Tuesday, April 19, 2016

Hiatus or completely discontinued?

Saya tidak akan mengaku-ngaku sebagai penulis, karena memang bukan. Saya cuma orang iseng kurang kerjaan yang kebetulan ketemu situs fanfiksi, lalu mulai merintis hobi menulis. Kalau bahasa Indonesia punya gramatikal tenses seperti bahasa Inggris, saya harus pakai past tense. Dulu saya hobi menulis. Dulu loh, ya.

Sepertinya begitu terlepas dari kesibukan kuliah (beres skripsian-tinggal leha-leha nggak jelas nunggu wisuda) mood saya buat nulis juga menghilang. Kalau ibarat embun, begitu matahari mulai meninggi, dia menguap. Bhahaha. Padahal tahun 2014 kayaknya lagi giat-giatnya. Tiap hari berasa adaaa aja inspirasi. Selalu menyempatkan diri buat nyalain laptop bentar terus ngetik. Lupa sih gimana awalnya, tapi sejak 2015 awal intensitas menulis mulai berkurang, sampai mandek hingga pergantian tahun 2016. Awal tahun ini masih sempat berniat untuk bangkit, tapi apa daya, kayaknya otak saya nggak sanggup merangkai kata-kata lagi.

Semua kesalahan saya bebankan pada kerjaan sekarang. Yang menuntut saya mantengin Microsoft Word sampe eneg. Nggak adil juga sih sebenernya, tapi mau gimana lagi. Saya butuh pembelaan diri, bhahaha. Terlalu mundane memang, jadi pikiran saya mulai karatan. Mungkin juga karena faktor pergantian tokoh favorit, jadi feelnya udah nggak dapet lagi. Gini nih kendala nulis fanfiksi, begitu udah nggak klop sama tokoh yang dipakai, udah. Nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Itu saya sih, karena kebanyakan author bisa crossing fandom dengan nyaman. Mungkin karena mereka nulisnya obyektif, mengutamakan tema dan plot. Kalo saya... masalah pairing aja saklek nggak bisa reversible, apalagi harus nulis tokoh lain yang udah nggak masuk daftar favorit, mana bisa? Saya super subyektif. Jahat, ya? Iya. Saya sudah mengecap diri sendiri sebagai tokoh antagonis penyiksa uke, kok. Saya memang jahat.

Jadi, balik lagi ke aktivitas saya sejak jadi freelancing, sejak tiap hari mesti ngetik panjang lebar, saya jadi bosen banget ketemu Ms.Word. Ini tuh nggak kayak makan nasi yang bisa dilakuin tiap hari. Karena ketemu dokumen itu bener-bener bikin eneg. Akhirnya saya lebih lancar nulis manual di lembaran kertas. Tapi karena keterbatasan tenaga (Nulis manual itu capek, sumpah. mending ngetik ke mana-mana) yang tertulis ya inti kejadian aja. Plot utama. Tapi begitu dipindah ke dokumen, mandek juga. Aih, emang lagi nggak mood sih. Waktu luang; banyak. Kalo mau tiap hari pun saya bisa da nulis. Tapi ya itu, saya nggak pengen. Tiap buka dokumen story yang belum complete, saya cuma bisa menghela napas. Mau diapain ya itu cerita... Kalo masalah garis besar, saya udah kebayang. Tapi urusan rangkaiannya buat mencapai plot utama, itu yang saya nggak sanggup. Males euy. Ah ini apa lagi rambling nggak jelas.

Intinya... saya nggak tahu apakah ini hanya hiatus atau completely discontinued. Akhirnya saya paham apa yang membuat beberapa orang menghentikan penuturan cerita yang mereka lakukan, meski plotnya masih bisa dikembangkan luas. Bukan karena mereka nggak kepikiran alur selanjutnya, tapi karena kesulitan mengambil langkah selanjutnya. Karena menulis itu nggak semudah nerjemahin; in my opinion.

Lalu, apakah hiatus atau completely discontinued? Saya khawatir ini bakal jadi akhir hobi saya menulis. Mungkin saya mesti mencari jati diri, karena akhir-akhir ini kok kayak terombang-ambing nggak jelas. Tapi jujur, keinginan buat menulis masih ada, cuma... ya balik lagi ke sifat buruk saya. Males. Ahsudahlah.

PS: kalau kamu salah satu reader saya di fanfiksi, saya minta maaf. Saya memang suka seenaknya sendiri...

No comments:

Post a Comment