Sunday, April 24, 2016

What should I do?

Warning... rants about fanfiction ahead. Sowwy not sowwy---


Erm... oke, langsung aja ya. Jadi, sebelum terombang-ambing dalam ketidakjelasan antara pengen nulis tapi nggak mood, aku (yes, I feel like doing super casual speech today!) sempet /ironisnya/ bikin dua judul fanfik baru. Semata-mata karena merasa yakin udah mulai berganti ship dan mantap dengan ship yang baru ini (secara ship baru ini mengubah mindset pairing aku jadi lighthaired/darkhaired dan benci sama darkhaired/lighthaired dengan alasan yang nggak bisa dipertanggungjawabkan).

Yang pertama, yang multichap dengan tema utama time travelling udah jelas banget endingnya gimana. Dalam pikiran aku sih. Err... agak-agak angst gitu pengennya, tapi nggak tahu ntar eksekusinya gimana, apalagi karena sekarang lagi mandek, hahaha. Kemudian karena beneran merasa ini nih OTP gue, dan sebagai seorang penyiksa uke, aku ngerasa; gue nggak akan bisa nulis dengan tenang sebelum bikin si U menderita! Maka lahirlah judul kedua (di tengah-tengah badai writer's block) yang dinote bakal jadi two shots, yang plotnya juga udah clear sampe tamatnya gimana udah tergambar jelas. Lagi-lagi dalam pikiran aku aja itu.

Are you effing kidding me?

Sementara ada dua judul on progress yang ditunda cuma demi nulis on a whim dengan pairing baru yang sempat digaung-gaungkan sebagai OTP baru, tapi ternyata cuma seumur jagung. Miris. Ini gara-gara--ah, nanti juga dibahas. Jadi balik lagi ke dua judul on progress itu, yang sempat ditunda setengah tahun, sekali lagi, setengah tahun, update sekali di awal tahun 2016 dan kena delay lagi demi judul on a whim yang umurnya bahkan lebih muda dari jagung. Gee, what's wrong with me, honestly?! *SMH

Mirisnya, judul terbaru yang dikabarkan two shots itu adalah obstacle yang bikin pikiran saya (saya lagi akhirnya ._.) nggak bisa move on ke judul on progress yang lain. Kenapa? Pertama, karena itu adalah perwujudan dari ikrar gue nggak akan bisa nulis dengan tenang sebelum bikin si U menderita! Jangan salah, awalnya penulisannya lancar banget. Sempat janji nggak akan publish sebelum finish. Sumpah. Tadinya beneran nggak akan dipublikasikan sebelum beres ditulis. Semua plot, konflik, penyelesaian udah ada garis besarnya, tinggal diperhalus di rincian. Dan progress udah 70%, hingga akhirnya diputuskan buat dipublikasikan dulu. Mikirnya, ah, dikit lagi kok, tinggal nulis ending doang. Selain itu karena sempat baca fanfik kece, jadi tergelitik pengen publikasi juga kan. Penyakit emang. Hingga akhirnya berani mengeluarkan judul baru dengan iming-iming two shots. Chapter 1 - 4000an kata. Chapter 2 on progress dan hitungan kata di Ms.Words waktu itu nyaris 10.000. Bentar lagi itu, beneran tinggal bikin ending. Tapi apa mau dikata, ending yang harusnya mulus tinggal diketik aja, tiba-tiba tersendat. Kepikiran, kok terlalu rush? Kok nggak realistis? Kok terlalu maksa? Kok jahat? Dan sebagainya. Hingga berhenti ditulis lagi. Berhenti.

Ibarat metamorfosis kupu-kupu, udah keluar dari kepompong tuh. Si kupu-kupu lagi gelantungan ngeringin/ngerasin sayap buat terbang (tadinya mau bikin analogi eek tapi nggak jadi ah). Kenapa justru saat tinggal mengepakkan sayap, malah ragu? Jawabannya, review. Oke, ini bakal jadi massive spoiler bagi orang-orang yang kebetulan mengikuti fanfiksi aneh itu. Tapi rencana awal, seperti ikrar sebelumnya gue nggak akan bisa nulis dengan tenang sebelum bikin si U menderita!, dan keinginan buat keluar dari zona nyaman; endingnya si U mati. Oke, nggak perlu dibold juga sih harusnya, tapi itu adalah bentuk keluar dari zona nyaman bagi gue. Secara aku 'kan paling anti sama yang namanya sad ending, terutama major character death. Sebelumnya udah pernah nulis dua judul dengan major character death sih, tapi itu nggak terhitung sebagai tantangan karena waktu itu aku nulisnya obyektif. Aneh ya, justru dulu bisa nulis obyektif, nggak terlalu bias sama tokoh yang ditulis. Sekarang malah nggak bisa, dan nggak mau. Takut nggak mood, alasannya.

Si U mati; itu rencana awal. Yang bikin mikir dua kali: kok alur kematiannya terlalu terburu-buru? Kok kurang realistis? Dan review, yang paling bikin shock adalah faktor review. Harusnya nggak kaget sih, karena memang sengaja nggak kasih genre tragedi. Rencana mau nyantumin genre tragedi di chapter pungkasan, pas udah tamat dan beneran si tokohnya mati. Karena itu review yang masuk /uhukmeskicumaduabijiuhuk/ bernada positif. Ya mereka pasti nggak tahu kalo ini bakal berakhir kematian, wong nggak dikasih genre tragedi, nggak ditulis bakal ada major character death, dan sebagainya (Duh, kenapa gue malah menjadi sosok author yang paling gue benci? Padahal gue pasti merasa tertipu mentah-mentah dan benci banget sama authornya kalo tiba-tiba tokohnya mati! Tanpa peringatan pula! Karena kalo ada peringatannya, gue pasti langsung mundur tanpa ragu!)

Ahem. Dan review itu yang bikin saya menilik ulang imajinasi saya. Beneran tega nulis dia mati? Sanggupkah? Apalagi ada alternatif lain, happy ending klise favorit saya. Jadi... ya, beneran bentar lagi beres, tinggal menentukan nasibnya bakal mati atau tetap hidup, itu aja. Dan itu yang bikin gue nganggur berminggu-minggu, hingga akhirnya--- nemu OTP baru. Damnit.

Nemu ship baru. Yes, you read it right. Ship baru yang terlahir karena 'crack pairing seret sumber fangirling, jadi mari kita coba pairing yang lebih mainstream'. Dan... bahkan aku nggak nyangka bisa terjerumus sedalam ini. Bener-bener menohok lah ship baru ini. Pertama, it's kinda canon, rumor mengatakan si S dikonfirmasi nggak lurus sama sang mangaka dan punya crush sama si U (si U dan si S di sini bukan inisial nama tokoh, tapi istilah posisi, iykwim). Kedua, it's the most tragic pairing, ever. Ya gimana nggak tragis, si S ini mati loh. MATI. Dan yang bikin tambah berasa canon adalah si U merasa kehilangan /yaiyalah/ dan character development-nya beneran drastis, karena kematian si S ini. Berasa dia berubah demi si S ini. Omg, such a bittersweet love story... what can I say? Si S ini kehadirannya just for the sake of U's character development. Dari tokoh yang nyebelin, angkuh, songong, arogan, name it, hingga jadi dia yang sekarang. Aku nggak mau berspekulasi dia gimana sih, cuma kata orang-orang sih jadi semacam reliable gitu, mungkin? Intinya, jadi orang yang lebih baik.

Apa lagi? Semua elemen buat jadi best OTP ada di ship yang baru ini. Dan kematianlah yang bikin pairing ini manis manis nyesek. Ini pertama kalinya suka sama half-ship (damn, back at it again with the 'half' jokes!), meski tetep aja, nggak mau baca major character death, hahaha. Ya gimana, wong canonnya aja udah tragis. Kalo mau menghibur diri harus baca angst berat yang bikin nangis-nangis sampe mata bengkak, tapi yang berakhir ketawa lega, sambil berlinang air mata bahagia. Itu reader's goal saya.

Jadi, ya... aku nulis ini pas masih bias to the max sama ship baru ini. Yang dengan mudahnya menyingkirkan pairing rambutterang/rambutgelap yang sempat sangat digandrungi itu. Ibarat ombak menghapus tulisan di pasir, bah. Apalagi sama ship rambutterang/rambutterang yang masih punya tanggungan dua judul on progress dan berakhir dianaktirikan seenaknya /sniff/. Nggak tahu apakah half-ship (bad jokes!) ini bakal bertahan lama kayak rambutterang/rambutterang yang bisa membuat saya menelurkan banyak judul /asek/ atau cuma sebentar kayak rambutterang/rambutgelap yang bentar lagi beres tapi mandek karena galau dan tiba-tiba berganti ship?

Who knows...

Tapi selama ship ini berlayar, mending nikmatin aja perjalanannya, pemandangannya, ombaknya... Nikmati prosesnya. Sebagai orang yang mengaku hobi menulis, keinginan untuk menuangkan imajinasi tentang those two dorks dalam bentuk tulisan pasti ada. Nggak munafik kok. Tapi ya... saya tertahan sama kewajiban menyelesaikan empat judul on progress. Seenggaknya yang seenak jidat diberi label two shots itu harus dirampungin dulu sih. Tinggal menentukan ending doang! (Padahal tokoh S-nya malah belum muncul. Beneran dikumpulin di chapter pungkasan, bah). Yang time travelling juga harus diberesin, dan dua judul lagi yang udah mulai ditulis sejak tahun 2014 juga harus diselesaikan. Harus; karena yang satu adalah cerita request. Kalo yang genre keluarga sih agak santai sebenernya, karena bentuknya slice of life yang ceritanya agak ringan nggak terlilit cliff hanger dan bisa dianggap sebagai stand alone. Meski semakin jauh jadi saling terhubung dan ada perkembangan plotnya. Yang jelas, empat judul on progress itu nggak boleh discontinued kayak beberapa judul yang dibuat dulu. Mungkin harus dihapus aja ya yang discontinued itu, tapi sayang ih... hahahaha

Ah... mungkin ini rambling terpanjang ya. Berapa kata nih? Kalo dibuat fanfik pasti jadi satu chapter, atau seenggaknya bisa menggenapi two shots itu! Sial, hahahaha. Jadi, balik lagi ke judul postingan ini, what should I do? Kalo dari sini sih udah jelas ya apa aja yang mesti dilakuin. Tapi seperti kata orang, it's easier said than done. Tapi kalo nggak segera mulai ya nggak akan pernah selesai.

Oke deh, mata udah mulai berkunang-kunang karena nulis /ngetik/ sepanjang ini, hahaha. Besok-besok aja mikir ending two shots nya gimana. Kemudian menyelesaikan yang lain, dan nulis ship baru sebelum bosen dan ganti ship lagi, hahahaha. 

PS: aku sengaja nggak nyebutin nama shipnya secara jelas, if you know what I mean aja ya, hahahaa

No comments:

Post a Comment