifices won't be worthless.
Terima kasih karena telah mengajarkanku arti kehidupan. Terima kasih karena telah menghiburku. Terima kasih karena telah bersedia berkorban demi masa depanku. Terima kasih, Darlings. I love you all. Really really love you.



1 comment: